Liburan panjang merupakan hal yang
sangat dinantikan oleh setiap orang. Bagi Jefri sendiri, libur panjang adalah
saat dimana dia punya waktu untuk benar-benar sendiri. Dia lebih sering berada
di Medan meski sedang liburan. Merasa sendiri membuatnya sedikit merasa nyaman.
Dia lebih bisa memikirkan hal apa yang dapat dikerjakannya kemudian. Di saat
yang lain, dia bisa bermain game dengan bebas tanpa pernah merasa terbebani
dengan tugas-tugas kuliah.
Libur akan dimulai esok hari. Hari
ini, beberapa orang temannya sudah bersiap-siap untuk pulang kampung. Termasuk
Subhan, Udin, Agus dan Ari. Pulang ke kampung masing-masing mungkin akan
terdengar keren bagi beberapa orang. Tapi bagi Jefri, sendiri di tempat yang
sepi lebih menyenangkan dari pada harus merasa keren-kerenan.
Subhan datang dengan pakaian yang
rapi. Lebih rapi dari biasanya. Bahkan, lebih rapi dari pada saat dia akan
kuliah. Mungkin sekalian mengantarkan pacarnya juga. Sekalian supaya bisa
foto-foto sedikit bersama sang kekasih.
“Jef, kau gak pulang kampung?” Tanya
Subhan saat mereka sedang duduk menikmati pagi menjelang siang dengan rokok
yang menyala.
“Aku tidak punya rencana pulang.
Tapi, pasti aku akan pulang ke Galang.” Jefri menjawab singkat dan datar.
“Jarang kali kau pulang kutengok.”
Subhan menarik dalam-dalam rokoknya.
“Iya. Rumahku selalu ramai saat
liburan. Semua saudara-saudaraku pasti akan berdatangan. Aku ingin sendiri.”
Curhatnya.
Angin berhembus dengan santai
menyapa dedaunan kering yang nyaris tak bisa bertahan. Beberapa jatuh dan
terombang-ambing sebelum menyentuh tanah. Jefri yang setiap hari membersihkan
halaman, terkadang merasa kesal jika angin bertiup agak kencang. Itu akan
menambah kerjaannya. Padahal, sejatinya dia hanya ingin malas-malasan jika
sudah pulang dari kampus.
Tanpa disangka, Udin datang dengan
motor besarnya. Tersenyum kearah mereka dan ikut duduk menikmati udara yang
asik ini. Kemudian, terdengar suara mobil dari tetangga. Mobil itu keluar dari
rumah kemudian berhenti di pinggir jalan. Sepertinya, Dedi, tetangga Jefri juga
ikut merayakan liburan dengan pulang kampung.
“Jef, kau gak pulang?” Tanya Bang
Dedi kemudian.
“Mungkin minggu depan.” Jawab Jefri
santai.
“Bagh, pas kali kalau gitu. Aku
nitip rumah dulu, ya.” Pintanya.
Sesaat kemudian, Kak Tuti, istri
bang Dedi keluar dengan pakaian yang sangat bagus. Walau terlihat angkuh, kak
Tuti sebenarnya adalah orang yang sangat baik. Sering sekali Jefri di tawarkan
makan di rumah besarnya itu. Bahkan, tidak ragu berbagi makanan saat mereka
sedang makan enak. Di akhir bulan, Jefri juga sering kecipratan makan yang
lezat.
“Kakak mau pulang dulu sama abang.
Jefri jaga rumah, ya.” Kata Kak Tuti sambil berusaha terus terlihat rapi.
Bang dedi menyerahkan kunci rumah
itu kepada Jefri. Jefri yang sudah berdiri, menerima kunci itu. Setelah itu,
Bang Dedi berpamitan juga kepada Subhan dan Udin. Mereka sudah saling kenal
cukup baik. Sebab Udin dan Subhan sering datang dan mampir ke rumah Jefri.
Mobil mewah itu berlalu dengan gagahnya.
“Kau gak pulang, Jef?” Tanya Udin.
Sebenarnya bukan bertanya. Hanya sekedar memastikan.
“Belum sekarang, Din. Mungin minggu
depan.”
Setelah asik bercerita, mereka
menyadari sudah saatnya makan siang. Kebetulan Udin sudah bawa makanan yang
banyak. Merekapun makan di sana. Setelah itu, Udin dan Subhan pamit pulang.
Mereka pergi tanpa beban. Sepertinya hari-hari sepi akan segera datang dan
Jefri sepertinya sangat menantikan itu.
Tak lama setelah kedua temannya itu
pergi, Dhilla datang dengan santai. Sepertinya ada hal yang ingin dibicarakan.
Tapi memang terlihat itu tidak terlalu penting. Dhilla mengambil dua bungkus
nasi dari tasnya dan meletakkannya di meja.
“Jangan bilang kau sudah makan!”
Dhilla berkata lancang.
Jefri menggaruk-garuk kepalanya.
Tidak mengerti dengan gadis satu ini. Semakin hari, tingkahnya semakin aneh.
Jefri berdiri dan masuk ke rumahnya.
“Kau mau kemana?” Tanya Dhilla
heran.
“Mengambil air kobokan dan air
minum. Kau mau kita keselek?” Jawab Jefri seperti biasa. Datar dan tanpa
ekspresi.
Dhilla tersenyum mendengar jawaban
Jefri. Baginya, itu terdengar lucu dan menggelikan. Jefri kemudian kembali
dengan dua buah gelas dan satu teko penuh air. Kemudian kembali lagi ke dalam
untuk mengambil kobokan.
Setelah makan, sebenarnya adalah
waktu yang sangat nikmat untuk merokok. Tapi, keberadaan Dhilla memaksanya
untuk tidak merokok. Dengan terpaksa dia menahan diri untuk tidak membakar
benda bulat panjang itu.
“Kamu gak pulang, Jef?” Tanya Dhilla
dengan santai setelah mereka makan.
“Mungin tidak sekarang. Minggu depan
mungkin.” Jefri bosan dengan pertanyaan yang sama yang harus dijawab dengan
cara yang sama juga. “Kamu kenapa gak pulang?”
“Itu yang ingin aku bicarakan
padamu, Jef.” Jawab Dhilla serius.
“Memangnya kenapa?”
“Aku, ingin memintamu mengantarku.”
Jefri menarik nafas panjang, “Ke
Siantar?” Jefri bertanya tak kalah serius. Dhilla hanya mengangguk. “Terus,
motormu mau digimanain?”
“Jefri, aku gak mungkin naik motor
sendirian sampai ke Siantar. Aku cewek. Aku takut.” Dhilla malah ngotot.
“Kan bisa naik bus.” Jefri berdalih.
Berharap agar Dhilla segera menyelesaikan pembicaraan ini.
“Dhilla, coba dengar, aku juga
diamanahkan untuk menjaga rumah Bang Dedi. Otomatis selama seminggu ini, aku
tidak bisa kemana-mana.” Jefri tidak kalah tegas menjawab.
Akhirnya, dengan segala macam bujuk
rayu, Jefri akhirnya menyetujui akan mengantar Dhilla sampai ke Siantar. Tentu
saja, Jefri memberitahu Bang Dedi terlebih dahulu. Dia juga takut kalau terjadi
apa-apa saat dia pergi.
Jefri menghubungi ayah Dhilla untuk
memberitahukan dia akan mengantar Dhilla sampai ke rumah. Untungnya, tanggapan
ayahnya biasa saja. Bahkan meminta mereka untuk tidak terburu-buru saat
perjalanan. Jefri mengiyakan. Tidak asal mengiyakan, Jefri mempersiapkan
segalanya dengan baik. Mulai dari keamanan untuk Dhilla, persiapan akan
berhenti dimana. Juga sejumlah uang untuk bensin dan makan minum.
Awalnya, mereka berangkat
masing-masing ke stasiun kereta api untuk menitipkan motor Dhilla ke Siantarl.
Barulah Dhilla dibonceng dan perjalanan dimulai. Tidak seperti biasa, Jefri
kali ini lebih santai dalam berkendara. Mereka seakan menikmati perjalanan.
Jefri lebih berhati-hati saat menyalip truk. Dan lebih awas saat ada bus
dilajurnya.
Sampai di Lubuk Pakam, mereka
beristirahat sebentar. Jefri mengakui, setelah ini akan lebih berat lagi
perjalanan. Dia pergi jauh sebelumya. Rumahnya hanya beberapa menit lagi jika
dihitung dari tempatnya berhenti sekarang. Tapi jika ke Siantar, Butuh waktu
beberapa jam lagi.
Setelah duduk cukup lama, tanpa
sepatah kata pun diantara mereka, akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan
perjalanan. Mereka sudah meniatkan untuk men-jamak Sholat Zuhur dan Ashar. Mereka
hanya perlu menunggu Ashar barulah mereka melaksanakan sholat. Tepat saat
mereka sampai di Tebing Tinggi, azan Ashar berkumandang. Mereka pun menepi
sebentar.
Mereka melanjutkan perjalanan yang
hanya sekitar 2-3 jam lagi. Jefri dengan hati-hati melewati setiap
persimpangan. Dia mengikuti semua petunjuk keamanan. Bahkan, dia berhenti saat
lampu merah dan simpang sedang kosong. Padahal, Jefri biasanya hanya menerobos
saja.
Setelah cukup lama, tepat saat azan
magrib, sampailah mereka di rumah Dhilla. Rumah besar bak istana itu berdiri
dengan gagahnya di depan Jefri. Jefri hanya terdiam melihat besarnya bangunan
di depan matanya sekarang ini. Dia hampir tidak percaya ada orang yang
benar-benar memiliki rumah sebesar ini. Dan ternyata, Dhilla salah satu orang
yang memilki rumah besar ini.
Pintu terbuka dan satpam keluar dari
pintu kecil di pagar rumah itu. Ketika melihat
Dhilla yang duduk di kursi belakang, satpam itu langsung membuka pintu
kecil untuk motor. Mereka masuk. Jefri tersenyum dan mengucapkan terimakasih.
Satpam itu membalas.
Sampai di depan pintu, Ayah Dhilla ternyata
sudah menunggu dan menyambut kedatangan mereka. Jefri gugup bukan main. Bagaiman
tidak, Tampang ayahnya terlihat sangat tegas. Walau tak terlihat galak, tapi
terlihat kalau ayanya memiliki karakter yang kuat. Jefri langsung turun dari
motornya setelah Dhilla memeluk ayahnya. Jefri menyalam ayah Dhilla.
Ayah Dhilla kemudian juga memeluk
Jefri. Jefri terkejut. Ternyata, ayah Dhilla sangat berterima kasih pada Jefri.
Karena mau mengantarkan putri satu-satunya. Jefri tidak mengerti. Tidak seperti
yang terlihat dari luarnya, ayah Dhilla ternyata sangat baik. Ramah dan cukup
bersahabat.
Jefri tidak bisa menolak saat
dipaksa untuk menginap. Berbagai alasan yang diungkapkan Jefri tidak bisa
menahan keinginan ayah Dhilla untuk membuatnya tinggal. Jefri menyerah. Jefri
diberikan kamar tidur khusus. Untungnya, hal seperti ini sudah dipersiapkan Jefri.
Dia sudah menyiapkan beberapa baju ganti dan perlengkapan mandi. Jefri pun
tertidur dengan sangat nyenyak di atas kasur yang empuk.
Terbangun dengan perasaan asing,
kemudian sadar kalau dia sedang berada di rumah Dhilla. Setelah melaksanakan
Sholat Shubuh, Jefri keluar dari kamarnya. Ayah Dhilla ternyata sudah bangun
dan duduk di depan tv melihat berita terkini.
“Kau sudah bangun, Nak?” Katanya
saat melihat Jefri keluar dari kamar.
“Aku juga terbiasa bangun pagi, Pak.”
Jawab Jefri tenang dan santai.
Sesaat kemudian, ayah Dhilla banyak
bercerita tentang bisnis yang digandrunginya. Jefri mendengarkan segalanya
dengan seksama. Semuanya terdengar sangat menarik. Pembicaraan mereka terhenti
saat Dhilla bangun dan melihat kalau ayahnya sangat akrab denagn Jefri.
Setelah cukup siang, Jefri mohon
pamit. Ayah Dhilla memberikan sebuah amplop. Setelah pembicaraan panjang, Jefri
menerima amplop itu. Jefri tidak tahu pasti apa isi dari amplop itu. Kemudian,
pergi dan kembali ke Medan. Masih ada yang harus dilakukannya di Medan. Salah
satunya, menjaga rumah Bang Dedi. Jefri akhirnya benar-benar akan merasa
sendiri.