Setelah tamat dari
pondok, Jefri tidak langsung melanjutkan studinya di kampus. Tidak seperti
teman-temannya yang lain. Sebagian teman-temannya melanjutkan studi di luar
negeri. Sebagian di universitas negeri di Medan. Dan sebagian lagi memilih
langsung mengambil kerja.
Setelah perang
dahsyat antara dirinya dan keluarganya, akhirnya Jefri memutuskan untuk
mengambil kursus di sebuah lembaga ternama. Dia mencoba peruntungannya di
bidang informatika. Jefri memang sangat
menyukai hal-hal yang berhubungan dengan komputer. Bermain game adalah hal yang
paling dia senangi. Meskipun Jefri adalah anak pondok, tidak luntur dalam
dirinya keinginan untuk mendalami bidang komputer.
Jefri tidak tinggal
di kost seperti temannya yang lain, melainkan keluarganya telah membelikan
rumah untuknya di Medan. Tidak terlalu jauh untuk kemana-mana. Cukup dekat
dengan berbagai kampus dan lembaga pendidikan yang diikutinya. Tak jauh juga
dari rumahnya, ada taman kota. Tempat favoritnya untuk menghabiskan hari-hari.
Menikmati pemandangan sore sambil membaca. Membaca merupakan hobinya yang lain.
Sudah sebulan
berjalan kegiatan kursus di lembaga yang diikutinya. Tak disangka, kelas mereka
mendapatkan guru pengajar yang baru. Guru matematika. Sejatinya, Jefri juga
bingung. Kenapa harus belajar matematika. Jefri tidak terlalu baik dalam
menghitung. Meski, beberapa orang selalu mengandalkannya dalam hal ini. Tetapi
ada satu orang yang tidak akan pernah bisa dilawannya dalam hal berhitung.
Seorang gadis seumurannya. Dhilla. Gadis cantik yang membuat siapa saja
tertarik melihatnya.
Jefri sedang duduk
di lokalnya. Menanti mentor yang akan mengajar. Satu persatu, teman-teman
selokalnya mulai mengisi kekosongan ruangan itu. Jefri masih menikmati
berselancar di dunia maya dengan laptopnya. Biasanya, suasana kelas akan berubah
saat Dhilla memasuki lokal. Mereka seakan terpana setiap kali melihat gadis
ini. Maksudnya, kecuali Jefri. Yang tidak pernah mengerti apapun tentang hal
ini. Bahkan, dia sendiri tidak mengerti sepenuhnya tentang manusia. Hal yang
paling sulit untuk dipelajari. Itulah Jefri yang aneh.
Entah bagaimana
ceritanya, Dhilla selalu duduk dibelakang Jefri. Jefri sendiri bukan orang yang
suka duduk paling depan. Dia selalu duduk di lini tengah lokal. Disamping
dinding. Itulah tempat favoritnya. Cukup aman untuk melakukan hal-hal yang
aneh. Jefri mulai bosan berselancar. Dia logout dari facebook-nya dan
mulai mengeluarkan buku. Mata pelajaran hari ini, matematika. Ada begitu banyak
gambar angka dan lambang yang biasa dalam matematika di sampul buku yang
dipegang Jefri. Dengan cepat Jefri membalikkan bukunya. Seakan dia memiliki
trauma sendiri dengan angka.
Dhilla melihat
kejadian itu. Dia pun mengerti kalau Jefri memang takut melihat angka. Tapi,
anehnya, Jefri selalu menghadapinya. “Matematika tidak menyeramkan. Paling
tidak, tidak semenyeramkan yang kamu pikirkan.” Katanya pada Jefri sambil
tersenyum manis.
Mau tidak mau,
Jefri menyandarkan tubuhnya ke dinding hingga Dhilla berada di sebelah
kanannya. “Iya, tapi angka-angka itu berhasil menakuti akalku.” Jefri menjawab
dengan nada datar. Jefri memang bukan orang yang bisa diandalkan dalam hal
berhitung. Tapi dalam menghafal rumus, belum ada yang mengalahkannya selama
sekolah.
“Kalau mau jadi
progamer, kamu memang harus kuat menghadapi semua itu. Matematika, ilmu logika,
dan rumus-rumus yang pastinya akan sangat membingungkan.” Dhilla terlihat
sangat anggun hari itu. Untungnya teman-teman yang lain sedang tidak
memperhatikan. Atau mereka hanya berpura-pura tidak tahu dan keesokan harinya,
Dhilla dan Jefri akan menjadi bahan gosip terbaru untuk minggu ini. Tapi,
sepertinya tidak. Mereka sedang sibuk dengan caranya masing-masing.
“Sejujurnya, aku
tak pernah takut dengan rumus. Kalkulus atau jenis apapun lagi. Aku hanya,
seperti, ya, kau taulah. Hanya sedikit takut dengan angka. Mungkin juga akan
kesulitan dengan logika.” Jefri kesulitan menjelaskan apa yang dirasakannya
tentang matematika. Jefri mengalihkan pandangannya yang dari tadi tertuju ke
Dhilla. Seperti Dhilla memiliki magnet tersendiri.
Beberapa saat
kemudian, kelas menjadi hening. Lebih hening dari sebelumnya. Jefri menyadari
ada seseorang yang baru yang datang ke lokalnya. Terlihat masih muda dan sangat
energik. Perempuan muda ini sepertinya adalah mentor baru mereka untuk
pelajaran matematika. Cukup adil, pelajaran sulit dan mentor yang cakep.
Jefri bergumam dalam hatinya. Beberapa anak yang lain tersenyum. Mereka saling
memandang satu sama lain. Seperti mereka berkata, “Mentornya cakep, Bro.”
Kepada teman mereka. Jefri melihat sedikit keangkuhan dibalik kacamata mentor
baru itu. Sepertinya, Jefri akan menjadi orang yang paling berhati-hati
menghadapi mentor tipe ini. Seperti saat bermain game, setiap musuh mempunyai
cara sendiri untuk dikalahkan.
Kelas dimulai.
Setelah sesi perkenalan, ternyata nama mentor itu adalah Yuni. Umurnya 23
tahun. Lima tahun lebih tua dari Jefri saat itu yang masih berumur 18 tahun.
Beberapa anak-anak lain mencoba mencari perhatian dengan menjawab beberapa
pertanyaan dari sang mentor. Tapi, mentor itu menunjukkan ekspresi dingin.
Beberapa juga melontarkan lelucon yang sebenarnya tidak lucu. Begitulah,
keadaan kelas yang tidak jelas ini sekarang.
Saat pelajaran
dimulai, berbagai soal yang diberikakan, tak ada yang bisa menjawabnya kecuali,
Dhilla. Kecerdasan Dhilla dalam menyelesaikan soal seakan dia adalah anak
paling jenius di kelas. Jefri bingung, kenapa orang seperti ini tidak lulus
kuliah jurusan IT. Sementara dirinya, bukan tidak lulus, hanya tidak mendaftar.
Beberapa ada yang mencoba menjawab dan kebetulan memberikan jawaban yang benar.
Hingga suatu kali, Mbak Yuni memberikan soal terakhir untuk hari ini. Jelas
Jefri tahu kalau Dhilla selalu menjadi yang pertama yang mengangkat tangan
untuk menjawab. Entah kenapa, kali ini sepertinya Mbak Yuni tidak memilih
Dhilla. Jefri bingung mengapa begitu. Karena, tidak ada yang berani mengajukan
diri menjawab soal itu kecuali Dhilla. Hingga munculah orang lain yang
mengajukan diri. Dan orang itu yang ditunjuk. Bukan Dhilla.
Dhilla terlihat
sangat kesal. Bagaimanapun kesalnya kepada guru, tak ada yang dapat diperbuat.
Hanya bisa menerima keputusan dari guru itu, apa yang harus dikerjakan
selanjutnya. Untungnya, matematika ini tidak setiap hari. Meski begitu, Jefri
selalu berusaha mencari cara untuk menghindarinya. Selain karena kesal dengan
sikap mentor yang dingin seperti itu, juga karena dia tidak bisa mengingat
kumpulan angka dengan baik. Terlebih jika sudah harus memasuki tahap
penghitungan. Jefri akan segera merasa dirinya adalah yang paling bodoh di
kelas.
*****
Dua minggu berlalu
semenjak mentor cantik dan dingin itu menngajar. Jefri berhalanagan hadir
selama seminggu. Jefri izin karena ada hal penting yang harus dilakukannya di
kampung. Sekarang saatnya kembali ke tempat kursusnya. Kebetulan memang jadwal
pelajaran matematika di awal. Jefri sengaja datang lebih awal. Tak ingin merasa
tertekan karena sudah lama tidak masuk. Saat berjalan melewati ruanganya, Jefri
mendengar suara meja dan kursi bergeser. Ternyata, aku bukan yang pertama.
Pikir Jefri.
Jefri sedikit kaget
mengetahui bahwa Dhilla adalah orang yang membersihkan dan merapihkan kelas
mereka. Jefri yang baru datang, langsung menaruh tasnya di meja tempat
favoritnya. Kemudian mendatangi Dhilla. “Tumben sendirian.” Sapa Jefri. Dhilla
terlihat sangat murung. Seakan dia berharap tak ada siapapun di kelas untuk
saat ini. “Mau aku bantu?” Jefri ikut merapikan meja.
“Jef, tolong jangan
ganggu aku.” Kata Dhilla. Jefri kaget mendengarnya. Wajah Dhilla sangat
meyakinkkan saat meminta untuk tidak diganggu.
“Oh, oke.” Jefri
dengan santai menjawab. Kemudian mengambil tasnya dan beranjak keluar. Tentu
saja dengan menyimpan sejuta rasa kebingungan. Kenapa saat ingin dibantu malah
tidak mau.
“Jefri, kamu mau
kemana?” Tanya Dhilla sebelum Jefri mencapai pintu.
“Berusaha tidak
mengganggumu.” Jawabnya santai.
“Harus keluar?”
Dhilla sepertinya hanya butuh teman yang menemaninya.
“Aku tidak tahu
kalau ada cara lain. Mana bisa aku melihat teman melakukan segalanya sendirian.
Kalau kamu sedang tidak mau dibantu, aku akan pergi dulu untuk sementara.” Kata
Jefri dengan cepat dan datar.
Jefri meninggalkan
Dhilla di kelas. Dhilla melanjutkan pekerjaanya. Sementar Jefri menuju kantin.
Jefri membeli sebungkus rokok dan duduk di bangku yang sudah disediakan.
Pikirannya masih melayang-layang. Padahal hanya seminggu dia meninggalkan
kelas, seakan ada hal berubah sangat berbeda. Jefri menarik panjang rokoknya.
Seperti sedang membuang beban pikiran dengan asap. Akh, nanti juga aku akan
mengerti dengan apa yang terjadi. Jefri bergumam dalam hatinya. Kelvin
datang dengan tiba-tiba. Datang dan duduk disamping Jefri.
“Melamun aja
kerjamu, Jef. Kayak biasa.” Sapa Kelvin.
Jefri hanya
tersenyum. Kemudian menawarkan rokoknya. Tanpa ragu, Kelvin mengambil sebatang
rokok dan membakarnya. “Apa aja perubahan selama aku gak ada?” Tanya Jefri
tanpa basa-basi.
Kelvin sepertinya
mengerti maksud Jefri. Kelvin menduga Jefri mendengar kabar tentang Dhilla.
“Maksudmu, tentang Dhilla?” Jefri hanya mengangguk. “Oh. Ceritanya cukup
panjang.”
“Kurasa, aku punya
banyak waktu luang.” Jawab Jefri. Itu membuat Kelvin sedikit tertawa.
“Sejujurnya, Jef,
dari awal aku sudah tidak suka dengan mentor matematika yang baru itu.”
“Sudah kuduga, ini
ada hubungannya dengan mentor dingin itu.” Jefri membuang asap rokoknya melalui
hidung.
“Diawal, dia
seperti mencoba memperkenalkan diri saja. Menujukkan keelokannya.
Lama-kelamaan, dia seperti merasa berkuasa. Hanya karena dia mentor.” Kelvin
memperhatikan kanan dan kiri. Takut kalau ada yang menguping. “Jadi waktu itu,
Dhilla mencoba membenarkan jawaban mbak Yuni. Anehnya, mbak Yuni malah merasa Dhilla
telah mengejeknya didepan umum. Mulai saat itu, Dhilla jadi sering di bully
oleh mbak Yuni. Diwaktu lain, Dhilla tanpa sengaja menjatuhkan pulpennya ke
lantai.”
“Biar kutebak!”
Potong Jefri. “Mbak Yuni langsung marah dan menghukum Dhilla membersihkan kelas
sebelum jadwal masuknya.”
“Iya. Kau tahu
berapa lama? Satu bulan. Dan dia harus melapor setiap kali selesai
melakukannya.”
“Apa hanya itu?”
Tanya Jefri.
Kelvin seperti
sedang berpikir. “Ada lagi. Saat itu, beberapa orang kami gak bawa buku.
Kebetulan, Dhilla juga tidak bawa buku. Kau tahu? Hukuman untuk Dhilla berbeda.
Dia diancam akan dilaporkan ke orang tua. Tapi akhirnya, Dhilla harus
membersihkan ruang kelas setelah pelajaran terakhir dan melapor kepadanya.”
“Tidak membawa buku
adalah masalah besar sekarang, ya?” Jefri menyimppulkan.
“Tapi, bukan untuk
kita. Untuk Dhilla sendiri.” Jelas Kelvin.
“Oh, Begitu.” Jefri
menjawab dengan santai dan datar. Seakan menunjukkan kalau itu bukan masalah
penting. Tapi, sebenarnya Jefri sangat penasaran dengan hal ini. Jefri
menghabiskan sisa rokoknya dan memesan minuman. Teh manis dingin. Kelvin
sepertinya juga memesan minuman. Minuman bersoda. Kelvin terus menceritakan hal
yang diketahuinya. Begitu banyak hal yang ganjil. Menurut cerita dari Kelvin,
Jefri menangkap kebencian. Ada unsur kebencian dari Mbak Yuni sang mentor
terhadap Dhilla anak didiknya sendiri.
Jefri tersenyum.
Perlahan, kantin mulai ramai. Anak-anak yang gagal kuliah, ternyata cukup
banyak yang ikut kursus disini. Sepertinya, mereka juga orang yang bersi keras
untuk masuk teknik komputer dan sejenisnya. Tidak butuh waktu lama bagi Jefri
untuk menghabiskan minumannya. Setelah itu, dia memutuskan untuk kembali ke
kelas.
-----Bersambung-----