Seorang anak kecil sedang
menikmati hari-harinya seperti biasa. Berlari bersama teman-teman kecilnya yang
lain. Yang mereka mengerti dalam hidup ini adalah bermain bersama. Mereka belum
menemukan masalah yang sering dirasakan remaja sekarang. Tawa seorang anak
kecil tetaplah sebuah tawa yang ikhlas. Bukan karena dibuat-buat atau terpaksa.
Sang ayah yang baru saja pulang
dari kantornya, langsung disambut hangat oleh sang ibu. Mereka keluarga yang
harmonis. Mereka baru saja selesai membayar cicilan rumah. Dan hanya tinggal
cicilan mobil yang menanti untuk dilunasi. Merka sangat berharap semuanya
baik-baik saja.
Mereka tinggal di sebuah kota
yang damai dan asri. Seakan kota ini adalah kota tanpa masalah. Beruntung mereka
memiliki tetangga yang ramah dan hampir sebaya. Hingga anak mereka bisa
memiliki teman bermain yang sama. Untungnya, anak-anak itu tidak terlalu
mengenal gadget canggih seperti kebanyakan anak-anak zaman sekarang. Itulah yang
membuat mereka bermain bersama. Tertawa meski tanpa gadget. Bahagia meski tanpa
sambungan internet.
“Mana Bayu, mah?” Tanya sang ayah
kepada istri tercintanya.
Sang ibu hanya menunjuk ke arah
anaknya yang sedang berlari mengejar temannya. Setelah menyadari ayahnya
pulang, dia pun berlari ke arah ayahnya. Sang ayah langsung menyambut anaknya
dengan mengangkatnya ke atas.
“Ini dia jagoan ayah.” Teriak
sang ayah sambil melemparkan anaknya dengan lembut ke udara dan menangkapnya
lagi. Si anak terlihat sangat senang.
Bayu, kemudian bercerita tentang
apa yang dimainkannya bersama teman-temannya. Sang ayah menanggapinya dengan
meyakinkan. Setelah itu, sang anak kembali bermain bersama temannya. Sang ayah
pun masuk ke rumah ditemani istrinya.
Malam setelah meninabobokan Bayu,
ibu menemani ayah menonton tv. Mereka saling bertukar cerita. Si ayah bercerita
tentang pekerjaannya di kantor. Dan ibu bercerita perkembangan anaknya.
“Mah, besok salah satu PT akan
melakukan pembukaan lahan.” Kata sang ayah, “Aku berharap agar mereka tidak berbuat
curang. Tidak lagi membakar hutan itu.”
“Iya, Yah.” Sang ibu ternyata
juga sudah tahu kabar itu, “Aku takut mereka akan berbuat curang juga.”
“Manusia sulit diprediksi. Kita tak
pernah tahu apa yang akan mereka lakukan. Sekarang memang mereka berkata tidak
akan melakukan kecurangan. Bisa saja nantinya mereka tetap melakukan
kecurangan.” Kekhawatiran sang ayah semakin menjadi-jadi.
Wajar saja, mereka yang sudah
memiliki anak akan sangat khawatir dengan kesehatan sang anak. Anak mereka yang
baru berumur 5 tahun, mungkin akan sulit bertahan dalam kepungan asap yang
diakibatkan pembakaran hutan itu.
***
Sudah hampir sebulan penuh,
matahari enggan menunjukkan dirinya. Bayu yang dirawat di rumah sakit, kali ini
hanya bisa bernafas melalui tabung oksigen dari rumah sakit. Sang ayah yang
baru saja selesai bekerja langsung menuju ke ruangan ananknya.
“Pak, Rizky. Mohon kemari
sebentar.” Kata seorang perawat kepada sang ayah.
“Ada apa, Sus?” Tanya Pak Rizky
yang mendatangi suster itu diluar kamar. Ternyata, disana juga sudah ada dokter
yang berdiri dengan gagahnya. Tapi, dari matanya, terlihat sangat lelah. Dokter
dan suster itu sedang memakai masker. Mungkin untuk mencegah penyakit ISPA yang
sedang melanda kota ini. Karena asap, tak kunjung pergi. Enggan untuk
meninggalkan mereka.
“Begini, Pak Rizky,” Sang dokter
angkat bicara, “kami mulai kehabisan stok tabung oksigen. Sedangkan dari pusat,
katanya juga masih belum bisa mendapatkan oksigen yang baru. Saya khawatir,
sebelum asap ini menghilang, anak Bapak belum bisa disembuhkan dan tabing
oksigennya habis.”
“Saya mohon dengan sangat, Dok,”
Pak Rizky memelas, “Berapapun akan saya bayar, Dok. Mohon dibantu kesembuhan
anak saya, Dok. Dia adalah satu-satunya anak kami, Dok. Tolonglah!” Pak Rizky
terus mengiba.
“Pak Rizky, mohon anda mengerti,”
Sang Dokter memegang bahu Pak Rizky. Berharapa bisa menguatkan kembali orang
yang sedang dipegangnya ini. “Saya, adalah seorang Dokter. Saya tidak akan
menaikkan tarif oksigen. Harganya akan tetap seperti harga biasa. Saya dan para
perawat disini akan berusaha sebaik-baiknya. Tapi, jika kami sudah tidak mampu
lagi berbuat apa-apa, kami akan segera merujuk ke rumah sakit yang memiliki
fasilitas lebih memadai.” Jelas sang Dokter. “Kami dari pihak rumah sakit juga
tidak bisa memastikan kapan akan mendapatkan pasokan oksigen lagi.”
“Saya mohon, Dok, lakukanlah yang
terbaik. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana.”
“Saya tidak akan melepaskan anda
begitu saja, Pak. Saya hanya ingin memeberi tahu anda sebelum terlambat. Sampai
saat ini, kami masih terus berusaha mencari pasokan oksigen.”
Akhirnya, Pak Rizky setuju dengan
usul sang Dokter. Mereka akan pindah ke rumah sakit yang lebih mewah jika saja
dalam minggu ini pihak rumah sakit tidak mampu menemukan pasokan oksigen yang
cukup. Sang anak terbangun dari tidurnya. Masih dengan selang oksigen di
hidungnya.
“Ayah. Ibu.” Panggilnya. “Kapan
aku bisa main lagi? Aku ingin main lagi. Berlari bersama teman-teman lagi.”
Kata Bayu.
Sang ibu menahan air matanya. Sang
ayah hanya tersenyum di dekatnya. Sambil membelai kepala anak pertamanya itu.
Asap masih menutupi langit biru yang indah. Cahaya matahari seakan tidak
menyentuh tanah. Asap, yang sampai sekarang menjadi masalah kita bersama,
sampai kapan akan terus begini.
Anak-anak akan sulit sekolah.
Orang dewasa sekali pun akan kesulitan saat bepergian untuk bekerja. Padahal,
sinar matahari juga sangat dibutuhkan tubuh ini. Manusia juga sepreti tumbuhan.
Akan layu tanpa sinar matahari. Siapapun yang telah membakar hutan dan
menyebabkan kebakaran, adalah yang paling layak untuk bertanggung jawab.
“Sabarlah, Nak.” Kata sang ayah
menenangkan anaknya. Kemudian sang anak terbatuk berkali-kali.
“Jika asapnya hilang, kamu bisa
main lagi.” Kata sang ibu dengan tersenyum.