Bagaimanapun, hal ini sangat aneh bagi Dio. Bulan ini memang sudah banyak terjadi hal-hal aneh. Berawal dari berita heboh tentang orang yang secara tiba-tiba menjadi aneh. Kemudian, stasiun tv tak ada yang on air, dan yang terakhir adalah ini. Dikejar-kejar oleh para makhluk aneh. Huh, dunia memang sudah gila. Pikirnya dalam hati. Dan sekarang dia hanya duduk kelelahan. Kemudian berbaring. Ia pun sudah tak sadarkan diri. Dan tertidur pulas........
oo0oo
Ridho terbaring di sebuah ruangan. Di apartemen Dio. Badannya terasa sangat lemas dan tak bisa digerakkan. Ridho hanya bisa berbaring di atas kasur. Ia mendengar suara teriakan Andy yang memanggil Dio dari kajauhan. Ia yakin ini pertanda keadaan sudah tidak aman. Ia berusaha bangkit dari tidurnya. Ketika berdiri ia harus mempunyai pegangan untuk sandaran. Namun, pelan-pelan ia sudah bisa bergerak lebih bebas. Ia langsung mengeluarkan senjata hand gun yang ia simpan di belakang pinggangnya. Persiapan untuk menghadapi musuh yang akan menyerangnya. Ia berusaha meraih jendela dan melihat keluar. Terdengar suara tembakan. Pasti tembakan Andy kepada Dio. Semoga Ridho baik-baik saja.Pikirnya. Ia melihat Andy berdiri di suatu tempat dan Dio di tempat lain. Rido berusaha untuk keluar dari kamar untuk membantu Dio. Meskipun harus bersandar pada dinding, Ridho tetap berusaha untuk keluar dari kamar. Ia sudah keluar dari pintu kamar. Ia melihat seklelilingnya. Di lorong sebelah kanan ada seorang pelayan memegang pisau dapur. Ridho yakin pasti orang itu berniat untuk membunuhnya. Dengan tertatih-tatih, Ridho berjalan perlahan ke arah sebaliknya. Dan berusaha untuk berlari.
Ridho sampai pada persimpangan lorong. Disetiap lorong ia melihat ada pelayan yang memegang pisau dapur untuk membunuhnya. Itu masih menurut jalan pikiranya. Ia melihat ada satu arah yang tidak dijaga oleh pelayan aneh itu. Dengan sangat cepat ia berjalan ke arah tempat itu. Yang ia akhirnya sadar bahwa itu adalah jalan menuju dapur. Dapur umum. Ia sudah mencapai pintu dapur itu. Ia pun membuka pintu itu. Ketika ia membuka pintu itu, ia hampir tak percaya dengan matanya sendiri. Karena di tempat itu ia melihat kumpulan mayat manusia tegelatak dengan darah segar masih mengalir dari tubuhnya.
Mau tidak mau ia harus percaya. Karena hidungnya tenyata mendukung penuh dengan apa yang dilihatnya. Aroma darah segar. Dan bau bangkai manusia. Sepertinya baru saja dibunuh. Tapi ia heran kanapa sudah ada baunya. Ia segera berbalik dan menghadapi orang-orang aneh itu. Tapi, apa..... Ia malah tersenyum ke arah para orang-orang aneh itu. Mungkin karena mereka semakin banyak, tapi tak membawa senjata apapun. Ridho menyandarkan badannya ke dinding dan menyimpan kembali senjatanya. Tapi apa yang akan dilakukan oleh orang-orang aneh itu?
“Kau kira bisa berapa lama kau dapat bertahan ?” kata salah seorang dari mereka. Sepertinya mereka sudah saling kenal.
“Apa kau kira aku akan menyerah menghadapi racun kecil seperti ini?” jawab Ridho ngotot.”TIDAK AKAN...!!! kau paham...? TIDAK AKAN...!!!”
“Hm hm hm...... Kita lihat saja berapa lama kau bisa bertahan?”
“Aku pasti bisa sembuh......... Aku yakin itu..... dan aku akan menghancurkan kalian... beserta raja kalian yang tengik itu........”
Pelayan aneh itu mendekati Ridho. “Hati-hati kalau bicara bodoh........!”
“Sudah...... Sekarang aku akan pergi untuk mencari Dio.....”
“Ooooohhhhh...... Jadi orang itu bernama Dio........ Dia pasti sudah mati sekarang. Dan mayatnya sebentar lagi akan ada di sini........”
“Aku tak percaya...... aku akan mencarinya dan membuktikan bahwa Dio masih hidup......”
“Silahkan......” sambil membungkukkan badannya, “Dan kami pun siap untuk menerima mu lagi disini........”
Ridho tak membalas lagi perkataan mereka. Ia melewati satu persatu pelayan-pelayan aneh tersebut. Ridho berjalan masih dengan terhuyung-huyung. Walaupun begitu ia tetap berusaha untuk mencari Dio. Ia sudah berhasil keluar dari halaman apartemen itu. Dan sekarang menuju arah yang sebenarnya ia juga tidak tahu. Yang ia ketahui sekarang ialah kota ini sedang terjadi hal aneh yang tidak dapat dihindari. Tanpa sadar jalan yang ia tuju adalah jalan yang dilalui oleh Dio dan juga merupakan jalan menuju doktor yang terus berusaha untuk menyembuhkannya. Ia menyadari hal itu setelah melihat rumah doktor yang terbuka dan pintunya terlihat hancur. Sepertinya telah terjadi sesuatu di tempat ini. Pikir Ridho.
Tiba-tiba ia merasa sangat lemas dan tubuh tidak bisa digerakkan. Ia berusaha mencapai sofa yang ada di depanya. Dan terduduk sebentar. Ia menyandarkan kepalanya. Tiba-tiba ia merasa pening. Dan dunia seperti berputar di kepalanya. Ia tak tahu apa yang ia kerjakan. Tanpa sadar ia bangkit dan berjalan menuju sebuah lemari. Tenyata itu bukan lemari. Itu adalah lift menuju bawah tanah.
Begitu sampai di bawah ia tak sanggup lagi berdiri. Lift terbuka dan ia pun langsung mendapat pertolongan dari 3 orang teman-temanya. Salah satunya berbadan besar. Yang satunya memakai baju putih, mungkin seorang doctor. Dan salah seorang lagi adalah seorang wanita. Ridho langsung dibawa ke sebuah kamar khusus, dan kemudian kemudian si doctor menyuntikkan sesuatu ke tubuh Ridho. Ridho langsung tertidur dan tak bergerak lagi dengan infus ditubuhnya.
oo0oo
Sekarang mereka berada di ruangan bawah tanah. Ruangan ini terbagi lagi kedalam beberapa kamar kecil. Yang juga memiliki kamar mandi dan dapur. Ruangan ini mendapatkan udara yang bagus. Siklus perubahan udara terjadi pada setiap lagit-langit ruangan. Jadi ruangan ini tetap terjaga kesegaranya. Itulah yang membuat mereka bisa bertahan tinggal disini. Dan ternyata, Dio juga ada disini. Mereka menemukan Dio di lantai dua rumah mereka. Dan mereka langsung menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya. Maka Dio langsung tertidur dan tak bergerak. Seperti diberikan obat tidur.
Seseorang dengan postur tubuh yang gendut sekarang sedang bermain dengan komputer miliknya. Dan sang doctor sedang sibuk di laboratoriumnya. Sepertinya mereka adalah penghuni tempat ini.
Tiba-tiba, dari lift turun seorang wanita dengan senjata lengkap dan membawa tas bessar. Mungkin berisi makanan. Wanita itu meletakkan seluruh senjatanya di sebuah box yang ada disamping pintu. Setelah itu, ia segera menuju ke dapur untuk mempersiapkan makanan. Beberapa saat setelah ia masuk ke dapur, terdengar suara pisau sedang memotong sesuatu. Cukup lama ia menyelesaikan masakannya itu. Memang ia tak menggunakan penggorengan. Lima belas menit kemudian ia memanggil si doctor dan si gendut itu. “Doctor...!! Bull…!! Makanannya sudah siap makanlah dulu……!!!”
Mendengar panggilan itu orang yang bertubuh gemuk itu langsung meninggalkan pekerjaanya. Begitu juga sang Doctor. Mereka bersama-sama menuju ke dapur. Setelah duduk Bull membuka percakapan.
“Jadi bagaimana keadaan diluar sana?”
“Masih seperti biasa. Kosong tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Mungkin mereka tak bisa terkena matahari. Jadi mungkin mereka akan keluar ketika malam hari.”
“Jadi, keadaan diluar memang masih sangat sepi?” Tanya sang doctor
“Yah …. Begitulah…..
“Ngomong-ngomong kalian tahu siapa orang yang baru kita temukan itu?”
“Memang kenapa?”
“Tak terlihat tanda-tanda kalau darahnya terkontaminasi”
“Maksudmu.... dia masih bersih?”
“ya... kira-kira masih seperti itu”
“Apa mungkin dia kenal dengan Ridho”
“Entahlah.......”
“Berapa lama ia akan tertidur?”
“Seharusnya ia sudah bangun.”
“Yang terpenting sekarang adalah mengetahui siapa dalang dari semua ini”
“Siapapun orangnya pasti dia adalah orang yang pintar”
“Atau bahkan jenius.....” siska menyambung perkataan si doktor.
Tiba-tiba terdengar suara sesuatu terjatuh. Mereka langsung terdiam dan saling memandang. Suara berasal dari tempat tidur. Mereka langsung datang dan melihat apa yang terjadi. Ternyata, Dio terjatuh dari tempat tidur mungkin karena tubuhnya masih kaku.
“Hei... Siapapun kalian tolong bantu aku..... Tubuhku masih terasa kaku.”
Mereka pun langsung membantu Dio kembali ke tempat tidurnya. Dio terduduk dengan santai diatas kasur.
“Sekarang siapa kalian dan dimana aku?”
“Hei.. hei... hei... kita mulai dari yang mudah dulu. Siapa namamu dan apa yang terjadi padamu sebelum ini?” Tanya Bull.
“Ok..aku Dio. Aku tinggal di apartemen Langit Indah. Dan yang aku ingat adalah kalau aku dikejar-kejar oleh orang aneh.”
“Ok kami mengerti.”jawab sang doktor
Mendngar jawaban sang doktor, Siska dan Bull saling pandang dan secara bersamaan mengangkat bahu.
“Baik, biar aku luruskan. Aku mengerti.”
“Itu dia yang ingin kami tanyakan, memangnya apa yang kamu mengerti?”
“Ia sedang dikejar-kejar oleh musuh kita juga.”
“Ooooo......” jawab mereka bersamaan.
“Sekarang dimana aku?” Tanya Dio kemudian.
“Sebenarnya kau ada di rumahku. Tapi ruangan bawah tanahnya...” Jawab sang doktor
Dio melihat sekelilingnya. Ia melihat Ridho terbaring tak jauh dari tempatnya tidur. Dan pastinya ia bertanya, ”Ridho… Kalian mengenalnya?”
“Tentu saja kami mengenalnya… kalau tidak buat apa kami urus dia sampai selama ini…?”
“Memangnya apa yang terjadi padanya…?” tanya Dio pada mereka. Namun, mereka diam tak menjawab seakan mereka merahasiakan sesuatu. Ridho sebenarnya menyadari hal ini. Ia sudah sadar dari tadi, tapi belum mau berniat melakukan apapun. Ridho sebenarnya juga menunggu jawaban dari teman-temannya. Mendengar apakah teman-temannya akan menjawab semua dengan jujur. Atau akankah ada juga sesuatu yang akan di sembunyikan mereka. Padahal ia ingin Dio tahu yang sebenarnya agar Dio juga paham situasi di tempat ini. Tapi, karena mereka diam saja, Ridho bangun dan berkata, “Baiklah... Kalau kalian tidak mau cerita biar aku yang cerita.”
“Ridho kau baik-baik saja?” kata Dio khawatir.
“Ya... Aku baik-baik saja. Akan kuceritakan semuanya. Kau pasti tahu kejadian aneh yang akhir-akhir ini terjadi.” Dio mengangguk. Dan Ridho melanjutkan, “Semua yang terjadi akhir-akhir ini merupakan sebuah rencana. Rencana seseorang. Seseorang itu siapa aku juga tidak tahu. Hal ini terjadi pada awal bulan lalu. Hari itu dimana hal yang sangat aneh terjadi. Beberapa orang secara misterius menjadi aneh dan tak terkendali. Awalnya hanya sedikit. Namun, kian hari kian bertambah. Mereka membunuh semua orang yang di jumpainya. Tak peduli apakah mereka teman atau pun keluarga merka sendiri. Tapi mereka tidak membunuh diantara mereka. Seluruh pihak rumah sakit jiwa sudah di kerahkan. Bahkan, polisi pun ikut ambil bagian. Orang-orang itu sangat tangguh. Mereka tak dapat dikalahkan dengan senjata biasa. Mereka lebih tangguh dibandingkan orang lain. Itu karena virus yang ada di tubuh mereka.
Aku juga pernah bertemu dengan mereka, tapi mereka tiak membunuhku. Mereka seperti punya pandangan masa depan. Mereka dapat memilih siapa yang harus dibunuh atau siapa yang akan dibiarkan hidup. Seperti mendapat perintahan dari atasan mereka. Dan mereka menyebut atasan mereka sebagai sang raja. Huh..... Dunia memang sudah sangat aneh.”
“Cukup penjelasannya Pak Dosen ....!!! aku masih lapar... mari kita lanjutkan....” kata Bull sambil memegang perutnya. Dokter dan Siska pun pergi meniggalkan ruangan itu
“Hei... Ada yang ingin kutanyakan. Mengapa pemerintah tak berusaha menghentikan semua ini?” Tanya dio heran.
“Pemerintah sudah kehabisan akal untuk membunuh makhluk yang hanya bisa dibunuh dengan tiga kali tebakan shot gun di dadanya. Mereka kalah jumlah dan juga sejata. Jadi mereka melarikan diri ke tempat yang lebih aman. Guna memikirkan jalan yang akan di tempuh untuk melumpuhkan makhluk mengerikan itu.”
Ridho mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Sebelum sempat membakarnya, Dio menegurnya” Hei...hei... Dilarang merokok di rumah sakit! Apalagi sedang diinfus!”
Ridho tertewa kecil dan tetap membakar rokoknya. Dan Dio pun tak kalah aksi. Ia juga mengeluarkan rokoknya. Buatan dalam negri. Dio melihat bungkus rokok milik Ridho. Hitam polos dengan tulisan “AVE” berwarna merah di tengahnya.
“Hei...! Dilarang merokok di rumah sakit...!!!kata Ridho
Mereka pun tertawa bersama.......
klik here for