Jefri yang
sedang libur, mencoba mencari hal apa yang dapat dilakukannya. Akhirnya, Jefri
memilih pergi ke taman dan membawa beberapa buku untuk dibaca. Jefri memang
terbiasa membaca di tempat yang terbuka.
Hari ini, agak
berbeda. Seharusnya, matahari sudah bersinar terang, tapi langit sepertinya
masih gelap. Prakiraan cuaca memang mengatakan hari ini berawan. Setelah cukup
lama dirasakan, ternyata ini adalah kabut asap kiriman dari Riau. Sudah sampai
ke Medan dan sekitarnya. Jefri merasa belum saatnya memakai masker. Karena
masih bisa bernafas dengan normal. Meski jarak pandang sudah mulai terganggu.
Perlahan dan
pasti, Jefri melaju dengan vixion hitamnya. Tidak butuh waktu lama untuk bisa
sampai di taman. Dia langsung berada di tempat favoritnya yang selalu kosong.
Seakan orang-orang tau kalau itu adalah tempat yang biasa dipakai Jefri.
Saat sedang
asik membaca, Jefri yang sambil merokok itu pun sedikit terkejut. Subhan datang
dan duduk disampingnya. Temannya semasa di pondok dulu.
“Dari mana kau,
Subhan?” Jefri memulai percakapan.
“Kampus.
Jumpain Dosen. Biar cepat kelar skripsiku.” Subhan menjawab dengan cepat seakan
tak ingin mendapatkan pertanyaan yang bertubi-tubi.
“Oh.” Jawabnya
singkat.
Subhan juga tak
mau ketinggalan acara merokok bersama. Dia pun membakar rokoknya. Keadaan
langit yang tak menentu ini sepertinya akan membuat asap rokok terasa berbeda.
Tapi, itu bukanlah hal yang penting. Mereka msih saja dengan santai menikmati
rokoknya. Jefri menghentikan kegiatan membacanya.
“Udah mulai
terasa kabut asapnya.” Subhan bergumam pelan.
“Iya. Dari tadi
malam asapnya udah sampai Medan. Sepertinya bakal terus berjalan sampai ke Aceh
sana.” Terang Jefri.
“Entah apa yang
harus diperbuat.” Subhan kesal.
“Biarkan saja.
Selama angin masih bertiup, asap ini juga akan ikut.” Jefri menjawab sekenanya.
“Sempat kena
penyakit dulu baru pergi asapnya.” Balas Subhan tidak mau kalah.
Jefri hanya
diam untuk yang satu ini. Mereka memang terbiasa saling membantah sejak Jefri
mulai kuliah. Subhan memang langsung masuk kuliah setelah tamat. Jefri
mengambil kursus dulu selama enam bulan. Barulah dia masuk di tahun berikutnya.
“Pemerintah
harusnya mengambil tindakan. Mereka harus cepat mengatasi asap ini.” Subhan
berkata lagi.
“Pemerintah,
ya!?” Jefri mengulang kata itu. Dari suaranya, terdengar nada ketidak setujuan.
“Jika pemerintah sedang menyelediki siapa dalang dibalik kebakaran ini,
menurutmu sudah cukup?”
“Belum. Kalau
pun tertangkap, Asap gak akan langsung hilang. Butuh waktu untuk menunggunya
hilang. Kita butuh hujan. Deras. Agar asap ini segera hilang”
“Ya tentu saja.
Asap tidak serta-merta hilang. Tapi, itu upaya untuk mencegah asap selanjutnya.
Percuma saja asap ini dihilangkan kemudian nanti akan datang lagi asap beberapa
bulan kemudian. Di hilangkan lagi dan kemudian datang lagi. APBD pun hanya akan
habis untuk hujan buatan.”
“Iya. Tapi,
tetep aja pemerintah harus mengambil sikap tegas. Harus ada upaya nyata agar
ini tidak terulang.” Balas Subhan lagi.
Jefri diam dan
hanya tersenyum. Subhan memang selalu seperti itu. Tidak mau kalah saat sedang
berbicara menyinggung pemerintah. Ada sedikit kebencian dalam dirinya dalam
menyangkut masalah pemerintah.
“Sebenarnya,
ini bukanlah semata-mata tugas pemerintah saja. Apa lagi langsung meminta
presiden turun tangan. Presiden tidak hanya mengurusi sumatera. Ada berbagai
macam urusan lain yang harus ditanganinya. Di provinsi sudah dibuat perwakilan.
Ada Gubernur. Harusnya, gubernurlah yang langsung tanggap akan masalah ini.”
Jefri menjelaskan.
“Kalau masalah
presiden itu aku setuju. Itu hanya dari golongan yang benci presiden. Mereka
akan langsung meminta presiden turun tangan atau presiden akan diolok-olok.
Tapi, kalau asap ini bukan urusan pemerintah saja, apa yang bisa dibuat
masyarakat sebagai rakyat?” Subhan bertanya.
Jefri menarik
panjang rokoknya sebelum menjawab, “Masyarakat juga merupakan satu dari elemen
pembentuk negara. Masyarakat sendiri punya andil dalam menjaga lingkkungan.
Menurutmu, jika terbukti hutan itu sengaja dibakar, maka siapakah pelakunya? Masyarakatkah
atau pemerintah?”
Sepertinya ini
cukup sulit untuk Subhan. “Jadi, sebenarnya masyarakat itu sendiri yang membuat
masalahnya. Kemudian meminta pemerintah untuk menyelesaikan masalah yang telah
dibuat masyarakat itu sendiri. Aku sekarang mengerti cara berpikirmu, Jef.
Harus diakui, ini memang rumit.”
“Iya. Jika saja
pemerintah terus-terusan memperbaiki kesalahan yang dibuat masyarakat, kapan
masyarakat itu akan sadar dan tahu kalau mereka salah. Kemudian, bersama-sama
akan mencari jalan keluar dari masalah yang terus berulang. Maka, pemerintah
pun akan siap membantu.”
Subhan mencoba
mencerna kata-kata Jefri. Tak disangka, Jefri terdengar cukup bijak. Cukup luas
juga berpikirnya. Yang paling penting adalah, kehati-hatiannya dalam menilai
sesuatu. Itu terlihat karena Jefri tidak menyalahkan pemerintah juga tidak
menjastifikasi masyarakat yang hanya berharap pada pemerintah.
“Seperti halnya
juga begini,” Jefri melanjutkan, “Masyarakat berbondong-bondong membeli
kendaraan pribadi. Ketika jalanan macet, pemerintahlah yang dikutuk. Masyarakat
tak pernah sadar kalau dia sedang membuang sampah di sungai atau kali. Ketika sungat
meluap, kembali masyarakat akan mengutuk pemerintah.”
“Iya, aku
setuju, Jef. Masalah dengan alam, adalah masalah kita bersama. Memang kita
tidak bisa bergantung pada orang lain dalam masalah ini. Kemacetan, banjir,
kabut asap dan yang lainnya, mungkin itu hanya sebagian kecil dari beberapa
masalah yang bisa kita cegah sendiri.” Subhan menyadari, terkadang juga akan
cukup bijak jika membiarkan kesalahan itu menunjukkan dampak buruknya. Agar
pelaku menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya atau dia akan terus berbuat
salah tanpa mengerti kenapa itu salah.
Tapi, asap ini.
Harus sampai kapan kami hirup? Gumam Subhan
dalam hatinya. Jefri menatap subhan seakan mendengar apa yang dikatakan Subhan
tadi.
“Tunggu saja.
Asapnya akan segera hilang. Lihat, hujan sudah mulai datang.” Jefri dan Subhan
langsung bangkit dan beranjak dari taman. Subhan mengikuti Jefri yang pergi ke
rumahnya. Perlahan, hujan turun dan semakin deras.