Jefri mendapat panggilan dari sebuah
sekolah di Galang. Bukan sebagai tenaga pengajar, tapi sebagai tim IT. Sekolah
itu mengaku sering kesulitan mengakses data. Jefri datang untuk membantu. Sekalian
melihat bagaimana anak SMA sekarang. Dia berharap tidak separah di Medan. Bisa
jadi sama saja. Karena Galang tidak terlalu jauh dari Medan.
Jefri langsung menuju ruang guru untuk
melapor. Dia langsung duduk dan memeriksa semuanya. Seperti yang sudah diduga
Jefri, Hard disk yang digunakan sudah terlalu tua dan penyimpanan sudah
terlanjur penuh. Mau tidak mau mereka harus menambah penyimpanan. Jefri
menyarankan membeli sebuah hard disk baru dengan kapasitas yang sangat besar.
Itu disetujui pihak sekolah.
Tiga orang siswa masuk dan melapor ke
kepala sekolah. “Kalian memang sudah kelewatan,” Kepala sekolah itu marah
besar. “Ini bukan pertama kalinya kalian dihukum karena ketahuan merokok di
sekolah. Jangan-jangan kalian juga mengedarkan ganja.” Bentaknya.
“Tidak, Pak.” Jawab salah satu murid. Ketiga
anak itu mendapatkan cap tangan di pipi mereka. Guru yang memergoki perlakuan
mereka memberikan tamparan keras.
“Aku tidak terima ditampar Pak Chandra.”
Kata anak yang lain.
“Ruslan! Kau mendapatkan itu karena sudah
berulang kali melakukan hal yang sama dan selalu tertangkap basah. Kalau kau
tidak suka, kau boleh pindah dari sekolah ini!” Kepala sekolah semakin emosi.
Mereka terdiam sementara. Kemudian, mereka
semua menggerutu. Sementara Jefri sedang memeriksa beberapa hal lagi.
Pembersihan akan berlangsung cukup lama. Dan besok, Jefri akan membelikan Disk
tambahan itu.
“Ruslan, Gilang, Herman! Besok orang tua
kalian harus melapor. Paling lambat lusa. Orang tua kalian harus tahu apa yang
kalian perbuat.” Kepala sekolah memberikan mereka masing-masing surat panggilan
untuk orang tua.
“Bapak tidak takut jika orang tua mereka
malah marah besok?” Tanya Jefri setelah mereka semua keluar.
“Itulah hal yang paling sulit yang harus
kami tangani sekarang ini. Orang tua terlalu memanjakan anaknya.” Kepala
Sekolah itu kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dan menawarkan kepada Jefri.
Jefri mengambil sebatang. “Bisa saja sebagian orang menganggap hal yang wajar
jika merokok sekarang. Tapi, sekolah punya aturan. Aku tak melarang mereka
merokok di rumah. Aku hanya melarang mereka merokok di lingkungan sekolah.”
Lanjutnya.
Jefri menarik panjang
rokoknya.”Akhir-akhir ini sudah banyak berita beredar kalau guru malah
disalahkan karena menghukum muridnya. Apa bapak tidak takut?” Tanya Jefri lagi.
“Aku tidak punya pilihan. Aku disini untuk
mendidik. Aku berharap orang tua ini sadar dengan apa yang dilakukan anaknya.
Bukan untuk memaklumi kenapa mereka harus menerima tamparan itu.”
“Bapak membiarkan saja guru yang menampar
mereka?” Jefri penasaran.
“Sebenarnya, aku tidak setuju jika mereka
ditampar. Tapi, ketika kata-kata tak lagi didengar, apa lagi yang harus kita
lakukan. Itu hal wajar sekarang. Belum lagi keluhan dari para guru tentang anak
didik yang semakin hari kehilangan akhlaknya.”
Sebuah suara muncul dari komputer yang
menandakan scan sudah selesai dan semuanya sudah beres. Hanya tinggal
menambahkan hard disk saja besok. Jefri pun pamit pulang. Jefri berencana
langsung membeli Hard Disk itu dengan uang yang diberikan kapala sekolah
sebelum dia pamit.
…
Keesokan harinya, Jefri kembali ke sekolah
itu untuk memasang Hard Disk dan beberapa hardware lain yang harus dirombak.
Seseorang masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Jefri mengenal orang itu.
Preman setempat. Kalau dilihat, sepertinya dia adalah orang tua dari Gilang.
Kepala Sekolah menyambut kedatangan orang itu dengan sopan. Kemudian
mempersilakan duduk.
“Saya sudah tahu kenapa saya dipanggil,
Pak Tomi.” Kata preman itu berusaha sopan.
“Seperti biasa, kau tidak suka basa-basi,
Heri.” Pak Tomi sang kepala sekolah terlihat sangat akrab dengan preman ini.
“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya mungkin
itu benar adanya. Anakku ternyata sama nakalnya seperti ayahnya dulu.” Pak Heri
mengakui kenakalan anaknya.
Pak Tomi malah tertawa menyambut perkataan
itu. “Tidak ada yang dapat mengubah seorang anak selain orang tuanya sendiri.
Saran saya, jangan terlalu keras padanya di rumah. Sedikit banyaknya, itu
mempengaruhi psikologi anak saat disekolah. Dia akan mencari pelampiasan di
tempat lain. Dalam hal ini, sekolah.”
“Terimakasih sarannya, Pak. Meski sudah
lama lulus, ternyata aku masih banyak belajar dari bapak masalah mendidik anak.
Aku tidak mau dia menjadi sepertiku. Itu kenapa aku keras memperlakukannya.”
Ruangan guru kemudian dikejutkan dengan
seorang yang marah-marah dan mengamuk masuk ke ruang Guru. Jefri yang sedang
memasang membongkar CPU langsung berhenti.
“Mana kepala sekolahya? Apa-apaan anakku
ditampar di sekolah ini. Sekolah macam apa ini?” Teriak orang itu masuk
seenaknya. Kemudian menatap tajam kearah Pak Tomi. Dibelakang orang itu, ada
Herman. Anak yang bersalah kemarin.
“Bapak, silahkan duduk dan kita bicarakan
baik-baik.” Pak Tomi terlihat tenang. Mungkin karena sudah terbiasa dengan hal
seperti ini. Jefri geleng-geleng kepala melihat kejadian itu.
Jefri teringat saat itu, ketika di pondok
Jefri pernah mendapatkan hukuman hingga meninggalkan bekas memar di betisnya.
Karena saat itu masih tsanawiyah, Jefri melaporkan hal itu kepada orang tuanya
saat berkunjung. Meski sudah ada aturan agar tidak pemukulan di pondok, tetap
saja Jefri malah dimarahi orang tuanya. Karena salah itu tetap salah.
“Makanya jangan nakal,” Kata ayah Jefri.
“Jadi anak laki-laki kok cengeng. Kalau salah, ya harus siap dihukum.”
Sejak saat itu, Jefri tidak pernah lagi
melaporkan jenis hukuman apa yang diterimanya saat di pondok. Miris rasanya dia
melihat hal yang seperti ini sekarang. Efek dari aturan ketat yang diterimanya
saat dipondok dahulu, Jefri menjadi terbiasa sholat lima waktu. Terkadang
dengan beberapa sholat Sunnah jika sempat. Yang paling penting adalah mahir
dengan Bahasa asing. Arab dan Inggris pastinya.
“Bagaimana bisa tenang dalam keadaan
seperti ini?” Orang tua Herman masih saja marah dan tidak mau ditenangkan.
Sampai-sampai kepala sekolah terpaksa memanggil satpam untuk menenangkan.
“Saya akan menuntut sekolah ini dan
membuat petisi agar sekolah ini dibubarkan dan guru-guru yang melakukan
kekerasan agar dihukum.!”
Ternyata, kata-kata terakhir ini membuat
panas telinga Heri yang sedari tadi duduk dan menahan diri. Mendengar apa yang
dikatakan orang ini tentang sekolah dan gurunya, dia dengan cepat bangkit dan
menghempaskan orang itu ke dinding. “Sekali lagi kau berkata kasar tentang
guru-guru yang ada di sekolah ini, aku akan benar-benar menghajarmu!” Ancam
Heri.
Satpam yang berbadan kurus itu langsung
melerai mereka berdua. Heri memang tidak mengenal siapa orang yang akan
dihajarnya itu. Dia hanya geram dengan apa yang dikatakan orang itu dan sudah
sampai batasnya. Orang itu hanya terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dia sudah tersudutkan. Yang lebih parah, semua itu disaksikan oleh anaknya.
Herman.
“Anak kita tertangkap basah sedang
merokok, dan kau datang kemari untuk memaki jajaran guru? Dasar orang kaya
bodoh!”
“Sudah Heri, sudah…” Lerai pak Tomi yang
sudah terlihat cukup uzur itu.
Setelah mendengar permasalahan sebenarnya,
Adrian, ayah dari Herman tadi akhirnya mau mengerti dan mengakui kesalahannya.
Dia pun meminta maaf pada semua jajaran guru dan pulang dengan rasa malu. Jelas
sekali Herman tidak menunjukkan surat panggilan itu pada orang tuanya.
Setelah selesai dengan semuanya, Jefri
bertanya pada Kepala Sekolah tentang Pak Heri tadi. “Dia itu dulu adalah
muridku juga,” Jelas Pak Tomi. “Dia juga anak yang nakal. Jauh lebih nakal dari
Gilang, anaknya. Persamaan mereka, mereka tidak pernah melawan guru.”
“Bapak tau sendiri, kan, Pak Heri itu
preman ditempat kita? Terkadang suka malakin orang?” Tanya Jefri.
“Iya, tapi dia itu sangat menghormati para
guru. Dia tidak pernah malakin para guru ataupun tenanga pengajar lainnya. Yang
sering dia mintai uang itu adalah preman dari kampung lain.” Jelas Pak Tomi dan
sepertinya menjadi penutup pembicaraan mereka.
Tanpa kata-kata, Pak Tomi menyerahkan
amplop berisi uang sebagai balasan atas usaha Jefri memperbaiki Komputer utama
sekolah itu. “Aku tidak suka dibayar saat aku merasa tidak melakukan apa-apa,
Pak.” Ucap Jefri berusaha menolak amplop itu.
“Kalau kau terus begitu, orang-orang akan
memanfaatkanmu dan kau tidak akan mendapatkan apa-apa.” Pak Tomi berusaha
merayu agar Jefri mau menerima amplop yang disodorkannya itu.
Jefri hanya pergi meninggalkan Pak Tomi di
kantornya tengah berdiri membisu. “Aku tidak selalu menerima panggilan, Pak.”
Balas Jefri dari jauh agar dia tidak lagi dipaksa menerima amplop itu. Pak Tomi
hanya geleng-geleng kapala melihat Jefri Pergi.
Mari Berbagi Cerita