"Entahlah, Ren. Aku belum bisa memastikan,"
Jefri menyandarkan tubuhnya di kursi. Sejenak dia menarik nafas. Ajakan Rendi
menonton pertunjukan lumba-lumba terdengar sulit untuk ditolak. Sejatinya,
Jefri tidak suka dengan perbuatan orang-orang yang memaksa hewan melakukan
pertunjukan di depan umum.
"Aku tahu, kau tidak suka melihat hal seperti itu.
Tapi, ayolah! Sesekali tidak masalah, kan?" Rendi masih berusaha membujuk
Jefri. Rendi sendiri, sejatinya juga tidak suka dengan apa yang akan
dilihatnya. Dia hanya sedang mencari hiburan.
"Baiklah. Tapi, aku akan mengajak Dhilla."
Jefri akhirnya sepakat untuk ikut.
"Kalau begitu," Rendi berdiri dari duduknya,
"Aku ajak Subhan. Mungkin Dita juga harus ikut. Biar Dhilla punya
teman."
Jefri hanya diam. Dia juga tahu, pertunjukan lumba-lumba
memang merupakan pertunjukan langka. Hanya saja, dia tidak suka melihat
pertunjukan itu. Tidak bisa menolak ajakan Rendi adalah satu-satunya alasan
untuk ikut.
"Okeh." Rendi beranjak, "Aku besok datang
bawa mobil. Kau bersiap saja."
Jefri diam saja membiarkan Rendi pergi. Sesaat setelah
Rendi pergi, Jefri menghubungi Dhilla dan mengajaknya ikut. Dhilla sepertinya
sangat senang. Dia memastikan besok akan datang. Dengan santai Jefri bilang
mereka akan pergi beramai-ramai. Meski terdengar agak kecewa, tapi Dhilla tetap
akan ikut.
Rendi berhasil merayu orang tuanya. Dia diizinkan membawa
mobil untuk seharian. Kebetulan itu adalah hari minggu. Dia hanya tinggal
menunggu esok hari saja. Pertunjukan langka ini akan menjadi hiburan yang
menyenangkan. Sayangnya, Dita tidak bisa ikut. Tapi, kabar baiknya lagi, Subhan
akan membawa pacarnya. Satu lagi, Udin akan ikut. Berarti, dia harus mengatur
rute penjemputan kemudian pergi ke tujuan.
Rendi terbangun tepat saat azan subuh berkumandang.
Segera dia melaksanakan dua rakaat wajibnya. Setelah zikir pagi sebentar, dia
membantu ibunya menyiapkan sarapan. Setelah sarapan, barulah dia bersiap untuk
berangkat. Sudah di putuskan, dia akan menjemput Udin terlebih dahulu. Menyusul
Subhan dan Jefri beserta pasangan masing-masing.
Akhirnya, Udin yang duduk di samping supir menemani
Rendi. Mereka tidak banyak berbicara selama di jalan. Sepertinya, mereka
menjaga sikap masing-masing. Rendi merasa geli menyadari hal itu.
Tak lama mereka berjalan, sampailah di tempat tujuan.
Jefri yang sedang asik membaca, menutup bukunya. Dan menunggu giliran turun.
Rendi meminta uang untuk membayar tiket masuk. Rendi membeli langsung 6 tiket.
"Jujur saja, Ren, aku sebenarnya tidak suka melihat
hal seperti ini." Jefri berkata saat merrka berjalan menuju kursi
penonton.
"Jangan kira aku senang. Aku hanya ingin memastikan,
apakah media berkata benar tentang mereka. Tentang bagaimana mereka merawat dan
melatih para lumba-lumba itu." Rendy menyadarkan Jefri. Karena selama ini,
dia hanya membaca semuanya lewat berita dan artikel-artikel yang bahkan tidak
diketahui siapa penulisnya. Rendi punya tujuan di setiap hal yang dilakukanya.
Tidak sekedar hiburan.
Pertunjukan dimulai. Enam ekor lumba-lumba yang sudah
berada di kolam itu langsung melompat menunjukkan diri. Sepertinya, mereka
mengucapkan selamat datang. Tepuk tangan dan teriakan kaget bergema di area itu.
Disusul dengan keluarnya tiga orang pelatih. Rendi memperhatikan seseorang di
sana. Sepertinya bukan pelatih. Orang itu memakai jas. Tidak asing.
"Jef," Rendi menanyakan hal itu pada Jefri,
"Kau kenal orang itu yang pakai jas?"
Jefri memperhatikan orang yang dimaksud Rendi. Dia pun
merasa tak asing. "Sepertinya aku kenal. Tapi, entahlah." Jefri
memang tidak suka menebak-nebak.
"Hei Rendi, lihat! Lumba-lumba itu bisa mengangkat
pelatihnya dengan moncongnya." Udin berteriak histeris. Aksi itu terlihat
sangat hebat di matanya.
Dengan cepat Rendi menoleh. Tidak hanya mengangkat,
bahkan sepasang lumba-lumba itu berhasil melemparkan pelatihnya ke udara dan
mendarat di pinggir kolam dengan selamat. Tentu saja teriakan dari penonton
semakin menjadi-jadi. Pelatih dan lumba-lumbanya sangat kompak. Seakan mereka
sudah satu jiwa.
Subhan dan pasangannya terlihat sangat mesra. Mereka
saling berpegangan tangan. Dhilla sepertinya iri dengan mereka. Karena Jefri
hampir tidak pernah begitu. Jefri dengan sikapnya yang dingin, terkadang
membuatnya kesal. Jefri memang berbeda dengan yang lainnya. Dingin dan tak
berekspresi. Tapi, Jefri selalu ada saat dibutuhkan. Tak peduli kapanpun itu.
"Lumba-lumba itu terlihat sangat senang."
Subhan berkata ditengah keheningan yang menyadarkan Dhilla dari lamunannya.
"Aku tidak tau kalau lumba-lumba bisa terlihat
sedih." Balas Jefri dingin.
Rendi tertawa cukup puas mendengarnya. Udin yang juga
tertawa mendorong sedikit tubuh Jefri menunjukkan itu jawaban yang unik. Jefri
bahkan tak menunjukkan ekspresi.
"Jefri, apa kau selalu seperti itu?" Chika,
pacar Subhan memprotes.
"Maksudmu," Dhilla angkat bicara,
"bersikap dingin dan menjengkelkan seperti tadi?" Semuanya terdiam.
"Ya, dia memang selalu seperti itu." Lanjut Dhilla. Diikuti tawa
teman-teman yang lain.
"Maaf kalau berlebihan." Jefri menggaruk
kepalanya.
Pertunjukan lumba-lumba masih berlangsung. Kali ini,
ditengah kolam tergantung sebuah lingkaran besar. Disusul dua lingkaran besar
lainnya dengan tinggi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Tanpa diberi
aba-aba, seekor lumba-lumba melesat dengan cepat dan melompat melewati
lingkaran itu. Kemudian berbalik dan
melompati lingkaran yang lain. Dan untuk melompati yang terakhir, lumba-lumba
itu terlihat mengambil ancang-ancang. Penonton ikut tegang melihatnya. Karena,
yang terakhir ini cukup tinggi untuk dilompati. Lumba-lumba itu melaju dengan
kecepatan penuh dan meoompat keluar dari air. Suara riuh penonton membeludak
seketika saat lumba-lumba itu berhasil melewati lingkaran. Lumba-lumba itu
berenang keliling seperti sedang melakukan selebrasi. Kemudian melompat ke daratan
seakan ingin memeluk pelatihnya. Satu-persatu, lumba-lumba lain menyusul
melompati lingkaran-lingkaran itu. Ada yang segaja berputar saat di udara, ada
juga yang melakukan salto sebelum menyentuh air.
Beberapa tangan terangkat sambil memegang kamera atau
hape untuk merekam seluruh adegan itu. Tepuk tangan tiada henti menyambut
setiap lompatan para lumba-lumba. Semua lumba-lumba kembali ke air. Mereka
menunjukkan kepala menyambut tepuk tangan para penonton. Rendi dan Jefri
terlihat kurang tertarik untuk tepuk tangan. Ada hal lain yang ingin mereka
ketahui.
Sebagai pertunjukan terakhir, lumba-lumba berbaris
keliling kolam dan kemudian mereka seperti berlari di atas air. Dengan semangat
mereka berkeliling kolam. Kemudian ditutup dengan melambaikan ekor mereka ke
arah para penonton. Dan pertunjukan pun berakhir.
Rendi dan kawan-kawan memutuskan untuk nongkrong sebentar
di kafe terdekat. Mereka memesan makanan dan minuman.
"Aku penasaran dengan orang yang memakai jas
tadi." Rendi memulai percakapan.
"Kalau aku tidak salah, namanya adalah, Burhan. Aku
dapat info dari selebaran yang ditempel di kampus." Subhan memberikan
pendapatnya.
Terdengar sangat familiar di telinga Rendi dan Jefri.
Mereka seperti mengenal seseorang dengan nama Burhan dan sosok yang seperti
itu.
"Aku lebih penasaran dengan bagaimana mereka merawat
lumba-lumba itu." Jefri mengungkapkan rasa penasaran yang timbul sejak
pertama kali masuk ke tempat pertunjukan.
"Kalian berdua punya selera penasaran yang
berbeda." Udin bingung dengan situasi yang tidak dikuasainya kali ini.
"Terserah komentar kalian apa, tapi bagiku, pertunjukan itu sangat
hebat."
“Lagi pula, kenapa sich, kalian selalu memikirkan hal-hal
yang kurang penting seperti itu?” Chika yang juga bingung dengan dua orang aneh
di depannya itu mengeluh.
Dhilla sudah biasa menghadapai yang seperti ini. Terutama
Jefri yang selalu melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Ternyata,
sepupu Jefri, Rendi, tidak jauh berbeda. Mereka seperti memiliki selera yang
sama. “Kalian berdua memang aneh.” Kata Dhilla sambil menikmati makanannya.
Mereka saling diam beberapa saat. Kemudian, saling
bertanya dan saling beradu argumentasi. Tentu saja tidak akan menghasilkan
apapun. Karena tak satu pun dari mereka yang pernah mengikuti hal yang seperti
ini. Jefri terus-terusan berputar di logika yang dimilikinya, dan Rendi terus
bertanya jika saja ada hal lain yang belum diketahui tentang bagaimana mereka
merawat dan melatih lumba-lumba itu. Udin, Subhan dan yang lainnya hanya bisa
terdiam dan sesekali ikut mendukung salah satunya.
Jefri melihat seseorang bertubuh mungil dengan rambut
seperti duri berjalan melewati pintu masuk. Dia yakin mengenal orang itu.
“Hey, Jefri! Itu, kan, Willy!” Seru Dhilla.
Jefri langsung teringat dengan temannya saat kursus
dahulu. Teman selokalnya yang bertubuh mungil dan sangat aktif. Dhilla
melambaikan tangan ke arah Willy. Willy yang menyadari hal itu, langsung
mendatangi mereka.
Willy datang dan menepuk bahu Jefri. “Gila! Makin dekat
aja kalian dari semenjak kursus dulu!?” Seru Willy sebagai salam pembukanya.
“Hey, Willy! Apa kau tidak punya cara lain untuk bertegur
sapa?” Jefri kesal.
Tapi, itu membuat semuanya tertawa. Dhilla menunduk malu.
Jefri kemudian memperkenalkan teman-temannya. Dan memberikan rincian khusus
saat menunjuk Rendy. Willy adalah pemeluk Budha yang taat.
Willy menjelaskan kalau dia adalah ketua salah satu
komunitas Event Organizer yang menangani acara tarian lumba-lumba yang sedang
mereka nikmati. Tentu saja itu seperti menjadi pintu bagi Rendi dan Jefri untuk
bertanya lebih mendalam tentang hal yang mereka perdebatkan tadinya. Rendi
bertanya tentang orang yang memakai jas yang berdiri dibelakang pelatih
lumba-lumba tadi.
“Oh. Itu namanya Pak Burhan. Beliau. Beliau adalah orang
yang mengadakan acara ini.” Jawab Willy yang kemudian langsung pamit karena ada
hal yang harus dilakukannya.
Rendi dan Jefri saling pandang saat mendengar nama
Burhan. Mereka teringat salah satu tetangga mereka yang sangat kaya. Yang
mengaku memiliki kapal pesiar mewah. Meski orangnya ramah dan baik hati, tapi
dia jarang ada di rumah. Wajar jika Rendi dan Jefri merasa familiar dengan
orang itu. Jefri sempat tinggal cukup lama di rumah Rendi. Mereka dianggap
abang-beradik dahulunya. Padahal, mereka dari ibu yang berbeda. Dan Pak Burhan
mengenal mereka sebagai abang-beradik.
“Aku harus menemui Pak Burhan untuk memuaskan rasa
penasaranku.” Kata Rendi.
“Iya, mari kita temui sekarang.” Jefri mengusulkan.
“Jika kalian memutuskan untuk pergi, aku mungkin akan
tetap disini. Aku tidak akan mengerti apa yang akan kalian tanyakan pada orang
itu nantinya.” Aku Udin. Yang lain ternyata mengamini usul Udin. Hingga hanya
Jefri dan Rendi saja yang pergi untuk menemui Pak Burhan.
Mereka pun pergi ke arah Willy menghilang tadinya. Mereka
seperti tidak mempedulikan hal lain. Mereka sangat antusias untuk melunasi rasa
penasaran mereka. Mereka pun memasuki ruangan yang sebenarnya dilarang. Mereka
tidak peduli. Beruntungnya, mereka melihat Willy sedang berbicara dengan orang
yang diyakini mereka adalah Pak Burhan.
Pak Burhan yang melihat kedatangan mereka, langsung
mendatangi.
“Sepertinya, kalian sangat familiar. Apa aku mengenal
kalian, anak muda?” Katanya sangat berwibawa. Tidak seperti yang mereka kenal.
Sempat terbesit di hati Rendi, mereka salah orang.
“Pak, saya Jefri dan ini Rendi. Bapak tidak ingat?” Jefri
berspekulasi. Taruhan yang sangat berani.
Pak Burhan terdiam sesaat, seperti sedang mengingat-ingat
dua sosok pemuda didepannya. “Ah, iya. Kalian sudah besar sekarang.” Katanya
kemudian sambil tertawa. Itu baru menunjukkan karakter Pak Burhan yang mereka
kenal. “Maaf kalau aku agak lupa dengan kalian berdua. Sudah terlalu lama aku
meninggalkan kalian.”
Pak Burhan kemudian mengajak mereka masuk. Willy
tersenyum melihat kejadian itu. Di mana ada Jefri, disitu akan ada keanehan.
Begitulah menurut Willy. Jadi dia tidak perlu heran dalam menghadapi hal ini.
Willy sekali lagi pamit untuk kembali bertugas.
Ssetelah Willy pergi, Rendi langsung bertanya tentang
lumba-lumba itu. Jefri juga mempertegas pertanyaan Rendi.
Sambil tertawa, Pak Burhan menjawab, “Kalian pikir, aku
sama dengan orang lain yang mengaku pecinta hewan?” Dia berdehem sebentar.
“Besok, mereka akan kembali dibawa ke laut lepas di mana pertama kali mereka
mengikutiku.”
“Maksudnya?” Rendy dan Jefri bertanya serentak. Mereka
terus berjalan menuju suatu tempat yang belum mereka tahu.
“Ceritanya panjang. Singkatnya, saat itu, aku sedang
berlayar. Aku sedang melamun di pinggiran kapal. Seekor lumba-lumba
mengagetkanku. Dia melompat sangat indah. ‘hei, apa kau mencoba mengagetkanku?’
tanyaku pada lumba-lumba itu. Dia memunculkan kepalanya dan seperti tertawa.
Aku pun ikut tertawa. Kemudian muncul lima ekor lagi. Yang kemudian aku sadari
ternyata mereka itu satu keluarga. Mereka seperti bertepuk tangan. Kru pelatih
yang kalian lihat tadi, itu adalah teman-temanku yang tak sengaja ikut melihat
kejadian itu. Dan sejak saat itu, lumba-lumba itu mengikuti kemana pun kami
berlayar. Teman-temanku mencoba berkomunikasi dengan mereka. Perlahan dan
pasti, kami semua seperti memiliki ikatan batin dengan para lumba-lumba.”
Mereka sampai di sebuah kolam yang sangat besar. Pak
Burhan langsung saja menyentuh permukaan air. Kemudian, keenam lumba-lumba
muncul bersamaan. Mereka melompat kegirangan dengan kehadiran Pak Burhan
disana.
“Jadi, maksud Bapak, mereka itu bukan dilatih dengan
keras seperti sirkus-sirkus?” Tanya Rendi semakin penasaran.
Kembali Pak Burhan tertawa. “Ya tidaklah. Ini murni
karena kami dan lumba-lumba sudah memiliki ikatan batin. Kami tak pernah
memaksa mereka melakukan sesuatu. Apapun yang mereka lakukan, adalah hal yang
biasa mereka pamerkan di depan kami. Kau lihat sendiri dalam pertunjukan,
pelatih hampir tidak memberikan instruksi apa-apa. Mungkin, mereka melakukan
itu karena mendengar tepuk tangan. Sepertinya itulah yang menjadi isyarat
tiap-tiap atraksi mereka.”
Lumba-lumba itu berteriak dan mendekat ke arah mereka.
Lumba-lumba itu melompat ke darat dan menyapa mereka semua. Rendi dan Jefri
kaget dan melompat mundur. Sementara Pak Burhan, dengan santainya
mengelus-ngelus semua lumba-lumba itu. Dan lumba-lumba itu berteriak
kegirangan.
“Ayo kemari, jangan takut!” Kata Pak Burhan kemudian.
“Bapak yakin?” Jefri Ragu.
“Ayo, cobalah pegang mereka!”
Rendi dan Jefri saling tatap sebelum mendekat. Pastinya,
mereka belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Kali ini, mereka akan
menyentuh salah satu hewan yang tergolong langka. Salah satu hewan laut yang cukup
cerdas. Rendi mengulurkan tangannya dengan sangat ragu. Lumba-lumba itu menatap
Rendi dengan yakin dan tatapan bersahabat. Jefri masih melihat dulu. Rendi
akhirnya menyentuh moncong lumba-lumba itu. Dingin dan seperti berlendir.
Sepertinya bukan lendir, lebih tepatnya basah. Lumba-lumba itu kegirangan.
Seperti mendapat teman baru.
“Sayang sekali, kami tidak bisa berenang.” Kata Jefri
yang ternyata sudah mengelus-ngelus seekor lumba-lumba.
Pak Burhan tersenyum melihat mereka mulai mengerti dengan
situasi yang ada. Rendi adalah tetangganya yang baik. Mereka cukup dekat meski
hanya berstatus tetangga. Jefri kerap kali main ke rumah Pak Burhan. Karena Pak
Burhan sendiri juga memiliki lahan yang luas untuk mereka bermain
Seekor lumba-lumba kemudian berteriak. Yang lainnya
membalas hampir bersamaan. Mereka seperti mengatakan sesuatu. Sambil menatap kenarah
Rendi dan Jefri, mereka berteriak senang. Kemudian kembali ke kolam. Mereka
serentak melambaikan ekornya. Kemudian menghilang di kedalaman.
“Mereka mengucapkan selamat tinggal. Sepertinya, mereka
ingin istirahat.” Pak Burhan menjelaskan.
Rendi dan Jefri mengangguk.
“Pak, kenapa Bapak tidak mendirikan sirkus laut dengan
mereka pak?” Jefri bertanya lagi.
“Lumba-lumba yang hidup di alam bebas, bisa hidup selama
24-26 tahun. Sementara yang sibuk melakukan sirkus, hanya akan mampu bertahan
selama 4-6 tahun. Mereka akan kehilangan 20 tahun hidup mereka. Itu bukan hal
yang sepele. Aku pecinta hewan. Aku tidak akan melakukan itu. Mereka ini
lumba-lumba liar. Maka, aku akan mengembalikan mereka ke alam liar. Sebenarnya,
aku ingin menggunakan mereka untuk bisnis pertunjukan alam liar. Aku akan
membawa penumpang kapal pesiarku ke tempat mereka berada, dan memanggil para
lumba-lumba ini untuk melakukan atraksi. Meski aku yakin, tidak dari mereka
semua akan hadir. Tapi, pertunjukan alami akan terasa lebih spektakuler.” Pak
Burhan menjelaskan panjang lebar.
Setelah puas mendapatkan informasi yang mereka butuhkan,
mereka pun pamit. Mereka berharap bisa ikut hadir saat pelepasan mamalia laut
tersebut. Tapi, sayangnya, tidak bisa. Merkea memiliki hal lain yang harus
mereka kerjakan. Besok adalah hari senin. Rendi masih menikmati libur
panjangnya. Sementara yang lainnya, harus kembali kuliah dan bekerja.
Mereka kembali ke teman-teman mereka. Willy sedang duduk
di sana berbagi cerita dengan yang lainnya. Sepertinya, sikap Willy yang ramah
mudah diterima teman-teman Jefri yang lain.
Setelah puas bercerita, mereka memutuskan untuk pulang.
Willy yang masih ada kerjaan, terpaksa tinggal di sana untuk beberapa jam lagi.
Rendi menceritakan apa yang mereka dapatkan saat berpisah. Meski sambil
menyetir, mereka bisa melontarkan tanya jawab kepada Rendi. Tampak sepertinya
mereka menyesal tidak ikut.
“Kalian memang beruntung.” Kata Udin yang duduk di
samping Rendi.
Mereka semua merasa puas dengan hiburan hari itu.
Kepuasan yang dirasakan Rendi dan Jefri pastinya berbeda dengan yang lainnya.
Setelah mengantar mereka masing-masing, Rendi beranjak pulang ke rumahnya.
“Jef,” panggil Rendi, “Setelah mengantar mobil, aku akan
kembali ke sini.” Lanjutnya.
Jefri tersenyum dengan sebelah bibirnya, “Kau selalu
diterima di sini saudaraku.” Balasnya.
Rendi pun pergi. Dengan sejuta kepuasan yang
dirasakannya.