Hari ini, Jefri bersama Willy
akan pergi ke sebuah mall. Rencananya, mereka akan menemani Rendi belanja
beberapa pakaian untuk persediaannya kelak di Mesir. Rendi bukan ahlinya dalam
memilih pakaian. Begitu pun Jefri. Persaudaraan mereka terlihat sangat jelas
dari beberapa sudut. Salah satunya tentang bagaimana mereka bergaya.
“Ren, aku tidak mengerti
bagaimana pakaian yang kamu mau.” Keluh Jefri saat akan pergi.
“Hei, aku tidak minta yang bagus.
Setidaknya, saat aku nanti mencoba, ada temanku yang langsung menilai. Apakah
pakaian yang kupakai nanti norak atau tidak.” Rendi masih memaksa Jefri untuk
ikut.
“Ayolah, Jef. Kamu terlalu senang
mengurung diri.” Willy ikut merayu. “Sesekali mari kita lihat dunia sekeliling
kita.” Katanya.
“Aku, aku tidak nyaman di
keramaian.” Jefri mengaku.
Rendi tertawa dan diikuti Willy.
Entah bagaimana, terkadang kejujuran adalah sebuah lelucon. Jefri berkata
jujur, tapi, Willy dan Rendi menganggap itu hanya lelucon. Sejatinya, Jefri
berharap perasaan tidak nyaman di keramaian itu hanya imajinasi saja. Tapi
dengan sangat terpaksa dia harus mengakui, itu nyata.
“Ok, ok, Aku ikut!” Dengan kesal,
Jefri terpaksa untuk ikut.
“Gitu dong, kalau dari tadi sudah
ok, takkan terjadi hal seperti ini.” Willy dengan santai mengatakan itu.
“Wil, kau ikut sama Jefri aja ya.
Biar aku sendiri.” Rendi mengusulkan.
Willy setuju. Mereka berangkat ke
sebuah mall besar. Yang ternyata juga tidak seburuk perkiraan Jefri. Setiap
kali melewati toko elektronik, Jefri selalu menoleh. Berbeda dengan Willy. Dia
sibuk memperhatikan gadis-gadis tanggung yang juga sedang belanja. Mungkin
sekalian cuci mata. Rendi sibuk melihat-lihat pakaian yang menurutnya cukup
baik.
Jefri yang tak pernah
memperlihatkan ekspresi, menatap semuanya dengan datar. Seakan tak ada yang
menarik. Ingin sekali dia berada di sebuah toko elektronik. Sekedar untuk
melihat-lihat barang terbaru. Mungkin saja, nanti bisa memberikan referensi
kepada pelanggannya di toko tempatnya bekerja.
“Ren, bisa kau membeli dengan
cepat?” Jefri berbisik, “Aku mulai tidak nyaman.” Jefri tak ingin membuat
saudaranya merasa canggung. Itulah kenapa dia memilih berbisik-bisik agar Willy
juga tidak terganggu saat sedang melirik ke kanan dan ke kiri.
“Jef, aku belum mendapatkan yang
aku mau. Ku harap kau bisa bersabar.” Pinta Rendi pelan.
Jefri bertahan. Ketidak nyamanan
itu mulai muncul. Saat orang lain lewat di dekatnya, dia merasa orang itu terus
memperhatikannya. Ketika melihat orang lain, orang lain itu juga terlihat
seakan sedang memperhatikannya. Jefri berjalan mendekati Willy yang
berpura-pura memilih baju. Padahal berniat untuk melirik beberapa ABG tanggung.
“Hei, kenapa kau tidak bisa
berhenti mengganggu mereka?” Tanya Jefri kepada Willy.
“Aku tidak tahu, Jef. Aku hanya
merasa ini menyenangkan. Beruntungnya,
aku masih jomblo. Aku tidak perlu takut ada yang marah.” Willy nyengir.
Setelah dirasa cukup, Rendi
mengajak kedua orang itu untuk makan. Jelas saja makanan di tempat itu harganya
cukup mahal. Rendi yang sedang mempunyai banyak uang, tidak takut saat mengajak
mereka makan. Awalya, Rendi sempat bertanya, diamana makanan yang enak. Tidak
ada jawaban yang pasti. Karena mereka memilki selera yang berbeda. Mereka
akhirnya memilih di sebuah tempat yang cukup ramai. Dengan perinsip, jika
ramai, berarti enak.
Tak banyak yang diperbincangkan
saat makan. Mereka seperti saling diam. Diam menikmati makanan mereka
masing-masing. Jefri lagi-lagi merasa gelisah dan tidak nyaman. Padahal, mereka
telah memilih tempat yang sepi. Meski dengan ramainya pelanggan, mereka
berhasil menemukan tempat yang sepi. Cukup lama mereka saling diam hingga
akhirnya mereka selesai makan.
Dengan santai, Jefri mengambil
rokok dan meletakkannya di meja. Rokok pun terbakar tepat di depan hidungnya.
Entah bagaimana, perasaan tidak nyaman itu menghilang. Jefri sekarang merasa
lebih nyaman. Barulah dia bisa menikmati mall ini.
Sebelum mereka beranjak pulang,
Jefri meminta izin ke kamar mandi dulu. Untungnya, tak perlu berlama-lama
berada di kamar mandi. Saat keluar, Jefri melihat Rendi dan Willy sedang berbicara
dengan sepasang kekasih. Jefri seperti mengenal gadis itu. Dengan santai dan
tanpa ekspresi, Jefri mendatangi mereka. Semakin dekat, dan Jefri pun menyadari
itu adalah Dhilla. Gadis yang sama yang disukainya. Dia pun mengerti kalau
Dhilla juga memiliki rasa yang sama terhadapnya. Sebenarnya, Jefri sudah tidak
ingin lagi melangkah lebih maju. Tapi, Rendi dan Willy tidak melihat
keberadaannya. Terpaksalah dia mendatangi mereka yang sedang asik berbicara.
“Oh, ini dia Jefri.” Rendi
menunjuk Jefri. Sebenarnya, itu dilakukan dengan tanpa sengaja.
“Hei, ada apa?” Jefri masih
pura-pura santai.
“Jefri? Kenapa kamu disini?”
Dhilla yang terheran-heran tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Menemani Rendi belanja.”
Jawabnya santai.
Rendi memberi isyarat agar Willy
tidak bicara dulu sekarang. Mereka cukup jadi penonton acara reality show ini
secara langsung. Mereka berdua terlihat tegang. Cowok yang badannya cukup besar
itu, sepertinya menaruh rasa curiga. Seakan, Dhilla dan Jefri punya hubungan.
“Bang, Kenalin, ini Jefri. Teman
kuliahku.” Kata Dhilla kepada Cowok yang bertubuh tegap itu.
Entah kenapa, kata’teman kuliah’
kali ini terdengar sangat menyakitkan. Padahal, sebelumnya mereka saling
mengenalkan dengan cara yang sama. Karena sejatinya, mereka tidak punya
hubungan apa-apa.
“Aku Robi. Pacarnya Dhilla.” Kata
cowok itu tegas.
“Jefri.” Jawab Jefri datar.
Kali ini, diamnya Jefri menyimpan
ribuan rasa sakit yang belum pernah dirasakannya. Jefri berusaha terlihat
tenang tanpa masalah. Rendi mengerti itu sangat sakit rasanya. Sedangkan Willy,
tidak mengerti arti ekspresi datar Jefri hari itu. Dia menganggap itu sama saja
seperti hari-hari biasanya.
Rendi meminta Willy yang membawa
motornya. Sementara, dia membawa Vixion Jefri dan Jefri dibonceng dibelakang. Sampai
di rumah, willy memutuskan untuk langsung pulang. Kebetulan, ada hal yang harus
dilakukannya. Sementara Rendi masih melihat-lihat pakaian dan beberapa barang
lain yang dibelinya.
Jefri, masuk ke kamar. Terdengar
sangat aneh saat dia menutup pintunya. Seperti ada rasa kesal yang
dilampiaskan. Rendi mencoba masuk ke kamarnya. Sialnya, Jefri mengunci
kamarnya. “Jika kau sudah tenang, kau bisa keluar dan ceritakan semuanya
padaku, Jef. Mungkin tidak membantu. Tapi, semoga membuatmu lebih baik.” Teriak
Rendi.
Benar saja dugaan Rendi. Jefri
meneteskan air mata yang tertahan sejak di mall tadi. Dia tidak menyangka,
nasib telah mempertemukannya dengan takdir yang tidak diinginkannya. Tapi,
kenapa harus terjadi sekarang. Bahkan sebelum Jefri sempat menyatakan cintanya
kepada Dhilla.
Jefri yang duduk di depan pintu,
memandang ke langit-langit kamarnya. Masih dengan air mata yang mengalir deras.
Tubuhnya bergetar karena menahan tangisnya agar tidak meledak. Jefri memang
orang yang hebat dalam berbagai bidang. Tapi untuk masalah hati, ternyata dia
bisa kalah juga. Dalam dunia game, hampir semua gamer mengenalnya. Dalam dunia
IT, dialah yang telah mengharumkan nama kampusnya. Ternyata kelemahannya adalah
cinta.
Terlihat kembali saat dia pertama
kali bertemu Dhilla di kursusnya. Bagaimana Dhilla menceritakan setiap masalah
yang dimilikinya. Pengakuan Dhilla akan ketertarikannya di taman. Orang pertama
yang dikabarkan Dhilla saat mendapatkan kesulitan adalah Jefri. Dan orang
pertama yang selalu membantu Dhilla adalah Jefri. Memory itu terus berputar
seakan sedang tertawa dan membuat Jefri semakin menderita.
Nada dering Gadgetnya menyala
sangat nyaring. Paggilan dari Dhilla. Jefri mengabaikannya. Dia merasa sangat
kacau. Meski tanpa Ekspresi, bukan berarti tidak punya hati. Tiga kali
berdering, dan akhirnya nada itu tidak lagi menyala. Sepertinya Dhilla
menyerah. Kemudian, terdengar nada SMS. Jefri yakin itu dari Dhilla. Jefri
sedang tidak peduli akan hal itu. Dia biarkan semuanya terjadi.
Jefri terbangun. Keadaan sangat gelap
dan sepi. Dengan cepat, Jefri mengambil gadgetnya di kantong. Dia tidak
menemukan gadgetnya di sana. Matanya terasa sakit. Dia meraba-raba seluruh
dinding untuk mencari saklar lampu.
‘klik!’
Dia berhasil menemukannya. Dia
melihat gadgetnya terbaring dekat dengan tempatnya terbaring tadi. Ada SMS dari
Dhilla. Dengan berat hati, dia membuka dan membacanya.
Jefri, maaf aku tidak pernah
cerita dengan apa yang terjadi. Maaf kalau aku sudah membuatmu merasa nyaman
dan kemudian aku tinggalkan. Bukan kemauanku juga meninggalkanmu. Aku juga
sudah merasa nyaman bersamamu. Ini adalah pilihan orang tuaku. Menjodohkanku
dengan anak dari teman bisnisnya.
Bukan aku ingin menghianati
hatiku, Tapi, kenyataan tak bisa kuhindari. Aku tahu kau menangis, karena aku
juga menangis setiap kali aku mengingatmu. Aku tak tau harus berbuat apalagi,
Jef. Aku bahkan pernah berniat mengakhiri hidup. Tapi, aku yakin, kau akan
membenciku jika aku melakukan itu. Itulah kenapa aku masih bertahan hidup. Kau
adalah alasanku untuk hidup. Sepertinya takdir tidak setuju kalau kita bersama.
Jefri, maafkan aku.
Jefri membacanya berkali-kali.
Seakan dia tidak percaya dengan apa yang dibacanya. Tapi perlahan, dia mulai
menguasai keadaan. Sekarang dia sudah bisa bernafas lega. Menerima apa yang
terjadi. Dia melihat jam tangan. Sudah pukul 11.46. Dilihatnya ke ruang tamu
dan Rendi sudah tertidur di sofa dengan tv menyala.
Aku
akan bicara langsung dengan Dhilla besok, tekadnya malam itu. Meski masih
menyimpan rasa sakit, Jefri belajar menerima kenyataan pahit. Yang pasti, malam
ini akan menjadi malam kegalauan yang panjang. Jefri sendirian malam itu. Hanya
akan ditemani sebungkus rokok yang akan menyala sepanjang malam.