Tinta
Emas
Kukayuh sepedaku
membelah air yang menggenang di jalan di salah satu gerbang kecil di kampusku.
Kuhirup udara pagi sambil terus mengayuh sepedaku. Sesekali kutolehkan
pandanganku menikmati hijaunya dedaunan pohon yang berdiri di pinggiran jalan
yang membentang di depan “Sir Syed House” itu, walaupun tak serindang dan
sehijau dedaunan di negeriku tapi pemandangan itu tetap terlihat indah.
Kuparkirkan sepedaku di
parkiran yang terletak di sisi kanan jalan masuk menuju gedung “Art Faculty”,
lalu bergegas menuju ruang 12 di lantai 2, yang tak lain adalah kelas economic-ku.
Sesampainya di depan kelas, kulihat dosen sedang merapikan mejanya. Ia
mengambil salah satu buku absen dari tumpukan buku absen yang dibawanya. Tepat
sebelum ia membuka absen, aku langsung mengetuk pintu.
“May I come in sir?”
Tanpa menjawab ia
menoleh dan memberi isyarat dengan goyangan kepala khas india yang seperti
menggeleng itu dan itu artinya “yes”.