“Aku sudah tahu. Tapi tidak
semua.” Pandu mengulangi kalimat itu. Menyatakan dia sudah tahu tentang apa
yang menjadi fokus kedua orang tuanya.
“Dari mana abang bisa tahu?”
Tanya Karin.
“Aku sempat mengintip data
yang ada di kelurahan saat membuat kartu tanda penduduk. Dua tahun yang lalu
tepatnya. Sialnya, aku tidak mempunyai data akte kelahiran yang asli. Hanya ada
Kartu Keluarga. Dan awalnya, aku adalah anak angkat. Aku terkejut saat itu.
Tapi, semua kembali normal.”
Mama Pandu terlihat
menitikkan air matanya. “Maafkan kami, Nak. Seharusnya ini memang kami
ceritakan lebih awal.”
“Tidak masalah sebenarnya,
Ma. Ayah dan mama pasti tidak yakin aku akan tenang seperti sekarang ini.
Makanya, ayah dan mama menunda sampai aku pada tahap emosiku cukup stabil untuk
menerima kejutan ini. Itu sangat bijak menurutku.”
“Kau tidak akan pergi dan
mencari orang tua kandungmu kan?” Ayah Pandu mulai khawatir dengan anak
angkatnya sekarang.
“Sebenarnya, aku sangat
ingin, Yah. Aku tidak punya petunjuk apapun. Aku bahkan tidak punya nama orang
tua asliku. Aku juga tidak tahu harus mencari dari mana. Dan berdasarkan cerita
ayah dan mama tadi, orang yang membawaku kerumah ini juga tidak menyebutkan
identitas dirinya. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Semua jalan telah tertutup
bagiku untuk mencari” Jelas Pandu.
“Uhhmmm... Maaf. Apa tidak
masalah jika aku ikut nimbrung disini?” Rachman merasa tidak nyaman saat mereka
semua bercerita tentang rahasia keluarga.
“Pandu mengundangmu ke acara
malam ini bukan karena dia tidak tahu pembicaraan ini akan terjadi. Dia sudah
menganggapmu bagian dari keluarga ini. Ayolah, ini bukan masalah.” Irfan
menanggapi.
“Aku tidak nyaman saat aku
harus mendengar rahasia orang lain.” Ungkap Rachman lagi.
“Anggap saja ini bagian dari
kehidupanmu. Kau bertemu dengan orang-orang yang aneh kali ini. Mereka sudah
menganggapmu sebagai bagian dari keluarga mereka. Semuanya akan baik-baik saja.
Masalah jika kau menceritakan hal ini pada orang lain, itu bukan masalah.
Benarkan, Pandu?” Irfan meyakinkan.
Sambil tertawa, Pandu
menepuk punggung Rachman. “Aku percaya padamu, Man.” Pandu kembali ke
permasalahan lagi. “Yah, Ma, pernah dengar tentang Pak Firman. Adiknya Pak
Chan?”
“Ayah dulu sempat bekerja
sama dengannya dalam memabangun Jasa Pengiriman Kirling. Dia memang benar-benar
berjiwa mafia. Kabarnya, setelah keluar dari jasa pengiriman, dia ikut ke
organisasi Gagak Hitam. Tapi, kabar terakhir, dia malah menjadi salah satu
buronan Gagak Hitam.” Jelas ayah Pandu.
“Oh, begitu. Dia pernah
datang ke sini dan bermaksud meminta Karin untuk tinggal bersamanya.”
“Om Firman pernah datang?”
Karin bertanya dengan serius.
“Ya. Hampir tiga kali dia
datang untuk menemuimu. Tapi, Karin tak kunjung mau keluar.”
“Biar gak merepotkan abang,
lebih baik Karin tinggal sama Om aja, Bang.” Karin memberikan pernyataan.
“Okeh, tidak masalah. Nanti
kalau bisa aku hubungi, akan ku hubungi Pak Firman. Sms ku tidak pernah
dibalasnya.” Ungkap Pandu.
“Pandu, Kau yakin,
menyerahkan Karin ke Omnya?” Mama Pandu bertanya.
“Sebenarnya, aku tidak mau.
Tapi, keluarga lebih berhak. Aku tidak akan bisa menolak saat dia datang sekali
lagi untuk mengajak Karin.”
“Iya, itu benar, Bu.
Setidaknya, Karin akan bersama keluarganya sendiri. Itu pasti cukup dirindukan
Karin.” Pak Gilang kali ini angkat bicara.
“Tidak masalah kan, Rachman?”
Pandu meminta pendapat Rachman.
“Bagiku tidak masalah. Aku
memang ingin Karin senang. Dia masih ingin bertahan saja, aku sudah cukup
senang.” Ungkap Rachman.
“Hei, kenapa kau dari tadi
diam saja?” Irfan melihat ke arah Rahmi yang sedari tadi memang tidak berbicara
sedikit pun.
“Tidak apa-apa. Aku hanya
tidak tahu apa yang ingin aku katakan. Aku lebih baik mendengar saja.” Rahmi
membalas perkataan abangnya.
“Baiklah kalau begitu,
sepertinya, diawal tahun nanti aku akan menghubungi Pak Firman. Agar ujian
semester Karin tidak terganggu.” Pandu menyampaikan pendapatnya.
Semuanya terlihat setuju.
Termasuk Karin sendiri. Pak Firman adalah adik kandung dari Pak Chandra.
Awalnya, Pak Firman sering datang dan bermain dengan Karin. Hingga beberapa
waktu yang lalu tiba-tiba saja Pak Firman tidak pernah datang lagi.
Beberapa bulan sebelum
kejadian ledakan bom itu, Papa Karin telah menandatangani kontrak kerja dengan
pemerintah untuk pembangunan perumahan masyarakat kurang mampu. Ini merupakan
bagian dari program kerja Gubernur. Sebelumnya, Pak Chandra juga berhasil
membangun mini market yang mempekerjakan orang-orang yang kurang mampu. Kali
ini, dia berencana untuk membuatkan tempat tinggal bagi mereka.
Beberapa pihak tidak setuju.
Karena harus berawal dari menghancurkan tempat tinggal mereka dan kebanyakan
mata pencaharian mereka juga berada disana. Pak Chandra tidak kehabisan akal.
Dia sudah menyiapkan penginapan sementara untuk mereka. Dengan menyewa beberapa
motel untuk mereka selama beberapa bulan.
Meski Pak Chandra sudah
tiada, proyek masih berjalan dibawah pengawasan manager. Sebenarnya, Karin
menjadi pengganti ayahnya. Menjadi CEO di perusahaan tender itu. Manager itu
sangat mengetahui siapa musuh mereka. Jadi, dia berusaha tidak langsung mengangkat
Karin sebagai CEO. Dia sengaja mengurusi semuanya sendiri. Keluarga Pak Chandra
telah membantu banyak orang. Manager itu sendiri termasuk orang yang sangat
dibantu Pak Chandra. Itulah kenapa dia akan menjaga perusahaan ini dengan
segenap kemampuannya.
Keberadaan Karin masih
disembunyikan oleh sang manager. Mereka bahkan belum menemui Karin yang berada
di rumah Pandu. Mereka hanya mengawsi dari jauh. Sementara proyek terus
bergerak, mereka tetap mengawasi Karin. Terus mencari informasi akan
perkembangan Karin. Dia adalah orang yang penting untuk beberapa saat
belakangan.