“Oii, Jef! Ayo makan!” Teriak Agus dengan suaranya yang nyaring.
Mereka berempat akhirnya makan semeja. Jefri, Agus, Ari ditambah
lagi Dhilla. Dhilla berharap bisa mendapatkan kepastian yang terjadi dengan
Jefri. Jefri sudah menyuruh Dhilla untuk pergi bersama teman-temannya. Tapi,
sepertinya Dhilla bersikeras ingin bersama Jefri. Jefri memberikan kode untuk
tidak membahas masalah tadi.
Setelah makan, mereka duduk sebentar disana. Ari dan Agus tidak
ragu mengeluarkan rokoknya. Jefri, tidak merokok disamping orang yang tidak
merokok. Jadi, dia menahan diri. Setelah membayar semua makanan, mereka
pergi ke musholla dan sholat disana. Saat berpisah dengan Dhilla, Jefri meminta
agar masalah ini diselesaikannya sendiri. Dia meminta Ari dan Agus menjaga
Dhilla di parkiran. Tapi, sepertinya, Ari ngotot untuk ikut. Dengan
alasan, mengantisipasi. Sedangkan Agus hanya diam dan ikut saja.
Setelah itu, mereka kembali ke lapangan. Dan berbaris lagi. Dhilla
pun pergi ke barisan tempat sebelumnya. Kembali senior para senior mengerjai
para junior. Mulai dari berjalan jongkok, berbaris seperti anak TK berjalan
seperti kereta api, hingga hal-hal memalukan lainnya.
Kali ini, Ari ketahuan tidak memakai celana bahan. Padahal, dari
awal, tidak ada yang tahu. Dia pun bingung kenapa baru sekarang dia dipanggil.
Sementara Agus juga kena karena kehilangan gelang jengkolnya. Mereka dihukum
karena tidak lengkap. Berbagai hal aneh terpaksa mereka lakukan. Mereka disuruh
meminta tanda tangan PRESMA dan ketua panitia MOS tahun ini. Ketua panitia MOS,
pastinya akan mengerjai mereka habis-habisan. Bahkan sempat terdengar keributan
di ruang panitia.
Sepertinya, Ari membuat masalah. Dia keluar dengan badan penuh
keringat. Seperti baru berolah raga berat. Dia kembali ke barisan. Begitu juga
Agus. Jefri tidak ingin bertanya apa yang terjadi. Yang penting, dia hanya
melihat tajam ke arah Pandu. Yang sedari tadi terus melotot saat melihatnya.
Hari yang melelahkan berakhir. Tapi, sepertinya belum bagi Jefri,
Ari dan Agus. Jefri pergi sendiri ke tempat yang sudah ditentukan. Tanpa
disadarinya, Agus mengikuti dari belakang. Dengan tubuhnya yang kecil, Ari bisa
bersembunyi dan melihat Jefri dengan jelas.
“Datang kayaknya anak itu. Nampakku tadi dia kesini.” Kata
seseorang. Sepertinya, Pandu tidak main sendiri.
“Kalau dia gak datang hari ini, besok tamat dia kubuat.” Kata pandu
dengan gayanya yang sok mantap.
Agus menjadi geram melihatnya. Dia langsung mengirim pesan ke Ari. Seperti
yang sudah diperkirakan Ari, Pandu tidak mungkin main sendiri. Dia pun bersiap
datang ke TKP
Jefri yang baru sampai langsung dikagetkan dengan datangnya lima
orang senior berbadan besar. Meski tak sebesar badan Ari. Tapi, itu cukup
membuat Jefri kehilangan semangatnya. Jefri berusaha terus tenang.
“Berani juga kau datang, ya?” Pandu membuka kata. Jefri langsung
dikepung 5 orang senior. Terlihat sangat tidak mungkin Jefri bisa menang.
“Aku gak pernah diajarkan untuk lari, Bang.” Jawabnya berusaha
sesantai mungkin.
“Masi bisa juga kau sok mantap udah kayak gini posisimu.” Kata yang
lainnya.
“Ayo kita hajar aja.” Salah seeorang memulai pukulannya.
Jefri berhasil meghndari pukulan pertma. Tapi, sambutan dari
pukulan yang lain tidak bisa dihindarinya. Beberapa pukulan mendarat di perut
dan dadanya. Satu pukulan, sepertinya dari Pandu, berhasil mendarat di mukanya.
Jefri terlempar.
“Hei..!!!” Terdengar suara teriakan dari belakang para senior.
Mereka semua menoleh. Itu adalah Agus. “Cari lawan yang seimbang kalau berani!”
Tantang Agus.
“Oh, anak ini minta dihajar juga.” Kata pandu mendekat.
“Bukan, bukan samaku juga, tapi sama yang itu!” Kata Agus sambil
menunjuk Ari yang terlihat stand by sambil menyalakan rokoknya.
“Percuma
senior, beraninya keroyokan.” Ari mengejek sambil menyimpan korek gasnya.
“Kurang ajar
ini anak!” Kata pandu. Kemudian memberikan isyarat ke teman-temannya untuk
menghajar Ari.
Ari dengan
santai menunggu mereka. Meski sudah dikepung, Ari masih terlihat santai. Agus
membantu Jefri berdiri. Membantunya sedikit meringankan sakit. Untungnya,
Dhilla tidak mengetahui ini.
Pukulan pertama
sudah diluncurkan. Ari hanya diam menerima pukulan itu. Seperti yang
dipikirkannya, serangan itu tidak berarti sama sekali. Dua orang memukul
bersamaan, Dengan tubuhnya yang besar, Ari membalas keduanya sekaligus. Tidak
tanggung-tanggung, pukulannya berhasil membuat mulut kedua orang itu berdarah.
Itu hanya satu pukulan saja. Yang lain mulai terlihat takut. Ari menghajar
mereka semua sampai terkapar seperti Jefri. Kemudian berbalik. Mereka tidak
lagi bisa bergerak.
“Kalau berani
lagi keroyokan, kalian tahu akibatnya. Kalau tadi hanya Jefri dan Pandu, aku
tidak akan turun tangan.” Ari mengatakan.
“Makasih, Ri”
Kata Jefri saat berjalan ke parkiran. Jefri juga menarik lengan bajunya yang
sobek itu hingga lepas.
“Aku membantu,
bukan karena kau kawan aku, Jef. Aku gak suka orang yang keroyokan. Itu lebih
buruk dari pada orang yang menggunakan senjata saat berkelahi.” Kata Ari.
Dhilla dari
jauh melihat Jefri dan kawan-kawan berjalan ke parkiran. “Kamu kenapa, Jef?”
Kata Dhilla histeris saat melihat ada bekas pukulan di wjah Jefri.
“Udah, gak
papa. Ayo kita pulang.” Jefri mengajak Dhilla seakan tidak terjadi apa-apa.
Padahal, Jefri sebenarnya merasa sakit di sekujur tubuhnya.
“Hati-hati,
Jef.” Kata Agus, tidak yakin Jefri mampu naik motor lagi. Setelah Jefri dan
Dhilla pergi, Agus dan Ari pun menyusul. Agus takut kalau-kalau dijegat
dijalan. Sementara Ari, masih tenang dan tidak masalah jika itu terjadi.
Mereka berpisah
di sebuah persimpangan. Dan kembali ke tempat masing-masing.
Keesokan
harinya, Ari, Jefri dan Agus dipanggil oleh PRESMA ke kantornya. Mereka saling
pandang dan pastinya sudah bisa menebak. Pasti ini berkaitan dengan masalah
kemarin. Salah seorang senior membawa mereka ke ruang PRESMA.
“Jefri, Ari dan
Agus, silahkan duduk.” Kata PRESMA itu. Mereka pun duduk. Kemudian, dia
bertanya perihal yang terjadi kemarin. Jefri menceritakan segala hal yang
dialaminya. Setelah itu, giliran Agus yang menceritakan yang dialaminya juga.
Barulah Ari melengkapi cerita itu.
“Saat aku
mendengar laporan itu dari teman-temanku, rasanya, aku ingin ikut menghajar
kalian. Setelah mendengar penjelasan kalian, saya jadi lebih berhati-hati. Bisa
jadi kalian memang tidak salah.”
“Kalau
menyangkut masalah salah-salahan, sayalah yang paling salah, Bang.” Ari
mengakui. “Saya yang memukul mereka. Padahal mereka senior saya. Seperti yang
saya jelaskan tadi, saya tidak suka yang namanya keroyokan. Itulah kenapa Agus
tidak ikut memukul. Saya yang larang.”
“Iya, aku
ngerti. Intinya, selama tidak ada masalah serius, tidak masalah. Semoga masalah
ini sampai disini saja. Kalian silahkan ke lapangan.” Kata PRESMA itu kemudian.
Mereka pergi
kelapangan dengan penasaran. Kenapa masalah itu hanya begini saja
penyelesaiannya. Jefri tidak mau terbebani dengan pikiran buruk. Dia ambil
santai aja masalah yang terjadi. Mereka terpaksa berada di barisan paling
belakang. Jefri melihat Pandu. Sepertinya Pandu masih belum puas dengan
kejadian kemarin. Atau, dia hanya dendam dengan Ari. Beberapa orang yang ada
disekitarnya juga menatap ke arah Jefri dan Ari.
Ini adalah hari
terakhir masa orientasi mahasiswa baru. Acara sampai agak larut malam. Diakhiri
dengan salam-salaman antara mahasiswa baru dan senior. Jefri, Ari dan Agus
sepertinya tidak tertarik untuk ikut. Saat giliran mereka, kebetulan orang yang
akan mereka salam adalah Pandu dan kawan-kawannya. Mereka bertiga seperti
dipisahkan dari yang lainnya. Entah apa yang akan terjadi.
Pandu menhan
mereka yang hendak pergi. Bersama teman-temannya yang lain dan PRESMA juga ada
disana, ikut membantu menahan mereka. Tentu saja mereka bingung apa yang akan
terjadi. “Jefri, Ari, Agus, aku minta maaf atas kejadian kemarin.” Kata pandu.
Matanya terlihat tulus. “Jujur saja, yang kemarin itu murni karena khilaf.”
Lanjutnya.
“Meminta maaf?
Atas kesalahan yang sengaja kalian lakukan?” Tanya Ari. “Aku juga meminta maaf
karena tidak bisa memaafkan kalian.” Ari kemudian pergi diikuti Jefri dan Agus.
Pandu dan semua
senior yang ada disana, hanya tercengang. Mereka hanya menatap Jefri dan
kawan-kawan yang semakin menjauh. Junior yang cukup unik. Mereka seperti tiga
sekawan yang terlahir untuk bersama. “Itulah Junior kita. Kita punya kawan baru
yang unik tahun ini.” Kata PRESMA memecah hening.
“Aku benci
OSPEK!” Jefri berkata saat mereka tiba di parkiran. “Aku akan menolak jika ada
yang memintaku untuk menjadi panitia tahun depan.” Lanjutnya.
“Aku berharap
bisa menjadi panitia dan mencegah orang-orang seperti Pandu. Berbuat seenaknya,
kemudian hanya meminta maaf saja.” Ari terlihat masih sangat geram.
“Aku ingin
seperti Presma itu. Cukup bijak dan sangat berhati-hati mengambil keputusan.”
Agus juga menyampaikan keinginannya. “Tapi, Ri, harusnya kau yang minta maaf
pada para senior-senior itu. Kau yang mukuli mereka. Mereka gak mukul kau.”
“Bagh! Iya
juga. Tapi, aku tadi memang minta maaf.” Agus tertawa mendengar hal itu. Jefri
hanya tersenyum.
Dari kejauhan,
Dhilla datang bersama dua orang temannya. Sepertinya, masa orientasi yang
paling tidak disukai mahasiswa baru sudah selesai. “Jefri, aku bisa minta
tolong?” Katanya. Terlihat diwajahnya, Dhilla sangat kelelahan.
“Ada apa?”
Tanya Jefri.
“Teman-temanku
takut pulang sendirian. Lagian, udah malam. Gak baik kalau cewek pulang
sendiri.” Dhilla menjelaskan.
Jefri menarik
nafas panjang. “Basa-basi.” Katanya datar.
Ari dan Agus saling berpandangan. Kemudian mengangguk
hampir bersamaan. “Kami siap mengantar.” Mereka berkata hampir bersamaan.
Kebetulan,
teman-teman Dhilla tinggal di kos yang sama dengan Dhilla. Jefri langsung
memimpin jalan ke Kos Dhilla. Malam itu juga, Jefri mengajak Ari dan Agus
menginap di rumahnya. Mereka beristirahat di rumah Jefri malam itu. Masa
Orientasi, sudah selesai. Seminggu kemudian, barulah hari pertama kuliah.
-Selesai-