Perjalanan tidak terlalu lama. Kami langsung tiba di lokasi perang. Terlihat sangat sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang berjaga disana. Mereka mendatangi mobil kami. Dan melaporkan kejadian apa saja yang sudah berlangsung. Ya. Komandan perang ikut bersama kami. Dia yang mengatur siasat siapa yang harus berangkat pertama kali dan menuju ke pos mana. Maka dari itu dia ikut bersama kami.
Sekarang kami sudah berada di sebuah pos perang. Disana terlihat mereka begitu serius menjaga wilayah. Mereka seperti tidak mempedulikan apapun di sekitar mereka. Hanya fokus terhadap apa yang akan terjadi. Disini juga terlihat beberapa korban perang yang terluka parah. Disini lah mereka di rawat sebelum akhirnya di kirim ke rumah sakit terdekat jika memang sangat parah.
Juga terlihat seperti petugas palang merah yang siap membantu korban dan mereka juga yang membawa korban dari medan pertempuran. Beberapa hari, kemudian merea kembali bertempur. Sungguh sangat berani. Aku sendiri ragu apakah aku akan berhasil dalam perang ini.
Kami di beri sedikit penjelasan lagi. Dan kemudian Komandan Perang langsung membawa kami menuju medan pertempuran. Aku sangat gugup. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku dan yang lainnya tidak berada dalam satu rombongan. Ada beberapa rombongan yang berangkat hari itu. Untungnya aku sempat memberitahukan semua resiko yang jika terjadi apa-apa di sini. Kami pun sampai di sebuah kota mati. Sebuah kota yang menjadi medan pertempuran. Kota ini sudah sangat hancur. Puing-puing bangunan yang tersisa. Komandan memberikan aba-aba dan kami pun langsung mengambil posisi.
Tak lama setelah mengambil posisi, terdengar lagi aba-aba kalau musuh sudah datang. Ini merupakan wilayah yang harus dipertahankan. Jika mereka berhasil menembus daerah ini maka daerah yang lain akan mudah untuk di kuasai. Aku pun bersiap-siap dengan kemungkinan yang akan terjadi. Aku mendengarkan aba-aba dengan seksama. Perlahan aku mulai melihat musuh datang menyerang dengan berlari dan memakai senjata yang lengkap. Mereka menembakkan lasernya. Aku semakin gugup. Aku hanya bersembunyi di balik puing-puing bangunan. Tak berani melihat kenyataan yang terjadi. Aku hanya diam. Diam dan ketakutan. Tiba-tiba aku merasakan tubuh ku bergetar hebat. Dan ada bisikan kecil terdengar. Entah dari mana. Bisikan itu berkata,”Sampai kapan kau akan hidup dalam ketakutan?” Kalimat itu terus terulang di telingaku. Seakan memaksaku untuk melakukan sesuatu. Tapi apa?
Terdengar jelas ada yang mendekati tempatku. Aku semakin bingung dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku mengintip di balik tempat perlindungan ku. Dia sangat dekat. Musuh dengan senjata mematikannya. Tanpa pikir panjang aku langsung menembakkannya sambil menutup mata. Aku melepaskan tembakan berkali-kali. Hingga akhirnya aku berhenti karena kehabisan peluru. Perlahan aku membuka mataku. Aku melihatnya masih berdiri tegak. Tapi tidak bergerak. beberapa saat kemudian dia terjatuh dan sudah menjadi mayat. Aku menghela nafas panjang. Tanda rasa syukurku. Jantungku berdebar hebat. Aku merasa bukan aku yang dulu. Aku berlari sambil berteriak keras. Mengisi kembali senjata ku dan ikut berperang bersama yang lain. Aku seperti sudah di butakan oleh nafsu membunuh. Aku seperti kerasukan setan.
Aku terus melepaskan tembakan ke arah musuh. Tanpa mengetahui dimana titik lemah mereka. Entah kenapa Tidak ada yang menyerangku. Aku pun terus berusaha melakukan yang terbaik yang aku tahu. Pikiran ku kosong. Dan aku langsung tak sadarkan diri. Tak tahu lagi apa yang terjadi. Seakan-akan aku sudah gila dengan perang ini.
Saat tersadar, aku sedang berada dalam sebuah tenda yang cukup besar. Hanya aku sendiri disana. Tapi sepertinya dalam tenda ini bukan hanya aku saja yang tinggal. Ada banyak peralatan di tenda ini. Dio masuk dan melihatku tersadar.
“Sudah bangun? Kau satu-satunya dari kita yang bisa tidur di sini. Sementara kami tidak bisa tidur.”
Aku bingung dengan yang terjadi. Kenapa aku bisa tidur di dunia yang sebelumnya aku tidak bisa tidur. Aku bahkan tidak ingat apa-apa. Satu-satunya yang aku ingat adalah aku masih dalam situasi perang.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Aku langsung bertanya.
“Setelah perang hari ini usai, Kau langsung menuju ke tenda ini dan tertidur pulas”
“Berapa lama aku tertidur?”
“kau tertidur sudah tiga jam. Sepertinya kau tidak menyadari apapun?”
“Ya sepertinya begitu”
Aku kemudian beranjak keluar. Diluar aku menemukan Rendi, Bagus, dan Pandu sedang menikmati kopi dan bercanda di luar tenda. Aku langsung menghampiri mereka. Namun aku merasa sangat tidak semangat dan tidak ingin melakukan apapun. Aku hanya duduk diantara mereka dan menikmati suasana yang mereka buat.
“Dho... Koq murung aja? Cerita donk...” Rendy menegurku.
Aku pun tersadar dari lamunanku. Aku tak tahu apa mereka juga merasakan hal yang aku rasakan. Aku hanya masih tidak bisa percaya dengan apa yang terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat. Dan aku bisa tidur dimana seharusnya aku tidak tidur sama sekali. Ini memang dunia yang aneh.
“Hmm... gak pa pa... Aku merasa galau aja sedikit dengan apa yang terjadi. Seakan aku sebenarnya terlahir di sini dan mempunyai kemampuan seperti kalian.”
Semua terdiam mendengar pengakuan ku. Aku sedikit mengerti, Mengapa aku sedikit di bedakan dengan mereka. Dan masyarakat disini sepertinya aku sering menjumpai mereka. Tapi entah dimana. Aku sangat mengenali wajah mereka. Tapi aku tidak begitu ingat dengan namanya.
Huh... Itu tidak penting. Yg terpenting sekarang adalah aku bisa memenangkan pertempuran ini dan segera kembali ke duniaku. Tiba-tiba aku merasa sangat rindu dengan dunia nyata. Kerinduan yang membuatku ingin menangis. Tapi, Tak mungkin aku menangis untuk saat ini. Karena sekarang aku sedang menghadapi masa yangg sangat sulit. Masa yang sangat berbeda dengan masa yang kuhadapi sebelumnya. Dan saat ini aku harus terus berjuang.
Tanpa kusadari, Dio datang dengan membawa satu teko kopi. Aku tersadar dari lamunanku.
“Huuuaaaahhhh.... Aku ingin semuanya segera berakhir. Dan kemali ke kehidupan normal. Aku rindu semua keadaan ku dulu.” Aku berbicara spontan.
Dan yang lain pun hanya bisa diam mendengar apa yang sudah kuucapkan. Karena awalnya aku lah orang yang selalu mengeluh dengan keadaan hidupku yang biasa-biasa saja. Tapi sekarang aku lah yang mengeluh dengan kehidupan ku yang penuh tantangan.
“Gaya mu Dho...!! Biasanya juga kau sendiri yang ngeluh dengan keadaan hidupmu yang gitu-gitu aja.” Jawab Rendy tanpa peduli aku berbicara serius atau tidak.
Aku pun terdiam untuk beberapa detik. kemudian aku menjawab lagi, “Aku juga Tidak begitu mengerti. Tapi itulah kenyataan yang kurasakan sekarang. Aku ingin seperti dulu. Tak ada beban ataupun tanggung jawab yg seperti ini. Walaupun tanggung jawab itu selalu ada. Tapi ini sangat tidak cocok buat ku.”
Mungkin mereka mulai berpikir kalau aku sedang serius. Mereka hanya diam. Dio sedang membagikan gelas berisi kopi yang baru saja di buatnya. Dia seakan mengerti apa yang sedang ada dalam pikiranku. Aku sedang galau. Galau tingkat dewa mungkin.
“Satu-satunya cara kita harus berhasil meyelesaikan masalah mereka dan langsung kembali ke alam kita lagi. Tak ada pilihan bro...!!! Mereka hanya berharap pada kita.” Dio mengungkapkan juga apa pendapatnya.
Dan aku semakin yakin kalau hal ini akan segera berakhir. Saat itu sudah dekat. Bahkan sangat dekat.
Akhirnya aku bisa mengendalikan emosi ku yang tadinya tidak menentu. Aku bisa berpikir jernih sekarang. Tapi aku tidak mau meikirkan masalah perang kemarin. Sudah bukan saatnya lagi memikiirkan itu. Yang terpenting adalah memenangkan perang ini. Agar bisa dengan cepat kembali.
“Ngomong-ngomong kalian tidak merasakan hal yang aneh waktu perang kemarin?” Tanya Rendy.
Aku menoleh kearahnya sambil meminum kopi buatan Dio. Aku serius mendengarkan apa yang akan di jawab mereka. Aku yakin mereka juga merasakan apa yang ku rasakan. Semua masih diam.
“Hal aneh yang kurasakan adalah....” Pandu membuat kami penasaran. Ia menarik nafasnya dalam-dalam. “Aku bisa berperang dendan sangat baik.” Semuanya mengangguk.
Rendy pun mulai berbicara lagi, “Dan hal yang paling aneh adalah....” Rendy menundukkan wajahnya. Sepertinya ia serius. Kami diam mencoba menebaka dalam hati. Aku meneguk lagi kopi tadi. “Ridho mengamuk tidak karuan... hahahaahahahahahha........” Katanya sambil tertawa. Spontan aku menyembukan kopi yang belum sempat aku telan. Dan yang lainnya ikut tertawa bersama. Wajahku memerah karena malu.
Suasana mencair berkat aksi Rendy tadi. Bagus menepuk bahuku berkali-kali. Dan akhirnya kami menikmati malam seakan kami ada di dunia kami.
BERSAMBUNG...