Hari ini, resmilah Jefri menjadi seorang mahasiswa di sebuah
lembaga komputer. Setelah setahun tidak kuliah dan memilih untuk mengambil
kursus panjang selama enam bulan, akhirnya dia memilih untuk kuliah. Hari ini,
Jefri berangkat dengan pakaian yang sangat rapi. Stelan putih-hitam. Masih
terlihat bekas lipatan di baju putih tangan panjangnya. Begitu juga di
celananya. Beberapa hari sebelumnya, dia sempat bertanya pada Subhan, teman
seangkatannya di pondok, perihal masa orientasi mahasiswa baru. Subhan memberi
saran, tidak perlu diikuti. Tapi jika ingin mencoba, itu tidak masalah. Jefri
memilih untuk ikut. Sekedar mencoba melihat teman-teman barunya nanti.
Jefri sampai di kampus lebih cepat dari yang lainnya. Jam 7 pagi,
Jefri sudah berada di taman kampus. Menikmati udara pagi sambil merokok.
Terllihat beberapa orang datang bersamaan. Mereka datang dengan mengendarai
motor masing-masing. Sepertinya itu para senior. Terlihat dari stelan mereka.
Rapi dan memakai jas warna biru tua. Sepertinya aku terlalu cepat datang.
Pikirnya. Dia langsung teringat kalau Dhilla juga lulus disini. Dan mereka
mengambil jurusan yang sama. Bahkan, kabarnya mereka berada dilokal yang sama.
Karena kebetulan, nama mereka berdekatan saat lulus.
Saat sedang asik menikmati rokoknya, tiba-tiba ada yang datang dan
menyapa Jefri. “Hei, anak baru, ya?” kata orang itu.
Jefri melihat orang itu juga mengenakan stelan yang sama dengan
Jefri. Bisa dipastikan dia adalah anak baru. “Iya.” Jawab Jefri santai.
Orang itu duduk di samping Jefri dan mengeluarkan rokoknya. Dengan
santai dia juga menarik rokoknya. “Agus.” Orang itu kemudian mengulurkan
tangannya.
“Jefri.” Balasnya sambil menyambut tangan Agus. Jefri hanya
menjawab dengan santai seperti biasa.
Merekapun melanjutkan pembicaraan ringan. Ternyata, Agus juga
berasal dari Galang. Tempat Jefri tinggal. Hanya saja, Jefri tak lagi mengenal
cukup banyak orang semenjak dia masuk ke pondok. Selama liburan, dia hanya
menghabiskan waktu bermain komputer dan menikmati segala macam fiturnya.
Lengkaplah sudah, dia tidak banyak mengenal orang lain di daerahnya kecuali
teman-teman sd nya.
“Hei, yang duduk disana.” Teriak seseorang. Mereka berdua langsung
menoleh kearah parkir. Terlihat seseorang bertubuh besar datang berjalan mendekati
mereka. Kalau dilihat dari postur tubuhnya, dia adalah salah seorang senior.
Terlebih dengan pakaian yang tidak rapi yang dikenakannya.
Agus memasang wajah tidak suka. Jefri seperti biasa, memasang wajah
tidak peduli. Memang biasanya dia seperti itu. Tidak terlalu peduli dengan hal
yang tidak penting.
“Kalian anak baru, kan?” Kata orang itu lagi. Masih dengan nada
membentak.
“Iya, Bang.” Jawab Agus menunjukkan ketidak sukaannya.
“Biasa aja, aku juga anak baru.” Orang itu menjawab dengan nada
pelan. Tidak seperti sebelumnya. Kemudian tersenyum renyah. Orang itu kemudian
duduk disamping kiri Jefri. “Aku, Ari.” Orang itu memperkenalkan dirinya.
Agus dan jefri kemudian juga memperkenalkan diri. Saat berjabat
tanagan, Jefri memperhatikan jari-jari tangan Ari. Apa orang ini bisa
mengetik di keyboard dengan jari sebesar ini? Katanya dalam hati. Tak lama
berselang, anak-anak baru mulai ramai berdatangan. Upacara perdana sebagai
sambutan utntuk anak baru, akan dilaksanakan satu jam lagi. Tapi, mereka
sepertinya tidak ingin ketinggalan upacara. Mungkin juga karena takut dengan
kabar-kabar buruk tentang masa orientasi yang tayang
tiap tahunnya.
Dhilla datang dari pintu masuk dan berjalan sendirian. Jefri, Ari
dan Agus melihat kearahnya. “Bro, liat, Bro. Bening, Bro!” Agus mulai
menunjukkan sifat anehnya saat melihat Dhilla.
Dhilla melihat kearah Jefri dan tersenyum. Jefri membalas senyuman
itu. Diluar dugaan, dua orang itu juga membalas senyum Dhilla. Tentu saja itu
membuat Dhilla tersenyum geli. Padahal, senyum itu hanya ditujukan kepada
Jefri. Tapi, itu membuat dua orang didekatnya ikut merasa.
“Senyuman adek itu menggoda.” Kata Ari kemudian. Jefri jelas tidak
suka mendengarnya.
Tidak terasa, kampus sudah ramai. Dan beberapa senior sudah siap di
posnya masing-masing. Mereka membawa toa sendiri. Kemudian berteriak memanggil
juniornya untuk berkumpul sesuai dengan jurusan masing-masing. Jefri, Ari, dan
Agus ternyata sama-sama anak IT. Merekapun mengambil barisan yang sama. Jefri
berada diantara Ari dan Agus. Barisan mahasiswa dibedakan dengan mahasiswi. Barisan
Dhilla berada di disamping Ari. Dhilla terlihat asik dengan teman-temannya.
“Eh, Jef, cewek yang tadi.” Kata Agus.
Jefri menoleh kearah Dhilla. Dhilla sepertinya sedang diam
memperhatikan para senior yang sedang mengurus barisan. Senior mereka kemudian
memberikan beberapa aba-aba dan akhirnya mereka duduk. Saat duduk, Jefri
memperhatikan Dhilla.
“Psstt…!!!” Tegur Jefri. Dhilla menoleh. “Gak bawa motor?” Tanya
Jefri langsung. Ari yang berada diantara Dhilla dan Jefri hanya terdiam
menyaksikan Jefri. Agus juga tidak menyangka Jefri langsung bertanya begitu.
Dhilla hanya menggelang. “Lagi pengen naik angkutan umum.” Jawab
Dhilla.
“Trus, nanti pulang gimana?” Jefri serius.
“Aku nebeng sama kamu.” Katanya sambil tersenyum.
Dengan kesal Jefri menjawab, “Aku bukan ojek pribadi, Dhilla.”
Katanya.
“Nebeng ke aku aja.” Ari tersenyum sambil menawarkan diri.
“Atau sama aku.” Agus juga tidak mau kalah menawarkan diri.
Jefri hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya melihat dua orang teman
barunya ini. Entah kenapa dia malah mendapatkan teman yang aneh seperti ini.
Padahal, ada begitu banyak orang di kampus.
“Aku maunya nebeng Jefri.” Kata Dhilla manja.
“Ya udah, nanti ke parkiran setelah semuanya selesai. Kalau telat,
aku tinggal.” Kata Jefri datar.
“Itu baru Jefri.” Dhilla menjawab dengan senyum.
“Oh, iya Dhilla, kenalkan ini teman-teman baruku. Yang ini namanya
Ari,” Jefri menunjuk Ari disebelah kirinya. “Dan ini Agus.” Lanjutnya sambil menujuk
Agus yang ada di sebelah
kanannya.
“Hai, Agus, Ari, Aku Dhilla.” Dhilla tersenyum. Senyuman Dhilla memang selalu mampu melumpuhkan siapapun yang
melihatnya. Hanya Jefri yang terlihat tidak terpengaruh.
Ari dan Agus pun tersenyum semanis mungkin. Teman-teman yang
aneh. Keluh Jefri. Beberapa saat kemudian, mereka diberi aba-aba untuk
berdiri lagi. Mereka kemudian diistirahatkan untuk mendengarkan kata sambutan
dari panitia pelaksana dan beberapa
dosen yang akan menyampaikan
beberapa hal tentang lembaga pendidikan mereka. Ada sekitar satu jam lamanya
mereka berdiri mendengarkan sambutan. Hingga akhirnya barisan dibubarkan untuk
memasuki lokal masing-masing.
Jefri meninggalkan Ari dan Agus dalam kerumunan orang-orang yang
mencari lokal. Dengan cepat, Jefri langsung menemukan lokalnya. Tercantum Jelas
di atas pintu masuk. Jefri langsung mengambil posisi favoritnya. Di dekat
pintu barisan ke dua. Bukan barisan paling belakang ataupun paling depan. Agus
masuk menyusul Jefri. Kemudian disusul anak-anak yang lain.
“Mana Ari?” Tanya Jefri.
“Lokal dia beda. Dia
disebelah.” Jawab Agus.
Tak lama, lokal itu pun
penuh. Dhilla juga sudah masuk bersama dengan teman-teman barunya. Senior
memasuki kelas. Kelas mendadak sunyi. Senior itu memperkenalkan diri. Kemudian
disusul dengan pembacaan absen mahasiswa baru. Satu-persatu nama mereka
dipanggil dan mereka memperkenalkan
diri darimana asal dan dimana dulu sekolah. Semua tampak kaget saat mendengar
Jefri berasal dari pondok pesantren. Jefri menerangkan kalau dia hanya
mengikuti hobinya.
Senior yang bernama Gilang itu memberikan apa saja yang harus
mereka bawa esok hari. Tas bergambar superhero, memakai sepatu tali dan kaus
kaki bola beda warna yang harus dipakai sampai keluar celana, toga yang terbuat
dari kertas karton, gelang yang terbuat dari jengkol tak lupa papan nama besar
bertuliskan nama dan jurusan yang diambil. Seragam mereka juga sudah
ditentukan. Baju putih polos tangan panjang dan celana bahan. Jefri tidak
terlalu mengerti apa guna itu semua. Senior Gilang menjelaskan kalau ini semua
adalah untuk melatih kekompakan mereka. Jefri tidak mau percaya. Itu semua
hanya omong kosong saja. Paling-paling itu hanya cara mereka menghibur diri.
Tidak ada hal penting yang terjadi hari ini. Mereka akhirnya pulang
setelah hari dirasa cukup sore. Mahasiswa baru memang selalu menjadi bahan
bullying para senior di manapun berada. Atau mungkin ini hanya terjadi di
Indonesia saja. Mungkin bukan hari ini. Tapi, masih ada hari
esok.
Jefri sedang menunggu Dhilla di parkiran. Ari dan Agus sudah pergi
duluan. Wajar saja, mereka belum begitu saling mengenal. Jadi, cukup wajar jika
masih main tinggal saja. Jefri memaklumi hal itu. Tak lama, Dhilla datang.
Padahal mereka satu lokal. Dhilla punya sedikit urusan. Itu sebabnya agak telat
keluar.
“Sudah selesai urusannya?” Tanya Jefri.
“Sudah.” Jawab Dhilla santai.
Melihat Dhilla dengan stelan baju putih lengan panjang dan rok panjang
hitam, membuat Jefri tertarik. Rambut panjang Dhilla yang hitam lurus terurai
dengan rapi. Sepertinya, Dhilla sangat memperhatikan perawatan tubuhnya.
Terlihat jelas tubuh Dhilla terlihat sangat ideal. Tidak terlalu gemuk, juga
tidak kelihatan kurus. Cukup nyaman dipandang. Membuat siapa saja tertarik jika
melihatnya.
Jefri memberi aba-aba agar Dhilla segera naik kebelakang. Dhilla
duduk menyamping karena dia memakai rok. Jefri memasang helmnya dan menyalakan
motornya. Sebelum jalan, satu tangan Dhilla memeluk Jefri dari belakang. Jefri
agak kaget. Dia juga merasakan kalau Dhila menyandarkan tubuhnya ke Jefri.
Jefri menggetarkan badannya.
“Jangan disandarkan, Dhilla. Aku gak nyaman kalau begitu.” Jefri
memberi tahu sebelum mereka jalan.
“Iya, deh terserahmu, Jef.” Dhilla menarik badannya sedikit
menjauhi Jefri.
Jefri mengantar Dhilla sampai kostnya. Sebelum berpisah, Dhilla
mengucapkan terima kasih. Jefri malah menyarankan agar membawa motornya sendiri
besok. Jefri tidak yakin bisa mengantar lagi. Akhirnya, Dhilla memberi tahu
kalau motornya masih ada di Siantar dan belum dikirim ke Medan. Jefri tersenyum
mendengarnya. Jefri tak berkata apa-apa lagi. Kemudian pamit dan pergi. Jefri
menyempatkan diri membeli semua yang dibutuhkan untuk besok. Jefri tidak
membuang-buang waktu. Sampai di rumahnya, dia langsung menyiapkan segalanya,
membuat gelang dari jengkol, membelah bola plastik, membuat toga dan lainnya.
Hanya tinggal tas bergambar superhero itu saja yang belum ditemukannya. Setelah
menghubungi beberapa orang, ternyata, Subhan masih memiliki tas bergambar
superhero. Itu juga yang digunakannya saat masa orientasi tahun lalu. Besok pagi, Subhan akan mengantarkannya.
Paginya, Jefri sudah mempersiapkan segalanya. Entah bagaimana
caranya, Jefri bisa memasukkan semuanya kedalam tas kecil yang diberikan
Subhan. Subhan yang datang mengantarkan tas itu, langsung pergi. Karena dia salah satu panitia pelaksana di
kampusnya. Ada sms dari Dhilla. Dhilla meminta Jefri menjemputnya. Benar-benar
menyusahkan saja. Pikirnya. Pukul tujuh, Jefri sudah sampai di depan kos
Dhilla. Dhilla keluar dengan hanya menyandang tas kecil. Mereka tidak banyak
bicara saat di perjalanan.
Tidak diduga, kampus telah ramai oleh mahasiswa baru. Sepertinya,
mereka juga memilih datang cepat sebelum banyak orang yang melihat mereka.
Beberapa diantara mereka sudah memakai semuanya dengan lengkap. Sebagian masih
menyimpannya. Tidak perlu lama menunggu, para senior itu sudah datang. Mereka
memberi aba-aba agar mereka semua berkumpul di depan gedung kampus. Mereka
dipisahkan berdasarkan jurusan masing-masing. Tidak berdasarkan lokal mereka.
Mungkin ada sekitar seratus orang mahasiswa baru yang berbaris di lapangan itu.
Jefri berusaha tidak mengambil tempat paling depan. Dia tidak nyaman jika
berada di depan.
Dhilla mengambil posisi di depan. Sementara Ari dan Agus ada
dibelakang Jefri. Dimulailah perpeloncoan itu. Mereka kemudian dibagi menjadi
beberapa kelompok. Setelah itu, setiap kelompok harus memiliki ketua yang
bertanggung jawab atas kelompoknya. Dibuatlah sedikit lomba-lomba ringan.
Kelompok yang kalah akan mendapatkan hukuman.
Setelah hari cukup terik, barulah mereka disuruh untuk menggunakan
semua perlengkapan. Tidak cukup buruk, pikir Jefri. Saat inilah baru
dimulai perpeloncoan yang sesungguhnya. Mereka mulai memeriksa orang-orang yang
tidak lengkap. Bahkan, warna baju putih yang mulai pudarpun dianggap mereka
sebagai sebuah pelanggaran. Dengan motto, ‘senior tidak pernah salah’ mereka
tidak merasa salah jika menghukum orang-orang.
Jefri yang merasa gerah, membuka kancing tangannya dan menggulungnya. Salah seorang
senior yang tampak garang melihat Jefri. Tidak suka dengan hal yang dilakukan
Jefri, senior itu langsung memanggil Jefri ke depan. Ari dan Agus bingung.
Setelah itu, Jefri dibawa keliling untuk inspeksi. Tapi, Jefri hanya mengikuti
saja dibelakang. Jefri tidak meurunkan gulungan tangannya.
Setelah itu, Jefri dan senior itu menuju kedepan dan menghadap
kesemua mahasiswa baru. Ada apa sekarang? Tanya Jefri dalam hatinya.
Sambil berteriak, senior yang memanggil Jefri bertanya, “Kau tau kenapa
dipanggil kesini?”
Tentu saja
Jefri kebingungan. “Tidak tahu, Bang.” Jefri masih menjawab datar. Ternyata itu tidak
disukai senior yang bertenya kepadanya itu.
“Coba kau pikirkan apa kesalahanmu. Lima menit kau gak tau
kesalahanmu, kujemur kau di panas-panas sana.” Ancam senior itu.
“Jemur sekarang aja, Bang. Aku soalnya gak ngerti apa salahku.”
Jefri masih terlihat tenang saat menjawab.
Tiba-tiba, datanglah seorang senior lain. Dia menarik turun lengan
baju Jefri yang masih tergulung di lengan atasnya. “Kenapa kau gulung
tanganmu?” Tanya senior itu. Tak disangka, lengan baju itupun sobek di bagian
sambungan bahunya. Hampir menjatuhkan lengan baju itu.
Jefri melirik tidak senang kepada senior itu. Kemudian, menatapnya
dengan menyimpan amarah. Seakan, Jefri sedang merekam wajah orang itu kemudian
berniat membalas dendam. Ari dan Agus melihat kejadian itu dibarisannya. Jefri
melihat mereka saling berbisik. Yang lain terlihat tegang. Tak ada yang
menyangka Jefri yang akan dijadikan bahan percobaan. Dhilla juga hanya bisa
melihat dengan tegang.
“Gak suka, Kau kusobek lengan baju Kau?” Teriak senior itu lagi. Di
bagian dadanya tertulis nama Pandu.
“Gak harus disobek juga, Bang. Cukup dikasi tau aja, nanti aku
turunkan juga.” Jefri menjawab datar. Hingga tidak bisa dibaca ekspresinya.
Apakah dia takut atau dia akan melawan.
“Salah kau juga, beli baju yang murah.” Pandu berkilah.
“Memang murah, Bang. Bukan berarti bisa disobek seenaknya.” Jefri
terus membantah semua yang dikatakan Pandu.
Semua perhatian sekarang tertuju ke Jefri. Entah apa yang akan
dilakukan senior itu selanjutnya. Salah seorang dari mereka meneriakkan sesuatu
kepada yang lain. Agar yang lain tidak mengikuti apa yang telah dilakukan
Jefri.
“Kau melawan aja Kau, Ya!?” Kata Pandu sambil mengayunkan tangannya
ke kepala Jefri.
Jefri memang bukan ahlinya bela diri. Tapi, beberapa gerakan bisa
ditangkapnya dengan mudah. “Maaf, Bang. Bukan bermaksud melawan, aku cuma mau ngasi
tau, yang abang lakukan ini tidak layak.” Sambil memegang tangan Pandu, Jefri
menjelaskan.
Pandu menarik paksa tangannya dari genggaman Jefri. “Setelah ini,
jangan langsung pulang Kau, ya!” Ancam Pandu lagi. “Ku tunggu kau di belakang.”
Dia pun pergi sambil menahan emosi. Beberapa melihat Jefri dengan tampang tidak
suka.
Jefri pun kembali ke barisannya. Sambil memegang lengan bajunya
yang hampir putus, dia duduk di tempatnya tadi. “Tenang aja Kau, Jef.” Ari
berkata.
“Aku tidak mengerti apa yang ada dipikiran para senior ini.
Katanya, aku disuruh ke belakang setelah bubar nanti.” Jefri menceritakan.
“Bagh, datang kau jadinya?” Agus bertanya.
“Aku gak suka lari dari masalah. Selama aku bisa menghadapinya, aku
hadapi. Kalau aku tidak bisa. Ntahlah. Aku tidak punya rencana.” Kata Jefri.
“Kami disini samamu nanti, Jef. Kalau ada apa-apa, kami turun. Ya,
kan, Gus?” Ari memastikan.
Agus terlihat kurang setuju. “Aku kurang yakin. Tapi, sebisaku
pasti aku bantu.” Katanya dengan harapan tidak terjadi perkelahian.
Barisan dibubarkan untuk makan siang. Mereka harus berkumpul lagi
jam 2 di barisan yang sudah ditentukan tadi. Dhilla yang sedari tadi juga
melihat kejadian itu, langsung mendatangi Jefri.
“Kamu gak papa, Jef?” Tanya Dhilla langsung.
“Mereka belum melakukan apa-apa.” Terang Jefri.
“Maksudmu belum? Memang dia bilang apa?” Dhilla terlihat khawatir.
Jefri yang terlihat tidak memiliki ekspresi itu, memang sangat
sulit dibaca. Dia hanya diam dan menatap langit. “Nanti kamu tunggu aja aku di
parkiran kalau mau diantar, ya. Kalau mau langsung pulang, kabarin. Aku ada
urusan sedikit. Sepertinya aku akan dipanggil ke ruang tata tertib.” Jefri
beralasan. Akhirnya disetujui Dhilla.
Bersambung