Bagian 11
 |
| Gagak Hitam |
Setelah kemunculan orang tak dikenal itu, Pandu, Karin, Irfan dan Pak
Gilang kini harus dikawal sementara waktu. Mereka adalah korban serangan
teroris. Polisi menduga kalau hal ini berhubungan dengan kejadian bom beberapa
bulan lalu yang menewaskan Pak Chandra. Salah satu orang kaya dermawan di kota
Anam Selatan.
Sehabis sarapan, Irfan pamit melanjutkan tidurnya. Dia belum diizinkan
pulang kerumahnya sampai keadaan benar-benar aman. Dua orang polisi kini
berjaga di rumah Pandu. Mereka belum bisa melakukan aktifitas normal. Karin
pun kembali ke kamarnya. Mungkin juga untuk melanjutkan tidur.
Ponsel Pandu berbunyi tepat sebelum dia menyalakan TV untuk mengusir bosan.
Panggilan dari Surya. “Iya, Surya?”
“Saya ditahan di luar. Bisa Anda keluar sebentar?”
“Baiklah.” Pandu keluar untuk memastikan kalau Surya memang sudah berada
disana.
Terlihat seseorang dengan pakian rapi dengan stelan hitam. Beberapa berkas
tengah menggantung ditangannya. Surya memberikan isyarat kepada kedua polisi
yang menjaga kalau Pandu sudah datang.
“Pak, dia bersamaku. Ini hanya laporan perusahaan. Bukan masalah apa-apa.”
Pandu menjelaskan.
Kedua polisi itu berpandangan dan salah satunya mengangguk. Kemudian yang
lain memeriksa bagian tubuh Surya. Setelah dirasa cukup aman, Surya diizinkan
masuk. “Maaf atas ketidaknyamanan ini.” Kata polisi itu.
“Tidak apa-apa. Saya mengerti situasinya.” Surya tersenyum pada kedua
polisi itu dan pamit untuk masuk.
Sampai didalam, Surya langsung menjelaskan bagaimana perkembangan
perusahaan dan apa saja yang akan dilakukan. Setidaknya, Pandu mendapatkan
kabar baik. Omset yang terus meningkat, memaksa mereka untuk memikirkan tenaga
pengirim baru dan gudang yang lebih besar. Surya juga menyampaikan kalau dia
punya rencana untuk membuka cabang di kota Santar.
“Santar? Bukannya kota itu baru saja hancur? Maksudku perekonomiannya?”
Pandu heran, kenapa Surya memilih tempat itu.
Surya tersenyum mendengar itu. “Tepat sekali. Tapi, saya yakin kalau Anda
tidak akan melewatkan kesempatan ini. Jika kita bergerak cepat, kita akan
menjadi perusahaan pengiriman pertama yang mendukung kota itu untuk tumbuh
kembali. Yakinlah, kita akan dengan mudah mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Terlebih jika kita mengambil tenaga kerja dari mereka.”
Pandu berpikir sejenak. Dalam hati, dia mengakui kebolehan Surya dalam
mencari kesempatan. Dia memang memiliki pemikiran out of the box. “Itu sangat
bagus. Kau yakin itu akan berkembang dengan cepat?”
“Saya tidak memastikan hal itu. Hanya saja, membantu orang-orang disana
pasti juga merupakan keinginan Anda.” Surya meyakinkan.
Lagi-lagi Surya memberikan jawaban yang yang tak pernah terpikir olehnya. Membantu
orang lain. Itu adalah tujuan awal Pandu saat memegang Jasa Pengiriman Kirling
ini. Surya mengingatkannya akan tujuan semula. “Aku serahkan semunya padamu.
Jika laporannya nanti sudah cukup lengkap, aku akan menandatanganinya. Yang
penting lakukan survei mendalam di kota itu.” Pinta Pandu.
Sesaat kemudian, Pandu dan Surya mendengar ada sedikit keributan diluar.
Polisi sepertinya bersi keras untuk melarang seseorang masuk. Pandu keluar
untuk melihatnya. “Pak Firman?” Pandu terkejut. Setelah lama tidak bisa
dihubungi, kini dia muncul. “Orang ini juga bersamaku, Pak.” Kata Pandu.
Pak Firman yang hanya menggunakan kemeja bergaris dan celana levis itu
kemudian berjalan masuk. “Aku sudah dengar beritanya. Ku harap kalian baik-baik
saja.” Pak Firman memberikan simpatinya.
“Semuanya baik-baik saja. Aku tidak tahu apa yang dirasakan Karin. Semoga
dia juga merasa baik.” Ungkap Pandu.
Setelah mereka sampai di dalam, Pak Firman menjabat tangan Surya. Mereka
pernah bekerja sama membangun jasa pengiriman Kirling saat masih ditangani
ayahnya Pandu. Mereka tidak terlihat asing satu sama lain.
“Apa sebaiknya saya pergi?” Surya bertanya dengan sopan.
“Tidak, kali ini aku membutuhkanmu disini. Ini sulit. Percayalah!” Bujuk
Pandu agar Surya menetap.
Mereka bertiga duduk. “Bagaimana keadaan Karin?” Tanya Pak Firman langsung.
“Dia aman. Sekarang dikamar sedang tidur mungkin. Setelah kejadian tadi
malam, kami kesulitan untuk tidur.” Jelas Pandu.
“Syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa.” Pak Firman diam sebentar. Lalu
melanjutkan, “Oh, iya. Maaf kalau selama ini aku tidak bisa dihubungi. Aku
sendang mempersiapkan segalanya untuk mengambil Karin. Dan, kini aku bisa jamin
kalau aku siap. Takkan ada yang tahu kalau aku yang menjaganya.”
“Aku yakin itu pasti sempurna.” Puji Pandu. “Tidak masalah kalau aku harus
menyerahkan Karin. Aku harap dia siap. Sementara, aku juga harus mempersiapkan
diri. Aku sudah terlanjur masuk dalam masalah ini.” Ungkapnya.
“Iya, sepertinya Anda tidak ingin kehilangan Karin?” Surya sedikit
bercanda.
“Mungkin aku akan merindukannya. Tapi, aku sudah biasa sendiri.” Aku Pandu.
“Aku mengambilnya, bukan berarti tugasmu selesai, Pandu. Justru pada saatnya
nanti, kau akan kembali menjaga Karin. Selama Karin bersamaku, kuharap kau
bersiap untuk kemungkinan yang paling buruk.” Jelas Pak Firman.
Kemudian, terdengar langkah orang lain datang. Sekejap mereka diam
memperhatikan siapa yang akan muncul. Tak ada yang menyangka, Manager dari
Lancar Jaya datang dengan membawa sekretaris perusahaan. Pasti ada hal penting
yang membuat mereka harus datang hari ini tanpa memberi kabar sama sekali.
Bahkan polisi memebiarkan mereka lewat.
“Maaf kalau kami mengganggu.” Ucap sang manager.
Pandu merasa bingung. Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa mereka tiba-tiba
muncul? Pandu berharap tidak ada hal yang darurat seperti masalah Karin. Pandu
memegang kalung yang ada dalam bajunya. Dia merasa tidak enak dengan kehadiran
kedua orang ini. “Silahkan masuk.” Ucap pandu berusaha sesantai mungkin.
Mereka berdua mengambil posisi. Sekretaris itu terlihat menarik dibalik balutan
jas ketat dan rok sedengkul. Sementara rambutnya yang dipotong pendek ditambah
kacamata membautnya terlihat sempura sebagai seorang sekretaris. Ditangannya
ada beberapa tumpuk berkas. Entah berkas apa yang ada disana.
Pak Gilang langsung berinisiatif menyiapkan minuman untuk mereka. Hari ini
cukup ramai di rumah Pandu. Semua tamu yang datang bukanlah orang biasa.
Semuanya punya kepentingan. Baik dengannya, atau dengan Karin. Suasana menjadi
sedikit lebih tegang.
“Sebenarnya, kami hanya punya urusan dengan Karin.” Ucap sang Manager.
“Pandu, sebaiknya Anda memanggil Karin kesini. Ini adalah perusahaanya.
Dialah yang lebih berhak tahu.” Surya menyarankan.
Pandu belum beranjak. “Aku minta satu hal, libatkan kami dalam masalah ini.
Aku yakin, Karin pasti akan sangat bingung menghadapi hal ini.”
“Saya disini juga mewakili Jasa Pengiriman Kirling. Dan perusahan Lancar Jaya
adalah investor utama kami. Jadi, saya ingin mengatakan, kami juga berhak tahu
apa yang terjadi dengan investor kami.” Surya mengatakan itu agar tidak ada
yang harus ditutupi. Terlebih Lancara Jaya adalah prusahaan keluarga.
Sang sekretaris memperbaiki kacamatanya dan mengangguk ke arah Sang
Manager. “Baiklah, kalian bisa ikut.” Ungkapnya.
Pandu pergi untuk memanggil Karin. ‘Tuk... Tuk... Tuk...’ Pandu mengetuk
pintu tiga kali. “Karin, boleh aku masuk?”
Karin membalas dengan tenang dari dalam. “Silahkan, Bang.” Karin sepertinya
tidak tahu apa yang sedang terjadi di rumah ini.
Pandu membuka pintu dan terkejut sebentar melihat Karin yang hanya
menggunakan tank top dan celana pendek. Disitu terlihat kemulusan tubuh Karin.
Terlebih dia sedang berada di masa pertumbuhannya. Tidak terlalu gemuk dan
tidak terlalu kurus. Biasanya, Pandu selalu melihat Karin memakai pakaian yang
lebih rapi dan tertutup. Karin sedang berada di meja belajarnya. Membaca
bukunya.
“Kenapa, Bang?” Karin heran melihat ekspresi Pandu yang seakan terpana.
“Gak, gak..” Pandu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Karin lagi apa?” Pandu
bingung dengan apa yang harus diucapkannya.
“Belajar, Bang. Sebentar lagi ujian. Karin banyak ketinggalan pelajaran.”
Pandu sudah bisa mengendalikan dirinya. “Oh, iya. Pak Firman dan manager
datang. Mereka mau menemuimu. Turunlah sebentar. Ada masalah penting.” Pandu
melihat Karin tersenyum. Anehnya, kali ini terasa berbeda.
“Oh, ya?” Karin terlihat senang. Sudah lama dia merindukan Pak Firman. Yang
merupakan pamannya itu. “Sebentar lagi Karin turun. Karin ganti baju dulu.
Abang duluan aja.” Karin bersemangat.
“Hmm... Ok. Aku tunggu dibawah.” Pandu menutup pintu. Kemudian menarik
nafas dalam-dalam. Kenapa harus sekarang? Katanya dalam hati. Dia
kembali ke perkumpulan.
Pak Gilang sudah berada disana untuk ikut dalam rapat dadakan ini. dengan
banyak hal-hal yang harus dibahas. Pandu mengajak mereka untuk menikamati
minuman yang disediakan. Sekretaris yang duduk disamping Manager itu terlihat
cukup angkuh. Apa semua sekretaris harus terlihat seperti itu?
Pertanyaan itu berputar dalam benaknya.
Karin turun dengan pakaian formal. Hampir seperti biasa yang dilihat Pandu.
Jadi, Pandu tidak merasakan apapun. Pak Firman berdiri dan memeluk keponakannya
itu. Karin kemudian menjabat tangan Manager dan sekretaris. Kemudian duduk
diantara Pak Firman dan Pandu.
“Baik.” Manager memulai dengan sopan. Sementara sekretaris membenarkan
posisi kacamatanya. “Arsitek tidak mau melanjutkan proyeknya karena tidak
adanya kejelasan pemimpin perusahaan. Untuk penanggung jawab sementar, itu
saya, tidak bisa berbuat apa-apa saat para investor juga meminta agar pimpinan
perusahaan ini segera dihadirkan agar semua bisa berjalan dengan normal.
Beberpa pekerja juga perlahan mengundurkan diri kareana ketidak jelasan ini.”
Manager itu berusaha mendeskripsikan semuanya sesingkat mungkin.
“Dana yang kita terima,” Sekretaris melanjutkan. “untuk proyek ini perlahan
terus berkurang. Sementara pembangunan belum juga terlaksana. Kalau terus
begini, kita bisa kehabisan uang. Kalau memang Karin masih belum bersedia
menduduki tahta, kami terpaksa menjual proyek itu dan mencari proyek lain yang
bisa dikerjakan. Demi kelangsungan
perusahaan, hal itu harus dilakukan.” Sekretaris itu memperbaiki lagi
kacamatanya.
“Bagaimana Karin? Apa kau siap dengan hal ini?” Tanya Pak Gilang. Dia
menajdi penasehat sekarang ini.
“Sebentar, apa para investor benar-benar yakin ingin karin yang naik dan
memimpin perusahaan?” Pak Firman membuka pertanyaan.
“Sebagian besar mereka tidak setuju. Tapi mereka mau memberikan kesempatan
satu kuartal. Jika saja tidak ada hal yang berubah atau malah akan hancur,
mereka memilih menarik investasi.” Sekretaris menjawab dengan jelas.
“Lancar Jaya benar-benar sedang dalam posisi sulit.” Gumam Surya yang sedari
tadi berusaha memikirkan jalan keluar. Tapi, buntu.
Pandu gelisah, “Aku juga tidak punya ide.”
Karin hanya diam tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Dia bahkan
tidak tahu harus berkata apa. Sekarang dia menyadari bagaimana kesibukan
papanya dulu. “Aku sama sekali tidak mengerti. Aku masih sekolah, jadi aku
tidak mengerti apa-apa.” Akunya.
Kini keadaan menjadi hening. Semua orang larut dalam pikiran yang tidak ada
jalan keluarnya. Proyek yang dikerjakan adalah pembangunan perumahan di pinggir
pantai untuk mereka yang kurang mampu. Tanah itu juga diperebutkan oleh
kontraktor lain untuk dijadikan lahan bisnis. Cukup strategis jika disana
dibangun sebuah pasar yang menjual hasil laut. Tapi, harus dengan menyingkirkan
para penduduk. Jika lahan dijual, maka orang-orang yang kurang mampu akan
kehilangan tanah mereka. Lancar Jaya juga akan kehilangan kepercayaan dari
masyarakat. Itu akan memperburuk reputasi perusahaan.
Pak Firman terlihat menggosok-gosok dagunya, “Bagaimana jika aku yang
memegang perusahaan untuk sementara?” Katanya setelah berpikir cukup lama.
“Maksud anda?” Manager bertanya tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Maksudku, biar aku yang menjadi CEO nya untuk sementara. Bisa saja Karin
menyerahkan itu karena aku adalah adik kandung dari Pak Chandra. Setidaknya,
paling lama sampai Karin lulus dari sekolahnya atau paling tidak sampai proyek
ini selesai.” Jelas Pak Firman.
“Menurut saya, itu cukup baik,” Surya menunjukkan dukungannya. “mengingat
juga proyek yang diajukan bakal mengorbankan orang banyak. Mereka masih
bertahan di Motel itu dan masih percaya dengan Lancar Jaya. Jangan sampai
proyek terjual dan mencoreng nama baik
Pak Chandra.”
Manager dan Sekretaris saling pandang. Mereka berdua tidak menyangka ada
hal seperti ini. Memang surat kepemilikan, perusahaan itu harusnya menjadi
milik Karin. Tapi, mengingat Karin masih sangat hijau. Bahkan dia tidak
mengerti apapun, ternyata masih ada jalan lain.
“Mungkin, kami bisa membicarakannya dengan para investor besok. Dan
berkas-berkas yang diperlukan, akan kami siapkan. Selanjutnya, kami akan
menemui lagi disini. Belum bisa dipastikan kapan. Tapi akan kami beritahu
secepatnya.” Manager terlihat lebih cerah sekarang. Bebannya seakan sudah
terangkat.
“Selanjutnya, kalian sebaiknya langsung menghubungi Karin. Karena besok,
aku akan membawanya. Dia tidak lagi disini.” Pak Firman mengingatkan.
“Iya, aku juga mau mengingatkan itu.” Aku Pandu.