(Tiga tahun yang lalu…)
Sebuah toko buku langganan Jefri di Medan. Biasanya, Jefri datang ke tempat
ini untuk membeli buku. Sebulan sekali paling tidak. Hari ini, dia merasa sudah
kehabisan buku untuk dibaca. Walau hanya buku-buku ringan, Jefri selalu
menyempatkan diri untuk terus membaca.
Disapanya penjaga toko buku itu. “Bang Budi, apa kabar?” Ya. Seperti biasa,
dengan nada datar.
“Kau memang suka membaca, ya. Aku kira hanya panas-panas diawal saja.” Budi
tersenyum dengan sedikit mengejek.
“Buku tentang apa yang sedang laris sekarang ini?” Tanya Jefri sambil
mengambil sebuah majalah yang bersampul ruang angkasa. Pesawat penjelajah NASA
yang akan menuju orbit Pluto masih hangat dibicarakan.
“Yang kau pegang itu yang masih panas sampai sekarang.” Ujar Budi sang
penjaga toko dengan sebatang rokok di bibirnya.
“Aku baca sebentar, ya.” Jefri meminta izin membaca majalah itu.
Budi, penjaga toko itu sudah mengenal Jefri sejak lima bulan yang lalu.
Awalnya, Jefri datang setiap dua minggu sekali. Katanya, hanya untuk menikmati
beberapa buku. Sebagai penjaga toko, tentu saja Budi kesal jika bukunya tidak
dibeli. Tapi, berbeda saat dia melihat Jefri. Dia selalu membeli buku walau
hanya buku yang tipis.
“Tidak ada yang boleh merokok di tempat ini selain aku. Kau mengerti, kan?”
Budi mengingatkan.
“Aku tahu.” Jefri terus membaca.
Beberapa saat kemudian, datang seseorang yang bernampilan cukup gembel. Dia
berdiri di depan Budi dengan tampang sangat memelas. Budi tidak mengerti apa
yang diinginkan anak itu. Awalnya terlihat seperti dia akan meminta sumbangan.
Budi sedah muak dengan orang-orang seperti itu.
“Apa maumu?” Tanya Budi kasar.
Anak itu terlihat pucat. Tapi, tetap menjawab, “Aku mau kamus itu.” Dia
menunjuk sebuah kamus Inggris – Indonesia karya John M. Echols dan Hassan
Sadily.
“Harganya 60k. Kau mau beli? Aku tidak punya yang bekas. Dan itu stock
terakhir.” Budi mengatakannya dengan sangat meyakinkan.
Pemuda itu mencoba mencari uang yang ada di kantongnya. Satu lembar uang
dua puluh ribu dan selembar uang sepuluh ribu. Wajahnya terlihat sangat kecewa.
Dia hanya mendapati uang lima ribu rupiah di kantong belakangnya. Hingga
totalnya hanya tiga pulu lima ribu rupiah.
“Buku corel draw ini barapa harganya, Bang?”
“Itu 60K juga, Jef.” Budi berbalik menghadap ke pemuda itu lagi. “Jadi
beli, gak?”
“Uangku gak cukup, Bang.” Anak itu menjawab dengan sangat memelas.
Mendengar percakapan itu, Jefri langsung melirik pemuda yang sedari tadi
berdiri di depan meja kasir. Jefri mengembalikan buku itu ke tempatnya.
Perlahan dia berjalan ke meja kasir.
“Maaf sekali, aku tidak bisa memberikannya. Pulanglah. Semoga lain kali kau
beruntung.” Budi menurunkan suaranya.
“Tapi, Bang, Aku boleh hutang gak? Aku janji aku bayar. Sampai akhir bulan
ini. Aku janji.” Pemuda itu sangat berharap.
“Agung! Aku tidak pernah menjual dengan sistem cicilan. Apalagi hutang. Aku
tidak bisa.” Budi mengangkat suaranya menyatakan ketidak-bisaan itu.
“Coba aku lihat kamusnya...” Kamus itu pun diberikan kepada Jefri. Dia
melihat coverya. Terlihat cukup bagus dan sangat baik. Covernya cukup tebal.
Jefri membuka halaman secara acak. Susunannya terlihat sangat rapih. Belum ada
cacat sama sekali.
“Keinginan kuatmu untuk belajar boleh saja tinggi, Nak. Tapi, kau tidak
bisa mendapatkan apa-apa tanpa uang.” Budi mengatakan itu pada pemuda yang
bernama Agung.
Agung terlihat menahan air mata. Memang benar, menuntut ilmu juga memiliki
tantangan ekonomi. Dia bahkan kesulitan untuk mendapatkan kamus yang seharusnya
dimiliki setiap pelajar itu. “Kalau begitu, besok aku akan datang lagi dan
membelinya.” Tekad Agung.
“Silahkan saja. Tapi, ingat, ini adalah stock terakhir. Aku tidak punya
yang seperti ini lagi di gudang.” Ungkap Budi lagi.
“Aku beli. Cetakan yang ini cukup bagus. Tidak ada cacat sama sekali. Semuanya
sempurna.” Jefri segera mengeluarkan uang seratus ribu dan membayar kamus itu.
“Maaf, Bukan rezekimu, Gung.” Budi mengambil kamus itu dan memasukkanya ke
dalam kantong plastik. Kemudian menyerahkannya beserta uang kembalian pada
Jefri. Jefri memasukkan uang itu ke dalam kamus.
Agung terdiam dan sepertinya dia sangat depresi melihat itu. Tega sekali
orang ini membeli sesuatu yang tidak sanggup dibelinya. Padahal, dia sangat
menginginkan kamus itu. “Kapan stock baru akan datang, Bang?” Tanya Agung
kemudian.
“Mungkin bulan depan.” Budi menjawab sekenanya.
Jefri tersenyum tengil. “Kau tidak perlu menunggu bulan depan.” Kata Jefri
sambil mengulurkan kantong plastik berisi kamus tadi.
Agung terdiam tanpa kata melihat apa yang terjadi. Dia tidak menyangka hal
seperti ini yang akan terjadi. Penampilan Jefri memang tidak terlihat seperti
orang kaya. Kerendahan hatinya, membuat Agung tidak bisa menilainya. Waktu
seperti berhenti sesaat.
“Kau ingin menerimanya, atau membuatku berdosa karena menjadikan kamus ini
pajangan di kamarku disaat ada orang lain yang sangat membutuhkannya?”
Kata-kata Jefri menyadarkan Agung dari lamunannya. “Bagaimana?” Tanya Jefri
lagi.
“Terimakasih banyak, Bang...”
“Jefri.”
“Iya, Bang Jefri. Namaku, Agung Sandi. Sekali lagi terimakasih banyak, Bang.”
“Iya, belajarlah dengan baik, ya.”
“Aku pulang dulu, Bang. Adik-adikku menungguku dirumah.”
“Okeh, hati-hatilah.”
Agung langsung menghilang di sebuah simpang. “Sepertinya aku tidak membawa
buku hari ini.” Ucap Jefri. Isyarat kalau dia akan pulang.
“Kenapa kau berikan kamus itu begitu saja?” Budi penasaran.
“Aku takut dia mengira tidak ada lagi orang baik di sekitarnya. Kamus itu,
dibutuhkannya saat di sekolah. Bukan untuk ajang keren-kerenan. Jika itu adalah
sebuah novel, aku tidak akan melakukannya.”
Jefri berpamitan dan pergi meninggalkan toko buku itu dengan tangan kosong
tapi dengan hati yang sangat puas. Dia merasa hari ini adalah terbaik yang
pernah di jalaninya.
(Sekarang.....)
Agung Sandi? Sepertinya tidak asing. Ungkapnya dalam hati.
“Ayo, Jef! Nanti kita tidak dapat duduk.” Dhilla menarik tangan Jefri yang
masih membaca Poster di pintu masuk aula. Hari ini adalah Lomba Debat Bahasa
Inggris antar Universitas Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara (USU) waktu
itu diwakili oleh Agung Sandi. Dan dia diagadang-gadang layak tampil di kancah
nasional.
“Kebetulan sekali kau mengajakku ke tempat seperti ini.” Jefri merebahkan
badannya di sebuah kursi. Mereka dapat barisan kedua.
“Iya, Debatnya seru. Terutama anak perwakilan USU itu.” Kata Dhilla. “Padahal
dia masih semester dua.”
“Oh, Ku kira karena apa.”
“Jefri kau jangan cemburu, ya. Aku suka jalan pemikirannya. Bukan yang
lainnya.”
“Apa aku terlihat cemburu?” Tanya Jefri serius.
Jefri melihat para peserta. Terlihat di sana Agung Sandi berdiri dengan
gagahnya di balik balutan jas yang membuatnya terlihat berwibawa. Jefri
merasakan de javu. Sepertinya dia pernah bertemu orang itu.
Saat acara selesai, Jefri mengajak Dhilla ke belakang panggung. Dengan alasan
ada seseorang yang mau ditemuinya. Penjaga membolehkan mereka masuk. Terlihat
Agung masih merayakan kemenangannya dengan teman-temannya. Jefri tidak ingin
mengaggangu.
Tanpa sengaja, Agung melihat ke arah Jefri dan Dhilla. Segera saja, Agung
menyerahkan piala dan sertifikan itu kepada temannya dan mendatangi Jefri. Dia
langsung memeluk Jefri seakan mereka adalah teman dekat.
“Aku gak tau abang datang.” Ungkap Agung.
“Aku diajak sama orang disebelahku.” Jawabnya.
“Kau tidak bilang kalau kau mengenalnya, Jef.” Ungkap Dhilla.
“Dhilla, ini Agung dan Agung, ini Dhilla.” Kemudian mereka berjabat tangan.
“Aku bertemu dengannya sekitar tiga tahun yang lalu.”
“Itu saja?” Ungkap Dhilla yang tidak mau percaya begitu saja.
“Gak, Kak. Bang Jefri yang membelikan aku kamus waktu itu. Karena itu, aku
belajar Bahasa Inggris dengan sungguh-sungguh. Akhirnya, aku bisa mengikuti
debat nasional. Hal kecil yang dilakukan Bang Pandu, berdampak besar padaku.
Aku sangat berterimakasih.”
Kemudian, sepasang anak laki-laki dan perempuan datang menghampiri. “Tadi
abang hebat sekali.” Kata yang perempuan sambil memeluk Agung.
“Iya, Aku sampai gak yakin yang diatas panggung tadi abangku.” Kata yang
laki-laki.
“Iya, itu semua karena kalian juga yang siap membantu persiapannya, Wulan
dan Kiki adek terbaiklah pokoknya.” Mereka tertawa sangat bahagia. “Oh, iya.
Lan, Ki, ini Bang Jefri yang sering abang ceritakan itu. Yang disamping itu Kak
Dhilla. Disapa dulu.”
Mereka saling berjabat tangan. Kemudian, Agung meminta waktu sebentar untuk
berbicara empat mata dengan Jefri. Mereka memberikannya.
“Bang, aku ingin mengganti uang yang abang pakai waktu itu untuk membeli
kamus ditambah uang yang ada di dalam...”
“Kalau kau membayarnya, aku akan menghajarmu sekarang.” Jefri berkata agak
kasar. Agung tidak percaya reaksi Jefri akan seperti itu.
“Budi baik abang, tidak akan pernah terbayar, Bang. Tapi, aku hanya mau
mengganti nominal yang abang keluarkan waktu itu saja. Bukan karena apa-apa
bang, aku tidak tahu bagaimana cara berterimakasih lagi ke abang.”
“Waktu itu, aku memberikan itu bukan karena kasihan. Seharusnya aku tidak
menyebutkan namaku waktu itu. Jadi, kau tidak perlu tahu aku dan...”
“Okehlah kalau abang gak mau. Aku becanda aja tadi.” Agung tertawa. “Tapi,
kali ini abang gak boleh nolak. Aku ngajak abang makan besok. Nanti aku sms
tempatnya dimana. Ajak kakak itu juga, ya. Soalnya nanti kita double date.”
“Besok, ya? Kayaknya bisa. Aku gak ada kegiatan.”
“Baiklah. Hah, aku masih ingat waktu abang memberikan kamus itu. Awalnya,
kupikir abang orang paling jahat yang pernah kutemui. Rupanya, abang beli kamus
itu untukku. Kupikir dunia ini sudah tidak memiliki orang baik lagi. Tapi
ternyata masih ada. Aku juga tidak mau kalah. Hadiah dari debat ini nanti aku sumbangkan
setengahnya ke panti asuhan.”
“Kau memang menjadi orang baik.” Ungkap Jeri bangga.