Bab VIII
Sakit bekas pukulan yang
diterima Pandu kemarin, masih terasa. Pak Gilang dan Karin sempat kaget melihat
Pandu pulang dengan sedikit luka. Untungnya tidak ada
bekas memar di wajah. Itu akan sulit dijelaskan nantinya. Kalau hanya sakit
tanpa memar, itu bisa ditutupi dengan alasan lain. Pandu memilih untuk tidak
memberi tahu apapun. Termasuk pada Karin. Apalagi, mereka itu mengincar Karin.
Tapi, Pandu masih binngung. Untuk apa mereka mencari Karin.
“Pandu, sebenarnya apa yang
terjadi?” Tanya Pak Gilang saat mendengar kamar Karin telah tertutup.
Kali ini Pandu menjawab
jujur, “Mereka mengincar Karin, Pak.
Bagaimana bapak bisa tahu aku tadi berbohong?”
“Pandu, aku bukan orang yang
baru mengenalmu. Aku sudah merawatmu sejak kau berumur lima tahun. Tentu aku
menyadari apa yang kau sembunyikan.” Pak Gilang memegang jenggotnya yang
sebagian mulai memutih.
Pandu Terdiam sementara. Pak
gilang juga terlihat sangat khawatir. Sekarang, Pak Gilang merasa bertanggung
jawab atas Pandu dan Karin. Meski hanya untuk sementara.
“Kau memberitahu mereka?”
Pak Gilang mencoba mengetahui lebih dalam.
“Gak, Pak. Gak mungkin aku
membertitahu mereka keberadaan Karin. Aku sudah berjanji pada Pak Can.”
“Hebat, kau masih memikirkan
hal itu. Padahal, nyawamu bisa saja melayang.” Pak Gilang berkata pelan. Tapi
masih dalam jangkauan pendengaran Pandu.
Pandu terkejut mendengar hal
itu. Dia tidak pernah mengira semuanya akan seperti ini. Apa sebenarnya
hubungan orang yang mengincar Karin ini dengan Pak Can. Atau ada hubungannya
dengan Gagak Hitam?
“Bapak tau siapa mereka?”
“Gak juga. Tapi, kalau
menurut perhitunganku, mereka itu dari Gagak Hitam. Karin adalah pewaris
tunggal Lancar Jaya Company. Sementara, proyek pembangunan rumah di pinggiran
itu awalnya merekalah yang mengajukan. Tapi, Pak Chandra berhasil memenangkan
tender dengan jaminan dan perencanaan yang matang. Seakan dia juga sudah
merencanakan pembangunan tempat itu sejak lama. Kontrak pembangunan selama 5 tahun....”
“Dan ini masih beberapa
bulan saja sejak kontrak itu ditandatangani Pak Can.” Potong Pandu.
“Begitulah. Proyek mungkin terhenti sementara.
Mungkin, mereka membutuhkan tanda tangan Karin untuk melanjutkan proyek.”
“Kalau proyek ini berhenti,
apa akibatnya, Pak?”
“Proyek ini adalah proyek
pemerintah tentang pembangunan perumahan dan beberapa minimarket di pinggiran.
Pemerintah berusaha memberikan rumah yang layak untuk mereka dan memberikan
beberapa mata pencaharian untuk mereka. Beberapa bulan ini, penggusuran sudah
dimulai. Mereka diberikan tempat di beberapa motel terdekat. Jika saja proyek
dibatalkan, mereka akan segera terlantar. Biaya penyewaan motel, lahan yang
belum selesai digarap, siapa yang akan bertanggung jawab? Jika terus berlangsung,
masyarakat mulai berdemo.”
“Ribet. Ternyata ada
hubungannya dengan pemerintah.”
“Kasihan Karin. Kalau dia
tahu masalah ini, mungkin dia akan stres. Sebaiknya dia tidak diberitahu dulu
masalah ini.” Pak Gilang beranjak dari kamar Pandu.
“Pak!” Pandu memanggil Pak
Gilang yang baru saja akan menyentuh gagang pintu.”Aku ingin beljar bela diri.
Aku ingin melindungi Karin.”
“Besok, hubungi Surya.
Mungkin dia tahu dimana perguruan yang bagus.”
Besoknya, Pandu memilih
untuk tidak berangkat kuliah. Dia masih belum cukup fit. Sesuai instruksi Pak
Gilang tadi malam, Pandu menghubungi Surya. Dia akan datang nanti siang.
Mungkin Irfan juga akan datang.
Pandu hanya bisa berbaring
saja sekarang. Untungnya, di kamar ada konsol PS3. Dia bisa sedikit terhibur.
Terdengar seperti ada seseorang yang masuk. Pandu langsung melirik jam dinding
diatas kamarnya. Masih jam 11. Dia yakin mungkin itu adalah Irfan. Benar saja.
Irfan langsung masuk ke kamar Pandu seakan itu adalah kamarnya sendiri.
“Sakit apa kau?” Irfan tanpa
basa-basi langsung mendekati Pandu yang berusaha terlihat segar.
“Gak enak menceritakannya,
Fan.” Pandu merubah posisi duduknya.
“Jatuh karna menghindari
kucing?” Ledek Irfan.
“Kupikir aku bakal mati.”
Pandu tidak mempedulikan apa yang dikatakan Irfan.
“Emang kejadiannya
bagaimana?” Irfan masih penasaran.
“Nanti saja aku ceritakan.
Surya mau kesini. Nanti aku cerita sekalian sama dia. Biar gak dua kali cerita
aku.”
“Terserah kau sajalah,
Pandu.” Ungkap Irfan.
Sesaat kemudian, mereka main
game bersama. Pak Gilang melihat mereka sedang bermain. Kelihatannya asyik
sekali. Dia membiarkan kedua remaja itu bermain dengan asiknya. Cukup lama
mereka beramain hingga
akhirnya jam menunjukkan jam 1 siang.
Bel berbunyi. Pandu tahu,
itu pasti Surya. Dia berusaha bangkit dan dibantu oleh Irfan. Dan ternyata, Pak
Gilang sudah mempersilakan Surya untuk masuk dan menuju meja makan. Iya, mereka
ngobrol sambil makan siang.
“Ada apa, Pandu, tiba-tiba
meminta saya untuk kerumah?” Surya masih berbicara dengan formal.
“Tidak begitu, Sur.
Sebenarnya, aku butuh bantuanmu. Aku sangat yakin kau sudah tahu tentang Karin.
Mengingat, kau cukup sering berkunjung ke rumah Pak Chan semasa beliau hidup.”
“Ya, sedikit banyaknya aku
tahu. Pewaris tunggal Lancar Jaya Company.” Surya menghabiskan minumannya.
“Kalian terlalu serius.”
Ungkap Irfan kesal.
“Maaf, Irfan. Saya memang
terbiasa berbicara dengan formal seperti ini.” Surya tersenyum menenangkan.
“Okeh, biarkan aku cerita.”
Pandu membuat suasana menjadi hening. Dia menceritakan semua yang terjadi malam
itu. Sangat lengkap dengan pria misterius yang menolongnya juga. Tapi, dia sama
sekali tidak tahu siapa orang-orang yang mengejarnya itu. “... Karena itu, aku
butuh bantuanmu. Aku butuh latihan bela diri.”
“Kalau kau memintaku untuk
melatih, aku tidak bisa melakukannya, Pandu. Aku mohon maaf.” Surya menundukkan
kepalanya. Seakan ada yang disembunyikannya.
Pandu tertunduk pasrah. Dia
mengeluarkan kalung yang terselip di balik bajunya. Surya melihat Pandu. Dia
mengenali dengan sangat baik kalung itu. Itu sebuah kalung keluarga. Raut wajah
Surya berubah.
“Aku tahu dimana kau bisa
berlatih, Pandu. Percayakan padaku. Setelah kau cukup fit, aku akan membawamu bertemu dengan seorang
pendekar. Aku tidak yakin dia akan mengubahmu menjadi patarung dalam beberapa
hari, tapi aku sangat yakin, kau bisa sedikit melawan orang-orang itu jika
mereka melakukan hal itu lagi.”
“Kau berniat berlatih
sendirian?” Irfan bertanya.
“Maksudku, aku juga akan
mengajakmu.”
“Dan kau pikir aku akan
menerimanya?” Irfan semakin membentak.
“Kalau... kau tidak mau...
tidak... tidak masalah...” Pandu terlihat gugup melihat Irfan yang berdiri di
depannya dengan gagah.
“Tentu saja aku ikut. Teman
macam apa aku jika aku tidak ada saat dibutuhkan?”
“Sialan...” Perkataan Pandu
diikuti tawa mereka bertiga. Pak Gilang mendengarkan mereka dari dapur.
Setelah berdiam diri cukup
lama, Pandu tersadar. Seharusnya Karin sudah pulang dari sekolahnya. Tapi
sekarang, belum ada tanda-tanda dari kehadirannya. “Ada apa, Ndu?” Irfan
melihat kecemasan di wajah Pandu.
“Seharusnya Karin sudah
pulang sekarang.” Kembali Pandu melihat jam dinding. Sudah menunjukkan pukul 2
siang. Belum ada tanda-tanda dari Karin yang akan pulang.
Irfan tidak terlalu mengerti
apa yang dikhawatirkan Pandu. “Sebaiknya kau telepon saja dia,” saran Irfan.
Tanpa basa-basi, Pandu
segera mengambil ponselnya dan menghubungi Karin. Sepertinya ponsel Karin
sedang tidak aktif. Pandu mulai keringat dingin, “Tidak aktif.” Katanya
kemudian.
“Coba hubungi Rachman!”
Saran Irfan lagi.
“Apa yang terjadi?” Tanya
Surya. “Apa mereka menemukan Karin?”
“Itu yang aku khawatirkan.”
Ungkap Pandu.
Untungnya, Rachman
mengangkat panggilan dari Pandu. “Ya, Bang. Ada apa?”
“Hah, Syukurlah. Apa kau
bersama Karin sekarang?” Tanya Pandu tanpa basa-basi.
“Iya. Kami sedang makan
siang. Baru saja selesai.”
“Baguslah. Setelah itu
kalian langsung pulang, kan?”
“Ya. Kami hanya makan siang.
Ada apa bang?”
“Tidak. Pulanglah dulu. Dan
hati-hati.” Pandu menutup panggilan.
Surya menatap ke arah Pandu,
“Kau yakin bisa percaya pada orang itu?”
Pandu menarik nafas panjang,
“Mereka hanya sepasang
kekasih. Aku sudah mencari tahu tentang Racham. Maksudku orang ini. Dan, aku
bisa menjamin dia bersih. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal ini.”