Aku
sudah merasa cukup puas bermain game online malam ini. Rumahku yang sudah terpasang internet, membuatku
terus-menerus berpetualang di dunia maya. Semua itu karena hobby yang tidak
bisa kutinggalkan. Jam memang masih menunjukkan pukul 11.00. Terlalu cepat
untukku jika harus tidur sekarang. Aku biasanya hanya butuh tidur sekitar 3-4
jam saja. Jika terlalu lama, aku anggap itu membuang-buang umur. Kuambil sebuah
buku. Kubaca perlahan. Ternyata aku sedang merasa sangat jenuh. Apa yang
harus kulakukan sekarang? Tanyaku pada diri sendiri. Rasa kantuk yang tak
kunjung menghampiri membangkitkan rasa frustasi.
Sepertinya, aku membutuhkan kegiatan baru dalam menjalani
hari-hari. Berpacaran bukanlah tipeku. Aku lebih senang menghabiskan waktu
mengutak-atik komputer atau laptop tuaku dari pada harus berjalan dengan
seorang wanita. Semanjak tamat dari sebuah pesantren, hanya Dhilla wanita yang
berhasil mencuri perhatian. Meski begitu, aku terus menahan diri. Hingga terlihat aku tak memberi kepastian apapun. Dan Dhilla
sepertinya sangat setia menunggu.
Tak
terasa, akhirnya aku tertidur. Sangat lelap dan bermimpi akan hal yang tidak
dapat kuingat lagi saat terbangun. Ketika terbangun, aku hanya ingin mengingat
lagi apa yang terjadi di dunia bawah sadarku. Terkadang, hal itu memaksaku
untuk tertidur lagi. beberapa hari ini, aku berhasil membunuh rasa penasaran
itu. Kuliah dimulai pukul 09.00 dan masih cukup banyak waktu untuk bersantai. Aku sudah biasa terbangun pukul 05.00 pagi.
Itu memberikan sensasi sendiri.
Kulihat cahaya kuning masih menghiasi langit yang gelap.
Kubuka semua jendela di rumah yang kutempati sekarang. Hanya aku seorang diri
yang tinggal disini. Orang tuaku membeli rumah ini sebelum aku tamat dari
pondok pesantren. Cukup strategis letaknya.
Selesai
sholat shubuh, aku membersihkan halaman rumahku. Sekedar agar tubuhku bergerak saja. Kamarku, kubiarkan
berantakan. Aku tak merasa nyaman jika saja kamar itu tertata rapi. Aku
tersenyum geli membayangkan jika saja kamarku tertata rapi.
“Jefri rajin, ya.” Ada suara yang menyapaku.
Kusadari itu adalah Dedi. Seorang dokter spesialis. Dia
sudah tiga tahun tinggal di sebelah rumahku bersama istrinya. “Iya, Bang.
Sekedar menggerakkan badan saja.” Kataku datar.
“Aku joging dulu ya, Jef.” Katanya sambil berlari-lari
kecil keluar rumahnya.
“Oke, Bang.” Jawabku.
Setelah berhasil membersihkan halaman rumah yang tidak
begitu luas, aku menyiapkan teh manis. Beberapa temanku biasanya datang dan
menikmati pagi disini. Ada sms masuk ke hapeku. Beberapa temanku tidak akan
pernah menelponku dipagi hari sampai pukul 11.00 pagi. Karena aku sudah
mengatakan pada mereka, aku tidak akan menjawab panggilan sebelam jam segitu.
Biasanya, yang mengirim pesan sepagi ini adalah Dhilla. Antara dia minta jemput
ke kampus atau hal-hal lain yang sebenarnya bisa dilakukannya sendiri. Aku
bingung menghadapi wanita yang satu ini.
Benar saja, itu adalah pesan dari Dhilla. Dia akan datang
membawakan sarapan. Tentu saja aku tidak keberatan. Jika Dhilla yang datang,
berarti teman-temanku yang lain tidak akan datang. Biasanya seperti itu. Meski
aku tak memberitahu mereka kalau Dhilla akan datang.
Setelah mandi, aku duduk di teras depan rumahku. Pagar
sudah kubuka dan sekarang aku hanya menikati pagi sambil membaca berita online.
Apalagi yang berhubungan dengan teknologi.
Tiiin….
Dhilla sudah sampai dan memberikan isyarat agar aku
membukakan pagar. Dia pun masuk. Setelah memarkirkan ‘beat’-nya, dia langsung
duduk di sampingku dan mengeluarkan dua kotak nasi.
“Ada apa, tiba-tiba memberikanku sarapan?” Tanyaku
langsung.
“Kamu
tidak suka?” Tanya Dhilla dengan wajah cemberut.
Aku
merasa salah bertanya. Aku pun bingung bagaimana menjawabnya. Tanpa pikir
panjang, aku langsung mengambil kotak itu, dan membukanya. Nasinya masih
hangat. Asapnya mengepul saat kubuka. Sambel teri dan sayur daun ubi. Semoga
saja cukup untuk mengganjal. Katakku. Tanpa peduli dengan pertanyaan Dhilla
tadi, aku langsung mencoba makanan yang diberikannya. Aku kaget pada suapan
pertama. Rasanya seperti masakan ibuku. Sangat akrab dilidahku.
“Kenapa?
Tidak enak ya?” Dhilla memasang wajah kecewa.
“Siapa bilang?” Kataku setelah menelan.
“Kamu ekspresinya seperti itu.” Katanya lagi sambil
membuka makanannya. Ternyata lauknya juga sama dengan punyaku.
“Aku hanya merasa masakan ini sangat akrab dilidahku. Aku
tidak tahu kenapa. Seperti masakan ibu.” Jawabku datar. Kemudian, kulihat
wajahnya memerah. Dia menunduk malu. Tidak biasanya seperti ini. Sepertinya,
dia menganggap ini sebuah pujian yang spesial. Aku tidak mengerti.
Akhirnya, Dhilla menghabiskan makanannya. Aku sudah lebih
dulu menghabiskan makananku. Aku menuangkan secangkir teh manis untuknya. Baru
kemudian untukku. Aku bangkit dan membawa kedua kotak makanan itu kedapur untuk
mencucinya. “Nanti siang sepulang kuliah aja diambil, ya.” Saranku. Dhilla
hanya mengangguk. Aku kembali duduk menemaninya di teras rumah.
“Wih, enak ya, Jef. Pagi-pagi
udah ada yang nemenin.” Bang Dedi menyapa sambil tertawa. Aku hanya tersenyum
simpul sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Dhilla hanya diam melihat bang Dedi. Kemudian dia
menghilang ke dalam rumahnya.
“Nanti
kita berangkat masing-masing atau kau ikut aku?” Tanyaku memecah hening.
“Aku pengennya samamu aja, Jef. Tapi, terserahlah.”
Katanya kembali melemparkan pilihan padaku.
Aku kesal sebenarnya. Tapi,
begitulah wanita. Selalu melemparkan kembali pilihan yang diajukan padanya.
“Nanti gak ada keperluan lain?” Tanyaku. Yang aku takut saat kami ternyata
memiliki keperluan masing-masing. Dan kami harus berpisah nanti. Dhilla hanya
menggeleng dan kemudian aku yang terdiam sementara. Aku biasanya hanya duduk
di taman sambil membaca beberapa buku. “Kita bareng aja kalau gitu. Pakai vixion aku aja, ya. ‘Beat’-mu
biar dimasukkan aja ke dalam.” Saranku.
Dhilla terlihat senang. Kemudian,
kami mengobrol ringan. Tak terasa sudah jam delapan lewat lima belas. Aku pun
bersiap-siap. Setelah mengeluarkan vixionku dan memanaskan mesinnya, aku
memasukkan beat Dhillla ke dalam rumahku. Aku meminta Dhilla menunggu di luar.
Setelah memastikan semua pintu terkunci, aku pun menjemput Dhilla yang sudah menunggu
di depan pagar. Aku memintanya untuk menutup pagar dan kami
pun berangkat.
Seperti biasa, Ari dan Agus menungguku di parkiran. Untuk
merokok bersama. Dhilla sepertinya mengerti aku tak bisa diganggu saat bersama
teman-temanku. Dia pun pamit, dan aku tetap di parkiran bersama Ari dan Agus.
Aku megambil rokok dan membakarnya. Kemudian berbincang bersama mereka. Sampai
akhirnya jam kuliah dimulai.
Sepulang kuliah, untungnya aku ingat, tadi aku membawa
Dhilla. Sekarang, aku harus menunggunya. Ari dan Agus pun berangkat dengan
pasangannya masing-masing. Untuk diketahui, Ari sudah terlalu sering
ganti-ganti pacar. Setiap sindiran yang kami lontarkan, tidak ada gunanya.
Bahkan, aku dan Agus pernah bertaruh
kalau Ari dan pasangannya akan bertahan atau tidak. Sudah pasti tidak. Dan
taruhannya batal.
Dhilla akhirnya datang. Dia beralasan tadi ke kekamar
mandi. Aku tidak peduli. Aku memberi aba-aba agar dia naik. Dan aku pun
langsung membawanya pulang. Kerumahku pastinya.
Sebelum ke rumah, aku menyempatkan diri untuk membeli dua
bungkus nasi untuk makan siang. Dhilla ikut saja. Tumben kali ini dia tidak
banyak bicara. Biasanya, Dhilla cukup bawel saat aku tidak melakukan apa-apa.
Mulai dari dikatakan pemalas, orang yang membosankan dan lain-lain. Aku tidak
pernah bertanya kenapa dia tertarik pada orang sepertiku. Aku takut itu
menyinggungnya.
Rumah yang kutempati, cukup besar. Ada tiga kamar disini.
Kamar paling depan adalah kamarku. Disana berbagai kegiatan kulakukan sendiri.
Selain tv, kamar mandi dan dapur, segalanya hampir ada disini. Termasuk kulkas
kecil untuk mendinginkan minuman. Orang tuaku memang membelinya dengan komplit
beserta perabotan yang ada di dalamnya. Katanya, ini sudah dicicil semanjak aku
Aliyah. Itu sebabnya bisa melengkapi segala macam perabotan yang dibutuhkan.
“Kamu mau langsung pulang atau bagaimana?” Tanyaku
memastikan.
“Aku lelah, Jef. Boleh
aku menumpang tidur?” Pintanya.
“Tidur saja dikamar yang disana. Ingat, Sholat Dzhuhur
dulu.” Kataku menunjuk kamar yang ada disebelah kamarku. Kamar itu memang
kusediakan untuk tamu. Terlihat lebih rapi dari kamarku.
“Aku
sedang tidak sholat, Jef.” Katanya sambil beranjak ke kamar.
Aku mengerti maksudnya. Aku jadi kehabisan waktuku untuk
membaca. Pastinya, aku sedang tidak membaca buku berat. Beberapa buku ringan
aku baca di ruang tamu. Sendirian seperti biasanya.
Tiinn….
Klakson berbunyi. Subhan langsung membuka pintu dan
langsung masuk saja kerumahku. Dia salah satu teman yang sering datang
berkunjung. Aku pun tak ragu untuk sering datang ke kosnya saat aku sedang
butuh berbicara. Aku memang jarang berbicara. Aku lebih suka diam dan membaca.
Mungkin juga sedikit berfikir untuk menikmati apa yang telah aku baca.
Aku
melihat Subhan masuk dan membiarkannya saja. Subhan langsung kedapur dan mengambil minum. Aku sudah
menyuruhnya untuk menganggap ini adalah rumahnya sendiri. Aku terlalu malas
melayani tamu.
“Ada apa?” Tanyaku langsung. Aku tidak suka basa-basi.
“Kau yang kenapa, Jef. Suntuk kali kayaknya.” Katanya
menatapku serius. “Ini ‘beat’ siapa?” Tanya Subhan kemudian karena bingung.
“Punya Dhilla. Dia lagi tidur di kamar tamu.” Jawabku
santai.
Untungnya yang datang Subhan. Dia cukup mengerti apa yang
harus dibicarakan dan apa yang tidak harus dibicarakan. Aku tak perlu takut
dengan gosip yang akan diceritakan teman seangkatanku nantinya
“Bagh, mengerihkan juga kehidupanmu sekarang, ya.”
Katanya becanda.
“Tidak. Dia baru kali ini tidur disini. Biasanya dia langsung
pulang ke kosnya. Mungkin dia lelah.” Balasku datar. Aku masih bingung perihal
kedatangannya. Apa gerangan dan apa tujuan.
“Aku tadi ke taman. Kau gak ada, ya aku kesini.” Sepertinya, Subhan mengerti apa yang ingin aku tanyakan.
“Aku
lagi suntuk, Bhan. Aku butuh kegiatan lain.” Kataku mulai bercerita.
“Kau mau kerja? Waktu bisa
fleksibel.” Tanya Subhan serius.
“Tergantung
waktunya, Bhan.” Aku belum tahu kerja apa yang akan ditawarkan Subhan. Semoga
saja cocok.
“Ada
kawan aku yang lagi nyari pegawai untuk reparasi komputer dan laptop. Dia
kekurangan orang.” Jelas Subhan.
“Bagaimana
memang kerjanya?” Tanyaku mulai tertarik.
“Disana
ada dua Shift. Shift siang dan shift malam. Shift siang dimulai jam 10 pagi
sampai jam 4 sore. Gajinya lima
puluh ribu. Kalau untuk shift malam, dari jam 4 sore sampai jam 9 malam.
Gajinya tiga puluh ribu perhari. Kau bisa memilih hari liburmu. Aku yakin kau
gak mau milih hari minggu.” Subhan tertawa.
“Memangnya, bisa mengambil libur berapa hari?” Sepertinya,
aku akan ambil kali ini.
“Seminggu kau bisa mengambil dua hari libur.” Jelasnya
lagi.
Aku ambil libur jum’at sabtu aja. Minggu ambil Shift pagi.
Pikirku dalam hati. “Persyaratan apa aja?”
“Aku
disuruh nyari yang mau aja. Kayaknya langsung diterima gitu aja. Masa percobaan
cuma seminggu. Jadi gak perlu takut ijazahmu ditahan.” Subhan menjelaskan lagi.
“Aku tertarik. Besok kita datangi kawanmu itu ya. Semoga
bisa mengisi waktu luangku.” Harapku kedepannya.
Hanya itu pembicaraan penting. Sisanya kami hanya
bercerita ringan dan sedikit curahan hati dari Subhan masalah kuliahnya. Belum
lagi dia bertemu dengan gadis yang mulai mencuri perhatiannya. Subhan juga
masih berusaha menahan diri. Tapi, dia hampir kehilangan kontrol diri. Subhan
hampir melakukan kekeliruan yang selama ini dilakukannya.
“Aku bukan orang yang tepat untuk menasehatimu, Bhan.
Tapi, semoga aja pilihanmu itu adalah yang terbaik. Jangan sampai ada
penyesalan dikemudian hari.” Kataku menutup curhatnya.
Tiba-tiba Dhilla keluar. Dia langsung menuju kamar mandi.
Suasana menjadi sedikit canggung. Dhilla langsung duduk di sampingku.
“Dhilla, kenalkan, ini kawan pesantrenku dulu. Subhan.”
Kataku memperkenalkan Dhilla.
“Dhilla, Bang.” Dhilla
menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Subhan.”
Katanya sambil menyambut untuk berjabat tangan. “Teman sekampus Jefri, ya?” Dhilla hanya mengangguk. “Iya
Jefri sering cerita tentang Dhilla.”
Mendengar Subhan berkata begitu, aku langsung terkejut.
“Lam uhki ‘anha ila man kana.” (Aku belum cerita sama siapa-siapa tentang dia)
Kataku kemudian.
“Labaksa dzalik. Uskut fakot anta.” Balas Subhan santai.
Jelas aku gelisah karena apa yang dikatakannya. Dhilla
pun langsung melirikku. Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku. Kami sengaja mamakai
bahasa arab yang kami bisa. Agar pembicaraan ini hanya kami saja yang mengerti.
Dhilla sepertinya kebingungan.
“Kalian curang. Ngomomgnya pakai bahasa arab. Aku gak
ngerti.” Dhilla terlihat ngambek.
“Kata Jefri, gak usah pala dibilang-bilang masalah itu
didepanmu, Dhilla. Jefri agak pemalu memang.” Subhan menahan tawanya.
“Jefri!” Katanya menatapku dengan pandangan seperti ingin
membunuh.
Aku pun langsung bingung harus apa. Aku seperti
tersudutkan dalam posisi ini. Sementara Subhan hanya tertawa melihatku setelah
itu. Dasar Subhan! Kataku dalam hati. Dia memang pandai memainkan
situasi. Sekarang, aku seperti menjadi orang yang tersudutkan.
“Dia sering cerita apa aja?” Tanya
Dhilla lagi.
“Ya,
gitulah.” Subhan terlihat mulai gugup dengan pertanyaan seperti ini.
“Bagaimana?”
Dhilla ngotot ingin tahu.
Subhan mulai mengarang. “Ya, katanya kamu orang yang
sering membantu Jefri dalam berbagai hal. Salahsatunya dalam mata kuliah
matematika dan algoritma.”
Sebenarnya, itu cukup tepat. Subhan memang mengerti kalau
aku memang aku kesulitan dengan matematika dan algoritma. Kalimat itu seperti
sebuah keajaiban bagiku. Dhilla tersenyum.
“Iya. Jefri memang payah dalam hal matematika.” Dhilla
tersenyum.
Aku mengelus dadaku. Tanda
Syukur Subhan tidak melakukan mengatakan apapun yang salah. Tapi, tetap saja
aku merasa jengkel. “Ya, aku memang pernah cerita sama Subhan.” Kataku
menyetujui.
“Jef,
Aku pinjem laptopmu sebentar, ya.” Dhilla berkata kemudian. Tanpa persetujuanku, dia langsung menuju ke
kamarku dan menyalakan laptop.
“Hei. Jangan sentuh yang lain-lain disana ya. Biarkan
semuanya berantakan.” Kataku kemudian.
Kemdian, Subhan kembali bercerita. Sambil sekali-sekali
menyindir aku dan Dhilla. Dia bilang, kami sangat cocok. Sebenarnya, aku memang
mulai ada rasa dengan Dhilla. Tapi, aku berusaha untuk tidak memiliki hubungan
apapun yang mengikat. Bukan aku bermaksud menggantungkan perasaan Dhilla. Aku
sudah bilang pada Dhilla kalau aku tidak mau ada hubungan yang mengikat. Tapi
entah kenapa sampai sekarang, Dhilla tidak menerima cowok manapun yang
mendekatinya. Setiap kali ada yang mencoba mendekatinya, dia selalu berusaha
menunjukkan kalau aku dan dia memiliki hubungan spesial. Padahal tidak.
Tak
lama kami bercerita, Dhilla ikut bercerita lagi. Tidak terasa, sore pun menyapa. Dhilla pamit pulang. Aku
mengantarkannya ke depan. Disusul Subhan beberapa saat kemudian. Aku kembali ke
kamarku dan merebahkan tubuhku. Aku merasa ada yang aneh di kamarku.
Kuperhatikan, ternyata kamarku sedikit rapi dari tadi pagi. Kusadari, ternyata
memang terlihat rapi. Pasti ulah Dhilla. Pikirku. Aku pun langsung
memeriksa mejaku. Berharap tak ada yang dibuangnya.
Aku perhatikan semuanya sudah tertata rapi. Kunyalakan
laptopku. Ada sebuah catatan di layar laptopku. Aku baca catatan itu.
Jefri, aku sangat berterimakasih. Kau selalu ada saat aku
butuh. Hari ini, sebenarnya aku sedang sangat gelisah. Tapi, melihatmu
menghilangkan semua masalah yang kuhadapi. Kau menceritakan tentangku pada
temanmu, itu membuatku bangga. Aku merasa ada. Aku merasa dianggap. Dibalik
diammu, kau menyimpan banyak hal. Termasuk cerita kisah hidupmu.
Kamu memang orang yang sangat berbeda dengan yang lain.
Beberapa cowok yang mendekatiku, mereka menggunakan trik lama. Mereka seperti
menjadi bukan diri mereka. Tapi, dirimu tetap menjadi dirimu sendiri. Kamu lebih
keras dari karang yang selalu dihempas ombak. Tak ada apapun yang dapat
merubahmu. Bahkan, aku pun tak bisa merubah pendirianmu. Awalnya, aku kira kamu
hanya cuek kepada para wanita. Tapi sebenarnya, kau memang terlihat cuek pada
siapapun.
Aku tahu, kamu sebenarnya sangat peduli. Dibalik rasa
cuekmu, kamu sebenarnya sangat peduli. Aku pun merasakan kepedulianmu. Itulah
kenapa aku tidak bisa menerima orang lain dalam hidupku. Alasanku tidak
menerima siapapun adalah kamu. Aku takut kehilangan orang sepertimu. Messki
kita tak memiliki hubungan apa-apa, tapi aku senang. Terimakasih untuk selalu
ada untukku.
Kalau aku tidak salah dengar, kamu sedang mencari kerja,
ya? Apapun itu, aku harap itu adalah yang terbaik untukmu kedepannya. Jangan
sampai mengganggu kuliahmu. Teruslah menjadi Jefri yang aku kenal. Karena aku
menyukai dirimu yang seperti ini. Semangat untuk kerjanya, ya.
Satu lagi, aku meminta maaf kalau aku sedikit merapikan
kamarmu.
Aku tersenyum saat membacanya. Dhilla memang selalu
melakukan sesuatu seenaknya saja. Aku menyimpan catatan itu. Kusimpan di tempat
yang khusus. Malamnya, aku menghubungi Dhilla. Aku bilang padanya terimakasih
atas catatan yang diketikknya di laptopku. Tapi terakhir aku memintanya untuk
tidak lagi merapikan kamarku. Aku tidak begitu nyaman di tempat yang rapi.
Awalnya, aku merasa dia gugup saat aku menyinggung catatan yang dibuatnya.
Kemudian di akhir pembicaraan dia tertawa. Tentu saja. Dia pasti merasa aneh
dengan orang yang tidak nyaman di tempat yang rapi.