Hari kedua
setelah liburan, Subhan masih belum merasa cukup fit. Padahal, dia sudah berada
di kosnya dan tertidur lebih panjang dari biasanya. Tapi, rasa lelah akibat
perjalanan panjang masih terasa. Besok akan dimulai lagi drama hidup yang
bertajuk kuliah. Memang bukan momok menakutkan bagi Subhan. Itu cukup
mambuatnya bosan saja.
Ponsel
berbunyi. Dengan malas, dia meraih benda kotak itu. Pesan melalui aplikasi
What’sApp. Putri. ‘Dug dug...’ Jantung Subhan tiba-tiba berdetak lebih kencang.
Dengan hati-hati dia membuka pesan itu.
Assalamu’alaikum,
Bhan,
tgs kmrn sudh selesai, lom? Jgn lpa bsk diprint, ya.
Ternyata
hanya untuk mengingatkan hal itu saja. Subhan kembali bingung bagaimana cara
dia harus menjawabnya. Tidak ingin yang berlebihan. Biasa saja, tapi menarik.
Beberapa kali Subhan menuliskan kata-kata yang kemudian dihapusnya seluruhnya.
Hingga akhirnya yang terkirim hanya kata, ‘OK’.
Sekarang
Subhan hanya bisa menunggu hari esok. Semoga dia tidak lupa untuk mencetak
tugas yang diberikan dosen sebelum liburan. Apalagi, itu merupakan tugas
kelompok. Teman-teman kelompoknya, mempercayakan itu pada Subhan. Walau dia
sudah berkali-kali menolak permintaan itu.
Pagi ini,
bukanlah hari yang menyenangkan bagi Subhan. Masih terasa malasnya setelah
menikmati liburan. Dengan susah payah dia bangkit melawan rasa malasnya.
Untungnya, kamar mandi di kos sedang kosong. Dia bisa menyelesaiknannya dengan
cepat. Setelah berpakaian rapi, Subhan langsung pergi ke kampus. Untungnya, dia
tidak lupa untuk mencetak tugas yang tadi malam.
Sampai di
tempat parkir, seperti biasa dia bertemu Udin yang juga sedang melamun menanti
bel tanda masuk. Tentu saja dengan rokok yang terjepit diantara jarinya. Ada
juga satu batang yang tersangkut di telinganya. Kelihatan sedang bokek.
Sedikit
perbincangan diantara mereka menjelang masuk kampus. Tidak ada yang spesial.
Mereka masih mengeluhkan liburan yang dirasa masih kurang. Memang akan selalu
kurang bagi siapapun berapa pun lamanya liburan. Karena bersantai itu lebih
menyenangkan.
“Kenyamanan
membuat kita malas, Din.” Ungkap Subhan yang sebenarnya juga ingin lebih lama
merasa nyaman.
“Mau
bagaimana lagi, itu yang selalu dicari dalam hidup. Menuju kenyamanan, kemudian
mati dengan bahagia.” Udin tertawa setelah mengucapkan itu. Terasa menggelikan
baginya sendiri berbicara dengan cara itu.
Tak terasa,
akhirnya bel tanda kuliah akan dimulai berbunyi. Mereka langsung berpisah.
Subhan dan Udin berada di lokal yang berbeda. Mereka berpisah di parkiran.
Subhan masuk dengan santai dan duduk di tempat paling belakang.
“Hei, tugas
kemarin sudah diprint, kan?” Lufti menyapa dengan santai.
“Tenang aja
kau. Kalau aku yang kalian amanahkan, Insyaallah akan mulus.” Subhan tertawa.
“Baguslah
kalau kau bisa dipercaya.” Lufti juga tertawa.
“Sialan!” Ungkap Subbhan dalam hatinya.
“Bhan, coba
lihat hasil tugas kemarin.” Putri yang menyadari Subhan sudah datang, langsung
ingin memeriksa tugas itu.
Dengan
cepat, Subhan langsung memberikan tugas itu. Bebebrapa lembar kertas HVS ukuran
A4 yang sudah dijilid dan lengkap dengan cover yang menarik. Tentu saja cover
itu dibuat dengan bantuan Jefri. Tidak mungkin Subhan bisa mengerjakannya
sendiri.
Putri yang
sedang asyik membaca tugas itu, tidak menyadari kalau Subhan memperhatikannya
dengan seksama. Subhan terus memperhatikan Putri yang hari itu memakai seragam
putih hitam. Jilbab putih yang dikenakannya, sangat cocok dengan warna kulit
Putri. Terlihat sangat sempurna di mata Subhan. Jantungnya berdetak begitu
cepat. Dia tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya saat ini. Tapi, dia merasa
kalau wajahnya seperti orang yang sedang kasmaran.
Subhan
merasa ada yang meniup telinganya dengan kencang hingga kaget. Lufti tertawa
melihat Subhan yang sedang kasmaran menjadi salah tingkah.
Kesal pasti menghampiri.Lufti
tertawa puas melihat respon Subhan. Hampir seisi kelas sekarang menatap
kearahnya.
“Awas, kau
ya, Lufti. Kubalas nanti.”
Subhan
kembali memperhatikan Putri. “Bagaimana, Putri?” Tanya Subhan basa-basi.
Putri
mengembalikan naskah itu, kemudian berkata, “Bagus, semuanya tidak ada yang
berubah. Ingat, ya, Nanti aku yang persentasikan.” Putri kemudian tersenyum ke
arah Subhan. Senyuman itulah yang membuat Subhan kembali mematung. Kedua lesung
pipi Putri itu membuat senyumnya semakin sempurna.
“Kalau aku
sedang lapar, aku akan makan.” Kata Lufti tiba-tiba.
“Maksudnya?”
Subhan tidak mengerti arah pembicaraan Lufti.
“Kalau kau
tertarik atau mungkin suka sama Putri, coba ungkapkan. Siapa tau dia juga
memiliki rasa yang sama terhadapmu. Kalau ada orang lain yang duluan menyatakan
cintanya, kau hanya menyiksa diri.” Lufti menjelaskan.
“Iya, aku
mengerti. Tapi, aku tidak terbiasa dengan hal seperti ini. Aku tidak pernah
melakukan hal ini sebelumnya.”
“Jangan
bilang kau belum pernah pacaran!” Lufti mengungkapkan. Hanya dibalas anggukan
serius dari Subhan. “Kalau begitu, coba ungkapkan saja. Kau tidak harus
berpacaran.” Lufti tidak tahu lagi harus bagaimana.
“Aku
bingung, Luf. Nanti aja kita bahas masalah ini, ya. Aku sedang berusaha
konsentrasi dengan mata kuliah hari ini.”
“Terserah
kau saja. Aku hanya memberikan saran.” Akhir pembicaraan mereka yang kemudian
disusul dengan masuknya dosen.
Persentasi
berjalan dengan sangat lancar. Pertanyaan demi pertanyaan bisa dijawab oleh
Subhan dan kawan-kawan dengan sangat rinci. Subhan sebagai bagian anaslisis,
memberikan semua data dengan sangat akurat. Penyampaian yang disampaikan Putri
yang membuat seisi kelas terkagum-kagum. Ditambah lagi dengan Lufti yang
terus-menerus membantah pernyataan yang diajukan oleh para penanya. Dan teman-teman
kelompoknya yang lain yang terus berusaha membantu sebisa mereka.
Pulang
kuliah, mereka berkumpul sebentar. Membicarakan keberhasilan mereka dalam
persentase kali ini. Mereka memang terlihat sangat kompak. Mereka lebih kompak
dibanding kelompok-kelompok lain. Mereka merencanakan untuk merayakan
keberhasilan hari ini karena telah mendapatkan nilai A dari dosen yang dianggap
cukup killer. Mereka akan berkumpul dan berpesta di sebuah kafe yang cukup
terkenal. Heru menjadi penanggung jawab masalah biaya. Tentu saja dibantu oleh
Subhan. Sedang yang lain hanya harus datang saja.
Satu
persatu mereka pamitan untuk pulang. Hingga tersisa Lufti, Subhan dan Putri.
Mereka tidak saling berbicara dan hanya sibuk dengan gadget masing-masing.
Terutama Subhan. Dia merasa sedikit, tidak sedikit bahkan sangat canggung.
Kalau saja dia terbiasa berinteraksi dengan lawan jenis, mungkin ini bukan hal
yang aneh baginya.
“Waduh, aku
harus pulang sekarang, nih.” Lufti memecah suasana hening mereka. Tentu saja
itu membuat Subhan semakin terkejut.
“Cepat
kali, Luf?” Subhan berharap dia bisa menahan Lufti sedikit lebih lama lagi.
Sambil dia menikmati kebersamaan hening dengan Putri.
“Aku lapar,
jadi aku mau pulang dan makan. Kalian berdua jangan ngapa-ngapain, ya!?” Lufti
menutup sebelah matanya sebagai tanda bagi Subhan.
“Enak aja,
emang aku mau ngapain sama Subhan.” Kata Putri sekenanya.
“Iya, emang
kami mau ngapain?” Subhan juga terkesan santai. Padahal dalam hatinya sangat
terkejut.
Tanpa
menjawab apapun, Lufti pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan itu. Subhan
merasa sangat gugup. Keringatnya keluar dengan sendirinya. Padahal cuaca tidak
terlalu panas. Dan kipas angin besar masih menyala di ruangan itu. Dia memang
tidak memiliki alasan dari luar kenapa harus berkeringat.
“Put, kamu
pulang sekarang?”
“Anterin
aku, ya. Kita sejalan, koq!?” Pinta Putri sambil tersenyum. Bisa saja bermaksud
agar Subhan tidak menolak.
“Putri
yakin?” Subhan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bahkan, dia sempat
mengira itu hanya mimpi.
“Emang
kenapa?” Putri malah bertanya balik dengan bingung.
“Gak, gak
papa.” Subhan menggeleng.
Ini pertama
kalinya Subhan pergi bersama seorang wanita. Yang juga wanita itu adalah yang
disukainya. Subhan benar-benar tidak berani untuk menyatakan langsung. Dia beanr-benar
merasa bingung.
“Kita
sekalian makan siang, yuk.” Ajak Subhan berusaha santai. Sebaliknya, kini
giliran Putri yang bingung. Kalimat itu sebenarnya akan memberikan kesan yang
berbeda. Jika seorang cowok mengajak seorang cewek untuk makan, berarti itu
adalah tanda mereka memiliki hubungan atau mungkin akan memiliki hubungan.
“Kita
berdua aja? Kamu yakin?” Putri tergagap saat bertanya.
“Iya. Tidak
ada siapa-siapa lagi disini.” Subhan tidak mengerti atas pertanyaan yang telah
dilontarkannya. Dia hanya menganggap itu pertanyaan biasa. Tidak ada maksud
lain.
Subhan
merasa aneh dengan ekspresi Putri saat diajak makan siang. Dia pun memilih
tempat yang jarang didatangi mahasiswa. Mereka duduk di dalam. Subhan menarik
sebuah kursi dan mempersilahkan Putri duduk. Baru kemudian Subhan duduk.
Sekarang mereka saling berhadapan.
Putri
merasa apa yang dilakukan Subhan sangat spesial. Putri sendiri tidak mengerti
kenapa Subhan melakukan hal itu. Tidak hanya sampai disitu saja, Subhan
menuangkan air minum untuk Putri. Dan mempersilahkan Putri memesan apa saja.
Putri jadi terbawa perasaan melihat perlakuan ini.
‘Apa aku
melakukan sesuatu yang aneh?’ Subhan bertanya dalam hatinya. Dia menyadari ada hal yang berbeda dengan
tingkah Putri yang mendadak berubah. Biasanya, Putri selalu menatap layar
gadgetnya. Tapi, kali ini, bahkan dia tidak mengeluarkannya sama sekali.
Sesekali Putri juga menyembunyikan wajahnya.
Setelah
makan adalah salah satu waktu yang paling nikmat untuk merokok. Suhan berusaha
menahan diri. Dia berada di depan gadis yang disukainya. Rata-rata wanita itu
tidak menyukai asap rokok. Dia hanya mengecap bibirnya dan beberapa kali minum
berusaha menghilangkan asam di mulutnya.
“Kamu
merokok, kan?” Pertanyaan Putri setelah selesai makan mengagetkan Subhan. “Aku
sudah terbiasa dengan asap rokok.”
Subhan
semakin gugup. Saat dipersilahkan merokok oleh orang yang disukainya. “Gak
sekarang kayaknya. Aku gak biasa merokok depan umum.”
Mereka
berdua diam sesaat. Putri mulai memperhatikan Subhan. Subhan memang tidak
setampan teman yang lainnya. Subhan terlihat memiliki karakter. Orang yang bisa
diandalkan. Terbukti dengan berjalan lancarnya tugas kelompok mereka saat
Subhan diminta bertanggung jawab atas banyak hal. Persiapan tugas kali ini jauh
lebih komplit daripada yang sebelum-sebelumnya.
“Bagaimana,
Put? Enak makan disini?” Subhan mencoba mencari bahan pembicaraan.
Putri agak
terkejut mendengar pertanyaan dari Subhan. “Iya. Semuanya terasa enak. Kamu
memang pintar memilih tempat.” Putri memuji.
Wajah
Subhan memerah mendengar pujian itu. “Kita pulang, yuk!” Ajak Subhan. Dia mulai
merasa tidak nyaman saat menyadari tempat ini menjadi lebih ramai.
Tanpa
banyak bicara, Putri membereskan barang-barangnya dan beranjak. Subhan membayar
semuanya. Tentu saja Putri mencoba basa-basi agar dia yang membayarnya sendiri.
“Putri
ngomong apa barusan?” Subhan berlagak tidak mendengar Putri berkata agar dia
membayar sendiri makanannya.
“Gak, gak
jadi deh. Lupain aja.” Katanya datar.
Subhan mulai
terbiasa dengan keadaan. Dia mulai menguasai keadaan. Ternyata, Putri hampir
sama lugunya dengan dirinya. Hanya saja, Putri tidak memiliki teman seperti
yang dimiliki Subhan. Subhan belajar cukup banyak dari teman-temannya. Termasuk
Udin dan Lufti yang sudah berpengalaman masalah berpacaran.
Begitulah
awal pertama kalinya Subhan berkenalan dengan Putri. Cukup lama mereka dekat
sejak saat itu. Tapi, Subhan dan Putri tidak memiliki hubungan yang mereka
sepakati. Tapi, mereka saling menjaga hati. Mereka saling diam dalam suka.
Mereka bertingkah seperti biasa saat bersama yang lainnya. Dan mereka
bertingkah lebih romantis saat mereka hanya berdua saja.
Kairo, April 2016