Entah sejak
kapan, tren mendaki gunung menjadi sangat populer dikalangan anak muda.
Terkhusus bagi mereka yang sudah duduk di semester akhir, pendakian menjadi
salah satu momen perpisahan yang sangat menarik bagi mereka. Jefri yang sedang asyik
memperhatikan layar gadgetnya, terus memperhatikan satu-persatu foto
teman-temannya. Yang pasti, dalam foto itu, mereka sedang berpose diatas
gunung. Sesaat kemudian, Jefri menyimpan gadgetnya dan mulai membaca buku. C++
yang merupakan salah satu bahasa pemrograman yang sedang didalami Jefri. Jefri
yang berada ditaman sendirian, tak merasakan kalau ada seesorang yang sedang
mendatanginya.
“Jef, ui.”
Suara yang berat itu terdengar sangat khas. Jefri masih belum menoleh. Tangan
besar kemudian menyentuh bahu kananya. Dengan cepat Jefri menoleh. “Sering juga
kau main kesini ya?” Ternyata itu hanya Udin. Jefri bernafas lega. Dia hanya
terkejut.
“Bikin
terkejut aja,” Jefri mengatakan dengan nada datar. Sampai sekarang, Jefri masih
jarang menunjukkan ekspresi diwajahnya. Jefri menggeser posisi duduknya.
Memberikan kode kepada Udin untuk duduk. Udin hanya tertawa.
Udin
mengeluarkan sebungkus rokok. Tapi, sepertinya itu sudah hampir habis.
Mengambil sebatang dan membakarnya. Sesaat kemudian, rokok itu ditawarkan
kepada Jefri. Jefri mengambilnya dengan senang hati. “Hey, Jef” Rendi mencoba
memulai percakapan. Ternyata disitulah fungsi rokok itu, sebagai pemancing
inspirasi untuk memulai percakapan. “Kau tahu, kan? Subhan dan kawan-kawan
seangkatan kita yang lainnya mau ngadakan acara mendaki bersama. Si Dana yang
jadi tanggung jawab perjalanan. Dia udah sering mendaki katanya.” Udin menarik
rokok dengan sangat panjang. Kemudian menghembuskannya ke udara.
“Aku bukan
anak gunung, Din.” Jefri masih memperhatikan bukunya, meski rokok masih
tersangkut dibibirnya.
“Aku juga
bukan, Jef. Tapi, ayoklah, sekali-sekali kita mendaki sama-sama. Masa gak mau
kau?” Paksa Udin.
Jefri
menutup bukunya, kemudian membakar rokoknya, “Sekarang aku mengerti, Din,
kenapa bukan Subhan yang kesini seperti biasanya. Dia tidak akan bisa memaksaku
untuk ikut. Jadi, mereka mengutusmu untuk mengajakku. Ya kan?”
Udin
terlihat sedikit kesal. “Salah kau. Gak ada orang itu yang ngutus. Aku cuma
inisiatif aja mau ngajak kau. Subhan mungkin lagi sibuk di kampusnya. Dia kan
kosma sekarang.”
“Oh, begitu.
Berarti aku salah. Maaf, kalau bikin kau kesal.” Jefri mengatakan, seakan-akan
dia tidak punya salah. Memang sangat aneh. Tapi, begitulah Jefri yang dikenal
teman-temannya. Sangat jarang berkomunikasi. Tapi, Jefri selalu siap membantu
teman-temannya. Tidak akan berbicara jika tidak diminta.
“Ah udah
biasa aku kek gitu.” Udin mencoba menyembunyikan kekesalannya. “Jadi, cemana?
Kau ikut gak?”
“Tentukan
aja waktunya, nanti aku konfirmasi bisa atau gak. Kalau aku sendri, Jum’at,
Sabtu dan minggu, kemungkinan besar gak bisa. Tapi, kalau semua sudah sepakat
diantara hari itu, kuusahakan dulu izin kerja.”
“Kau ngambil
kerja hari minggu?” Udin bingung.
“Iya,
soalnya kalau libur, aku bingung mau ngapain. Lumanyan kalau kerja, dapat
uang.” Jelasnya singkat.
“Oh, gitu.
Aneh kau memang, Jef.” Udin mengatakan dengan nada pelan.
Tak lama
setelah itu, Subhan datang ke tempat mereka. “Loh, tumben kau kesini, Din?”
Tanya Subhan. Udin hanya tersenyum. Seakan sedang tidak berminat untuk
berbicara. Mereka hanya menikmati sore dengan rokok masing-masing.
“Okeh, aku
ikut.” Kata Jefri kemudian. Tentu saja yang Udin dan Subhan jadi bingung.
Secara Subhan juga baru tiba disana. “Aku ikut mendaki.”
“Kenapa
tiba-tiba memutuskan sendiri?” Tanya Udin.
“Entahlah,
sepertinya aku hanya butuh suasana baru.”
“Dasar,
Jefri!” Subhan tertawa. Dan diikuti Udin. Jefri hanya tersenyum.
Sore itu
dihabiskan bersama teman-teman sepreti biasanya.
Malam hari,
sebelum tidur, Jefri selalu memeriksa Gadgetnya untuk terakhir kali dan
memastikan alarm. Ada grup baru di What’sapp. Ditambahkan oleh Subhan.
Sepertinya ini adalah grup untuk memastikan pendakian. Jefri sudah bulat akan
ikut. Dia memang membutuhkan sesuatu yang baru. Tersadar karena dirinya hanya berkutat
antara mesin dan dunia digital. Hampir saja dia melupakan kalau dunia nyata ini
sangat indah. Maka, dia pun tidak ingin kehilangan momen menyaksikan keindahan
alam. Apalagi, itu dilakukan bersama teman-teman. Pasti akan sangat
menyenangkan.
Paginya,
Jefri sudah siap untuk berangkat. Sekali lagi memeriksa gadgetnya, ternyata
pendakian akan dilakukan tiga hari lagi. Juga diberitahukan apa saja yang
kira-kira dibutuhkan. Tanpa ambil pusing, Jefri langsung mengambil screen shot
dari hapenya dan menyimpan gambarnya. Untuk memudahkannya dalam mencari
keperluan nanti.
Sepulang
kuliah, dia mempersiapkan segalanya. Dia memilih sepatu yang paling kuat yang
dimilikinya. Kemudian, dia juga mencari tahu, kira-kira apalagi yang harus
dibawa. Hanya sweater. Lagian, sepertinya juga tidak akan camping. Meski
begitu, Jefri mencoba mempersiapkan pakaian ganti. Siapa tau ada perubahan
rencana. Jefri tak mau berspekulasi yang kurang beruntung.
Akhirnya,
waktu keberangkatan tiba. Semuanya berkumpul di kost Subhan. Jefri pergi dengan
membawa motornya. Semua orang udah berkumpul disana. Ada sekitar tujuh orang,
termasuk diantaranya; Udin dan Subhan. Dana sudah mempersiapkan apa saja yang
akan dibawa. Juga ada Joel disana. Raka dan Rustam yang baru saja tiba setelah
Jefri, juga terlihat sangat bersemangat.
“Okeh,
Semuanya udah datang,” Dana mengheningkan suasana. “Karena disini ada yang bawa
motor, sebaiknya dititipkan aja disini. Kita naik bus aja kesana.” Sambungnya
kemudian.
“Kenapa
gitu, Dan?” Tanya yang lainnya.
“Soalnya,
lebih bahaya kalau bawa motor. Belom lagi nanti kalau beresiko hilang. Aku juga
baru sadar tadi malam.” Dana menjelaskan lagi sambil menggaruk-garuk kepala
tanda rasa bersalahnya. Yang lain hanya menyoraki.
“Kenapa gak
bilang tadi malam.” Raka ketus.
Jefri
berdehem sebentar, “Tunggu sebentar, memang cuma segini aja yang berangkat?
Bukannya di grup ada lima belas orang?” Tanya Jefri serius.
“Nah, itu
juga yang mau kukasi tahu tadi,” Dana, selaku ketua rombongan mendapat banyak
pertanyaan. “Yang lain gak bisa ikut, sebagian masalah keluarga, sebagian lagi
karena kegiatan kampus.”
“Ohh...”
Jefri mengungkapkannya dengan datar.
“Okeh, aku
ambil alih lagi.” Dana dengan PD nya berbicara. Memang semenjak di pondok, dia
adalah anak pramuka. Kegiatan tahunan hampir tak pernah ketinggalan. Jika saja
disebutkan nama ‘Ridwan Pradana’, maka langsung tergambarlah dibenak
orang-orang sosok pramuka yang aktif. “Persiapan perbekalan. Pertama, mungkin
kita butuh kemah, mungkin juga tidak.”
“Sudah
dipersiapkan, Bos!” Teriak Rustam tak kalah PD.
“Obat-obatan,
ini harap masing-masing bawa, air minum masing-masing juga bawa, dan jangan
lupa termos air panas. Makanan ringan, pop mie dan sebagainya, silahkan dibeli
sekarang disini atau nanti disana. Dengan catatan disana nanti akan lebih
mahal.”
Semuanya
mengangguk karena sudah mengerti. “Satu lagi,” Raka mengingatkan, “power bank
jangan lupa, ya. Sayang, kan, kalau gak ada foto-foto kita nanti pas diatas.”
Raka sedikit nyengir. Jefri tak terlalu memikirkan itu.
Perlahan
semuanya mulai bubar mencari kebutuhan masing-masing. Kemah, akan dbawa oleh
Raka dan Rustam. Mereka sepertinya sudah pernah mendaki. Jadi mereka lebih
mengerti masalah kemah-kemahan. Jefri dan Subhan hanya duduk di depan kost
dengan santai. Seakan tak percaya, mereka akan berangkat siang ini. Beberapa
saat, mereka sudah berkumpul lagi. Jefri dan Subhan sudah mempersiapkan
segalanya. Jefri bisa mendapatkan tentang segala macam kebutuhan di Internet.
Atau melalui forum-forum yang tersebar di dunia maya. Semuanya sudah memberikan
penjelasan yang mencukupi.
“Ayo,
sebentar lagi bus kita datang. Persiapkan semuanya. Nanti kita jalan ke simpang
depan.” Dana kembali mengingatkan saat semuanya sudah berkumpul.
Subhan
menjadi orang terakhir yang keluar dari kost. Ya, tak lain karena dialah yang
menghuni kost itu, dan dia pula yang memegang kunci. Semua motor sudah
diamankan. Dan sekarang tinggal berangkat. Bus yang ditunggu sudah tiba. Ya,
mereka hanya menaiki bus mini tujuan Brastagi. Mereka berencana mendapatkan sun
rise di puncak Sibayak nantinya. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 2-3
jam.
Jefri
memperhatikan setiap perjalanan. Terjadi beberapa perubahan yang cukup
menakjubkan. Bangunan-bangunan yang padat dan tinggi menjulang, kini telah
berganti dengan pohon yang tinggi dan perumahan yang jarang. Udara yang panas
pun telah berganti menjadi sejuk dan dingin. Seperti hawa guung itu sudah
sangat terasa. Jefri masih terus memperhatikan hal-hal di luar perjalanan. Dia
tidak peduli apakah teman-temannya sedang bersenda gurau atau sedang bernyanyi.
Seakan Jefri adalah seorang anak yang selama ini dikurung, dan baru kali ini
melihat dunia luar.
Beberapa
saat kemudian, mereka telah sampai di desa Jaranguda. Dana, selaku ketua
rombongan, langsung menuju ke sebuah penginapan. Dua kamar saja mungkin cukup
untuk tujuh orang. Jefri, Subhan dan Udin berada di satu kamar. Joel, Dana,
Raka dan Rustam berada di kamar yang lain. Saat pembagian kamar, Dana mengingatkan, “Sekarang, usahakan
kita tidur dulu. Sekitar jam dua pagi kita bangun baru mendaki. Sun risenya
mantap itu. Nantilah kita nikmati. Sekarang, kita bisa istirahat.” Mereka lalu
berpencar menuju kamar yang sudah ditentukan. Jefri berusaha menutup mata
mengistirahatkan diri. Tapi sepertinya, mereka harus makan malam dulu.
Sebelum jam
dua dini hari, mereka semua sudah terbangun. Bahkan, Udin yang hampir tidak
pernah bangun pagi, kali ini bisa bangun. Joel adalah yang terakhir bangun
setelah dibangunkan dengan susah payah. Sepertinya dia kebanyakan makan.
Setelah bangun, Joel langsung menuju kamar mandi. Mengambil perbekalan dan
menuju kedepan penginapan. Ternyata, mereka tidak sendiri. Ada cukup banyak
rombongan lain yang ikut mendaki. Sepertinya itu memang jadwal keberangkatan
pertama untuk hari ini.
“Okeh,
semuanya sudah berkumpul” Dana selaku ketua rombongan dari tujuh orang itu
memulai briefing singkat. “Pertama yang harus diingat, jangan bertingkah yang
aneh-aneh selama pendakian. Masalah percaya dengan mitos-mitos gunung atau
tidak, itu kita bahas lain kali. Tapi, karena aku yang membawa, kuharap, kalian
bisa mengikuti. Aku tidak bisa tanggung jawab kalau kalian ada yang melanggar.”
Ucap Dana dengan tegas.
Semuanya
terlihat sangat serius. Seakan mereka akan menghadapi perang. “Kemah akan
ditanggungjawabi oleh Raka dan Rustam. P3K kita dipegang oleh Joel, yang lain
membawa makanan dan minuman. Jadi kita sudah berbagi tugas.” Dana terlihat
sangat antusias. Tdak ada keraguan di raut mukanya. “Oh iya, untuk formasi, aku
dan Raka akan membawa jalan. Yang lain, Joel, rustam, dan Jefri di tengah.
Jangan terlalu jauh dari kita. Yang dibelakang, Udin dan Subhan.” Semuanya
hanya diam. Sepertinya mereka semua sudah memahami semuanya. Suasana yang
gelap, yang hanya disinari dengan lampu depan penginapan dibantu cahaya
rembulan malam itu, seperti membangkitkan semangat baru.
Jefri
mencium bau yang segar dari arah gunung. Hawa gunung memang berbeda. Itu
memberikan rasa sendiri. Mereka masih menunggu izin dari penjaga untuk mulai
berangkat. Para ketua rombongan berkumpul. Mereka berbagi cerita. Jefri bukan
orang yang bisa dengan mudah bergaul dengan siapa saja. Dia memilih untuk diam
dan menikmati bintang yang cerah. Hawa dingin gunung itu mulai merasuki kulit.
Untungnya tidak sampai menusuk tulang.
Dana kembali
dan memanggil teman-temanya, “Ayo, kita sudah mau mendaki. Saat mendaki nanti,
kalau butuh istirahat, langsung bilang, kita berhenti sama-sama. Jangan terlalu
memaksakan diri. Sekarang mari kita buat lingkaran.” Mereka semua langsung
membentuk lingkaran. Saling berpegangan tangan. “Sekarang, mari kita berdoa
dengan cara kita masing-masing.” Hampir bersamaan, mereka semua menundukkan
kepalanya. Ada yang menutup matanya ada yang hanya menunduk saja. “Selesai”
Kata Dana tiba-tiba. “Ayo, kita langsung ambil antrian.”
Sebelum
saatnya mendaki, Joel dan Subhan menyempatkan diri merokok. Padahal mereka akan
berangkat sebentar lagi. Kebetulan, Joel juga sudah membawa banyak rokok. Yang
lain hanya membawa sesuai kebutuhan masing-masing saja. Udin ikut merokok
bersama mereka.
“Gila
kalian, ya” Katanya dengan nada yang aneh. “Merokok kalian sebelum mendaki.
Rusak nanti badan kalian.” Kemudian Udin membakar rokoknya.
“Gaya kau,
Din.” Joel menyambut. “Kau pun merokok itu.” Kemudian tertawa.
“Badan aku
masi cukup kuat untuk merokok.” Udin menunjukkan badannya yang cukup besar.
Dana melihat
mereka sedang asyik merokok. Kemudian mendatangi mereka. “Untung kalian merokok
sekarang, hampir aku lupa.” Katanya saat mendatangi Joel dkk. di depan
pendakian. “Nanti kalau merokok, puntungnya jangan dibuang di tanah ya.
Disimpan aja dulu. Cari sesuatu yang bisa dijadikan asbak portable.”
Dana mejelaskan. “Karena, tidak ada petugas pembersih gunung. Sebagai pendaki,
kita juga bertanggung jawab terhadap kebersihannya.”
“Siap,
Captain” Udin membacanya sebagaimana tulisannya. Otomatis itu membuat semua
yang mendengar tersenyum geli. Dana juga tidak masalah dengan hal itu.
Begitulah teman-temannya. Banyak yang aneh. Tapi, mereka juga selalu siap sedia
saat dibutuhkan.
Pendakian
akhirnya dimulai, Dana meneriakkan semangat ke teman-temanya. Meski hanya
berjumlah tujuh orang, mereka berusaha untuk tidak kalah dengan rombongan yang
lain. Jefri melangkahkan kakinya untuk memulai perjalanan. Mereka masing-masing
membawa tas besar. Jefri terlihat sangat lucu jika menggunakan tas seperti itu.
Tasnya lebih besar dari pada tubuhnya. Berjalannya juga terlihat sangat
kesulitan. Tapi, itulah hal baru yang harus dirasakannya.
“Ayok, jalan
kau, Jef. Kalau ada apa-apa, kami dibelakangmu.” Udin memberikan semangat awal.
Jefri berusaha menggerakkan tubuhnya yang terasa sangat berat. Jefri hampir
tidak pernah berada ditempat seperti ini. Rasanya seperti dia sedang bermimpi.
Lucid dream mungkin. Sejenis mimpi dimana kita bisa mengendaikan diri seperti
saat sadar dan mengingat semua yang kita lakukan seperti dalam keadaan normal.
Tapi, sejatinya Jefri menyadari ini bukan mimpi. Angin yang berhembus dengan
lembut menemani pendakian yang panjang ini. Daun-daun masih menunjukkan kalau
mereka masih bermandikan embun. Jalan setapak yang hanya disinari oleh lampu
senter dan dibantu cahaya bulan itu terlihat sangat menantang. Jefri merasakan
hal yang baru.
Kelompok
lain terdengar mendaki sambil bercanda dan tertawa. Sementara mereka, seperti
sangat serius. Seakan tak ada kata diantara mereka. Sebenarnya mereka hanya
gugup. Hanya Dana dan Raka yang terlihat sangat lihai dalam bergerak mendaki.
Jefri berkali-kali hampir terjatuh karena tersandung. Belum lagi suara-suara
aneh dari dalam hutan saat mereka sedang berada jauh dari kelompok lain. Itu menambah
semangat lain dalam diri mereka. Itu yang membuat mereka bisa terus bergerak.
Udin dibelakang tampak santai menikmati perjalanan sambil menghisap rokok.
Subhan
dengan santai membawa semua perbekalan di tasnya. Sesekali memegangi Jefri yang
hampir terjatuh. Joel sibuk mencari sumber suara aneh itu. Sesekali dia
menyenter burung di pohonn yang sedang tidur. Yang kemudian langsung terbang
mencari tempat lain. Rustam, sepertinya menikmati makanan ringan sepanjang
perjalanan ini. Raka dan Dana sibuk bertukar pengalaman mendaki gunung yang
berbeda. Sesekali mereka memperhatikan kebelakang dan memperingatkan yang lain
untuk terus menjaga jarak. Sesekali mereka juga berhenti untuk memastikan
apakah teman yang lainnya masih sanggu atau tidak. Mereka mungkin adalah
kelompok kecil. Tapi, sangat terasa kekompakannya.
Sudah lebih
dari setengah perjalanan mereka lalui. Semuanya berjalan dengan lancar. Tapi,
ada hal aneh yang terjadi. Jefri secara tiba-tiba berjalan dengan cara yang
aneh. Seakan tubuhnya akan roboh. Subhan langsung menangkap Jefri. Subhan
kemudian menyandarkan tubuh Jefri pada sebuah pohon. Jalan setapak itu, sudah
terlihat samar-samar. Tubuhnya terasa bergetar karena kelelahan. Mungkin karena
kaget. Jefri memang bukan orang yang sanggup untuk aksi fisik dan stamina
seperti ini. Dia hanya ingin mencoba.
Air minum
sudah diberikan. Bahkan, Jefri sudah menolak. Apa hanya sampai disini saja?
Katanya dalam hati berusaha mencari lagi semangat yang hilang. Sejatinya Jefri
masih menaganggap tubuh manusia ini seperti robot. Hanya memiliki satu sumber
tenaga. “Sepertinya aku hanya bisa sampai disini. Kalian lanjut aja. Nanti,
kalau udah ada tenaga, aku langsung balik.” Kata Jefri cepat. Dia sama sekali
tak lagi memikirkan apa-apa selain ingin beristirahat. “Aku tunggu kalian di
penginapan.”
“Gak, Jef!”
Udin bersuara. “Kita harus sampai diatas bersama-sama.” Udin mencoba
menyemangati.”
“Kita
istirahat aja dulu sebenatar.” Dana mengusulkan. Membuka botol minumannya dan
mengambil beberapa teguk dari minuman itu.
“Santai aja,
Jef. Aku, waktu pertama kali mendaki juga gitu.” Raka berusaha membangkitkan
lagi semangat Jefri.
“Nih,
merokok kau dulu.” Joel melemparkan sebungkus rokok kepada Jefri.
Spontan
Subhan langsung menangkapnya. “Jangan! Gak bagus lagi mendaki merokok. Sakitnya
dabel nanti.” Jelasnya.
“Ya sudah,
kalian lanjut aja. Aku nanti bisa balik sendirian.” Kata Jefri lagi. Masih
terlihat tidak bertenaga.
Beberapa
orang melewati mereka yang sedang beristirahat. “Ayo lanjut, tinggal sedikit
lagi.” Kata salah satu dari mereka.
“Oke, bang.
Kami istirahat dulu sebentar.” Balas Dana. Itu adalah kelompok terakhir yang
mendaki. Sudah tidak ada lagi yang akan mendaki.
“Ayo, Jef.
Jangan lemas gitu kau. Kalau belum sanggup, biar kita tunggu lagi.” Joel
menjelaskan lagi.
“Lagian,
juga gak mungkin kami ninggalin kawan kami disini.” Kata Rustam dan disetujui
oleh yang lainnya.
“Tolong
dengarkan aku untuk terakhir kali! Kalian silahkan lanjut, Aku udah sanggup
kalau harus naik lagi. Tubuhku bukan robot yang bisa dipaksa berlebihan.
Nantinya aku hanya akan jadi beban untuk kalian.” Kata jefri lagi memaksa
teman-temannya untuk mendaki. Sementara dia akan berada di penginapan.
Udin
mendatangi Jefri dengan geram. Kemudian menampar wajah Jefri dengan sangat
kuatnya. Jefri hampir berputar terkena tamparan itu. Melihat hal itu, Dana,
Joel dan Subhan langsung memegangi Udin.
“Udah, Din.
Jangan diteruskan lagi. Kau kenapa koq gini, Din?” Kata mereka bergantian.
Udin
menggerakkan tubuhnya dengan kuat, “Lepas!” Teriaknya. Kemudian dia berjalan
menuju Jefri. “Jangan pernah kau samakan lagi manusia dan robot. Kau pikir
manusia cuma punya tenaga yang berasal dari dalam dirinya sendiri? Kau pikir
apa gunanya tujuan? Apa gunanya cita-cita?” Jefri hanya terdiam tidak mengerti.
“Kau memang salah satu orang yang cerdas yang kukenal. Tapi, dalam hal ini, kau
sangat bodoh. Tidak semua hal bisa dibaca dengan sistem komputer. Tidak semua
hal bisa dilakukan robot. Kau terlalu terobsesi dengan dunia maya dan
permesinan.” Sesaat semuanya terdiam. Tidak ada yang bersuara. Hanya
suara-suara dari hutan yang menemani mereka.
Jefri
menarik nafas. Dia masih tidak percaya kalau Udin melakukan itu kepadanya.
Tamparan yang sangat keras itu, masih membekas di pipi kirinya. Berulang kali
dia mecoba mengusap pipi itu. Berharap rasa perih itu hilang. Sementara air
mata, mulai berlinang. Mungkin karena tidak tahan dengan rasa perih itu.
“Kau sendiri
yang bilang, manusia itu sulit ditebak. Bukan seperti mesin yang jika kita
melihat sistemnya, kita akan mengerti seluruhnya.” Udin masih melanjutkan. “Tapi, kenapa kau yang bersifat seperti robot
dan mesin sekarang?” Udin berbalik dan mencoba memberi isyarat untuk
melanjutkan pendakian. Jefri kaget mendengar kalimat itu.
“Raka,
pimpin pendakian, yang lain ikutin Raka. Aku disini dulu sama Jefri.”
“Okeh, Boss”
Kata Raka. Joel dan yang lainnya langsung mengikuti dibelakang. Udin melirik
Jefri terakhir kali. Kemudian ikut mendaki lagi.
Maaf,
mungkin aku berlebihan, Jef. Tapi, ada banyak hal yang tidak kau mengerti
tentang manusia. Mungkin itu hanya salah satu caraku untuk mengingatkanmu. Udin
berkata dalam hatinya. Sambil membakar rokoknya, Udin mengikuti tim yang
sekarang dibawa oleh Raka.
“Jef, udah
sanggup kau berdiri?” Tanya Dana setelah rombongan mereka pergi. Jefri mencoba berdiri.
Tamparan dari Udin masih terasa. Tenaga Udin yang begitu besar telah membuatnya
hampir tumbang.
“Sakit, itu
yang ingin diberitahu Udin padamu.” Dana kemudian menjelaskan. Tentu saja Jefri
kebingungan. “Robot, mesin, atau pun di dimensi maya, kita tidak mengenal apa
itu rasa sakit. Kita mengenal apa itu kerusakan. Tapi tidak mengenal apa itu
rasa sakit. Rasa sakit, ada yang berasal dari dalam diri, ada dari luar.
Bahkan, ada yang kita tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi. Tamparan Udin,
itu menunjukkan rasa sakit dari luar. Kata-katanya juga seharusnya menjadi
bahan semangat bagimu. Tujuan dan cita-cita, itu akan memuat manusia berusaha
melewati batas kemampuannya hari ini agar bisa lebih baik esok.”
“Seakarang
aku mengerti, sepertinya, aku akan minta maaf ke Udin. Wajar kalau dia marah.
Dia yang mengajakku ikut. Dia mendatangiku secara pribadi. Kemudian, aku
menyerah disini. Padahal hanya tinggal sebentar lagi.” Jefri berusaha menarik
tubuhnya dari sandaran. “Dan, aku akan kembali ke penginapan.”
Dana
tersenyum. “Ya sudah biar aku temani.”
“Maksudku,
aku akan kembali ke penginapan bersama yang lainnya. Setelah sampai diatas.”
Jefri berkata dengan datar.
“Ohhh, ayo
kalau gitu. Jangan sampai terlalu jauh dari mereka.” Ajak Dana.
Akhirnya,
Dana dan Jefri bertemu dengan rombongan. Jefri kembali mengambil posisi
ditengah. Diam-diam, Udin tersenyum melihat Jefri masih mengikuti pandakian
ini. Mereka melanjutkan perjalanan denga sangat hati-hati. Matahari masih belum
menunjukkan tanda-tanda kemunculannya. Mereka masih memiliki waktu yang cukup
untuk mendaki ke puncak.
Mereka
sampai di kawah. Dana mengingatkan untuk berhati-hati. Banyak yang beristirahat
disini. Sebgian memasang tenda penginapan mereka. Sebagian sudah memasak mie
untuk mengganjal perut. Beberapa juga ada yang melanjutkan perjalanan yang
sedikit lebih terjal untuk sampai di puncak. Mereka sepakat untuk melanjutkan
perjalanan sampai ke puncak. Satu-persatu mereka mecoba mendaki. Saling
membantu. Hingga akhirnya, mereka sampai tepat pada waktunya.
Jefri segera
melepas tasnya, kemudian berlari menuju pinggiran dan menikmati pemandangan
dengan diam. Matahari yang baru naik, terlihat sedang menyirami hutan dan
gunung-gunung lainnya dengan cahaya keemasannya. Perlahan, kemudian cahaya itu
sampai ke tubuh Jefri. Jefri menikmati cahaya matahari itu. Tenaganya seperti
pulih kembali. Sekarang, wajahnya telah sepenuhnya tersiram cahaya pagi.
Rasanya tak bisa dibayangkan. Udin datang kesamping Jefri untuk menikmati
pemandangan.
“Jef, Sorry.
Tadi aku...” Udin mengatakannya dengan tegas.
Tanpa
melihat kearah Udin, Jefri menjawab, “Mungkin aku butuh itu sekali-sekali. Kau
benar. Dan aku harus berterimakasih. Manusia tidak hanya memiliki power dari
dalam dirinya sendiri. Tapi, ada power dari luar dirinya. Motivasi, cita-cita,
nasihat dan sebagainya. Itu ternyata bisa menjadi sumber tenaga yang lain bagi
manusia.” Jefri kemudian menatap kearah Udin. “Mungkin, sesekali aku butuh yang
seperti itu lagi. Agar aku sadar, aku bukan robot.”
Udin
mengangkat tangan kananya. Kemudian melihat ke telapak tangannya. Beberapa
detik kemudian, menoleh kearah Jefri. “Tamparan yang seperti tadi atau yang
lebih kuat lagi?” Tanya Udin becanda.
Jefri hanya
tersenyum dan memegang pipi kirinya. Seakan masih teringat perihnya tamparan keras
dari Udin. Subhan kemudian datang untuk juga menikmati. Yang lain berdiri
ditempat yang berbeda. Mereka menikmati pemandangan dengan cara mereka
masing-masing. Angin berhembus dengan perlahan. Snagat indah terasa pagi ini.
“Dalam game apapun, tidak akan bisa menggambarkan hal yang seperti ini.” Kata
Subhan tiba-tiba.
“Sekalipun
dunia virtual itu berhasil dibuat, manusia tetap tidak akan mampu menciptakan
hal yang seperti ini. Ciptaan Tuhan, bukanlah sesuatu yang bisa ditiru manusia.
Benar-benar sangat menyenangkan.” Balas Jefri panjang lebar.
Kemdian,
Joel memanggil mereka, “Ui, sarapan dulu sini.” Merekapun langsung menuju
sumber suara, dan menikmati pop mie sebagai pengganjal perut untuk sementara.
Sebuah
pengalaman yang sangat berharga bagi Jefri. Berada puncak gunuung ini ternyata
tidak semudah yang dibayangkan. Ada begitu banyak hal yang dihadapi selama
perjalanan. Tak lama setelah itu, tibalah sesi foto-foto. Rustam sudah
mempersiapkan tripodnya dan memasang kamera DSLR terbarunya. Seperti biasanya,
Jefri selalu menghilng saat sesi foto-foto. Semuanya sadar saat mereka melihat
hasil tangkapan. Tidak ada foto Jefri sama sekali disana.
Udin
langsung memasang matanya untuk mencari Jefri. “Disana” Teriak Subhan. Ternyata
Jefri masih berada di tempat pertama dia berdiri. Udin langsung datang dan
mengangkat Jefri.
“Kali ini
kau jangan lari lagi, ya. Susah kali diajak foto. Pada saatnya nanti, aku juga
mau nunjukkan sama keluargaku yang mana yang namanya Jefri.” Udin memberikan
alasan.
Jefri hanya
menggeleng. Dasar Udin! Katanya dalam hati. Akhirnya, semuanya selesai.
Setelah menkmati segala macam keindahan gunung, merka memutuskan untuk turun.
Tanpa disadari, mereka adalah rombongan terakhir yang turun. Dana dan Jefri
berinisiatif untuk mengamnil sampah yang bisa mereka angkut dan membawanya
kebawah. Beberapa pendaki juga masih meninggalkan sampahnya sembarangan.
Padahal, mereka juga harusnya sadar, pemerintah tidak menyediakan tukang
bersih-bersih gunung. Maka, sampah adalah tanggug jawab para pendaki.
“Ayo, kita
bantu bersih-bersih gunung ini dikit” Dana mengajak temannya yang lain. Tanpa
diduga, semuanya dengan semangat mmembersihkan sampah-sampah yang terlihat.
Bahkan, Udin sedari tadi mendaki, tidak pernah membuang puntung rokoknya
sembarangan. Dia menyimpan asbak portable yang disarankan Dana sebelum mendaki.
Sampai
dibawah, mereka menyadari alasan kenapa gunung menjadi pilihan sebagai objek
wisata terakhir sebelum wisuda. Mereka pun kemudian melanjutkan dengan
menikmati danau Toba. Mandi dan bersenang-senang seperti biasanya. Hanya
mendaki gunung itu yang sangat berkesan. Entah kapan ini akan terulang.
NOTE: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com