BAB 10
Pria berjas hitam itu masuk seenaknya ke dalam rumah Pandu. “Bagus sekali.
Sama sekali tidak ada sambutan.” Dia kemudian duduk di atas sofa dan meletakkan
kakinya diatas meja. “Aku tahu kalian ada disini. Serahkan saja gadis itu. Dan
aku berjanji tidak akan ada yang terluka.”
Tidak ada suara yang menanggapinya. Tenang seperti tidak ada satupun orang
di rumah itu. Padahal, Pandu, Irfan dan Karin bersembunyi di lantai atas. Di
kamar Karin. Ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Kalian ingin memaksaku berbuat kasar?” Pria itu berteriak lagi.
“Tidak perlu mengancam.” Terdengar suara lain.
“Pak Gilang. Apa yang dilakukannya disana? Itu sangat berbahaya. Berhadapan
dengan penjahat seperti itu.” Pandu khawatir dengan orang yang sudah
dianggapnya sebagai bagian dari keluarganya itu.
“Pak Gilang mungkin hanya mengulur waktu.” Bisik Irfan.
“Apa mungkin dia sudah menelpon polisi?” Karin bersembunyi di belakang
Pandu.
Pria berjas itu berdiri seakan menyambut kedatangan orang tua yang nekat
itu. “Apa kau sudah bosan hidup orang tua?”
“Aku sudah hidup lebih lama dari yang kau tahu. Dan kalau kau mau percaya,
ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan orang sepertimu.” Pak Gilang
dengan sangat percaya diri berbicara dengan orang itu.
“Kau memang orang tua yang nekat. Apa kau orang tua dari anak muda yang
tinggal di rumah ini?” Pria itu menyiapkan pistolnya.
Dengan sangat tenang, Pak Gilang menjawab, “Kau tidak perlu mengancam untuk
mendapatkan apa yang kau mau. Harusnya, kau bisa gunakan cara yang lebih
halus.”
“Seperti anak kecil yang meminta permen?” Orang itu bergerak perlahan
mendekati Pak Gilang yang tak terlihat gentar sedikit pun.
“Tidak harus seperti itu. Harusnya ada cara lain. Atau kalian memang ingin
membuat berita kalau Karin pewaris tunggal Lancar Jaya diculik?”
“Kau memang bukan orang tua bodoh.” Orang itu mengambil sebatang rokok dan
membakarnya. “Kami akan memaksa mereka menjual tender itu dengan harga murah
kepada PT. Wendigo.”
“Sudah kukira akan seperti itu. Lalu, kau pikir kau akan dengan mudah mendapatkan
Karin?”
“Aku juga tidak suka jika terlalu mudah. Aku suka sedikit tantangan. Dan,
perlahan kau sudah menghabiskan kesabaranku.” Orang itu mengacungkan pistolnya
ke arah Pak Gilang. Pak Gilang tetap tenang seakan tidak ada masalah.
“Jika aku terbunuh, tidak ada cara lain bagimu untuk mendapatkan Karin.
Anak-anak itu sudah kabur sejak percakapan kita.” Pak Gilang terlihat sangat
meyakinkan.
“Hahahahah..... Kau lucu sekali orang tua. Kau mengira aku datang seorang
diri ke tempat ini? Aku bersama 10 orang yang berjaga di luar. Tidak mungkin
mereka bisa kabur dengan mudah.” Pria itu menarik panjang rokoknya.
“Sudah terlambat.” Kata Pak Gilang lagi. Dia berusaha meyakinkan kalau
Pandu dan yang lainnya sudah pergi dari rumah ini.
“Mari kita buktikan.” Pria itu menempelkan pistolnya di kepala Pak Gilang,
“Aku akan hitung sampai tiga, dan jika Kalian tidak menyerahkan gadis itu, ku
jamin, Pria tua ini tidak akan bisa menyiapkan sarapan kalian lagi.” Pria itu
sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar ke seluruh rumah. Namun tidak ada
tanggapan.
“Satu...” Msih tidak tanggapan.
“Pandu, kita harus bagaimana?” Irfan gelisah dan Khawatir.
“Karin lebih baik menyerahkan diri saja.” Katanya terbawa emosi.
“Karin, dengar! Pak Gilang disana. Dia pasti bisa melakukan sesuatu. Dia
selalu begitu. Percayalah. Dia selalu menemukan cara.
“Dua...”
“Keberadaanku disini, hanya untuk menghalangi kalian. Ada atau tidak adanya
aku, akan sama saja bagi mereka. Mereka akan menghancurkanmu.” Pak Gilang
dengan tenang berbicara.
“Diam Kau! Aku tidak peduli ocehanmu...” Pria itu marah besar dipermalukan
seperti itu. “Tiga...” Pria itu menarik pelatuknya.
Dooorrr!!! Suara tembakan itu terdengar sangat jelas.
Pandu menutup mulut Karin yang berusaha teriak. Seluruh tubuh Pandu
bergetar ketakutan. Keringat mulai bercucuran di tubuhnya. Irfan juga tidak
tahu apa yang harus dilakukannya. Intinya, mereka semua sedang merasa dioteror.
Apa yang harus kulakuakn? Pandu berteriak pada dirinya sendiri. Dia berharap ada sesuatu yang bisa
dilakukannya. Sementara untuk kabur, sangat tidak memungkinkan. Diluar,
sedikitnya ada tujuh orang yang bergaja.
“Sialan. Mereka benar-benar tidak ada disini.” Pria itu mengeluh. “Maaf Pak
tua. Kau layak seperti itu. Dan sekarang aku harus berkeliling untuk memastikan
mereka tidak ada disini.” Pria itu menyarungkan kembali Pistolnya.
Di luar, terdengar suara perkelahian. Sepertinya ada seseorang yang
menerobos masuk. Sesaat sebelum Pria itu naik tangga ke lantai dua, seorang
pria berjaket biru terang datang dengan wajah tertutup masker penjahat. Dia
datang dari pintu depan.
“Hei, Fredi. Sepertinya teman-temanmu mengantuk.” Pria berjaket biru itu
masuk dengan gagah. Fredi mengurungkan niatnya
melakuakan penggeledahan.
“Sepertinya akan menyenangkan. Kau mungkin bisa menghilangkan kebosananku.”
Fredi menarik panjang rokok dimulutnya dan mengeluarkan semua asapnya setelah
menariknya. “Walau mereka anak buah yang lemah, tapi setidaknya mereka telah
melakukan tugasnya dengan baik. Aku tahu ketiga anak itu masih berada di rumah
ini.” Fredi berjalan santai ke arah pria berjaket biru itu.
“Aku kira kau sudah puas mengobrol dengan orang tua tadi.”
“Kau akan bernasib sama dengan orang tua itu!” Teriak Fredi sambil berlari
dan mempersiapkan ancang-ancang pukulannya.
Pandu berusaha mengintip apa yang terjadi di lantai bawah. Perlahan, dia
meninggalkan Irfan dan Karin. Saat dilihatnya orang berjaket biru itu,
ingatannya langsung terbang ke malam itu. Saat dia diserang anggota Gagak
Hitam. Aku yakin, itu pasti dia, Pandu meyakinkan diri.
“Hei,” bisik Irfan. “Apa sudah aman?”
Pandu tidak menjawab. Hanya memberi isyarat agar mereka tidak keluar dari
kamar. Pandu menyaksikan sebuah pertarungan. Kali ini sepertinya lebih
menegangkan. Pria berjaket biru itu berkali-kali memberikan pukulan. Dengan
sigap, Fredi berhasil menepis semua pukulan itu. Tapi, dia sama sekali tidak
punya kesempatan menyerang. Kecepatan pukulan pria berjaket biru itu memang
harus diacungi jempol.
“Bodoh, kau tidak akan bisa mencederaiku jika terus begini!” Fredi berusaha
mengganggu konsentrasi lawannya.
“Kau juga takkan pernah menyentuhku jika terus bertahan.” Pria berjaket
biru itu dengan santai menanggapi.
Mereka berhenti sebentar. Mereka sama-sama kehabisan nafas. Fredi menyadari
sesuatu. Pria berjaket biru itu menggunakan masker yang menutupi hidungnya.
Pasti akan sulit baginya bernafas. Sementara dia sendiri tidak menggunakan
apapun di wajahnya. Fredi menunjukkan kalau dia siap melakukannya lagi. Jika
begini terus, dia yakin, pasti bisa menang.
Mereka berlari hampir bersamaan. Saling berhadapan dengan kuda-kuda siap
melepaskan serangan terbaik. Sesaat sebelum mereka beradu, terdengar suara
sirine polisi datang. “Perhatian semuanya! Rumah ini sudah dikepung. Siapapun
yang ada didalam, keluar dengan tangan diatas!” Ucap seorang petugas dengan
toa.
Mata pria berjaket biru itu terlihat sangat bangga. “Sialan! Tujuanmu
bertarung hanya untuk mengulur waktu sampai para polisi datang? Dasar pengecut!” Teriak Fredi sambil melarikan
melalui pintu belakang.
“Kalian sudah aman, kalian bisa keluar saat aku pergi.” Kata pria berjaket
biru itu kemudian menghilang setelah keluar melalui jendela.
“Mari kita keluar. Aku akan melihat Pak Gilang. Kalian, temuilah para
polisi.” Pandu memberikan arahan.
Listrik dirumah mereka kembali menyala. Hanya tiga orang yang tertangkap di
halaman depan rumah. Sepertinya yang lain berhasil kabur. Pak Gilang terbaring
di atas lantai depan TV. Tapi, tidak ada darah. Bagaimana mungkin? Pandu
memeriksa detak jantung
Pak Gilang. Masih hidup. Syukurlah. Pandu melihat sekelilingnya.
Beberapa polisi masuk dan menodongkan pistolnya ke arah Pandu.
“Angkat tangan!” Perintah petugas.
Pandu berbalik. Ternyata polisi itu sudah sangat dekat dengannya. “Pandu?
Kau tidak apa-apa kan?” Petugas itu malah memeluk Pandu.
“Pak Ruslan. Aku tidak apa-apa. Tapi, pak Gilang. Dia pingsan.” Jelas Pandu.
“Keluarlah, biar kami periksa tempat ini.” Pak Ruslan kemudian berjalan
menyusuri seluruh sudut rumah bersama yang lainnya.
Tak lama setelah itu, Pak Gilang tersadar. “Pak Gilang! Teriak Karin
histeris memeluk orang tua itu dengan haru.
“Kukira aku sudah mati.” Katanya dengan tenang.
“Seharusnya kami yang bilang!” Irfan berada disamping Karin.
“Dimana Pandu?” Pak Gilang menyadari ada yang kurang.
“Diluar Pak, sedang bicara dengan polisi. Bapak istirahat aja dulu. Biar
kami yang urus semua.” Pinta Irfan.
“Pak Gilang!” Pandu masuk ke kamar Pak Gilang dan tersenyum melihatnya.
Ruslan ikut dibelakang. “Syukurlah, Bapak sudah sadar.” Pandu duduk
disamping Karin. Petugas Ruslan hanya berdiri dibelakang mereka.
“Pak petugas, mungkin kau ingin mendengar sesuatu dariku. Aku tidak janji
bisa menceritakan semuanya. Aku sudah cukup tua untuk banyak mengingat.” Pak
Gilang menjelaskan keadaanya.
“Penjelasan Pandu sudah cukup. Aku masuk bukan sebagai petugas. Aku juga
masih bagian dari keluarga ini, kan?” Petugas Ruslan tertawa. Dan diikuti oleh yang lainnya.