Sebuah keberuntungan memang bagi Rendi. Hari ini tidak turun hujan.
Pasalnya, bulan Desember adalah musim penghujan. Malam ini, dia berencana
menghadiri acara reuni SD. Kemungkinan besar, seluruh teman-teman Sdnya akan
datang memeriahkan acara yang baru pertama kali digelar ini. entah sudah berapa
tahun mereka tidak bertemu.
Rendi adalah lulusan SD swasta di kotanya. Dia banyak memiliki teman yang
berbeda baik suku dan agama. Bahkan, temanya yang beragama Islam hanya sekitar
46 orang dari total 126 murid saat dia tamat. Kemarin, dia sudah menemani Vivi,
salah seorang teman wanitanya untuk mengundang para guru yang mereka anggap
sangat berjasa. Tidak lain adalah guru-guru yang pernah menjadi wali kelas
mereka selama masih berseragam putih-merah.
Yang membuat sulit acara malam ini, hanya karena bertepatan dengan malam
natal. Beberapa orang yang beragama Islam sempat ingin membatalkan acara. Takut
terkesan mereka ikut merayakan natal di malam itu. Rendi memastikan bukan
seperti itu yang akan terjadi. lantaran, dia juga ikut sebagai salah satu
penyumbang ide acara itu. Kebetulan sekali memang karena malam itu adalah malam
minggu.
Rendi keluar dari kamar dengan berbalut pakaian bernuansa hitam yang rapi.
Jefri yang sedang asyik merokok di ruang tamu sambil memainkan ponsel menoleh
sebentar. “Kau yakin tidak ikut, Jef?” Rendi memastikan.
“Aku bukan alumni, Ren. Itu juga acaramu. Kau tahu sendiri aku tidak mudah
akrab dengan orang baru.” Balas Jefri dingin seperti biasa. Ini tidak ada
hubungannya dengan moodnya yang sedang tidak stabil.
Rendi tidak memaksa. Dia mengambil kunci motor Jefri dan siap untuk
berangkat. Akan jadi malam yang panjang, pikirnya. “Aku berangkat, Jef!” Seru Jefri setelah
mengeluarkan motor.
Kemudian terdiam sebentar. Seperti ada sesuatu yang tertinggal. Setelah
menyalakan motor untuk memanaskan, Rendi kembali masuk dan mengambil tas
sampingnya. Kini dia sudah memastikan semuanya aman. “Oh, iya, Jef!” Jefri
menoleh. “Hati-hati dengan kesendirianmu.” Lanjut Rendi sambil tertawa dan
pergi. Jefri hanya tersenyum miring..
Tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat tujuan. Kafe David akan menjadi
tempat bersejarah bagi angkatan mereka malam ini. Rendi datang duluan untuk
membantu semua persiapan. Sekaligus agar bisa memonitori teman-teman yang
lainnya.
Kafe terlihat sepi dari luar. Beberapa orang terlihat sibuk di dalam.
Setelah parkir dan meletakkan helm, Rendi langsung masuk. Sesaat semua mata
tertuju padanya. Seorang pria berbadan tanggung dengan kemeja bernuansa gelap,
celana levis biru dan sepatu convers berbintang. “Rendi?” Terdengar suara
seorang wanita menyebut namanya.
Rendi menoleh, “Hei, Vivi! Kau sudah disini?”
Vivi yang sedang merapikan susunan meja agar semuanya menghadap ke
panggung, kini mendekati Rendi. “Ayo, Masuklah! Letakkan baragmu disana! Banyak
yang harus kita kerjakan.” Ungkap Vivi menunjuk ke sebuah ruangan.
Setelah meletakkan barangnya, Rendi bertemu langsung melihat sosok yang
tidak asing. Pria Chinese dengan dagu lancip dan kumis halus di atas bibirnya.
Pria itu sedang mencatat sesuatu. Setelah selesai menulis, pria itu melihat
kearah Rendi. Mereka berdua saling mendatangi. Berdiri tegak saling menghadap.
Sesaat mereka mencoba saling mengenal kembali. “Aku tidak yakin kalau kau
adalah Rendi.” Ungkapan pertama yang keluar dari mulut David.
“Aku juga tidak yakin mengenalmu.” Balas Rendi sambil tersenyum lucu.
Sesaat kemudian, mereka saling berpelukan rindu. Kemudian tertawa bersama.
“Selamat datang kembali ke Indonesia, Kawan. Sudah lama aku tidak bertemu
denganmu.” David seolah melayang ke masa lalu. Saat mereka masih bermain
bersama. Saling kejar dan berlari di lapangan. Ya, mereka cukup dekat dulunya.
“Lama sekali, Kawan. Sangat lama.” Rendi juga sedang bernostalgia.
David menyimpan pulpennya. Kini dia berusaha menjadi dirinya sendiri agar
tidak terkesan kaku. “Banyak sekali yang ingin kuceritakan padamu.”
“Begitupun aku, Kawan. Tapi belum saatnya. Malam ini akan panjang dan
sekarang banyak tugas yang harus dilakukan.” Tegas Rendi dengan senyum senang
dengan sambutan sahabatnya ini.
Mereka pun kini melakukan tugas masing-masing. Setelah menyapa hampir
seluruh orang di ruangan itu, Rendi duduk dan memeriksa grup whatsapp. Rendi
bertugas sebagai menara informasi bagi siapa saja yang bertanya. Setelah
membagikan lokasi di Grup, dia kembali mencari hal yang bisa dilakukannya.
Walau hanya sekedar melap meja yang terlihat kurang cerah.
Perlahan, tapi pasti semua persiapa sudah selesai. Perlahan, semua orang
tiba di tempat tujuan. Dengan begini, tepat saat hari mulai gelap, acara sudah
bisa dimulai. Ada sedikit kebanggaan dimana mereka semua melakukan kerja sama
untuk acara mereka sendiri. Mereka semua kini sudah berbeda. Bukan lagi anak
kecil yang senang bermain. Dari mereka ada yang menjadi seorang polisi. Ada juga
yang di angkatan. Sebagian besar adalah pegawai swasta dengan posisi yang
tinggi. Ya, intinya mereka sudah menjadi orang yang hebat. Beberapa melanjutkan
studi magister. Tapi, semua itu sirna saat reuni. Semua kembali seperti manusia
biasa.
Acara dimulai saat sebagian besar sudah berkumpul. Rendi menjadi orang
pertama yang menyampaikan sambutan. Menurut teman-teman, dialah orang yang kini
dirasa cukup bijak untuk memulai semuanya. Rendi pun membuka sambutan dengan
salam dari berbagai bahasa. Sebagian mungkin merasa aneh. Apalagi menyadari
kalau Rendi adalah mahasiswa dari Mesir. Bahkan ada yang terlihat sinis.
Bukan sampai disitu saja, diakhir sambutannya, Rendi mengucapkan ‘Selamat
Natal’ sebagai penutup. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari beberapa orang
yang lain. Kini, tawa dan canda pecah. Karena orang itu malah membawakan
hal-hal unik yang sempat terlewatkan saat masa-masa dulu. Sangat menyenangkan
mengenang masa kecil yang hebat. Dimana mereka tidak mengenal apa itu perbedaan
Agama dan Ras. Mencari keringat adalah kegiatan wajib saat jam istirahat. Semuanya
mengenang kembali masa-masa itu. Bahkan dia menceritakan kembali saat ada yang
kencing dicelana karena takut meminta izin ke kamar mandi.
Acara sambutan selesai dan dilanjutkan dengan penampilan dari band lokal
yang sengaja diundang untuk memeriahkan acara reuni ini. Rendi duduk bersama
teman-temannya yang muslim. Mereka terus tertawa hingga Baim menanyakan suatu
pertanyaan. “Tadi kau bilang, ‘Selamat Natal?’”
“Iya.” Jawab Rendi spontan. “Emang kenapa?”
Suasana sedikit tegang. Beberapa pasang mata diluar meja mereka sedikit
melirik. Baim menggeleng-geleng kepala, “Kau tahu sendiri, kan? Yahudi dan
Nasrani tidak akan meridhoi kita sampai kita mengikuti mereka. Bukankah seperti
itu?”
“Yap. Lalu masalahnya?” Rendi merasa tidak menganggap itu sebuah masalah.
Baim menarik nafas panjang. “Jadi, dengan kau mengatakan itu tadi, itu
artinya kau meridhoi kalau Nabi Isa dilahirkan dan meyakini dia adalah anak
Tuhan.”
Rendi memasang wajah kebingungan. “What? Misalnya begini, sebut saja
namanya Fulan. Dia anak angkat dari sebuah keluarga. Anggap saja kita tahu
kalau dia memang anak angkat. Lalu, ketika ulang tahun kita mengucapkan selamat
ulang tahun padanya. Apa menurutmu itu juga termasuk meyakini atau sebuah
pernyataan bahwa kita meyakini kalau si Fulan tadi anak kandung dari orang
tuanya?” Orang-orang disekitar, terlihat mengangguk.
“Ini bukan masalah ulang tahun, Rendi!” Baim mulai sedikit mengangkat
suara. “Ini maslaah keyakinan. Ini maslaah iman! Menurut kepercayaan mereka,
Nabi Isa itu anak Tuhan.” Tegasnya lagi.
“Tapi, aku mengucapkan itu dengan keyakinan kalau Nabi Isa itu seorang Nabi.
Bukan sebagai anak Tuhan. Aku ikut mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi Isa.
Bukan ucapan selamat atas status Nabi Isa sebagai anak Tuhan.” Rendi berusaha
menjelaskannya dengan seksama.
“Berarti, kau meridhoi kalau mereka menganggap Nabi Isa adalah anak Tuhan?”
Baim memulai serangan.
Dengan tenang tenang dan berusaha santun menjawab, “Ridho itu berarti, menerima
suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan. Dan itu
adalah masalah hati. Apa yang terucap secara verbal, tidak selalu mewakili apa
yang tersirat di hati.”
“Lalu, tujuanmu mengucapkan ‘Selamat Natal’ tadi itu untuk apa?”
Di tengah pembicaraan mereka, tidak terasa kalau ternyata David, Vivi dan
teman yang lainnya diam-diam ikut mendengarkan. Walau pun mereka tidak berani
menginterupsi apapun. Mereka tahu ini masalah Agama. Dan tidak mau membuat
Rendi dan Baim terlihat saling marah.
“Sebenarnya, ucapan-ucapan selamat itu bukan datang dari budaya kita,
bangsa Timur.” Rendi mulai menjelaskan dengan santai, “Itu kenapa kita sedikit
asing dengan ungkapan-ungkapan seperti itu. Apalagi ditambah dengan ungkapan
yang berhubungan dengan agama. Bangsa barat, terbiasa mengungkapkan sesuatu
secara verbal. Tapi kita, terbiasa melakukannya dengan ekspresi. Misalnya, saat
kita senang, kita tertawa. Minimal tersenyum. Saat sedih, mungkin menangis,
atau hanya murung. Dan kita terbiasa dengan hal itu. Bangsa barat, menggunakan
verbal untuk menunjukkan ekspresi itu. Seperti berkata I’m happy saat bahagia
atau semisalnya.”
“Dan menurutku, memberikan ucapan selamat itu termasuk dari suatu perkataan
yang baik. Allah sendiri berkata dalam surat al-Baqarah: ‘Dan berkatalah yang
baik kepada manusia.’ Lihatkan, kepada Manusia. Bukan hanya kepada sesama muslim.”
Semuanya mengangguk setuju dengan penjelasan Rendi. Terlihat kini Lufti
yang duduk disebelah Baim ingin mengatakan sesuatu. “Siapa saja yang mengikuti
suatu kaum, maka dia adalah bagian dari kaum tersebut. Bararti kau dari kaum
barat. Kau pantas dicurigai.” Ujarnya bercanda.
Semua yang ada disana serentak tertawa. Rendi menggaruk-garuk kepalanya.
Dia sadar, kali ini dialah yang ditertawakan. Rendi juga sadar, pernyataan tadi
itu mengandung sedikit permintaan penjelasan. “Kalau masalah itu, sebenarnya
yang dimaksud itu adalah meniru ritual khusus atau atribut khusus yang
berhubungan dengan keagamaan. Seperti misalanya, jika kita mengikuti cara
mereka beribadah, itu yang haram. Memakai kalung berbentuk salib atau memajang
patung dewa-dewi di rumah, itu yang diharamkan. Sementara dengan gaya
berpakaian, bahasa, dan lainnya yang tidak berhubungan langsung dengan agama,
bukan masalah.” Baim terlihat puas dengan penjelasan yang diberikan Rendi.
Begitu pun Lufti.
“Pak Ustad Gaul, sudah selesai pengajiannya?” Ucap seseorang. Saat Rendi
menoleh ternyata itu adalah David. “Silahkan dinikmati pestanya. Minuman sudah
datang. Dan makanan sedang dipersiapkan.”
“Okeh, Bos!” Ujar Rendi sambil mengacungkan jempolnya. Dia menoleh ke teman-temannya,
“Ayo, aku sudah lapar.” Semuanya ikut ambil bagian untuk makan.
Setelah makan, Rendi mengambil tempat duduk yang bersama dengan David dan
yang lainnya. Mereka semua kini berbaur. Tidak lagi bekelompok seperti tadi.
Adrian muncul ke tempat Rendi dan membuat suasana semakin pecah. Mereka adalah
tiga sekawan dari agama yang berbeda. Dan mereka yang paling terlihat solid
dari yang lainnya.
Di suatu kesempatan David berkata, “Aku mendengar penjelasanmu tadi.
Semuanya. Sangat menarik menurutku. Dan itu penjelasan yang belum pernah aku
dengarkan sebelumnya. Jujur, aku benar-benar terkesan.”
Rendi tersenyum. “Itu wajar. Untuk itu saja aku harus ke Mesir
mendapatkannya. Kalau di Indonesia, mungkin akan sulit menemukan yang seperti
itu. Dan kau tahu, itu baru sedikit. Banyak hal lain yang masih harus aku cari
lagi. Entah waktuku cukup atau tidak.”
Waktu sudah cukup larut. Mereka masih saja terbawa arus nostalgia. Hingga Lufti
menyadarkan. Serentak semuanya melihat jam. Beberapa orang langsung bersiap
untuk pamit. Rendi berdiri menyambut teman-temannya yang pulang. Hingga Baim
membawanya agak menyudut. “Penjelasan tadi, aku belum pernah dengar. Walau, aku
masih ragu harus menerima penjelasan itu atau tidak.” Ucap Baim jujur.
Rendi memegang bahu Baim. “Kau tidak harus mengucapkannya. Tidak ada yang
mewajibkan itu. Jika aku tidak punya teman kristiani, aku tidak akan
mengatakannya. Tapi, aku punya. Dan aku mengatakannya. Padahal mereka tidak
meminta.”
“Setidaknya, perkataanmu yang terakhir kali ini membuatku lebih tenang. Sesaat,
aku sempat membecimu tadi. Tapi, kau hebat bisa mengakhirinya dengan kepala
dingin.”
“Ya sudah, hati-hatilah!” Rendi menjulurkan tangannya sebagai salaman
perpisahan.
Baim mengabaikan tangan itu dan memeluk Rendi. “Kau saudaraku. Jika nanti
aku keliru seperti tadi, ingatkan aku. Dengan cara yang baik tentunya.”
“Pasti. Yang penting, kita saling mengingatkan.” Balas Rendi.
Rendi hanya melihat teman lamanya ini pergi dari belakang. Rendi kembali
melambaikan tangannya saat Baim membunyikan klakson motornya. Kini dia kembali
ke dalam. Dekat pintu, dia melihat ada seorang wanita yang berjilbab dan sedang
gelisah. Rendi berusaha mengenali orang itu. “Yuni?”
Wanita itu menoleh. “Hei, Rendi!”
“Aku tidak melihatmu dari tadi. Ada masalah?” Tanya Rendi melihat
kegelisahan Yuni.
“Aku menghubungi adikku untuk menjemput. Tapi sepertinya masih lama.” Wajah
Yuni membulat. Terlihat menggemaskan dibalutan jilbab merah. Malam ini,
terlihat cukup menawan. “Satu atau dua jam lagi katanya.”
Rendi menarik kursi dan duduk di depan Yuni. “Aku temani kamu disini, Ya.”
Rendi duduk dengan santai.
Yuni masih berusaha menghibungi keluarganya yang lain melalui pesan
singkat. Tak ada jawaban. Mungkin sudah tidur. Kebetulan dia tidak punya pulsa.
Dan Rendi pun kehabisan pulsa karena menelpon seharian demi memastikan acara
ini. “Sudah jam setengah satu malam. Kemana, tuh anak?” Ungkap Yuni mulai
gelisah.
“Yuni buru-buru?”
“Iya, ada yang harus aku persiapkan.”
“Memangnya, alamatmu dimana?” Kini Rendi berniat mengantar Yuni pulang.
Yuni menyebutkan sebuah alamat. “Oh, aku antar, Yuk. Kasihan Yuni sendirian. Yang
lain sudah pulang.”
Yuni sedikit bingung menentukan pilihan. Dia berusaha menggeleng. Yang itu
sudah berarti “tidak.” Kemudian, Yuni memandang sekitarnya. Benar saja, keadaan
sudah sepi. Yang lain hanya kumpulan para pria dan beberapa wanita yang tidak
begitu dikenalnya. Setelah melihat sekitar, ekspresi wajahnya langsung berubah.
Dia kembali melihat Rendi. Seakan berkata, “Tolong katakan lagi.”
Rendi menyadari itu. “Yuni Yakin? Aku tidak akan memaksa. Aku juga tidak
menawarkan dua kali.” Rendi tersenyum adem.
Dengan sangat berat, Yuni akhirnya mengangguk. Anggukan keterpaksaan
sebenarnya. “Cuma kau yang aku percaya sekarang, Ren.” Katanya pelan.
“Kau tidak akan menyesalinya.” Rendi berdiri. “Tunggu sebentar, biar aku
ambilkan helm!” Rendi bersiap pergi, tapi sebuah genggaman di tangannya
menahan. Pandangan mereka bertemu. Rendi menyadari sesuatu. Sepertinya, Yuni
tertarik dengan dirinya.
Yuni langsung salah tingkah dan menundukkan wajahnya. “Tidak ada polisi
malam begini.”
“Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu. Biar aku ambilkan dulu. Sebentar saja.”
Kata Rendi berusaha tidak terbawa perasaan dengan kejadian singkat tadi.
Rendi pun pergi ke tempat David. Mereka sedang berpesta rokok disana. Asap
mengepul begitu tebal. “Untuk apa? Kau kan sudah punya satu?” Tanya David saat
Rendi meminjam helm.
“Aku mau mengantar Yuni sebentar.”
“Pakai punyaku saja.” Kata Adrian. “Di ruangan barang-barang itu. Warna
Hijau. LTD.” Dia menunjuk sebuah Ruangan.
Rendi mengambil Helm itu. “Vid, aku akan disini sampai pagi. Kita akan
bercerita panjang.” Katanya setelah mengambil helm. “Tolong ikat Adrian, ya!
Supaya dia tidak kabur.”
“Kau kira aku kambing?” Kata Adrian meninggikan suaranya. Disambut dengan
tawa dari orang-orang yang ada disana.
Rendi memberi isyarat kepada Yuni. Mereka pun keluar. Yuni agak malu-malu
awalnya. Rendi memastikan semuanya akan baik-baik saja. Yuni pun menghilangkan
rasa malu-malunya. Kini mereka berjalan memecah sunyi.