Namanya, Fachri. Aku dan Fachri
adalah santri sebuah pondok modern. Selama enam tahun kami menghadapi berbagai
gelombang kehidupan santri. Sakit, nikmat, suka dan duka semuanya telah kami
rasakan bersama.
Aku dan Fachri berencana untuk
melanjutkan study ke Mesir. Negerinya para nabi. Setelah kami sampai dan
merasakan kehidupan di Mesir, barulah kami mengerti kenapa Mesir disebut
sebagai Negeri para Nabi. Salah satunya, karena memang penduduknya yang keras
kepala. Meski tidak sedikit dari mereka yang sangat hebat keilmuannya.
Dua tahun kami disana, dan
bersama kami masih berada di tingkatan yang sama dalam kuliah. Kenyamanan
sosial berhasil membuat kami lalai dari kuliah. Banyak hal yang kami abaikan.
Hingga kami sama-sama bertekad untuk bisa lebih baik tahun selanjutnya.
Beruntungnya, aku berhasil
melewati ujian tingkat satu setelah dua kali gagal tanpa meninggalkan satu mata
kuliah pun. Fachri yang nasibnya di ujung tanduk, berhasil melewatinya dengan
membawa dua mata kuliah. Jika dia gagal pada satu mata kuliah lagi, maka dia
harus rela di-DO dari kampus.
“Aku terlalu senang bermain
dengan kesibukan yang lain. Aku belum bisa menahan diri dan belum bisa mengatur
waktu.” Katanya suatu ketika.
“Jangan kira aku bisa melewati
ini karena aku hebat dalam manajemen waktu dan mengatur diri, kita hampir
berada pada kesibukan yang sama. Tapi lihat hal yang lainnya, kau lebih hebat
dalam menangani keorganisasian. Aku tidak bisa apa-apa akan hal itu.” Kataku
sedikit menghibur. Aku berusaha agar dia tidak merasa canggung.
“Apa gunanya, Fan? Tetap saja,
ijazahlah yang lebih kita butuhkan. Sedangkan pengalaman, hanya sebagai
pelengkap.” Katanya dengan penuh kekesalan.
Sepertinya kali ini aku harus
diam. Dia serius dengn apa yang dikatakannya.
“Irfan,” panggilnya dengan nada
serius. “Kita sudah bersama hampir satu dekade. Sampai sekarang ini, kita sudah
saling mengerti satu sama lain. Bagaimanapun nanti, jika saja aku terlena
dengan hal yang akan menghambatku kuliah, mohon ingatkan aku.” Pintanya tulus.
Aku yang sedang menghadapnya pun
terdiam sesaat. Kali ini dia benar-benar serius. Jarang sekali dia seperti ini.
Fachri, yang kukenal suka menulis ini, hanya beberapa kali saja pernah melakukan
hal ini. Aku memintanya agar kami saling mengingatkan satu sama lain.
Seiring berjalannya waktu, adik
kelas kami pun datang dan semakin banyak jumlahnya. Tak sedikit dari mereka
lebih baik prestasi akademisnya dari pada kami berdua. Kerap kali kami
menunjukkan kepada mereka orang yang harus mereka contoh. Terkadang, kehadiran
mereka membantu kami menemukan semangat yang sering hilang. Karena tak ingin
mereka mengikuti kami yang sering lalai, kami pun terpaksa belajar dengan
serius. Setidaknya, bisa menjawab beberapa persoalan yang ditanyakan mereka.
Atau mungkin bisa menjadi teman diskusi buat mereka.
Fachri dan aku sepakat untuk
meninggalkan dunia keorganisasian dan bisnis yang mengganggu kenyamanan kuliah.
Kami mencoba fokus dengan kuliah. Bersama kami saling mengingatkan. Selama
setahun penuh, kami seperti hilang dari peredaran bisnis dan organisasi.
Ketenaran nama kami sebagai organistoris perlahan mulai tergantikan dengan
kader baru yang lebih baik.
Berbagai macam persoalan kami
hadapi selama setahun ini. Dengan tekad yang membara, kami telah berhasil
melewatinya. Berbagai godaan, berhasil kami hadapi. Semuanya karena kami saling
mengingatkan satu sama lain. Dan pada tahun ini, Fachri mendapatkan kesempatan
untuk pulang ke tanah air.
“Fan, aku diminta untuk pulang
musim panas ini.” Katanya saat sedang asyik bermain laptop di sudut kamar. Jauh
sebelum ujian akhir tahun, biasanya akan ada tawaran pulang. Apalagi ketika
melihat daftar harga tiket promo. Itu sangat menggiurkan.
“Kau harus punya banyak
persiapan, Ri.” Saranku. Beruntungnya, saat ini kami hanya berdua di kamar.
Biasanya, teman-teman dan junior kami selalu datang dan berkunjung di tempat
ini. Terutama yang sering berkunjung adalah Fadli. Saat dia tidak ada, aku dan
Fachri jadi bisa lebih serius untuk saling berbagi.
“Salah satu yang akan
kutinggalkan disini, laptopku.” Katanya serius.
“Bagh! Serius kau itu?” Kataku
kaget mendengarnya. Aku yang juga sedang menikmati layar laptopku di sudut yang
lain jadi serius mendengarkan.
“Iya. Rencana aku, nanti aku mau
beli laptop baru. Mungkin ini nanti bisa dipakai Fadli. Sepertinya dia butuh
juga yang seperti ini.” Fachri dan aku memang memiliki sebuah kebiasaan yang
nyaris serupa. Tidak suka menjual barang pribadi.
“Aku tidak yakin kau bisa
bertahan cukup lama tanpa laptopmu.” Kataku menguji.
“Kita lihat saja nanti.” Katanya.
***
Ujian berlalu. Seminggu setelah
ujian, Fachri pun terbang ke tanah air. Aku tak merasakan hal yang aneh dengan
kepergiannya. Tapi, hal yang harus aku akui adalah, Fachri benar-benar
meninggalkan laptopnya. Bahkan, dia sempat memberikan topi kesayangannya kepada
Fadli. Kali ini, sepertinya Fadli yang akan menggantikan posisi Fachri di
kamarku. Sangat asing rasanya jika dia tidak ada.
Pengumuman hasil ujian masih
harus menunggu beberapa minggu lagi. Fachri yang sudah tidak sabar menunggu
hasil, terus menerus menanyakan kabar pengumuman. Jarak Indonesia ke Mesir
memang sangat jauh. Tapi, media sosial berhasil membuatnya dekat. Jika ingin
berkomunikasi, hanya sejauh tangan meraih. Dunia seperti ada dalam genggaman.
Fadli yang mulai belajar menulis,
terus-terusan bertanya padaku tentang karya tulisnya. Apakah cukup menarik
untuk dibaca, atau ada kekurangan disana sini. Tentu saja, tidak ada karya yang
sempurna. Perlahan tapi pasti, Fadli sudah mulai menemukan karakter
kepenulisannya. Lebih cepat dari pada Fachri saat memulai menulis dulu. Bahkan
Fachri tidak mengerti apa gunanya tanda kutip dalam sebuah tulisan. Dengan
kemauan dan semangat yang gigih, dia akhirnya bisa dikenal. Tidak hanya dalam
menulis, dia bahkan mengerti bagaimana mengoperasikan beberapa aplikasi lain.
Dia sering diminta menjadi sekretaris dalam setiap acara. Proposal,
surat-menyurat, desain grafis dan yang lainnya, bisa dikerjakannya sendiri
dalam waktu dua hari. Bahkan, data yang dibuatnya sangat lengkap. Itulah
mengapa orang-orang menyebutnya sebagai “Sang Legenda” dalam hal
kesekretariatan.
Pengumuman hasil ujian sudah
keluar, aku segera turun dari rumah dan menuju kampus. Langsung saja aku ikut
beradu tubuh dengan orang-orang lain yang juga ingin melihat langsung nilai
kelulusan mereka. Bersyukurnya, aku lulus ke tingkat selanjutnya dengan
kriteria Jayyid/Baik. Segera aku teringat Facri.
Setelah susah payah mencari,
akhirnya aku menemukan. Namanya tertulis paling akhir. Kutarik jariku untuk
memastikan nilai yang didapatnya. Aku kaget. Dia berhasi lulus ke tahap
selanjutnya dengan nilai Jayyid Jiddan/Baik sekali. Aku tidak menyangka dia
bisa mendapatkan nilai lebih baik. Dilihat dari usahanya, memang layak
mendapatkannya. Dia berhasil menjauhkan diri dari dunia politik dan bisnis
mahasiswa yang telah dilakoninya selama kurang lebih dua tahun setengah.
Konsentrasinya berpindah ke buku.
Membaca dan membaca. Kemudian menulis. Beberapa cerita yang dituliskannya, aku
baca. Tapi, tidak seluruh ceritanya aku ikuti. Hanya beberapa saja.
Aku berhasil mengambil gambar
nilai kelulusannya. Dengan semangat, aku kembali ke rumah. Langsung aku
nyalakan laptopku. Selama perjalanan, aku sudah menghubunginya dengan BBM.
Belum ada tanggapan. Aku berpikir, mungkin dia sedang sibuk.
Kuputuskan untuk mempostingnya di
Facebook. Agar teman-teman yang lain juga tahu apa yang diraihnya. Selama ini,
status-statusnya adalah apa yang didapatkannya dari bacaannya. Setiap masalah
yang dituliskannya, berhasil mengundang puluhan like. Cara dia menerjemahkan,
menurutku sangat layak diacungi jempol. Sayangnya, dia memang berkomitmen untuk
meninggalkan dunia bisnis dan kerja untuk sementara. Jika tidak, mungkin dia
bisa menjadi penerjemah yang handal.
Sampai di rumah, dengan
tergesa-gesa aku membuka laptopku dan menyalakannya. Setelah login Facebook,
kulihat ada pemberitahuan penting di group alumni pondokku. Kiriman dari
Kelvin. Entah kenapa, aku malah deg-degan. Kubuka pengumuman itu.
Innalillahi
wa inna ilaihiroji’uun.
Telah
meninggal saudara kandung saya dan saudara kita semua, Fachri Kurniawan
dikarenakan kecelakaan mobil. Saudaraku meninggal setelah sempat dirawat di
Rumah Sakit Grand Medistera, Lubuk Pakam. Diperkirakan, meninggal pada pukul
23.53 WIB.
Kronologinya,
Saudaraku sedang dalam perjalanan menuju Medan. Di daerah Pakam, tiba-tiba
muncul truk yang melaju kencang datang dari arah sebaliknya. Tabrakan tidak
terhindarkan. Saudaraku yang duduk disamping sopir, menjadi salah satu korban
dalam kecelakaan itu.
Mohon
doa dari saudara-saudara satu pondok untuk mendoakannya. Semoga amal ibadahnya
diterima di sisi Allah, dan diampuni segala dosa-dosanya.
Waktu terasa berhenti saat aku
membacanya. Jantungku berdegup cukup kencang. Tubuhku terkulai lemah. Seorang
sahabat, setelah satu dekade lamanya kami bersama, sekarang dia harus pergi
dengan cara yang tidak aku duga. Dia yang sangat ingin melihat nilai terbaik
saat ujiannya, ternyata tidak kesampaian. Begitu pahit rasanya kehilangan. Aku
masih kehilangan sahabat, dan aku shock hebat. Aku langsung menghubungi
adiknya, Kelvin. Masih terdengar nada kesedihan dari suaranya. Dan dia
membenarkan apa yang kubaca di Facebook.
Dengan suara lirih aku berkata
dalam hati, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun.” Masih dengan Shock berat,
aku memberitahukan itu kepada teman-teman serumah khususnya pada teman sealumni
dan sepondok. Dengan Shock yang kualami, aku memilih untuk berada di kamar
beberapa saat.
***
Aku tersadar dan aku sedang
berada di halaman kampus. Suasana terasa sangat berbeda. Kulihat disana ada
seseorang yang sedang melihat pengumuman ujian. Tepat ditempat aku melihat
hasil ujian tadi. Gaya berpakaian dan topi khas itu tidak dapat kulupakan. Ya,
itu adalah Fachri. Aku mendatanginya.
“Jayyid Jiddan. Tak kusangka,
bahkan aku dipanggil sebelum aku mengetahuinya.” Tentu saja aku kaget
mendengarnya. Seakan dia menyadari kedatanganku. Awalnya aku bingung. Kemudian
aku ingat dengan kiriman adiknya di Facebook tadi.
“Fachri, bukannya kau...” Aku
terbata-bata dan hampir tidak bisa melanjutkan perkataanku.
“Ya. Informasi yang kau dapat itu
benar. Tak usah kau tanyakan. Aku ke sini karena ada hal yang ingin
kusampaikan.” Aku terdiam mendengarkan. Dia membalik badannya dan melihat
kearahku. Sebagian wajahnya tertutupi topi. Dia masih sama seperti yang kulihat
terakhir kali. Gaya senyumnya yang menenagkan, masih tergambar di wajahnya.
“Aku ingin, kau menonaktifkan semua akun yang aku punya. Mungkin seminggu
setelah ini. Cuma kau yang mengerti bagaimana aku membuat sandi disetiap email
dan akun. Datanya masih ada di laptop.” Dia berjalan melewatiku yang masih
terdiam tidak menyangka.
Dari bayangannya, aku melihat dia
melepas topinya dan menyangkutkan topi pada sebuah dahan pohon taman kampus.
Aku membalik tubuhku. Aku masih tidak percaya dengan yang kulihat.
“Aku tidak punya banyak waktu.
Aku harus pergi sekarang.” Katanya tanpa melihatku. Aku tidak tahu kenapa. Aku
merasa, dia pergi dengan senyum. Kemudian, dia menghilang di keramaian.
Aku merasa semuanya menjadi
gelap. Saat tersadar, tubuhku bermandikan keringat. Aku tertidur di kasurku.
Mataku terasa sembab. Kurasa aku menangis. Tapi, entahlah. Aku teringat dengan
mimpiku tadi. Kulihat kembali Facebook dan kubuka beranda Fachri. Banyak ucapan
doa dari kerabat dan teman-teman lainnya. Sepertinya benar. Fachri sudah tiada.
Dan aku mulai bisa menerima. Pada akhirnya, kita semua akan pergi meninggalkan
dunia ini. Kenapa aku harus menangis. Itu adalah satu-satunya cara untuk
bertemu dengan Sang Maha Pencipta. Satu-satunya cara untuk memasuki surga-Nya.
Aku berharap bisa bertemu dengan Fachri disana.
Keesokan harinya, aku kembali ke
kampus. Memastikan kembali nilai yang kudapat. Aku seperti merasakan de javu
dengan mimpiku tadi malam. Bedanya, aku tidak melihat Fachri disini. Aku tidak
terlalu memperhatikan sekelilingku. Aku memastikan kembali nilaiku dan nilai
Fachri. Sama seperti yang kulihat kemarin. Aku Jayyid dan Fachri Jayyid Jiddan.
Aku berbalik.
Aku terkejut saat melihat topi
yang tersangkut pada sebuah ranting pohon besar. Sepertinya, sama dengan tempat
Fachri meletakkan topinya saat aku bertemu dalam mimpi. Aku mengambil topi itu
dan melihat sekelilingku. Hanya angin musim panas yang berhembus mesra menyapu
apa saja yang dilewatinya. Sementara, orang-orang sibuk melihat nilainya yang
tertempel di setiap etalase kampus. Sambil memakai topi Fachri, aku mengambil
langkah pulang.
Sampai dirumah, aku duduk dengan
tenang di depan laptopku dan meletakkan topi itu di samping laptopku. Aku
teringat dengan pesan Fachri dalam mimpi itu. Sangat jelas. Beberapa saat
kemudian, Fadli datang.
“Loh, koq bisa disini topiku,
Bang?” Fadli kaget dan bingung.
“Aku dapat di pohon waktu ke
kampus.” Jawabku heran.
“Bagh! Paslah kalau gitu.
Ketinggalan berarti waktu aku lagi minum teh dibawah pohon. Karena kepanasan,
kusangkutkan aja di dahan yang rendah itu.” Jelasnya.
“Kebetulan sekali.” Gumamku
santai.
“Apa, Bang?” sepertinya dia
mendengar apa yang kukatakan.
“Oh, iya. Coba aku pinjem bentar
laptopmu, ya.” Pintaku sambil beranjak.
“Pakek aja bang. Tapi, jangan
lama ya.” Katanya sambil nyengir.
“Gampang.” Jawabku santai.
Ku periksa setiap foldernya. Dan
kini aku mengerti bagaimana dia menyimpan datanya. Hanya beberapa menit saja,
aku sudah menemukan di mana dia menyimpan semua data tentang akunnya segera aku
memindahkannya ke laptopku. Fadli yang bingung dengan apa yang kukerjakan ingin
sekali bertanya. Tapi, aku memberi isyarat ini rahasia. Dia pun mengerti.
Sudah kutunaikan apa yang
dimintanya untuk terakhir kali. Tinggal menunggu beberapa hari lagi barulah
kuhapus Facebooknya. Aku pun lega. Seakan tak ada lagi beban yang harus
kulakukan. Hari ini adalah hari dimana aku mulai terbiasa tanpa adanya Fachri.
Foto-fotoku saat bersamanya, langsung aku simpan di tempat yang aman. Berharap
nanti aku bisa menceritakan tentangnya kepada anak-anaku. Aku pernah memiliki
sahabat yang aneh. Tapi, luar biasa gigih.
Pagi ini, seperti biasa, aku
terbangun. Aku mendengar suara orang yang sedang sibuk mengetik. Kulihat di
sudut kamarku. Seseorang dengan kemeja tangan panjang, duduk bersila, memakai
topi, dan mengetik dengan jari yang sangat lincah. Ku sipitkan mataku untuk
memastikan. “Fachri.” Kataku pelan.
“Sudah bangun, Antum?” Suara itu
bertanya. Aku sangat mengenali suara Fachri. Ini bukan suaranya. Saat
pandanganku mulai normal, aku tahu itu siapa.
“Koq, belum tidur kau, Fadli?”
Tanyaku mencoba duduk dengan normal.
“Dah dari tadi aku bangun. Nanti
Antum liat dulu tulisanku, ya.” Pintanya. Aku setuju. Aku bangkit untuk
melaksanakan dua rakaat.
Saat kubuka Facebook, aku kaget.
Facebook Fachri mengirim sebuah tautan. Sebuah cerpen dari blog pribadinya yang
berjudul, ‘Tak Sampai Menikmati’. Ku buka link itu. Kemudian, aku sadar,
ternyata postingan itu sudah lama dibuatnya. Namun, diaturnya untuk dipublish
hari ini. Iya, hari Rabu adalah hari favoritnya. Dia selalu memposting karyanya
di hari Rabu. Wajar menurutku.
Saat aku membacanya, aku kaget
setengah mati. Dia menceritakan tentang seorang mahasiswa dari Mesir yang
meninggal saat liburan ke tanah air. Dengan alur yang tepat seperti yang
dialaminya. Mungkin, dia sudah mendapatkan pertanda sejak dia menuliskan itu.
Aku kemudian menunjukkan itu kepada Fadli yang juga kaget setengah mati. Fachri
ternyata menulis takdirnya sendiri.