 |
| Gagak Hitam |
Bab: II
“Rin,” Pandu sedang memegang nampan berisi
nasi dan makanan berat lainnya di depan pintu kamar Karin. “Buka pintunya, aku
bawakan makanan.” Dengan sebelah tangan lagi sedang memegang segelas susu,
tentu saja Pandu tidak bisa membuka
pintu itu. Pintu itu terkunci dari dalam.
Sudah tiga minggu sejak kejadian pemboman itu.
Selamatnya Karin seperti sebuah keajaiban yang tidak bisa diungkapan. Entah apa
yang dilakukannya di dapur saat ledakan itu terjadi. Kebetulan karena dapur
rumah mereka berada di bawah dan tidak memiliki ruangan lain di atasnya.
Kemungkinan selamat dari runtuhan hasil pemboman, memang ada. Tapi, tetap saja
itu hal yang mustahil.
“Karin, Ayolah! Kau tidak bisa berdiam diri
terus.” Pandu masih berusaha membujuknya. “Oke, kalau kamu tidak mau membuka
pintunya. Tapi, kalau ingin melakukan sesuatu, setidaknya kau harus memberitahu
seseorang. Dan aku siap jika kau merasa tak ada orang yang mendengarkanmu.”
Pandu menyerah.
Seperti biasa, dia hanya harus meninggalkan
makanan dan minuman itu di depan kamar Karin. Pada saatnya nanti, Karin akan
mengambil makanan itu dan hanya akan menaruh kembali piring kotornya di tempat
semula. Hal itu sudah berlangsung sejak kejadian itu.
Polisi dan beberapa sanak saudaranya datang
berkunjung. Alih-alih mau bercerita tentang hal yang dialaminya, bahkan keluar
dari kamarpun Karin masih enggan. Yang masih menjadi petunjuk kalau Karin masih
bernafas, hanyalah suara isak tangisnya yang hampir setiap malam terdengar.
Bahkan terkadang hingga menjelang siang.
Beruntungnya, kamar yang disediakan Pandu
untuk Karin memiliki kamar mandi pribadi di dalamnya. Maka tidak terlalu
masalah untuk panggilan alam bagi Karin. Polisi akhirnya menyerah untuk mencari
data dari korban. Karena korban masih enggan untuk ditemui. Satu-satunya sumber
yang bisa mereka dapatkan adalah kesaksian Pandu. Irfan yang berhasil melarikan
diri sebelum polisi datang, tidak pernah disebutkan pandu dalam setiap
ceritanya.
Pandu terduduk lemas. Tragedi yang menimpa
keluarga Pak Candra masih menjadi pikirannya. Memang sudah tiga minggu berlalu,
tapi bukan berarti itu bisa membuatnya merasa lega. Terlebih karena Pak Candra
menitipkan Karin, putri satu-satunya kepada Pandu. Jelas saja itu menjadi
kengerian tersendiri. Beberapa hal buruk yang sempat terpikir olehnya, jika
saja orang mengincar keluarga Pak Candra mengetahui keberadaan Karin, tentu
saja akan menjadi beban sendiri baginya. Terlebih lagi, Karin ditempatkan
dirumahnya.
“Pandu, aku masuk ya!?” Teriakan dari luar.
Tak ada yang berani melakukan hal seperti itu selain teman dekat. Benar saja,
itu adalah Irfan.
Pandu diam tanpa memberi jawaban ataupun
isyarat. Dia hanya masih bingung. Dia juga tidak mengerti, seharusnya Karin
sudah cerita apa yang dialaminya. Sehingga itu bisa membantu penyelidikan
polisi.
“Gimana Karin?” Irfan langsung duduk dan
bersandar di sofa. Di depan Pandu yang masih enggan untuk bercanda.
“Masih seperti biasa.” Pandu memperbaiki
duduknya.
“Apa polisi masih akan datang bertamu?” Irfan
mengatakannya untuk sedikit mencairkan suasana.
Pandu menarik nafas panjang. “Beruntungnya, mereka memutuskan untuk menghentikan penyidikan sementara.”
Irfan mengeluarkan sebungkus rokok yang sedari
tadi dikantonginya. “Aku bakar, ya?” Pandu hanya mengangguk. Setelah tarikan
panjang untuk menyalakan rokoknya Irfan melanjutkan, “Sebenarnya, ada yang
ingin kuceritakan. Apa yang seharusnya kau dengar langsung dari Almarhum Pak
Candra waktu itu.”
“Aku benar-benar berharap agar polisi-polisi
itu tak lagi datang bertanya hal yang aneh-aneh padaku.”
“Hei, kau dengar aku, gak?” Pandu yang
terlihat melamun, dianggap telah mengabaikan perkataan Irfan.
“Maksud aku begini, Fan, Aku sudah tahu, pasti
ada hal yang disampaikan Pak Candra yang juga disembunyikan dari polisi. Itu
salah satu alasan mengapa aku memintamu pergi waktu itu.” Jelas Pandu.
“Ohh, begitu.” Irfan kembali menarik rokoknya.
“Gagak Hitam. Dia berkata sesuatu tentang Gagak Hitam. Aku tidak tahu pasti,
tapi sepertinya itu nama sekelompok mafia yang mengincar mereka. Kemudian, ada
sebuah nama yang disebutkannya.” Irfan berusaha mengingat-ingat. “Firman”
Teriaknya kemudian. “Iya, kalau aku tidak salah ada nama Firman disana.”
“Kau yakin?” Pandu terdiam. Kalau dia tidak
salah, itu adalah paman Karin. Atau, adik kandung dari Pak Candra.
“Memangnya kenapa?”
“Kalau aku tidak salah, Firman adalah paman
Karin. Atau, adik dari Pak Candra.”
Spontan Irfan juga kaget. “Tapi, aku masih
tidak mengerti hubungan antara kelompok mafia Gagak Hitam dengan Pak Firman
itu.”
“Sepertinya aku harus serius dalam menjaga
Karin. Aku masih belum mengerti apa yang mereka inginkan dari Karin. Karin juga
masih belum mau berbicara. Bahkan keluar kamar saja masih enggan.”
“Jangan anggap itu masalahmu sendiri!” Irfan
berkata sedikit tegas. “Masalahmu, itu pasti akan menjadi masalahku juga.”
Perkataan itu seakan tak mempengaruhi apa-apa.
Tapi, Pandu sekarang sangat yakin dia tidak sendirian dalam menghadapi masalah
apapun. Masa lalu Pandu yang berat, untuk sementara hanya Irfan yang
mengetahuinya. Pandu mampu menyembunyikan segalanya dari orang lain. Tapi,
tidak dengan Irfan.
Terdengar suara pintu dari lantai atas.
Kemudian disusul suara piring yang diletakkan asal di atas lantai. Spontan
Irfan dan Pandu melihat ke sumber suara. Biasanya, Karin tidak pernah seperti
itu. Dia sepertinya mulai menunjukkan ingin berkomunikasi. Pandu memberikan
aba-aba kepada Irfan untuk menunggu. Pandu naik ke atas untuk mencoba berbicara
dengan Karin.
Tuk... Tuk... “Karin...” Pandu meengetuk pintu
pelan. Pandu tak sengaja memutar gagang pintu. Dan ternyata, terbuka. Perlahan
dibukanya pintu itu. Dan dilihatnya Karin masih meringkuk di atas kasur.
Terdiam menatap kedepan dengan pandangan kosong. Matanya terlihat membengkak
karena terus menangis.
“Rin...” Pandu memanggil lagi. Keadaan kamar
yang gelap mendukungnya untuk terus bersedih. Pandu duduk disamping Karin.
Diatas kasur. “Masih bersedih?” Pandu mencoba memulai percakapan.
Karin hanya diam. Seakan tak ada orang
disampingnya. Yang ditakutkan Pandu adalah, jika Karin stress dan terkena
gangguan jiwa. Memang bukan masalah sepele yang dihadapinya. Kehilangan orang
tua yang selalu memanjakannya adalah pukulan terberat yang dirasakannya. Karin
terlihat tidak memiliki gairah hidup lagi.
“Karin gak kuat lagi, Bang.” Kata pertama yang
keluar dari mulutnya setelah tiga minggu bungkam.
“Ceritakanlah padaku, Rin. Semuanya akan
baik-baik saja.” Pandu mencoba menarik simpati Karin.
“Karin tau, orang tua Karin punya banyak
musuh. Ada banyak orang jahat yang tidak suka sama Papa. Mereka pasti juga akan
mencari Karin sampai dapat. Mereka ingin memusnahkan keluarga Karin.” Air
matanya kemudian mengalir lagi.
Pandu berusaha untuk tetap diam. Pandu tetap
mendengarkan. Berusaha untuk tidak mengacaukan keadaan. Pandu mengerti kalau
sekarang lebih baik diam dan mendengarkan untuk sekarang ini.
“Karin takut, Bang. Karin takut... Karin gak
bisa hidup dalam ketakutan seperti ini. Musuh-musuh papa akan terus mencari
Karin.” Tangisnya semakin menjadi.
“Rin, Sekarang coba dengar. Aku sudah berjanji
sama papa akan menjagamu. Maka aku akan melakukannya. Papamu itu orang baik.
Dan Aku menghargai itu. Itulah sebabnya aku mau menjagamu. Semuanya akan
baik-baik saja.” Pandu merangkul Karin sambil membelai rambutnya.
“Abang janji, ya, mau menjaga Karin dari
orang-orang jahat itu. Karin gak punya siapa-siapa lagi sekarang. Karin gak tau
harus bagaimana selanjutnya.”
“Ya sudah, begini saja, besok kita belanja
kebutuhan Karin, ya? Karin masih harus sekolah. Jalani saja semuanya seperti biasa.
Abang janji, melindungi Karin sampai semua masalah ini selesai.” Pandu
meyakinkan.
Karin memeluk Pandu erat-erat. Sebenarnya,
Pandu adalah orang asing baginya. Tapi tiga minggu belakangan ini, Pandu terus
menunjukkan hal yang baik. Menyediakan makan untuk Karin selama tiga minggu.
Karin sendiri tahu, kalau dirinya akan membawa masalah besar bagi Pandu. Tapi,
Pandu tidak memperlihatkan keinginan lain selain menunaikan janjinya pada Papa
Karin. Itulah yang membuat Karin mulai percaya dengan orang yang masih
dianggapnya asing.
“Karin, sekarang mandilah. Buat dirimu
senyaman mungkin di rumah ini. Hanya ada aku dan dirimu saja di rumah ini.”
Jelas Pandu.
Pandu kemudian meninggalkan Karin. Membawa
piring-piring kotor Karin ke dapur dan mencucucinya. Saat kembali ke ruang
tamu, ternyata Irfan malah asik main game melalui konsol ps3 miliknya.
“Widih, malah main game si kawan ini.” Katanya
saat memergoki Irfan main.
“Kau sendiri kelamaan bermesraannya sama Karin
di kamar.” Irfan tertawa.
“Wancorr..!!! Gak ada, ya....” Bantah Pandu
disertai nada bercanda.
Mereka akhirnya main game bersama. Dan, Pandu
lupa tentang cerita antara Gagak Hitam dan Firman. Semuanya masih samar-samar.
Sedangkan Irfan, perlahan mulai kehilangan memori tentang hal itu. Padahal,
seharusnya itu yang ditanyakannya pada Karin jika saatnya tepat.
Rabu, 16 Desember 2015