Irul tidak menyangka,
waktu berjalan begitu cepatnya. Kali ini, dia lagi-lagi melewatkan ujian tes
perguruan tinggi negeri. Sejatinya, Irul memang tidak berminat untuk
melanjutkan kuliah. Dia hanya ingin memperdalam kemampuannya dalam bidang IT.
Hanya saja, hobinya itu tidak mendapatkan dukungan dari keluarganya. Irul yang
merupakan anak seorang pengusaha, tidak terlalu peduli dengan masa depan. Yang
dia tahu, jika melakukan hal yang baik, kebaikan itu akan datang dan akan
membantu setiap masalah yang dihadapi.
Entah sudah berapa
kali Irul harus mendengar omelan dari ibunya. Sang ayah yang menyadari itu,
hanya tersenyum melihat anaknya. Ayahnya bukan tipe orang yang bisa marah
kepada keluarga. Melihat tampang Irul yang memperlihatkan rasa bersalah, sang ayah
justru datang menghibur.
“Hei, jangan terlalu
kau pikirkan. Aku tidak datang untuk memarahimu.” Katanya mencoba menenangkan.
“Ayah, aku tidak
mengerti,” Irul memperbaiki letak kacamatanya, “Kenapa aku tidak bisa
memperdalam hobyku? Padahal, aku hanya ingin hidup senang. Bisa melakukan apa
yang aku mau. Aku tidak ingin terpenjara dengan keterpaksaan seumur hidupku,
Ayah.”
“Memang tak selalu
indah. Tapi, begitulah hidup. Sering kali kita dibutakan dengan nafsu sesaat.
Seakan sangat yakin itu akan bermanfaat nantinya. Ketahuilah, Nak, menjadi ahli
komputer dan dunia maya, cukuplah menjadi hobimu saja. Jika kamu ingin memulai
bisnis seperti ayahmu ini, mulailah sekarang. Jika ingin melanjutkan studi,
masih ada sedikit harapan. Ibumu, sagat ingin kamu menjadi orang yang bisa
dibanggakannya.”
“Tapi, Yah,” Irul
duduk bersandar di sofa, “Kenapa kita harus menjadi seperti yang diinginkan
orang lain? Kapan aku punya kesempatan untuk menjadi diriku sendiri?”
“Kau tak harus
menjadi dirimu jika ingin bahagia.” Sang ayah menjawab dengan bijak. “Kehidupan
tak selalu jujur, Nak. Kau bisa saja melihat apa yang kau lakukan ini sangat
menyenangkan. Seakan semua orang membutuhkan. Ada tanggung jawab dalam setiap
kehidupan seseorang. Seperti ayah yang memegang tanggung jawab atas dirimu
sampai kau benar-benar bisa mandiri. Tidak menjadi diri sendiri itu tak
masalah. Yang terpenting, tanggung jawab dalam hidupmu bisa kau selesaikan.”
Sang ayah menarik nafas panjang. “Kau akan menemukan kebahagianmu setelah itu.”
Sang ayah, dengan
santai mengeluarkan sebungkus rokok. Kemudian meletakkannya di meja dihadapan
anaknya. Sang anak hanya melihat bungkus rokok itu. Dia masih tidak yakin kalau
dia harus mengorbankan keinginannya hanya agar bisa bertahan hidup di kemudian
hari. Ini seperti film atau cerita novel.