Masalah Jefri dengan Dhilla, masih
belum menemui jalan keluar yang diharapkan. Ayah Dhilla berulang kali
memastikan kalau itu bukanlah pilihan yang keliru. Robby bukanlah orang buruk.
Dia dan keluarganya juga memiliki harta yang cukup untuk melanjutkan hidup
mereka jika bersama.
Jefri sedang tidak ingin membahas hal ini pada siapapun. Bahkan, Agus dan
Ari juga tidak banyak tahu masalah ini. Subhan yang jarang berkunjung juga
sudah pasti tidak akan mengetahui hal ini. Terkadang, dia merasa benar-benar
sendiri.
Sabtu ini, Subhan mengajaknya untuk menikmati malam minggu di kos. Sedikit
bersenda gurau dan berbagi cerita. Subhan yang berencana akan wisuda tahun
ajaran kali ini, merasa butuh sedikit hiburan. Udin juga akan datang dan
berbagi. Kebetulan, Bogel sedang liburan hingga mereka berencana untuk tertawa
bersama dan melupakan masa depan untuk sesaat.
Jefri yang sedang tidak mengerti apa yang harus dilakukannya, hanya bisa
mengiyakan ajakan temannya. Mereka berjanji akan datang sore hari. Komputer
Udin siap dijadikan korban media game untuk malam ini. Semuanya sudah komplit.
“Hei, ada apa?” Jefri mengangkat panggilan dari smarthphone-nya.
Panggilan yang tidak biasa dari Agus.
“Gini, Jef, agak kurang enak aku bilangnya.”Agus mengakui.
Jefri menghela nafas, “Aku tidak dirumah malam ini, aku tahu, mungkin kau
mau pakai rumahku bersama pacarmu, kan?” Jefri sudah mengetahui itu, karena dia
selalu menawarkan pada Agus jika ingin tinggal bersama. Melihat mereka berasal
dari daerah yang sama. Tapi, Agus tidak ingin memiliki rasa hutang budi. Akan
sulit melakukan apa-apa jika sudah memiliki hutang budi dengan orang lain.
Terdengar suara Agus seperti tertawa kecil. “Kau memang kawan yang hebat,
Jef.” Puji Agus.
“Kau bisa pakai semuanya dengan bebas, kawan. Yang penting tidak menyentuh
kamarku. Hanya ruangan itu yang akan terkunci nantinya, ya.”
“Terserah kau saja, Jef. Itu sudah sangat membantu bagiku. Kau juga tahu,
kan, aku punya sedikit masalah dengannya. Jadi, aku memintanya untuk datang
duluan ke rumahmu. Gak masalah, kan?”
“Kalau begitu, aku tinggalkan kunci di jendela. Aku pegang kunci serapnya
dan kau tidak usah khawatir apapun. Kau percaya padaku, aku akan lakukan yang
terbaik.” Jefri menjawab dengan nada datar seperti biasanya.
Setelah berjanji tidak akan melakukan hal-hal yang aneh, Jefri menutup
panggilan. Ditatapnya langit-langit kamar. Tak ada apapun disana selain warna
putih bergaris hitam membelah langit-langit kamar itu menjadi beberapa bagian
vertikan dan horizontal. Semuanya terlihat biasa. Tak ada yang istimewa.
Dinding kamarnya juga kosong tak ada yang menempel. Walau dia sendiri adalah
fans Chelsea FC, tak ada satu pun aksesoris yang menunjukkan hal itu. Bahkan,
poster sang legenda John Terry juga tidak terpampang di dinding kamarnya yang
berwarna putih dan mulai kelihatan kusam.
Dinyalakannya sebuah instrumen musik. Walau dia tidak mengerti musik, dia
tetap mendengarkannya dengan santai. Berusaha agar semua masalah yang selama
ini menumpuk di bahunya tidak lagi terasa berat. Walau sesungguhnya semakin
hari semakin berat. Sebaiknya aku bersiap, pikirnya dalam hati.
Dengan malas, dia bangkit dan sedikit merapikan ruang tamu dan kamar yang
ada disebelahnya. Setelah mandi dan Sholat ashar, dia mendengar ada seseorang
yang mengucapkan salam. Suara seorang wanita. Tapi, bukan Dhilla. Karena Dhilla
sedang berada di Siantar sekarang ini.
Dengan pakaian yang masih rapi, Jefri mempersilakan Chika untuk masuk.
Jefri sebenarnya tidak menyukai gaya berpakaian gadis ini. Terlalu terbuka
menurutya. Lirikan mata tajam dan sinis itu juga sangat mengganggu. Jefri
segera ke dapur, “Mau minum apa, Chika?”
“Kalau bir ada?” Katanya sambil bercanda.
“Baiklah, teh manis panas akan segara datang.” Kata Jefri tidak terlalu
peduli dengan perkataan Chika.
Jefri datang dan duduk di depan Chika. “Chantika Dea.” Kata Jefri
tiba-tiba. Chika yang sedang asyik menatap layar I Phone nya, sedikit kaget dan
langsung menatap mata Jefri. “Kenapa? Kau kaget aku tahu nama panjang mu?”
Jefri melanjutkan dengan dingin.
“Dari mana kau tahu?”
“Aku tahu banyak hal tentangmu. Bukan dari Agus. Aku mencarinya sendiri.
Alumni SMA Negeri di Deli Serdang. Ayahmu seorang seorang pengusaha rumah makan
di Jalinsum. Ibumu seorang ibu rumah tangga.”
“Lalu, apa?” Chika masih tidak percaya kalau Jefri hampir mengetahui segalanya
tentang dirinya.
“Seminggu yang lalu, aku melihatmu sedang berjalan dengan seseorang yang
mungkin bernama Riza. Dua hari kemudian, Agus bercerita kalau kau sudah berbeda
dari pertama kali kalian saling kenal. Dan dua hari yang lalu, aku pikir kalian
akan selesai. Tapi, Agus benar-benar serius mempertahankanmu.”
“Kau kira kau cowok yang baik? Aku juga pernah melihatmu pergi dengan
wanita lain.” Chika mulai meninggikan suaranya.
Jefri tersenyum. “Sudah kuduga. Gadis itu adalah kau. Kau seakan
menguntitku untuk mencari-cari kejelekanku. Aku tidak tahu untuk apa.”
“Sembarangan! Aku hanya kebetulan sedang lewat!”
“Baiklah kalau begitu. Saat itu, Dhilla yang memintaku untuk mengantarnya
dan teman-temannya yang sedang tersesat dan tidak punya uang untuk pulang. Aku
tidak melakukan apapun yang salah.”
“Alesan! Asal kau tau aja ya, aku bersama Riza hanya teman main biasa. Dia
sering mengajakku dugem. Dan itu bukan hal yang baru untuk sekarang ini. Dia
temanku untuk bersenang-senang.”
“Ya, mungkin hanya teman biasa. Pulang hingga larut malam bahkan terkadang
tidak pulang hingga pagi.”
“Kau tahu kenapa? Riza memberiku uang yang kubutuhkan hampir setiap
saatnya.”
“Berapa biasanya yang dia beri?”
“Setiap bulannya, dia memberiku lima ratus ribu untuk uang kos. Dan
beberapa ratus ribu lagi untuk keseharian. Jika ditotal, kira-kira sekitar 750
ribu. Dibandingkan dengan temanmu, dia hanya mampu memberikan 500 ribu saja.
Terus, aku mau makan apa?”
“Kau tahu, bagaimana Agus mencintaimu? Dia memberikan segala yang
dimilikinya. Dia bekerja, bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia
sudah seperti melakukannya untuk menyenangkanmu, Chika. Uang yang diberikannya
padamu, itu adalah total gajinya selama sebulan.”
“Tidak mungkin. Lalu, bagaimana dia bisa membayar uang kosnya? Uang
kesehariannya?”
“Bagiku, seorang teman lebih berharga dari pada jutaan rupiah yang kudapat.
Uang sebanyak itu akan sia-sia jika aku tidak punya teman untuk
menghabiskannya. Aku memang seorang santri. Aku merasakan apa artinya persahabatan.
Enam tahun aku berada di pondok pesantren, dan aku mengerti arti sebuah
pengorbanan demi persahabatan.”
“Maksudmu?”
“Ya, aku membantu Agus dalam beberapa bulan ini. Bahkan, aku batal
menyisihkan uangku demi membantunya. Dia bukanlah orang yang buruk. Dia
sahabatku. Kalau kau mengecewakannya, maka aku akan menjadi salah satu orang
yang juga akan membencimu.”
Chika terdiam. Diambilnya gelas yang berisi teh manis itu. Masih hangat. Kata-kata
Jefri menunjukkan kalau Agus adalah orang yang layak diperjuangkan. Dia
akhirnya sadar, Riza memberikannya uang lebih banyak dari yang diberikan oleh
Agus adalah karena Riza memiliki lebih banyak uang. Uang sejumlah itu tidak ada
artinya bagi Riza. Tapi, bagi Agus uang yang diberikannya adalah segala yang
dimilikinya. Dia tidak bisa membayangkan jika saja Agus tidak memiliki teman
seperti Jefri. Mungkin Chika akan tetap menjadi Chika yang terus-menerus
menilai orang dari harta yang dimilikinya. Bukan dari seberapa berharga harta
yang rela diberikannya pada orang lain.
Suara motor Agus terdengar sangat Khas. Itu juga isyarat agar Jefri segera
meninggalkan mereka berdua. Jefri langsung pergi tanpa pamit meninggalkan Chika
yang masih terdiam dan terjebak dalam kebingungan melihat kenyataan yang ada.
“Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok di Kampus.” Kata Jefri seraya
mengenakan helm dan pergi tanpa menunggu salam dari Agus.