“Waduh, bang Pandu. Aku minta maaf, Bang gak bilang dulu mau bawa Karin.”
Rachman merasa tidak enak dan meminta maaf karena membawa Karin tanpa izin.
Pandu pun menjadi bingung apa yang harus dikatakannya untuk membuat suasana
normal. “Gak, bukan itu masalahnya. Haduh.. Gimana jelasinnya, ya...” Pandu
mengusap-usap keapalanya tanda kebingungan.
Sementara Karin juga sepertinya tidak senang dengan kejadian hari ini.
Sesampainya di rumah, Karin langsung menuju ke kamarnya tanpa basa-basi sama
sekali. Padahal dia sudah melihat disana ada Surya dan Irfan juga.
“Baiklah, sepertinya aku harus pergi sekarang.” Surya bangkit untuk segera
pergi. “Dan nanti malam aku akan datang membawa laporan mingguan.” Lanjut Surya
dan pergi meninggalkan Pandu yang masih kebingungan.
“Aku juga harus beres-beres rumah. Rahmi mengajak teman-temannya datang dan
menginap. Nanti malam aku tidur disini, ya.” Irfan berbicara tanpa bernafas.
Pandu hanya mengangguk. Rachman masih berdiri di depan pandu dengan
ekspresi bersalah. Irfan yang lewat disampingnya berbisik, “Tenang, kau tidak
salah. Ada hal yang sulit dijelaskan.” Kemudian pergi.
“Sebenarnya ada apa bang?” Rachman memberanikan diri bertanya.
Pandu mengajak Rachman masuk. Mereka duduk di ruang tamu. Pandu duduk
gelisah. Tak tahu dia harus mulai dari mana. “Ingin sekali kuceritakan
semuanya. Tapi, aku bingung bagaimana menceritakannya.”
“Versi singkatnya?”
“Karin akan...” Sebelum Pandu menyelesaikan kalimatnya, Pak Gilang datang
membawa minuman dan menggelengkan kepalanya. “... akan baik-baik saja.. Aku
hanya khawatir.” Pandu terpaksa harus menutupi hal itu.
“Iya. Aku ngerti.” Jawaban yang tidak terduga yang keluar dari mulut
Rachman. “Dulu, waktu orang tua Karin masih hidup, dia juga tidak bisa keluar
sembarangan. Dia harus berada di rumah sepulang sekolah.” Rachman tersenyum.
“Senang rasanya masih ada yang peduli pada Karin. Besok, kalau mau bawa karin
lagi, aku izin dulu, bang. Abang tenang aja. Kalau ada apa-apa, secepatnya aku
kabari.” Rachman cukup bijak dalam menanggapi masalah ini.
“Okeh, terimaksih pengertiannya, Man. Untung saja Karin mendapatkan orang
sepertimu. Dia pasti merasa beruntung.” Pandu mulai lega mendengar penjelasan
Rachman. Sekarang tinggal masalah dia dengan Karin yang harus diselesaikan.
“Kalau begitu aku pamit dulu, Bang.” Rachman menjabat tangan Pandu dan
pergi.
“Hati-hati, Man.”
Rachman pergi dengan perasaan lega. Untungnya, Pandu adalah orang yang
ramah. Dan mereka sudah cukup akrab. Yang sangat ditakutkan Rachman adalah jika
saja dia tidak bisa lagi berhubungan dengan karin. Itu akan sangat
mengganggunya. Rachman pergi dengan tenang. Tak ada beban di pikirannya.
Belum jauh dari rumah Karin, dia merasa ada yang mengikutinya. Dilirknya
spion sesekali. Benar saja. Pengendara motor dengan jaket hitam dan helm
fullface mengikutinya dari belakang. Rachman mencoba tenang. Dan melaju seperti
biasa. Namun, setibanya di tempat yang sepi, pengendara motor itu langsung
mengambil kunci motor Rachman dan memaksanya untuk menepi.
“Oke, oke. Sekarang, apa ini?” Kata Rachman sambil mengangkat kedua
tangannya. Menunjukkan dia tidak akan melawan.
Tanpa banyak bicara, orang dengan stelan hitam itu langsung menarik kerah
baju Rachman. “Katakan! Siapa kau sebenarnya?!”
“Maksudmu?”
“Untuk siapa kau bekerja?”
Rachman bingung. Tak tahu apa yang dimaksud orang yang berstelan hitam itu.
“Aku belum bekerja. Aku masih sekolah.”
“Siapa orang tuamu?”
“Ayahku, Brian. Ibuku Santi. Pemilik rumah makan Hidangan Laut.” Rachman
menjawab jujur.
“Apa hubunganmu dengan Pak Chandra? Apa yang kau ketahui tentangnya?”
“Dia orang yang baik. Dia yang membantu kami mendirikan rumah makan.”
Mendengar jawaban itu, orang itu terdiam dan melepaskan Rachman. “Jangan
beritahu apa yang terjadi hari ini pada siapapun.” Kata orang itu. Kemudian,
dia membuka helmnya.
“Kau, orang yang di rumah Pandu tadi?” Rachman terkejut melihatnya.
“Ya, aku manager di perusahaan jasa pengirimannya. Surya.” Katanya
mengurlurkan tangannya.
“Rachman. Kalau ini sebuah lelucon, kau berhasil menakutiku, Bang.” Rachman
mengatur nafasnya.
“Ini bukan lelucon. Kalau kau ada hubungannya dengan gagak hitam, aku pasti
menghajarmu. Dan memaksamu menjauhi Karin dan Pandu. Sekali lagi, aku mohon
maaf atas yang tadi. Dan. Janji, jangan bilang siapa-siapa masalah ini.” Surya
menyerahkan kunci motor itu kembali. “Satu lagi. Hati-hati. Maaf aku tidak bisa
menjelaskan semuanya. Suatu saat nanti kau akan mengerti.”
“Okeh, aku akan bersabar menunggu cerita itu.” Rachman pamit dan pergi.
***
“Rin.” Pandu masih berusaha membujuk Karin keluar dari kamar dan berbicara.
Namun, dari tadi siang, tidak ada tanggapan apapun dari Karin.
“Rin. Maaf aku mengganggu waktumu berduaan tadi. Aku tadi cukup khawatir.
Rin, ayolah. Jangan begini terus...”
Karin membuka pintu kamarnya. “Kalau begitu, berhenti mengganggu
kehidupanku. Terserah aku mau pergi dengan siapa dan sampai kapan. Jangan
pernah mengurusi masalahku. Kecuali nanti aku meminta. Karena kau bukan orang
tuaku. Kau juga bukan saudaraku. Kita tidak pernah saling kenal dan sekarang,
kau mencoba mengatur hidupku.” Katanya membentak Pandu.
Pandu Sempat terdiam beberapa saat. Kemudian megang kedua bahu Karin. “Aku
tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku hanya ingin melindungimu. Selain
mewarisi perusahaan besar, Karin juga mewarisi masalah besar. Aku takut Karin
kenapa-kenapa. Dan aku tidak tahu cara lain. Sekali lagi aku minta maaf telah
mengganggu waktumu.” Pandu langsung berbalik.
Sementara Karin masih terdiam dengan apa yang terjadi. Dia benar-benar
merasa bersalah telah membentak Pandu. Merasa bersalah pada orang yang
menyediakannya rumah saat dia kehilangan. Memberikannya perlindungan setelah
orang tua pergi. Dan kemudian, dia telah berkata kasar pada orang yang
bermaksud baik padanya.
Belum sempat Pandu menuruni tangga, tiba-tiba seluruh listrik padam. Hanya
rumahnya saja. Pandu curiga ini bukan konslet atau pemadaman bergilir. Segera
dia kembali ke kamar Karin. Karin masih dikamar dan gelisah. Kemudian terdengar
suara langkah orang yang melewati tangga.
Pandu bersiap dibalik pintu. Orang itu masuk. Sesaat sebelum Pandu
memukulnya, orang itu berteriak, “Tunggu, ini aku. Irfan. Aku Irfan.” Pandu
menarik nafasnya.
“Ku kira tadi siapa.” Karin berada di belakang Pandu sekarang merasa
ketakutan. “Tenang Rin. Semuanya akan baik-baik saja.”
Kemudian terdengar suara orang yang berteriak dari lantai bawah. “Tidak ada
sambutan sama sekali. Baiklah, langsug saja serahkan gadis itu dan aku akan
segera pergi tanpa ada yang terluka.”
Mereka bertiga terkejut dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Gelap dan
tidak terlihat siapa yang ada disana. Semuanya hanya hitam. Yang terdengar
sekarang hanyalah detak jantung masing-masing. Suasana semakin mencekam.