“Besok akan kuselesaikan
semuanya. Aku baru saja sampai di Medan.... Kenapa harus sekarang?” Jefri yang
baru saja sampai langsung diserbu beberapa panggilan. Mulai dari tugas kuliah,
urusan kerja dan panggilan lain yang sebenarnya tidak begitu penting.
Jefri duduk diatas sofa
menenangkan diri. Diambilnya sebatang rokok dan membakarnya dengan penuh khidmat. Terasa sangat nikmat. Sialan!
Aku tidak menyangka akan seperti ini. Katanya dalam hati. Sedikit yang dia
syukuri, Dhilla tidak ikut-ikutan menghubunginya. Akan lebih gawat jika Dhilla
sampai ikutan ngambek. Jefri tidak bisa memfokuskan pikirannya kali ini. Segala
macam hal melayang-layang dalam pikirannya.
Ponselnya berbunyi lagi.
Sebenarnya dia sangat ingin menonaktifkan ponsel itu untuk sementara. Di layar
ponsel itu tertulis nama Dhilla. Jefri dengan malas mengangkat panggilan itu.
“Hallo, Jefri. Sudah
sampai?” Tanya Dhilla dari seberang sana.
“Iya sudah, dan aku langsung
diteror oleh berbagai macam panggilan.” Ungkap Jefri.
“Begitu, ya. Boleh aku kesana?”
Jefri tidak langsung
menjawab. Dia berfikir sejenak. Haruskan dia menerima Dhilla hari ini? “Ada
apa? Tidak bisa di telpon saja?”
“Jefri..! Kau tidak bisa
makan melalui telepon!” Dhilla sedikit meninggikan suaranya.
“Kalau begitu datanglah!”
Jefri tidak bisa menolak kali ini. Siang ini, dia memang belum makan apapun.
“Kalau sudah mendengar
makan, baru mau diterima.”
“Kalau nanti aku tidak
membuka pintu, langsung masuk saja dan bangunkan aku yang tertidur di sofa. Aku
lelah sekali hari ini.”
“Kalau begitu, aku bersiap
dulu. Sampai jumpa nanti.” Dhilla mengakhiri panggilan.
Benar saja kata Jefri. Tak
berapa lama kemudian, dia tertidur di sofa. Rasa lelah dalam perjalanan, juga
beban pikiran yang akan dihadapi besok, dan banyak hal lagi yang harus dikerjakan.
Segalanya membuat Jefri semakin lelah. Itulah pesona hidup yang harus
dihadapinya. Tidak selalu berjalan mulus. Dia terlelap berbarengan dengan
habisnya rokok yang ditaruh di asbak.
Jefri terbangun. Tapi bukan
di sofa tempatnya tertidur. Meja dan kursi kayu tersusun dengan sangat rapi.
Beberapa orang berpakaian putih dan celana hitam duduk membaca buku. Akhirnya
dia sadar, dia sedang berada di ruang kelas. Aku masih santri? Pikirnya.
Semuanya terlihat sangat nyata.
“Mau berapa lama kau tidur,
Jef?” Seseorang menyadarkannya dari lamunan. “Sebentar lagi masuk.” Kemudian
disadarinya itu adalah Raka.
“Eh, iya, Ka. Aku
ketiduran.” Akunya.
Dunia sekarang berputar
dengan sangat cepat. Tiba-tiba saja dia sudah berada di asrama. Terlihat
beberapa orang berlari ke kamar mandi. Iya, salah satunya Udin dan Subhan.
“Jef, ayo! Nanti habis. Stok terbatas!” Teriak Subhan. Dia menyadari itu adalah
waktunya merokok. Mereka melakukannya sembunyi-sembunyi.
“Hey, Jef!” Kali ini Rendi,
sepupunya yang seharusnya sedang kuliah di Mesir malah muncul. “Aku mau ke perpustakaan. Ucok juga ada disana. Kalau
kau mau kami tunggu kau disana, ya.” Ungkap Rendi dan pergi dengan cepat.
Aneh, biasanya Rendi yang
mengajak Jefri untuk merokok. Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara
wanita memanggila namanya. Entah dari mana. Sesaat sebelum terbangun, Jefri
menyadari kalau dia sedang bermimpi. Jefri pun terbangun dan di hadapannya ada
seorang wanita yang sangat cantik. Dhilla.
“Tidurmu nyenyak sekali. Aku
tidak tega membangunkan.” Dhilla duduk disamping Jefri yang masih rebahan.
“Tapi, akhirnya kau bangunkan
juga.” Balas Jefri sambil berlalu pergi ke kamar mandi.
Jefri kembali dengan wajah
sedikit lebih cerah. Dia duduk disamping Dhilla yang sudah mempersiapkan makan
siang mereka. Mereka makan bersama. Mereka saling diam untuk beberapa saat.
Jefri menyalakan tv agar suasana tidak terlalu tegang.
“Kau mau cerita?” Tanya
Dhilla saat mereka tengah makan.
Jefri hanya menggeleng.
Setelah menelan makanan yang dikunyahnya, dia bertanya balik, “Apa yang mau kau
ceritakan?”
“Papa memintaku untuk
pulang.” Jawab Dhilla singkat.
“Kapan?”
“Terserah.yang penting
sebelum bulan depan.”
“Terus?”
“Papa juga mau kamu ikut ke
rumah.” Ungkap Dhilla ragu-ragu. Dalam hati, dia yakin Jefri pasti akan
menolak.
“Baiklah, dua minggu lagi.”
Jefri mengatakan seakan tanpa beban.
“Kamu bersemangat sekali.”
Dhilla tersenyum manis.
Jefri tidak terlalu
mempedulikan hal itu. Dia melanjutkan saja makannya. Jefri tidak banyak bicara
hari ini. Bahkan dia menjadi lebih pendiam dari pada hari-hari yang lain.
Seperti ada banyak hal yang harus diurusnya. Yang membuatnya kesal adalah
semuanya datang bersamaan. Tak memberinya kesempatan untuk menarik nafas. Barang
sebentar saja.
Setelah hari agak gelap,
Dhilla kembali ke kosnya. Tinggalah Jefri sendiri di rumah. Yang paling
diingatnya tentang hari ini adalah mimpi ketika berada di pesantren. Semuan itu
sangat dirindukannya. Hidup seakan tanpa beban. Tak ada yang perlu
dikhawatirkan selain para ustadz yang cukup keras mendidik. Tapi, semua itu
bisa diatasi dengan kerja sama antar santri.
Menjadi dewasa tak
seasyik yang kukira, katanya
dalam hati. Ada begitu banyak hal yang harus diurus. Mulai dari mencari uang,
mencari pekerjaan, urusan kuliah, menikah. Seakan tak ada waktu untuk beristirahat
dari dunia yang terus-menerus berputar ini.
Jefri duduk bersimpuh
setelah melaksanakan sholat maghrib. Mengadukan semuanya kepada Sang Khaliq.
Berharap dengan sangat agar semuanya bisa dipermudah. Rejeki yang lancar, ilmu
yang terus bertambah dan bermanfaat. Tak lupa dia berdoa untuk kedua orang
tuanya yang akhirnya disadarinya perjuangan mereka yang tidak terhitung. Masih
aneh dipikirannya mereka bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk menghidupi
mereka bertiga. Bahkan, setelah Jefri bekerja, orang tuanya terus memberikan
uang kiriman. Tidak berkurang jumlahnya dari sebelum dia bekerja.
Sedangkan dia sendiri, harus
bekerja mati-matian untuk mencukupkan kebutuhan hidup. Uang kiriman dari orang
tuanya, terus disimpan untuk keperluan mendadak. Atau mungkin untuk biaya
pernikahannya nanti.