Tidak seperti biasa, kali ini Jefri menghabiskan
waktu malam minggunya dengan bermain game. Biasanya, dia sudah tidur untuk
persiapan kerjanya besok. Kali ini, dia meminta ganti jadwal karena sedang
ingin istirahat beberapa hari. Sekarang dia
merasakan kalau istirahat itu sangat penting. Hiburan juga cukup penting untuk
menyegarkan pikiran. Sekarang, dia menikmati malam seperti sebelum-sebelumnya.
Ketika sedang asyik-asyiknya main
game, smartphonenya berbunyi berkali-kali. Awalnya, dia tidak peduli. Paling
itu hanya teman BBM ya yang broadcast tidak jelas. Mengganggu saja!
Keluh Jefri sambil mengambil smartphonenya. Ternyata dari Dhilla, setelah tiga
kali PING!!!, pesan selanjutnya adalah, Dhilla meminta Jefri untuk datang ke
kostnya. Katanya dia sedang ketakutan.
Tanpa pikir panjang, Jefri
langsung menghubungi nomor Dhilla. “Ada apa, Dhilla?” Tanya Jafri. Bahkan tanpa
berkata ‘hallo’ terlebih dahulu.
“Jefri, tolong kemari sebentar!
Aku sangat ketakutan. Ayo, Jefri! Tolonglah!” Dhilla terdengar sangat ketakutan.
“Aku kesana.” Jefri langsung
menutup panggilan dan bergegas ke kos Dhilla.
Selama perjalanan, Jefri berpikir
keras. Apa sebenarnya yang sedang terjadi. Apa ada sesuatu yang berbahaya,
ataukah hanya dia yang terbangun dengan cara yang tidak biasa. Jefri terus
berspekulasi. Meski sebenarnya itu bukan kebiasaannya.
Untungnya, kos Dhilla tidak jauh
dari rumah Jefri. Hanya sepuluh menit dalam waktu normal. Ketika keadaan
mendesak, Jefri berhasil menempuhnya hanya dalam waktu lima menit. Itu
merupakan rekor barunya.
Sampai disana, Jefri heran. Kos
terlihat sangat sepi. Seakan tidak ada penghuninya. Mungkin semuanya sedang
tidur, pikir Jefri. Dengan santai dia melangkah masuk sambil menghubungi
Dhilla.
“Dhilla, aku sudah dibawah. Apa
yang terjadi?” Tanya Jefri santai.
“Jefri, Cepat ke kamarku.”
Pintanya masih ketakutan.
Jefri pun berlari masuk dan tidak
lagi peduli dengan apa yang terjadi. Sampai di depan kamar Dhilla, Jefri
menelpon lagi. “Aku sudah di depan kamarmu.” Tidak lama kemudian, pintu terbuka
dan Dhilla langsung memeluk Jefri. Tubuh Dhilla bergetar ketakukan.
Jefri gugup. Ini bukan hal yang
biasa baginya. Dia bingung harus berbuat apa. “Dhilla, ayolah, jangan membuatku
bingung. Katakan saja apa yang terjadi.” Katanya santai.
Jefri yang sama sekali tidak
mengerti apa yang terjadi, menggiring Dhilla masuk ke kamar. Kemudian mereka
duduk di atas kasur Dhilla. Tanpa di sadari Jefri, ini adalah pertama kalinya
dia melihat bagian betis sampai telapak kaki Dhilla. Putih mulus terawat.
Apalagi karena dibalut baju tidur. Pikiran kotor mulai merasuki. Jefri yang
merupakan alumni sebuah pondok pesantren, akhirnya mampu bertahan. Jefri
berdiri dan hendak mengambil minum untuk Dhilla. Dhilla langsung mengambil
tangan Jefri agar Jefri tidak jauh-jauh.
“Tenanglah, Dhilla. Aku hanya
mengambil minum.” Kata Jefri meyakinkan.
Jefri kembali dengan segelas air
putih di tangannya. Di sodorkannya ke arah Dhilla. Dhilla menerimanya dengan
tangan gemetar. Melihat itu, Jefri memegang tangan Dhilla yang sedang gemetaran
memegang gelas. Dhilla kaget dan langsung menatap Jefri.
“Dhilla, tenanglah. Aku disini
bersamamu. Semuanya akan baik-baik saja.” Kata Jefri. Dengan harapan, Dhilla
bisa tenang.
Perlahan, Dhilla meminum air di
tangannya. Kemudian, tangisnya meledak. “Jefri, aku takut.” Katanya pelan.
“Pelan-pelan, coba ceritakan.”
Dhilla menceritakan kejadian yang
dialaminya. Malam itu, Dhilla sedang berada di kantor organisasi mahasiswa.
Setelah urusannya selesai, dia dan beberapa teman lainnya pulang. Saat itu
memang sudah cukup larut untuk pulang. Kos Dhilla hari itu juga sedang kosong.
Teman-temannya yang lain masih menikmati malam dengan pasangan masing-masing.
Yang lain sedang pulang kampung dan sebagian lagi sedang mengikuti inagurasi
yang diadakan pihak kampus.
Biasanya, semua berjalan normal.
Tapi hari ini, Dhilla merasa ada yang mengikutinya sejak dari kantor tadi.
Berkali-kali Dhilla memastikan, dan dia melihat bayangan pengendara motor tanpa
lampu sedang berjalan santai dibelakangnya. Dhilla sengaja memilih jalan
memutar agar melewati daerah yang lebih terang dan ramai. Tapi ternyata,
pengendara motor itu tetap mengikutinya.
Sampai di kos, Dhilla merasa
sudah aman. Setelah mengganti pakaian, Dhilla mendengar suara pagar bergetar.
Dia melihat, ada dua orang memanjat pagar. Itulah yang membuatnya panik. Dhilla
segera mematikan lampu kamarnya. Terdengar suara langkah pelan yang
perlahan-lahan semakin mendekat.
Dhilla yang sangat ketakutan,
langsung saja mengirimkan pesan kepada Jefri. Kemudian, dua orang itu berhenti
di depan kamar Dhilla.
“Kau yakin, ini kamarnya?” Tanya
yang satu.
“Aku yakin sekali. Ini adalah
kamar gadis itu.” Kata yang lain dengan suara berbeda. “Kita dobrak saja.”
“Jangan!” Suaranya terdengar
sangat kencang. “Kalau ternyata salah, kita bisa ketahuan.” Kata pria itu lagi.
“Akh, sial. Padahal, kalau dapat,
kita bisa kaya mendadak. Gadis itu pasti akan laku di pasaran.” Suara itu masih
belum mau pergi.
“Sudahlah, kita pergi. Sebelum
ketahuan.” Usul yang satunya.
Mereka kabur dari tempat mereka
datang. Pintu belakang. Sebenarnya, pagar di depan bisa dibuka kapan saja.
Hanya saja, dibuat agak berisik, agar orang-orang melihat siapa yang datang dan
masuk. Ternyata, satpam itu ketiduran. Begitu juga saat Jefri datang satpam itu
masih ketiduran dan pagar depan masih terbuka.
“Jefri, jangan pergi dulu.” Kata
Dhilla dia akhir ceritanya.
“Oh, begitu ya. Siapkan barangmu,
kau sepertinya lebih aman di rumahku. Ayo!” Jefri mengajak Dhilla.
Dhilla hanya mengambil beberapa
barang saja. Kemudian, mereka menuju rumah Jefri. Dhilla tidur di kamar yang
satunya. Sedangkan Jefri, tetap di kamarnya. Kali ini, Jefri sedikit lebih
awas. Di perhatikannya lagi sekelilingnya sebelum memasuki rumah. Pagar dikunci
dan pintu pun diamankan. Jendela juga tidak ada yang terbuka. Semoga
semuanya baik-baik saja. Jefri memasuki kamarnya.
Besok paginya, Jefri terbangun
tepat saat adzan subuh. Setelah melaksanakan dua rakaat, Jefri membangunkan
Dhilla. Dhilla pun bangun dan melaksanakan dua rakaat. Jefri mengajak Dhilla
duduk di depan rumah sambil menikmati teh manis. Tapi, Dhilla memilih untuk duduk
di dalam saja. Mereka hanya duduk bersama sambil menonton tv. Karena
sebenarnya, Jefri tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada saat seperti ini.
Dia hanya bisa menikmati hari-hari yang ada seperti biasanya. Mencoba membuat
Dhilla meyakini yang terjadi semalam adalah imajinasi.
“Sebaiknya, kamu pindah.” Jefri
mengusulkan tiba-tiba. Dhilla hanya diam mendengarkan saja. “Aku akan cari. Paling
tidak, dalam seminggu aku akan menemukannya.”
“Jefri.” Kata Dhilla lemah. “Terima
kasih. Jika kamu tidak datang semalam, aku akan ketakutan sepanjang malam. Pada
saat seperti itu, aku hanya mengingatmu. Kaulah orang pertama yang muncul dalam
pikiranku.”
“Sudah, tenanglah.” Jefri masih
tanpa ekspresi.
Diam-diam, Jefri terus melirik
Dhilla yang duduk di sampingnya. Kenapa gadis seperti dia harus merasakan
hal ini? Katanya dalam hati.
Sesaat kemudian, sebuah berita
muncul. Mengabarkan tentang penculikan gadis-gadis remaja untuk dijual menjadi
wanita malam. Yang kala itu sedang marak terjadi. Sampai sekarang, pelaku masih
belum ditemukan. Jefri bersyukur, Dhilla masih selamat.