Sudah lebih dari sebulan sejak Pak Firman membawa Karin bersamanya. Waktu
terasa begitu cepat. Setiap minggunya, Pak Firman memberikan SMS dengan nomor
yang berbeda untuk memberitahukan keadaan Karin. Dan juga Rachman selalu datang
berkunjung setelah mengantar Karin. Mereka mungkin menganggap keadaan sudah
cukup aman. Pak Firman selalu memberikan kabar baik.
Pernah sekali Pak Firman memberikan sebuah cerita panjang tentang keadaan
Karin. Itu disaat ada seseorang yang mencurigakan mondar-mandir didepan rumahnya.
Mengetahui itu, Pak Firman segera meminta Satpamnya untuk mengamankan orang
itu.
Orang itu berhasil kabur entah dia mendapatkan informasi tentang Karin atau
tidak. Semenjak itu, keadan semakin genting. Pak Firman berencana memasukkan
Karin ke sekolah lain yang lebih dekat dengan rumahnya.
Pandu pernah mencoba menelpon salah satu nomor itu. Tapi yang menjawab
hanyalah suara merdu dari operator. Menyatakan kalau nomor itu sudah tidak lagi
digunakan. Rachman mengatakan kalau Karin terlihat normal seperti biasa.
Sepertinya Pak Firman menjaganya dengan sangat baik.
Seperti biasa, Pandu bersiap untuk latihan. Irfan datang dengan pakaian
yang sudah lengkap. Minggu depan akan diadakan ujian kenaikan tingkat. Materi
yang akan diujikan diberitahukan hari ini. Kemudian mereka bisa berlatih untuk
ujian nanti.
Surya datang sebelum mereka berangkat. “Hei, Kawan lama.... Lama kita tak
bersapa.” Teriak Irfan saat melihat Surya masuk.
“Hai, orang lama.” Jawabnya dingin.
“Hei, Sur. Tumben sekali. Ada apa?” Pandu menyambut kedatangan Surya.
“Saya pikir, Suhu memberitahu kalian kalau Saya ikut bersama kalian hari
ini?” Surya memasang wajah bingung.
“Ada masalah apa emang?” Irfan bertanya ke Pandu.
Pandu mengangkat bahunya. “Kalau begitu, kita naik mobil saja ke Padepokan.”
Mereka tidak banyak komentar. Surya terbiasa berpakaian rapi. Dan kali ini
bukan pengecualian. Hanya saja, tidak disertai jas yang biasa digunakannya.
Rambutnya yang selalu dirawat pendek memperlihatkan kalau dia adalah orang yang
mencintai kerapian.
Irfan merapikan rambutnya yang hampir menutupi leher. Cukup panjang.
sementara rambut pandu cukup rapi untuk ukuran anak muda. Seperti potongan
rambut Steve Rogers, Captain America. Mereka bertiga memang memiliki penampilan
yang sangat berbeda satu sama lain. Yang satu terlihat sangat rapi, sedang yang
satunya terlihat sangat random, dan yang lain terlihat cukup santai.
Masing-masing penampilan menunjukkan kepribadian masing-masing.
“Biar saya saja yang bawa mobil.” Pinta Surya.
Pandu melemparkan kunci mobilnya. Surya menerimanya dengan santai. Mereka
pun berangkat ke padepokan. Perjalanan berlangsung dengan cepat. Pandu dan
Irfan langsung menuju ruang ganti. Sementara Surya menemui Suhu Brandon di
ruangannya.
“Kukira kau takkan datang.” Suhu Brandon menyambut Surya. Dia menunjuk
kursi yang kosong di depannya sebagai isyarat ‘silahkan duduk’.
“Aku sangat yakin, pasti ada sesuatu.” Surya duduk sambil mencoba menebak
apa yang terjadi dalam hatinya.
“Kau yakin tidak memberitahunya dalam waktu dekat ini?” Suhu Brandon
membakar sebatang rokok. Lalu menawarkannya rokok lainnya kepada Surya.
“Ternyata masalah itu.” Surya mengabaikan sebungkus rokok yang ada di
hadapannya. “Jika dia tahu, dia akan berhadapan dengan Gagak Hitam untuk
membalas dendam. Dan untuk itu, dia masih belum mampu. Bahkan dia tidak bisa
berkelahi.” Sambungnya.
Suhu Brandon menghela nafas panjang, “Siapa lagi yang mengetahui hal ini?”
“Tidak banyak. Firman, Gilang, kemudian aku dan Suhu sendiri.” Surya
terdiam sebentar. “Satu lagi. Kelvin. Dan orang itu adalah tahanan Gagak
Hitam.”
“Ternyata dia masih hidup. Sebenarnya, aku berharap dia baik-baik saja.”
“Ada apa sebenarnya?” Surya mulai menekan pembicaraan.
“Kalung yang dipakainya. Itu bukan kalung biasa. Aku membuatkan empat buah
kalung seperti itu dahulu. Salah satunya ada pada Kelvin dan kemudian aku
melihatnya digunakan oleh Pandu. Itu adalah sebuah kunci.”
“Kunci?” Surya heran. “Kunci apa?”
“Aku juga tidak tahu pasti,” Suhu Brandon membuang abu dari rokoknya dan
menarik panjang. “Sepertinya sebuah warisan keluarga yang sangat berharga.”
“Apa Suhu memanggilku karena hal ini?” Surya memicingkan matanya.
“Bukan. Ada hal lain. Ini adalah masalah keluarga. Aku tidak terlalu
peduli.” Suhu Brandon bangkit dari kursinya. Kemudian membelakangi Surya. “Kau
ingat sudah berapa lama perguruan ini berdiri?”
“Aku tidak tahu pasti. Sepertinya umur perguruan yang suhu bangun ini sama
dengan umurku. 25 tahun.” Surya mencoba menerka kemana arah pembicaraan ini.
“Iya. Perguruan ini telah mencapai puncaknya. Kini ada banyak perguruan
lain yang mencoba menghancurkan perguruan ini. Kau sebagai salah satu
penyandang gelar pendekar terbaik, pasti tahu akan hal ini.”
“Iya, Aku pernah bertemu dengan banyak orang. Dan mereka terlihat sinis
saat mendengar perguruan ini.” Kenang Surya saat ketika dia masih kuliah dulu.
“Semalam, aku mendapatkan tanda-tanda kalau tempat ini akan diserang. Aku
tak yakin akan lolos kali ini.” Suhu Brandon berbalik menghadap Surya.
“Kau ingin aku mewarisi padepokan ini?” Tebak surya yang tidak suka
basa-basi.
“Awalnya aku berpikir begitu. Aku tahu kau akan menolaknya. Tapi, kau harus
mencari siapa penggantiku. Ku serahkan padamu kalau aku sudah tiada.”
“Jangan mengada-ngada, Suhu!” Surya berteriak sambil berdiri. “Aku tidak
akan membiarkan mereka melakukan itu padamu....”
Terdengar suara keributan di luar sana. Bukan seperti keributan biasanya.
Surya dan Suhu Brandon langsung berlari ke tempat itu. Telah terjadi
perkelahian sengit di pintu masuk Padepokan. Ada sekelompok orang berpakaian
serba hitam menyerang. Sementara para pesilat bersabuk biru berusaha
menghentikan mereka.
“Mereka akhirnya datang... Bersiaplah...” Suhu Brandon dengan penuh percaya
diri menegakkan bahunya.
“Aku akan mencari pemimpin mereka.” Surya berlari menghilang di kerumunan.
Salah seorang yang berpakaian hitam melihat Suhu Brandon dan langsung
berlari ke arahnya dengan golok ditangan. Terlihat dia hendak menebas kelapa
orang tua itu.
***
Silahkan ajukan komentar dan saran untuk perkembangan cerita yang lebih menarik... :)