Beberapa hari berlalu semenjak kunjungan orang tua
Pandu yang kemudian diketahui bahwa mereka bukanlah orang tua kandung Pandu.
Untuk sementara, Karin dan Pandu adalah sama-sama anak angkat di rumah ini.
Pandu pulang dari gudang jasa pengiriman Kirling. Tidak ada yang spesial, hanya
melihat-lihat dan bertanya akan beberapa kendala yang diterima oleh pekerja.
Kabar baiknya, tidak ada masalah. Kesalahan dalam pengiriman juga belum pernah
terjadi. Semuanya berkat bantuan manager yang sangat lihai. Para pekerja yang
dituntut cukup keras. Sesekali terjadi kesalahan. Manager langsung mengetahui
dan memperbaiki. Tidak pernah mencari seseorang untuk disalahkan.
“Baiklah, Sur. Sepertinya, hari ini sampai disini
saja dulu. Aku juga ada tugas yang harus diselesaikan.” Pandu pamit pada Surya
sang manager.
“Tenang saja Pak Pandu. Jangan buat ini menjadi
kaku. Semua orang disini aku anggap keluarga. Aku tidak akan sembarangan
menyalahkan siapapun jika terjadi sesuatu.” Ungkapnya Surya.
Pandu langsung memakai helm dan naik ke atas
motornya. “Aku pergi dulu, Sur. Semoga semuanya berjalan lancar.” Pandu
menyalakan motornya dan pergi berlalu dengan cepat.
Akan sangat berbahaya saat Karin ada di
dekatnya. Ungkap Surya
dalam hati sambil memperhatikan Pandu pergi.
Pak Gilang sudah menyiapkan makan siang untuk
mereka bertiga. Ayah dan ibu Pandu memang sudah kembali ke desa. Pak Gilang
memilih untuk menetap lebih lama lagi. Dia mengaku masih ingin merasakan
sedikit lebih lama lagi berada di kota ini. Kedua orang tua angkat Pandu
menyetujuinya. Setidaknya, bisa sedikit membantu Pandu di rumah.
Ponsel Pak Gilang berbunyi. Panggilan dari Pandu.
Pak Gilang mengangkat panggilan itu dengan santai.
“Pak, aku pulang agak malam, ya. Ada hal yang
harus ku kerjakan.” Ucap Pandu di sebrang sana.
“Okeh. Hati-hati disana, ya Nak Pandu.” Balas Pak
Gilang.
“Karin sudah Pulang Pak?”
“Sudah, baru saja sampai. Kami baru akan makan
siang.”
“Baiklah kalau begitu, Pak. Aku pamit dulu, ya,
Pak.”
Pandu menutup panggilan. Pak Gilang langsung
merasa gelisah. Apa dia akan baik-baik saja? Ungkap Pak Gilang yang
merasa akan terjadi sesuatu.
“Pak Gilang, kenapa?” Karin yang baru saja turun
dari kamarnya melihat kecemasan Pak Gilang.
“Tidak ada apa-apa, Nak Karin.” Ucapnya
menenangkan.
“Tadi, Bang Pandu yang nelpon, ya?”
“Iya, dia izin pulang kemalaman. Sepertinya, ada
tugas kuliah.”
“Tumben. Biasanya juga dia paling gak bisa kalau
gak pulang.”
“Mungkin tugas kuliah sudah mulai merepotkannya.”
Pak Gilang tersenyum mengakhiri percakapan.
Malam melahap segalanya kedalam gelap. Hanya
sedikit lampu yang menyala. Lampu-lampu jalan membantu Pandu mengendarai
motornya dengan baik. Terlihat sangat tenang. Seakan tidak ada masalah.
Layaknya air sungai yang tenang tapi menghanyutkan. Malam menyimpan banyak
rahasia.
Pandu sedang dalam perjalanan pulang. Dia sedikit
curiga dengan sepasang pengendara motor yang mengikutinya sejak di perempatan
sebelumnya. Kos seorang teman yang cukup jauh dari rumahnya membuat Pandu harus
rela pulang larut malam sendirian. Sementara teman yang lain, juga menyewa kos
tidak jauh dari sana.
Salah seorang pengendara itu bergerak ke samping
Pandu. Yang satunya berada di depan Pandu. Mereka bergerak dengan kecepatan
yang hampir sama. Pandu merasa ada yang akan terjadi. Apa mungkin mereka
para begal? Tanya Pandu dalam hati.
Pandu digiring ke suatu tempat. Tanpa sadar, dua
orang pengendara motor lainnya sudah berada di belakang Pandu. Mereka
mengepungnya dalam keadaan berjalan. Tak ada lagi jalan keluar. Perlahan,
mereka semua menurunkan kecepatan. Pandu terpaksa menurut. Mereka berhenti di
tempat yang sangat Sepi.
Salah seorang dari mereka turun dari motornya.
Dengan sebuah pisaunya, dia meminta Pandu membuka helm. Dengan seksama dia
memperhatikan wajah Pandu. Lampu jalan membantu orang itu mengenali Pandu.
“Bos, dia memang orangnya.” Kata orang itu.
Orang yang ada di depan Pandu adalah bosnya. Dia
langsung turun dari motornya dan mendekati Pandu. Pandu tidak mengerti apa-apa.
Dia mulai ketakutan. Dia tidak tahu pernah berbuat salah pada siapa. Dia merasa
tidak punya musuh.
“Siapa kalian?” Pandu berkata pada bos mereka.
Dengan tenang, salah seorang dari mereka mematikan motor pandu dan mengambil
kuncinya.
“Jangan buat ini menjadi sulit. Cukup kau jawab
saja pertanyaan kami, dan kau aman.” Bos itu berkata. Tidak satu pun dari
mereka membuka helmnya. Wajah mereka tertutup helm full face gelap.
“Apa yang kalian mau?” Pandu ketakutan.
“Dimana Karin?” Tanya Bos itu dengan hati-hati.
Pandu kaget. Bagaimana mereka bisa tahu tentang
Karin. Bahkan, tak satupun Media yang memberitakan keberadaan Karin, selaku
anak semata wayang Pak Chandra, semenjak kejadian itu.
“Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Biarkan
aku pergi.” Pandu masih berusaha melawan.
Bos itu memberikan isyarat pada anak buahnya. Kemudian,
seseorang menyodorkan ponsel. Gambar Pandu dan Karin terlihat sangat jelas
sedang berboncengan. Foto itu diambil di depan sekolah Karin. Tentu saja Pandu
langsung terkejut bukan main. Mereka bisa mendapatkan foto itu dengan sangat
jelas.
“Jangan mempersulit kami! Kau akan tau akibatnya!”
Ancam sang bos.
Pandu terdiam. Aku tidak bisa membiarkan hal
ini. Kata Pandu dalam hatinya. “Aku tidak akan memberi tahu kalian!” Pandu
menunjukkan wajah penuh percaya diri.
Salah seorang dari mereka memukul Pandu sekuat
tenaga. Pandu terlempar dari motornya. “Sudah lama aku ingin melakukan hal itu.”
Kata orang yang memukul.
“Kau hanya harus mengatakannya, dan semuanya akan
baik-baik saja.” Bos itu menunduk untuk berbicara dengan Pandu yang masih
terjatuh.
Tanpa diduga, Pandu malah tersenyum. “Kalian kira
bisa memaksaku dengan cara seperti ini?”
Orang yang memukul Pandu tadi langsung mengangkat
Pandu dengan satu tangannya. Satu pukulan keras mendarat di perut Pandu. Pandu
mengerang kesakitan. Napasnya terengah-engah menahan sakit di perutnya. Dia
mulai kesulitan bernafas.
“Katakan dimana Karin berada!”
Masih dengan senyuman yang dibuat-buat, Pandu
masih juga tidak mengatakan apapun tentang Karin. “Tidak akan. Aku tau kalian
bukan orang baik. Kalau kalian teman Pak Chandra, pasti kalian mengenalku.”
Pandu mengatakannya sambil terengah-engah.
Kali ini, wajah Pandu dihantam dengan dengan helm.
Darah keluar dari mulutnya. Kepalanya terasa sangat sakit. Dia sudah tidak tahu
lagi apa yang akan terjadi. Dia lebih menghawatirkan Karin dari pada dirinya
sendiri. Dia berharap agar Karin bisa aman.
Ditengah keputusasaan Pandu, ada suara motor yang
melaju kencang. Motor itu dikendarai oleh seseorang yang juga memakai helm full
face. Orang itu mengangkat bagian depan motornya dan menabarak salah seorang
dari mereka. Yang menjadi korban adalah orang yang memegang kunci motor Pandu.
Pria berjaket biru itu terlihat sedikit bercahaya.
Mungkin karena efek lampu jalan. Orang yang dihantamnya itu langsung terkapar.
Pria berjaket biru itu langsung mengambil kunci motor Pandu. “Pandu, seharusnya
kau tidak pulang larut malam.” Kata Pria itu.
“Siapa kau..?” Tanya si bos.
“Orang baik.” Jawab pria itu.
Anak buahnya yang membawa pisau langsung menyerang
Pria itu. Dengan sigap, Pria itu menghindari setiap seranngan. Dalam satu
serangan balik, pria itu berhasil membuat pembegal yang menyerangnya melepaskan
pisau. Dengan beberapa gerakan kemudian, pembegal berpisau itu terjatuh. Pria
itu menendang pisau menjauh ke dalam gelap.
Pandu masih dalam cengkraman sang algojo berbadan
besar. Pandu dilemparkan seperti sebuah boneka. Algojo itu mendatangi pria itu
dan memberikan pukulan yang cukup keras di bagian mata. Kaca helm pria itu
pecah, sehingga mata sebelah kananya kelihatan.
“Sepertinya kau sedikit lebih kuat.” Ucap pria
misterius itu.
Pukulan selanjutnya bisa dihindari dengan mudah. Pria
misterius itu ternyata sangat terampil dalam bela diri. Hampir setiap serangan
bisa dihindarinya. Sebuah pukulan akhirnya mendarat tepat di ulu hati sang
algojo. Dengan posisi menunduk menahan sakit di ulu hati, dengan mudah pria misterius
itu menghajar algojo itu hingga helmnya terbuka.
Karena gelap, Pandu tidak bisa melihat dengan
jelas wajah orang itu. Sekarang tinggal sang bos sendiri. “Ternyata itu kau.” Kata
bos itu dengan tenang.
“Kau ingin melawan atau membiarkannya pergi?” Pria
misterius itu memberikan pilihan.
Dengan sedikit keluhan, bos itu berkata, “Aku
tidak akan melawanmu.”
Ketiga anak buah bos itu bangkit dengan susah
payah. Bos itu memberikan isyarat untuk pergi. “Hei, anak muda! Ingat, ini
belum selesai. Kami akan terus mengincarmu sampai kami bisa mendapatkan Karin.”
Kemudian dia melihat kearah pria misterius itu. “Dan, kau! Dasar perusak acara.”
Bos dan para anak buahnya menyalakan motor. “Kau akan tau akibatnya.”
“Pergi dan berhenti mengganggu orang-orang! Dasar
mafia busuk!” Teriak Pria misterius itu. Menyambut kepergian para begal.
“Kau tidak apa-apa?”
Pandu berusaha berdiri.
“Lukamu tidak cukup parah.
Kau bisa pulang. Aku akan memastikan mereka tidak mengikutimu.” Pria misterius
itu memberikan kunci motor dan langsung berpaling menuju motornya.
“Terima Kasih. Tapi, siapa kau?” Pandu penasaran.
“Belum saatnya kau tau siapa aku. Akan ada
waktunya aku akan menceritakan segalanya. Jaga dirimu sampai waktu itu tiba.” Setelah
mengucapkan kalimat itu, pria misterius itu langsung pergi. Pandu pulang dengan
menyimpan banyak pertanyaan dalam pikirannya.