Saat jefri kembali
ke kelas, masih terdengar suara meja dan kursi digeser. Dia curiga, kali ini
bukan untuk merapikan. Dengan santai jefri masuk seakan tanpa masalah. Disana
terlihat ada seorang wanita. Gisel namanya. Dia terlihat sangat gugup dengan
kedatagan Jefri. Dia menjadi salah tingkah. Jefri meletakkan tas dan semua
barang bawaannya yang lain di tempat duduk favoritnya. Tanpa disangka, Jefri
malah merapikan seisi kelas.
“Aku tahu, kau
punya dendam pribadi pada Dhilla. Tapi, itu tidak membenarkan tindakanmu.”
Jefri dengan santainya mengungkapkan apa
yang terlintas di hati. Sambil tangannya sibuk merapikan meja dan kursi.
“Ini bukan masalah
pribadi, Jef.” Gisel yang gugup itu juga bingung bagaiman menjelaskannya. “Kau
tidak mengerti.” Lanjutnya.
“Apapun masalahnya,
membuat kelas berantakan setelah dirapikan, bukanlah perbuatan yang benar.”
Jefri tidak melihat Gisel selama mengatakan itu. Membuat Gisel semakin merasa
bersalah. “Gisel, kamu ingin membantu atau...”
“Jefri!” Teriak
Dhilla dari pintu masuk. Tepat disampingnya ada orang lain. Itu adalah Mbak
Yuni. Wajah Dhilla menjadi pucat ketakutan. Dia tidak bisa berkata apa-apa.
Dalam posisi ini, Jefri terlihat sedang menghancurkan seisi kelas. Sementara
Gisel yang ada dibelakang terlihat seperti sedang diancam Jefri. Mbak Yuni
tersenyum sinis.
“Sekarang sudah
jelas. Pergi ke kantor dan tunggu saya disana.” Mbak Yuni dengan angkuhnya
berkata demikian.
“Tapi, Mbak...”
Dhilla mencoba ngeles sedikit.
“Saya tidak
menerima alasan. Karena, saya sudah bilang, kelas ini harus rapi, baru melapor.
Ke kantor. Sekarang!” Bentak Mentor itu. Kemudian dia melihat kearah Jefri.
“Setelah seminggu menghilang, kamu
membawa petaka untuk temanmu.” Kemudian mentor itu pergi. Tidak memberikan
kesempatan Jefri membela diri.
Jefri duduk
termenung di tempat favoritnya. Tepat dibelakangnya adalah tempat Dhilla biasa
duduk. Jefri sedang benar-benar bingung menghadapi hal semacam ini. Entah apa
yang bisa dilakukannya sekarang. “Jef, maaf. Karena aku..” Gisel berusaha
meminta maaf atas kejadian ini.
“Aku tidak
menyalahkan siapapun. Aku sudah terlibat, dan aku harus ikut menyelesaikan masalah
ini.” Jawab Jefri. Nada bicara Jefri sama sekali tidak berubah. Membuat Gisel
bingung, apakah Jefri sedang marah atau tidak. Tidak bisa dibedakan.
Satu-persatu, yang
lain mulai berdatanagan. Mengisi tempat masing-masing. Beberapa orang heran,
kenapa meja mereka tidak tersusun dengan rapi. Sebagian masa bodoh dengan hal
itu. Kelas berjalan seperti biasa. Seakan kejadian itu hanya antara Jefri dan
Dhilla saja. Kelas memang berjalan sebagaimana biasa, tapi, ada sedikit hal
yang berbeda. Salah satunya, Jefri dan Dhilla yang tidak saling bertatap muka
selama kelas berlangsung.
Jefri sebenarnya
sedang memperhatikan apa yang dikatakan oleh Kelvin saat di kantin. Dia ingin
melihat sendiri bagaimana Mbak Yuni memberikan hukuman yang berbeda kepada
Dhilla. Sepertinya hari ini bukan hari keberuntungannya. Jefri sama sekali
tidak mendapatkan hal itu. Hanya satu hal yang dirasakannya berbeda. Dhilla
tidak seaktif saat kelas pertama dibuka. Dia terlihat lebih menahan diri. Entah
mungkin karena kejadian tadi pagi atau mungkin semenjak hukuman itu dijatuhkan
kepadanya. Jefri benci menebak-nebak sesuatu yang bisa dipastikan.
Mbak Yuni
mengumumkan kalau pertemuan selanjutnya akan ada tes. Jefri hanya pasrah saat
mendengarnya. Sudah dipastikan, dia akan mendapatkan rapport merah dalam tes
kali ini. Itu karena dia sama sekali tidak cukup baik dalam menghadapi angka.
Jefri cukup tangguh untuk menghapal beberapa rumus dan kode-kode yang
berhubungan dengan pemrograman. Tetap saja dia akan mencoba. Jefri tidak suka
melarikan diri. Mencari-cari alasan untuk tidak masuk. Sungguh itu sangat tidak
masuk akal baginya.
*****
Waktu berjalan
begitu cepat. Jefri dan Dhilla masih belum baikan sama sekali. Jefri berulang
kali mencoba untuk memulai percakapan. Tapi, karena tanggapannya dingin, Jefri
tidak mau melanjutkan. Tes itu akan dimulai hari ini. Setelah istirahat siang.
Tes ini memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin unjuk gigi. Beberapa orang
terlihat optimis. Jefri hanya duduk memandangi seisi kelas yang sangat sibuk
membaca ulang seluruh bab. Jefri hanya mencari rumus-rumus penting. Kemudian
mengabaikan yang lainnya. Jeferi tidak suka bertele-tele.
Mbak Yuni masuk
dengan angkuhnya yang tidak berubah. Entah apa yang memotivasinya seperti itu.
Jefri sudah mencari tahu banyak hal tentang Mbak Yuni. Tapi, tetap saja dia
tidak bisa mengerti. Jefri masih belum mencari tahu siapa teman Mbak Yuni ini.
Mungkin jika menemukannya, ini bisa sedikit membuka jalan mengetahui sebab
kenapa Mbak Yuni bertingkah seperti itu.
Kertas untuk tes
telah dibagikan. Setelah mengisi identitas diri, kertas soal menyusul mendarat
di meja setiap orang. Dengan itu, tes resmi dimulai. Seisi kelas menjadi sangat
senyap. Hanya ada suara goresan pena. Mbak Yuni mengawasi dengan sangat teliti.
Jefri menenangkan diri dengan melihat sekeliling. Semuanya terlihat
konsentrasi. Tidak ada yang sulit dari soal yang diberikan. Hanya saja,
membutuhkan rumus yang cukup panjang. Bisa saja memancing kekeliruan disana.
Jefri yang sedang
berpikir, memainkan pulpennya. Sambil berusaha mengingat rumus yang harus
digunakan, jefri memutar-mutar pulpen itu di jari-jari tangannya. Tiba-tiba
saja pulpen itu jatuh ke lantai. Dengan sigap Jefri langsung mengambil pulpen
itu dan meletakkannya di telinga. Dia pun melanjutkan mencari rumus yang cocok
tanpa menyadari Mbak Yuni menatapnya serius. Jefri mengabaikan itu.
Berpura-pura hal itu tidak terjadi.
Beberapa saat
kemudian, seseorang ikut menjatuhkan pulpennya. Entah itu disengaja atau tidak.
Suaranya tepat dibelakang Jefri. Jefri melirik kebelakang. Dhilla terlihat
sedang membungkuk mengambil pulpennya.
“Dhilla!” Mbak Yuni
memanggilnya dari meja pengawas. Dhilla langsung gugup. Wajahnya jadi putih
pucat. Seputih warna white-board di depan mereka. “Bawa kemari kertas Tes mu
dan kamu boleh keluar!” Katanya sambil menunjuk pintu keluar.
“Tapi Mbak, aku
belum selesai. Tinggal sedikit lagi.” Pinta Dhilla. Dhilla mencoba menarik rasa
simpati Mbak Yuni. Tapi...
“Kamu mau saya yang
datang mengambilnya atau kamu yang kesini menyerahkannya?” Ancam Mbak Yuni.
Dengan terpaksa,
Dhilla membereskan barangnya. Kemudian menyerahkan lembar jawabannya. Tanpa
belas kasihan, Mbak Yuni mencoret lembar jawaban itu. Bahkan sebelum Dhilla
keluar. Mentor itu berani mencoret hasil tes didepan anak didiknya sendiri. Itu
membuat Jefri merasa sangat frustasi. Entah apa yang salah. Dhilla keluar sambi
tertunduk lesu. Mungkin menangis.
Tak lama setelah
Dhilla keluar, Jefri sengaja menjatuhkan pulpennya. Mbak Yuni hanya menatap.
Orang yang duduk di depan Jefri hanya melirik ke belakang. Jefri mengambil
pulpennya dengan santai. Mbak Yuni tidak bereaksi apa-apa. Beberapa saat
kemudian, Jefri menjatuhkannya lagi. Kali ini bukan pulpennya. Tapi benda lain
yang ada di atas mejanya.
“Aku tidak tahu apa
salahnya dengan pasti, setahuku Dhilla hanya menjatuhkan pulpen sekali dan dia
langsung diusir dari ruangan ini. Bahkan, kertas jawabannya dicoret.” Jefri
mulai menunjukkan protes.
Mbak Yuni mendengar
hal itu. Dia terlihat geram. Wajah geramnya, sebenarnya sangat imut. Tapi,
karena sudah terlanjur kesal, geramnya itu tidak lagi terlihat imut di mata
Jefri. Semua mata lantas beralih ke arah Jefri. Tak ada yang mengira Jefri bisa
berani seperti itu. Kelvin yang duduk di depan berusaha memberikan isyarat
untuk diam.
“Aku tidak bisa
kalau sudah seperti ini. Ini sudah keterlaluan.” Katanya seakan membalas
isyarat Kelvin.
“Oh, jadi kamu juga
ingin dikeluarkan?” Mbak Yuni mengancam.
Jefri masih
terlihat tenang. “Aku tidak peduli dengan hasil tes ini. Tapi, semuanya harus
tau, aku tidak suka dengan Bullying seperti ini.”
“Kamu mau
dikeluarkan dari lembaga ini karena melawan Mentor?” Ancaman Mbak Yuni semakin
serius.
“Sejatinya, aku tak
butuh kursus di lembaga ini. Aku masuk hanya agar tidak dimarahi orang tua
saja. Saya yakin, Kamu yang lebih butuh berada di lembaga ini dari pada aku.
Aku bisa saja belajar dengan cara yang lain. Tapi, lembaga ini tidak mungkin
memanggil anda begitu saja, pastinya anda yang mengajukan lamaran kerja.”
Mentor yang yang
dingin itu kini sangat marah. Jefri telah mencoreng nama baiknya. Mbak Yuni
selaku mentor seperti sudah kehilangan taringnya. Di pun bingung harus berbuat
apa. “Jefri, besok akan kupanggil orang tua kamu.”
Jefri yang telah
membereskan mejanya kini beranjak keluar. “Ini.” Katanya menyerahkan lembar
jawaban. Di halaman depan ada tercantum nomor hape. “Itu sekalian nomor orang
tuaku.” Jefri sudah tak lagi menunjukkan rasa hormatnya. “Aku tahu, kamu yang
menyuruh Gisel merusak tatanan kelas yang sudah dirapikan Dhilla kemarin.”
Gisel terperanjat saat mendengar hal itu. Seakan dia tidak percaya kalau Jefri
bisa mengetahuinya.
“Tidak mungkin
seorang Gisel melakukan itu. Sejatinya dia adalah anak yang baik. Sementara,
teman yang lain, juga tidak iseng seperti itu untuk meminta Gisel melakukannya.
Kulihat ekspresi terpaksa saat Gisel melakukannya.” Seisi kelas masih dengan
khidmat mendengarkan penjelasan Jefri. Semua lupa dengan tes yang sedang
berlangsung. Jefri melanjutkan, “Mungkin kamu punya masalah dengan keluarga
Dhilla. Tapi, itu tetap tidak membenarkan perbuatanmu. Perbuatan buruk yang
dibalas dengan keburukan, itu bukan sesuatu yang dapat dibenarkan.” Jefri
kemudian pergi tanpa salam. Dia tak lagi peduli bagaimana keadaan seisi kelas
pasca ditinggalnya barusan.
Sampai di parkiran,
Jefri duduk diatas Vixion hitamnya. Membakar sebatang rokok dan mengepulkannya.
Benar-benar terlihat seperti orang yang sedang kebingungan. Tak lama kemudian,
Dhilla juga keluar dari gedung itu. Terlihat matanya masih merah. Sepertinya
dia baru menuntaskan tangisannya. Jefri langsung mendekatinya. Sepertinya,
Dhilla berusaha menghindar.
“Jangan menghindar
dulu. Aku cuma ingin cerita sedikit.” Jefri berkata.
Dhilla sepertinya
mendengarkan. Dhilla menggeser rambutnya. Hingga kelihatan jelas di depan Jefri
wajah pucat Dhilla yang baru saja menangis. Matanya lembam dan hidungnya masih
merah. Tidak seperti Dhilla yang dikenalnya beberpa minggu yang lalu. Dhilla
yang periang dan ceria kini menjadi seperti orang yang paranoid. Seakan
memiliki ketakutan yang tak terlawan.
“Jef, aku capek.
Aku mau pulang. Mungkin aku akan ke Siantar malam ini.” Suara Dhilla masih
serak saat mengucapkan itu. Mereka hanya saling tatap tanpa suara. Dhilla
berjalan melewati Jefri.
“Dia juga
mengeluarkanku. Itu karena aku membelamu. Teman-teman yang lain, aku tidak tahu
bagaimana. Aku juga tidak akan tahan jika diperlakukan seperti itu.” Jefri
mengatakan itu tanpa peduli Dhilla akan mendengarkan atau tidak. Tapi Jefri
menyadari kalau Dhilla sedang berhenti dibelakangnya.
Dhilla hanya
bingung. Dia tidak mengerti sama sekali kenapa Jefri melakukan hal itu. Matanya
membesar karena bingung. Dikepalanya sekarang berputar memori yang baru saja
terjadi. Dia teringat saat melihat Jefri dan Gisel di kelas saat itu. Mereka
seperti sedang bekerja sama mengacaukan isi kelas.
“Boleh aku
mengantarmu pulang?” Pinta Jefri kemudian. “Aku khawatir. Pikiranmu sedang
tidak baik. Sebaiknya memang ada yang menemanimu ke kos.” Jefri beralasan.
Tanpa menunggu
persetujuan, Jefri pergi mengambil Vixionnya. Kemudian berhenti di depan Dhilla
yang masih mematung kebingungan. “Ayo, Naik!” Dari awal, Jefri berbicara tanpa
ekspresi dan tanpa nada yang pasti. Seperti dia berbicara tanpa peduli apapun.
Dhilla tak punya
pilihan. Setelah sedikit merapikan rambutnya, dia ikut Jefri. Karena membawa
Dhilla, Jefri mengendarai dengan santai. Bahkan, bisa dibilang pelan sekali. Saat
sampai di sebuah simpang, Dhilla memintanya untuk ke taman dulu. Jefri pun
mengalihkan kendaraanya ke taman. Mereka duduk santai disana. Dhilla masih
kelihatan pucat. Mungkin dia masih sangat trauma.
“Kau tau, Jef,
selama kau tidak ada, semua orang dikelas melihatku dengan cara yang aneh?”
Curhat Dhilla.
“Aneh, maksudmu?”
Jefri heran. Karena dia sedang bersama Dhilla, dia tidak membakar rokoknya.
Sejujurnya, Rendy sangat terganggu.
“Iya, semenjak Mbak
Yuni membentakku karena membenarkan jawabannya yang keliru, mereka semua
mengaggapku orang yang tidak berguna. Aku tak lagi dianggap ada di kelas.
Keberadaanku hanya dianggap seperti kursi dan meja. Tidak seperti biasanya. Aku
mencoba menyapa, tapi mereka semua menjauh.”
“Kelvin, juga
begitu?” Jefri memastikan.
“Mungkin
pengecualian untuk Kelvin. Cuma dia tempatku berbagi cerita saat kau tidak ada.”
Air mata Dhilla mulai berlinanag lagi. Sepertinya kali ini akan lebih mendalam.
Jefri mungkin tidak
tahu kalau dia datang disaat yang tepat. Yang disadarinya, saat ini tengah ada
masalah antara Dhilla, Mbak Yuni dan teman sekelas. “Memangnya, ada masalah apa
keluargamu dengan Mbak Yuni?” Tanya Jefri.
“Aku tidak tahu.
Mungkin orang tuaku tahu, atau mungkin dia hanya membeciku karena aku... membuatnya
malu di kelas kemarin itu.” Jawab Dhilla lagi.
Jefri hanya menarik
nafas panjang.
*****
Tidak terasa, senja
semakin menguning. Orang-orang mulai ramai untuk jalan-jalan sore. Jefri
mengajak Dhilla untuk pulang. Curhatan Dhilla ke Jefri seperti tidak ada
gunanya. Tidak ada yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi. Semua hanya
luapan emosi saja. Tidak lebih dari itu.
Sampai di kosnya,
Dhilla terkejut. Teman-teman sekelasnya semua ada disana, Kelvin dan Gisel,
berdua mereka mendatangi Jefri dan Dhilla. “Jef, kami semua sepakat, tidak mau
lagi masuk kalau Mbak Yuni masih mengajar di kelas kita.”
Tentu saja itu
membuat Jefri dan Dhilla menjadi semakin tidak mengerti. Menangkap kebingungan
di wajah Jefri, Gisel langsung menjelaskan, setelah Jefri keluar dari kelas,
kelas hanya hening sebenatar. Kemudian, mereka semua mulai memprotes kebijakan
Mbak Yuni yang berlebihan. “Awalnya, kami mengira Mbak Yuni menjadi lebih
angkuh karena ulah Dhilla kemaren. Setelah kami tanya ke teman di lokal lain. Ternyata
dia memang begitu. Dia mencari orang yang pintar di setiap kelasnya untuk di
Bully.” Terannya. Tanpa disadari, satu persatu teman-teman yang lain
berdatangan mengerubungi mereka. Jelas kalau mereka semua melihat Dhilla
dibonceng oleh Jefri.
“Jadi, tes hari
ini, semuanya gagal, ya?” Jefri memastikan.
“Iya,” Willy menjawab
dengan caranya yang unik. Seperti anak kecil yang sedang dipuji. “Aku juga
sudah melaporkan masalah ini ke guru kepala. Katanya ini akan diproses.” Dia menggaruk-garuk
kepala bagian belakang.
“Lalu, kenapa
kalian datang?” Dhilla bertanya dengan heran.
“Kami mau meminta
maaf, hampir seminggu ini, kami tidak menganggapmu ada. Kami tak tahu harus
bagaimana lagi. Mungkin hanya dengan cara beginilah kami bisa menunjukkan kami
masih peduli padamu. Kau bagian dari kami, Dhilla. Begtiu juga Jefri, Willy,
Kelvin, dan yang lainnya.” Gisel menjawab dengan tenangnya. Disetujui oleh yang
lainnya.
Dengan penuh haru,
Dhilla memeluk Gisel. Air mata kini mengalir lagi. Tapi bukan lagi karena
kepedihan hati. Tapi karena rasa haru yang tak tergambarkan. “Aku pikir, kalian
benar-benar membenciku.” Ungkapnya sambil terisak-isak.
“Tidak, kita sudah
seperti keluarga. Meski kita baru sebulan bertemu. Kita adalah keluarga. Tidak
pantas kita saling membenci atau saling bermusuhan.” Kelvin mengatakannya
dengan bijak.
“Semuanya, terima
kasih. Kalian masih mau menerimaku. Aku tidak menganggap kalian salah. Semuanya
terjadi begitu saja. Tak ada yang menyadari hal ini.” Dhilla menjawab. Kemudian
melepas pelukannya.
Dhilla berjalan
mundur kembali disamping Jefri. Mereka saling pandang. Jefri mengangkat bahu.
Menandakan, dia tak lagi mengetahui apa-apa dan tak tahu harus berbuat apa.
Jefri mengajak semuanya untuk duduk di depan kos Dhilla yang memang tersedia
bangku panjang. Kira-kira cukup untuk mereka semua.
“Eh,
ngomong-ngomong, kalian jadian, ya?” Willy bertanya kepada Jefri dan Dhilla
sebelum mereka menuju kursi.
Spontan keadaan
mejadi hening. Tak ada suara dan tak ada gerakan. Jefri dan Dhilla saling
pandang bingung. “Aku,, aku,,, Tidak,,,” Jefri menjawab dengan gugup. Seperti
biasa, jika sedang gugup, Jefri menaruh tangan kanannya di belakang kepalanya.
Berbeda dengan
reaksi Dhilla, dia langsung memeluk tangan kiri Jefri dan bilang, “Iya, kami
udah jadian. Aku traktir kalian makan malam kali ini.” Kata Dhilla sambil
tersenyum kepada seluruh temannya.
Jefri memukul
jidatnya. Tidak percaya hal ini terjadi. Untuk seorang tamatan pondok
pesantren, pastinya ini hal yang asing baginya. Dasar Dhilla. Seenaknya
saja. Katanya dalam hati.
-----Selesai-----