BAB : V
Meskipun hari ini adalah minggu, Pandu tetap saja bangun
pagi hari. Apalagi, dia ingat kalau orang tuanya akan datang hari ini. Karin
juga terbangun lebih awal dari biasanya. Mungkin dia ingat kalau dia harus
masak sarapan pagi ini. Pandu banyak mengajarkannya tentang memasak. Dan Karin,
seperti memiliki bakat masak tersendiri. Karena, setiap masakan yang diajarkan
Pandu, pasti lebih enak jika dimasak oleh Karin.
Siang ini, Orang tua Pandu akan datang. Mereka harusnya
mempersiapkan segalanya. Kerinduan mereka terhadap anak semata wayang, mungkin
sudah tidak tertahankan lagi. Sehingga mereka harus kembali menghadapi
hiruk-pikuk kehidupan kota.
Pandu sendirian berada di rumah. Sedangkan Karin, pergi
untuk belanja perlengkapan dapur. Dia berencana masak untuk menyambut orang tua
barunya. Pandu di rumah untuk membersihkan beberapa hal yang terlihat kurang
menarik. Irfan dan saudara kembarnya, Rahmi akan datang siang ini. Mungkin
setelah orang tua pandu datang. Begitu pun Rachman.
Pandu sudah membereskan semuanya. Tepat saat Pandu sedang
duduk tenang, datanglah kedua orang tuanya. “Ayah, mama. Cepat sekali?” Katanya
sedikit kaget.
Pandu langsung berdiri memeluk ayahnya. Kemudian mamanya.
Ternyata, pak Gilang juga ikut. Tentu saja, Pandu juga memeluknya. Walau pak
Gilang bekerja sebagai pembantu di rumah mereka, tapi bagi Pandu, dia adalah
bagian dari keluarga besarnya. Setelah pak Gilang pergi ke kampung bersama
orang tuanya, Pandu merasakan betapa dibutuhkannya Pak Gilang di rumah ini.
Setiap hari membersihkan halaman dan menyapu rumah. Walau tidak memasak.
“Mana anak gadisku?” Kata mama.
“Dia sedang belanja beberapa perlengkapan dapur.”
“Kau menyuruh anak gadisku pergi belanja?” Mama
sepertinya heran dengan hal itu.
“Tidak, Ma, dia pergi saat aku sedang mandi.” Pandu
membela diri.
Setelah Pandu menyajikan minuman untuk orang tuanya,
Karin pulang dengan tangan penuh dengan barang belanjaan. Mama Pandu segera
saja bangkit. Pandu menyusul dengan mengambil barang-barang itu dan membawanya
ke dapur.
“Ini dia anak gadisku.” Seru Mama Pandu sambil memeluk
Karin. Tak lupa mencium keningnya juga. “Kamu gak papa, kan, Sayang?”
“Mama, kejadiannya dua bulan yang lalu, seolah-olah
kejadiannya baru kemarin.” Pandu mengomentari dari dapur.
“Itulah kekhawatiran orang tua. Takkan hilang sebelum
melihat anaknya baik-baik saja.” Yang membalas adalah Ayah Pandu.
Pak Gilang hanya tertawa melihat setiap tingkah laku
keluarga ini. Semuanya terlihat begitu lepas. Seakan tak ada yang perlu dijaga
di antara mereka. Tapi, Karin masih terlihat canggung. Dia masih belum terbiasa
dengan keluarga ini. Memang sangat berbeda dengan keluarga yang dimilikinya
sebelumnya. Tapi, dia sadar, ini adalah keluarganya yang baru. Ada satu hal
yang sama antara keluarganya yang lama dan keluarganya yang baru, mereka
sama-sama menyayangi Karin. Dalam hati, Karin bersyukur telah mendapatkan
keluarga baru yang baik.
“Irfan akan datang, kan?” Tanya Pak Gilang. Dia
merindukan lelucon khas remaja satu ini.
“Iya, dia pasti datang. Sekalian bersama Rahmi juga. Orang
tuanya kebetulan lagi ada tugas dinas ke luar kota, jadi belum bisa hadir.”
Pandu menjelaskan.
“Wah, benar-benar sudah menjadi orang hebat mereka, ya.”
Ayah Pandu memuji.
“Aku disini.” Suara itu berasal dari depan pintu. Irfan
dan Rahmi ternyata sudah ada disana. Mungkin mereka mendengar sebagian
percakapan. “Apa kami mengganggu?” Tanya Irfan dengan senyum khasnya.
Pak Gilang langsung menyambut Irfan dengan hangat. “Ini
dua anakku lagi.” Kata Mama Pandu yang juga memeluk mereka berdua.
“Oh iya, ada salam dari ayah dan ibu. Mereka minta maaf
belum bisa hadir. Mereka baru bisa kembali bulan depan.” Rahmi menyampaikan.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Semoga mereka baik-baik saja.”
“Wah, Pak Gilang juga ada disini?” Irfan berteriak
girang.
Pak Gilang hanya tertawa. Semuanya sekarang terlihat
sangat bahagia. Saling berbagi tawa dan kebahagiaan. Layaknya reuni keluarga
sungguhan. Karin, Rahmi dan Mama Pandu menyiapkan makanan dan minuman. Semua
sementara para lelaki hanya duduk tertawa, bercanda seperti biasanya.
Sesaat kemudian, ada seseorang yang datang dan
mengucapkan salam. Sesaat mereka semua terdiam. Pandu baru ingat. Itu adalah
Rahman. Pacarnya Karin yang kemarin juga diundang oleh Pandu untuk datang.
Suasana sedikit canggung. Bukan Irfan namanya jika tidak bisa mencairkan
suasana. Semuanya kembali tertawa seakan mereka adalah teman lama yang baru
saja bertemu. Rahman merasa lebih dekat dan tidak ada lagi canggung.
Setelah makan malam, mereka semua berkumpul di ruang
tamu. Pandu merasa ada hal yang serius yang akan dibicarakan malam ini. Tapi,
entah apa itu. Pandu merasa hal itu cukup penting. Ayah dan Mama Pandu mulai terlihat gelisah. Mereka
seakan sudah merahasiakan sesuatu yang besar dalam kurun waktu yang lama. Dan
itu mungkin akan berhubungan dengan orang-orang yang ada disini.
Ayah dan Mama Pandu duduk berdampingan. Pak Gilang duduk
di kursi sebelah kanannya, Irfan dan Rahmi duduk di sebrang Papa dan Mama
Pandu. Sementara Pandu, Karin dan Rahman duduk di tengah. Mereka semua terdiam
sesaat. Tak ada yang yang berbicara.
“Aku saja yang mulai.” Ayah Pandu memecahkan hening.
Sementara yang lainnya sedang kebingungan. Bahkan, Irfan kehilangan leluconnya
disaat seperti ini. Mama Pandu memegang erat tangan ayah Pandu. “Pandu, aku
tidak tahu harus mulai dari mana. Sebaiknya kita mulai sekitar 20 tahun yang
lalu.”
Pandu bertanya-tanya dalam hatinya. Apa ini ada
hubungannya dengan kelahirannya? Atau hanya pesan dari seorang kakek atau nenek
untuk cucu yang tidak sempat mereka pangku?
“Aku,” Ayah Pandu melanjutkan, “Dan istriku, kami berdua
divonis tidak dapat melahirkan. Selain dari penyakit yang aku derita, juga
karena istriku yang tidak cukup mampu untuk hamil. Tentu saja kami sangat
terpukul mendengar vonis itu. Saat itu, tempat ini belum memiliki dokter yang
cukup hebat untuk mengobati penyakit aneh kami. Kami berdua memutuskan untuk
menjalani semuanya bersama-sama.”
.....
Kembali ke dua tahun setelah Dani dan Irma, Ayah dan Ibu
Pandu divonis mandul dan tidak memiliki kesempatan memiliki anak. Saat hujan
lebat dan petir menyambar tidak jelas. Ini seperti badai di tengah musim hujan.
Pintu rumah mereka diketuk oleh seseorang.
“Bang, sepertinya ada yang mengetuk pintu. Aku takut.”
Irma mengeluh.
“Ayo kita lihat. Jangan-jangan itu orang yang sedang
butuh bantuan.”
Mereka pun langsung menuju ke ruang tamu untuk membuka
pintu. Terlihat seorang wanita sedang menggendong bayinya. Masih berumur
beberapa bulan. Mereka kaget dan mencoba mempersilahkan masuk wanita itu.
“Aku tidak bisa. Aku tidak bisa masuk. Aku harus segera
pergi.” Wanita itu sepertinya sedang dikejar-kejar oleh sesuatu.
“Setidaknya, kau harus beristirahat dulu.” Irma
mengangkat bayi dari gendongan itu.
“Tidak. Akan membuat masalah bagi kalian jika aku harus
berada di rumah kalian.” Wanita misterius itu masih tidak mau masuk. Meski
hujan terus mengguyur tempat itu dengan derasnya.
“Lalu, kau ingin kami melakukan apa?” Dani kebingungan.
“Rawat saja anak itu untukku. Aku yakin dia akan menjadi
anak yang baik. Mereka mengincar anak itu.” Kata wanita itu tergesa-gesa.
“Ceritakanlah pada kami apa yang terjadi. Mungkin kami
bisa membantu.” Irma juga terus berusaha memberikan bantuan.
“Tidak. Kalian tidak boleh tahu masalah ini. Anak ini
yang akan menyelesaikan semua masalahku nantinya.” Lagi-lagi, wanita ini
memberikan informasi yang tidak jelas.
Ada sekilas cahaya tersorot kearah mereka. Kemudian
hilang. Wanita itu ketakutan. “Siapa mereka?” Dani penasaran.
“Cepat, tutup pintu rumah kalian. Aku harus segera pergi.”
Wanita itu kemudian pergi dengan cepat. “Jangna buka pintu kalian sampai nanti
pagi. Mereka akan terus mencari anak itu.” Katanya sambil berlalu.
“Mas, apa yang harus kita lakukan?”
“Sudah jelas, kan? Kita akan merawat anak ini. Seperti
anak kita sendiri. Bukankah ini yang kita harapkan.
“Iya. Tapi, apa bisa kita merawat anak ini seperti anak
kita sendiri?”
“kenapa tidak. Dia belum tahu apa-apa. Kita yang akan
menjadi orang tua anak ini.”
Anak bayi laki-laki itu terlihat sangat tenang tidur di
pelukan Irma. Ada beberapa berkas yang terlihat di balik punggung bayi itu.
Tertulis jelas data tentang anak itu. Anak itu bernama Pandu. Lahir 3 oktober.
Tapi, tidak ada nama ayah dan ibunya disana. Anak itu juga memiliki kalung yang
bertuliskan namanya.
“Pandu.” Irma membaca nama anak itu.
“Apa? Kau sudah memberinya nama?”
“Tidak, Mas. Lihat kalung ini. Anak ini bernama Pandu.”
“Nama yang bagus. Dia akan menjadi anakku.” Dani tidak
memikirkan apa-apa lagi.
.....
Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Mereka
semua tidak percaya apa yang diceritakan Dani. Bahkan, Pandu sendiri tidak
menyangka akan seperti ini. Ternyata, dia memiliki sejarah yang tidak
diketahuinya. Pandu mencoba mencerna sedikit-demi sedikit pernyataan itu.
“Pak Dhani dan Bu Irma sedang becanda, kan?” Irfan
berkata memecah keheningan mereka. Satu-satunya yang terlihat tenang adalah Pak
Gilang. Entah karena dia memang tidak memiliki ekspresi atau semacamnya.
“Tidak, Fan. Mereka berkata yang sebenarnya. Aku tidak
terkejut mendengar aku bukan anak kandung mereka. Yang membuatku terkejut, kisah
aku bisa sampai di keluarga ini. Ku pikir aku diadopsi dari sebuah panti.”
“Maksudmu, kau sudah tahu kalau kau bukan anak kandung
mereka?” Irfan semakin tidak mengerti.
“Iya. Aku sudah tahu.”
Suasana kemudian menjadi semakin tegang. Mereka semua
terdiam diantara semua kisah yang diceritakan Pak Dani. Ayah Pandu.