Udin, sedang
duduk termenung ditaman kampusnya. Seakan ada banyak masalah yang telah
disadarinya. Tak pernah dia merasakan hal seperti ini sebelumnya. Biasanya setiap malam dia selalu
pergi ke kafe untuk menikmati minuman. Ya sekedar melepas resah yang ada dalam
dirinya. Tapi hari itu berbeda.
Udin, selalu
menjadi orang yang paling tidak disukai dimanapun dia berada. Karena memang dia
orang yang sangat keras kepala. Bahkan teman dekatnya hampir tidak ada. Ada
beberapa orang yang siap menerimanya. Jefri dan Subhan. Kebetulan, mereka
berdua adalah temannya semasa sekolah.
Jika
ditanyakan, apa saja yang telah dilakukan Udin, maka itu adalah pertanyaan yang
salah. Yang tepat adalah, apa saja yang belum pernah dilakukan Udin. Ya, hanya
satu. Membunuh. Memperkosa mungkin tidak, tapi sering bermain dengan wanita
malam di kotanya. Tentu saja, menjadi bos di geng motor juga pernah. Subhan
sudah sering memberikan nasehat dan terus membantu Udin agar mau berubah.
Kebetulan, Subhan adalah salah seorang yang berada. Jadi, dengan mudah dia bisa
membantu siapa saja yang membutuhkan. Udin termasuk orang yang sering
memanfaatkan kebaikannya itu.
“Kenapa. Din?”
Tanya Subhan sepulang kuliah dan melihat Udin sedang dalam keadaan yang sangat
kacau. Wajah bengisnya, tak lagi menunjukkan kejahatan yang selama ini
diperbuatnya. Wajahnya sangat sayu. Sama sekali tidak menunjukkan semangat
hidup yang biasa terpancarkan. Seakan dunia akan kiamat besok.
Sebenarnya,
Subhan tidak terlalu berani untuk mendekat dan bertanya. Tapi, dia yakin, Udin sedang
butuh teman. Beberapa hari ini memang ada yang aneh dengan Udin. Dan itu
dirasakan Subhan. Udin yang
bertubuh besar dan kekar itu, bisa dengan mudah menghajar siapa saja yang
mengganggunya.
Sambil
menyalakan rokoknya, Udin menjawab, “Malam ini kau di kosmu kan?” Hal yang aneh
adalah, gak biasanya Udin berkata selembut itu.
Tentu saja
Subhan bingung dengan apa yang terjadi. Seperti bukan Udin yang dikenalnya.
“Iya. Kebetulan cewek aku juga lagi ada urusan keluarga. Jadi dia gak akan
ganggu malam ini.”
“Nanti malam
aku kesana. Ada yang harus kuceritakan. Aku bingung kemana lagi aku harus
cerita.” Kata Udin kemudian.
“Si Jefri juga
mau datang malam ini katanya. Tapi gak tau juga kalau dia berubah pikiran. Dia
sering plin-plan kadang.” Jelas Subhan.
“Ya, gak papa.”
Kemudian Udin berjalan ke parkiran menyalakan motornya dan pergi begitu saja.
Subhan masih bingung dengan hal itu.
Seperti
biasanya, Subhan selalu ke taman kota untuk melepas penatnya sepulang kuliah.
Dan disana, Jefri selalu ada. Subhan melihat Jefri di tempat biasa. Subhan
datang dan duduk samping Jefri yang tengah asyik membaca buku dan menghisap
rokoknya.
“Oi, Jef. Si
Udin katanya mau datang juga malam ini.” Kata Subhan mengawali pembicaraan.
“Oh.” Jawab
Jefri datar. “Pasti ada masalah anak itu.” Jefri menutup bukunya.
“Iya, kayaknya
gitu. Dia lagi ada masalah kayaknya. Akhir-akhir ini kutengok dia galau kali.
Kayak gak ada kawannya kutengok dia sekarang.” Subhan menjelaskan apa yang
diketahuinya.
“Oh, iya aku
ngerti.” Jefri mengeluarkan rokoknya dan menawarkannya ke Subhan.
“Gak usah. Aku
ada kok.” Subhan mengeluarkan sendiri rokoknya dan membakarnya.
“Sebelumnya
udah kubilang, dia bakal butuh teman yang selalu mau mendukungnya. Jangan
terlalu menasehatinya. Nasehat itu sekali-sekali aja. Tapi disaat yang tepat.
Mungkin sekarang saatnya.” Meskipun terlihat cuek, tapi sebenarnya Jefri sangat
peduli pada teman-temannya. Tak jarang dia membuang waktu istirahatnya untuk
membantu temannya yang sedang butuh. Tapi, Udin sepertinya tidak terlalu suka
dengan sikap dingin Jefri.
“Iya. Udah
kubuat kek gitu. Semenjak kau bilang gak usah terlalu dinasehati, gak pala kali
ku paksa dia berubah. Aku makin ngerti semuanya pasti butuh proses.” Aku
Subhan.
“Malam ini
kupastikan aku kesana. Jam biasalah. Kubawakkanlah nanti makanan ringan untuk
cemilan kita.” Jefri menawarkan. Subhan sudah sangat mengerti, untuk tidak
menolak tawaran dari Jefri. Jefri selalu punya beribu alasan kenapa dia yang
selalu membeli cemilan setiap kali dia datang. “kalau gitu, aku pergi dulu, ya?
Banyak hal yang harus kupersiapkan untuk malam ini. Aku gak berencana begadang
malam ini.” Lanjut Jefri.
Lagi-lagi,
Subhan ditinggal sendirian dengan kebingungan. Apa yang harus dilakukannya
nanti. Satu hal yang membuatnya tenang, Jefri pasti akan datang. Jefri tak
pernah berbohong saat sedang dibutuhkan. Sambil menikmati sisa rokoknya, Subhan
pun beranjak dari taman itu. Dan pulang ke kosnya.
Udin, datang
tepat setelah azan Isya berkumandang. Masih seperti tadi siang, Udin terlihat
sangat lesu. Namun, tercampur dengan emosi yang dia tidak mengerti. Seperti ada
seribu beban yang tertampung di pundaknya yang ingin dilemparkannya tapi tidak
bisa. Rasa frustasi itu memang sangat menjengkelkan.
Udin langsung
duduk dan bersandar. Tak lupa dia mengeluarkan rokoknya. “Bisa gila aku, Bhan,
kalau kayak gini terus. Ntah apa yang bisa kulakukan sekarang.” Keluhnya
membuka pembicaraan.
“Pelan-pelan
dulu cerita, wak. Gak ngerti aku kalau langsung gitu kau nyeritakannya.” Pinta
Subhan.
“Susah kali
menceritakannya.” Aku Udin. “Tau kau, Bhan? Udah sebulan mamaku di rumah sakit,
baru aku dikasi tau. Mau operasi pulak lagi itu katanya. Apa gak emosi aku
coba. Kau pikirlah coba kek gitu.” Udin menjawab dengan penuh emosi.
Subhan
meletakkan asbak di dekat Udin, kemudian membakar rokoknya sendiri. “Sakit apa
rupanya mama mu, Din?”
“Kanker
katanya. Aku pun gak tau kanker dari mana. Katanya turunan dari kakekku dulu.”
Jawab Udin sambil meredam emosi.
“Kenapa kau gak
dikabarin kalau parah kali gitu sakitnya?”
“Itulah aku gak
taunya, Bhan. Pikir orang itu, mentang awak bejat, trus lupa sama mamak awak
sendiri. Ya, kan gak gitu jugalah. Pasti om aku yang melarang ngasi tau ke aku.
Emosi kali aku ngeliatnya jadinya. Mau kupukulkan aja kepalanya itu.”
Ditengah aksi
curhat itu, Jefri pun datang dengan beberapa cemilan di tangannya. Setelah
mengucapkan salam, Jefri masuk sekenanya. Dia langsung membuat tiga gelas teh
manis untuk menemani malam.
Udin menatap
Jefri dengan pandangan yang kurang menyenangkan. Melihat Jefri duduk dan
membakar rokoknya, rasanya Udin ingin sekali memukulnya.
“Ku dengar kau
lagi bertengkar hebat sama mama mu, Din?” Tanya Jefri langsung tanpa basa basi.
Udin memegang
kepalanya. “Udah lama kali itu. Sekitar...” Udin terdiam. Seakan dia mengingat
sesuatu, “Sebulan yang lalu.”
Subhan menatap
Jefri dengan bingung. Jefri memberi isyarat untuk tenang. Keduanya menatap
kearah Udin yang sedang berusaha membendung air matanya. “Awalnya,” Udin
menceritakan,” ya biasa. Aku nuntut minta dibeliin king. Tapi mamaku bilang gak
usah yang aneh-aneh dulu. Ada banyak hal lain yang kubutuhkan dari pada yang ku
mau. Gitulah kata mamaku. Rupanya, om aku dengar aku minta motor itu.
Dibilangnya samaku, jangan minta yang macam-macam dulu.” Udin menarik nafasnya.
“Emosi aku. Ngapain pulak dia ikut campur pikirku waktu itu. Jadi, marah-marah
lah aku sama om aku itu. Setelah itu, aku langsung banting pintu terus pergi.
Aku belom pernah pulang lagi sampek dengar kabar mamaku sakit. Itu pun dari
adekku tau nya. Dia ngasi tau diam-diam.”
Jefri mendengar
dengan baik setiap perkataan Udin. “Maaf, Din sebelumnya. Gak bermaksud ikut
campur masalah keluargamu. Tadi sore, aku ke rumahmu. Langsung ngobrol sama om
mu itu. Dia bilang, setelah kau pergi itu, mama mu sering batuk-batuk berdarah.
Seminggu yang lalu itu yang paling parah. Waktu di cek ke dokter, katanya kena
kanker paru-paru. Aku gak ngerti seberapa parah.” Udin terkejut mendengar
jawaban dari Jefri. Dia pun terlihat semakin pucat. Merasa sangat bersalah.
Setetes air
bening menetes di wajah sangar Udin. Terlihat dia sangat terpukul dengan kabar
dari Jefri. “Pasti gara-gara masalahku. Kenapa harus kayak gini jadinya?”
Terlihat Udin sangat ingin berteriak.
“Tadi, aku juga
kerumah sakit tempat mama mu.” Jefri melanjutkan, ”Kata susternya, kau baru aja
pulang dari jenguk. Untungnya, aku kenal spesialis yang bakal nangani mama mu
itu. Dokter itu tetanggaku. Aku minta apa bisa ada keringanan. Nego-nego
akhirnya dia bilang, bayar setengahnya aja. Setengahnya biar dia yang bayar.
Tapi, kata om mu, lagi gak punya uang sebanyak itu. Enam juta mau didapat dari
mana kalau secepat itu. Semantara bisnis om mu gak terlalu surplus katanya
beberapa bulan ini.”
Dalam hati,
Udin terkejut. Jefri seakan lebih mengerti tentang keluarganya dari pada
dirinya sendiri. Jefri bisa tahu sejauh itu, bahkan lebih banyak dari apa yang
diketahui Udin. Udin hanya bisa terdiam sekarang. Merasakan rasa bersalah yang
amat dalam. Keegoisannya telah mnghukumnya. Yang dia sendiri tak mengerti mengapa
harus terjadi.
“Din,” Subhan
menyadarkan Udin dari lamunannya, “Udahlah itu, sekarang bagaimana cara
menyelesaikannya.”
“Entahlah,
Bhan.” Jawab Udin lemah. Seakan dia tak lagi memiliki tenaga untuk berkata.
“Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.”
“Kami mungkin
masih bisa membantu.” Subhan mencoba menenangkan Udin.
“Kalian sudah
terlalu banyak membantu.” Ujar udin.
“Apa gunanya
membantu jika tidak sampai tuntas.” Jefri menjelaskan. Yang itu seperti
seberkas cahaya ditengah kegelapan. Yang menerangi jalan gelap gulita.
Udin merasa
sangat berhutang kepada kedua temannya. Dia tak pernah mengerti mengapa harus
Subhan dan Jefri yang hadir membantunya. Manakah teman-temannya yang biasa
bermain dengannya? Manakah teman-teman yang setiap malam selalu nongkrong bersama,
bernyanyi dan mabuk-mabukan di bar malam? Ya. Mereka hanya teman semu. Teman
yang tidak nyata. Yang hanya akan bersama saat senang. Menghilang saat susah
datang.
Subhan dan
Jefri, merekalah teman yang selalu hadir di barisan depan saat masalah datang
menghampiri. Mereka pun mengerti apa yang dibutuhkan meski tak selalu seperti
apa yang diinginkan. Subhan dan Jefri, tidak pernah menjauh saat yang lainnya
menjauh. Entah apa yang membuat mereka bisa bertahan.
“kalian tahu
sendiri, kan, aku ini orang macam apa? Tapi,...” Udin langsung dipotong oleh
Jefri
“Itu hanya masa
lalu, kawan.” Katanya sambil menepuk bahu Udin. “Seperti buku tulis, kau bebas
menuliskan apa saja pada setiap halamannya, kau bisa membacanya lagi jika kau
mau. Tapi, kau tidak pernah tahu dengan pasti apa yang akan kau tuliskan di
halaman selanjutnya.” Lanjut Jefri.
Subhan
tersenyum, “Iya, Din. Masa depan itu suci. Akan selalu ada kesempatan untuk
menjadi lebih baik. Ucok, kawan kita di Mesir, pernah bilang, ‘setiap orang suci,
memiliki masa lalu yang kelam. Dan setiap pendosa, memiliki masa depan yang
suci.’”
Tentu saja,
Udin menahan diri untuk tidak menangis. Dia akan berusaha terus terlihat tegar
dihadapan teman-temannya. Pada akhirnya sudah diputuskan, Jefri menggunakan
tabungannya yang sebesar dua juta untuk membantu Udin. Begitu pula Subhan. Sekarang,
tinggal usaha dari Udin yang menentukan, mampukah dia mencari sisa dua juta
lagi. Atau mungkin pamannya memiliki setidaknya dua juta utnuk meringankan
usahanya.
Udin memutuskan
untuk pulang. Mungkin dia ingin menyembunyikan sesuatu. Mungkin airmatanya. Setelah
pamit, Udin pun pergi. Jefri dan Subhan berdiri di pintu. “Jef, kau betul
kerumahnya tadi?” Tanya Subhan.
“Gak, tadi aku
pulang main game. Aku tau semua ceritanya dari si Pandu, adiknya. Kan aku satu
kampus sama adiknya.”
“Kalau masalah
dokter itu?” tanya Subhan lagi.
“Kalau itu, aku
memang ke rumah sakit, sama si pandu. Si dokter itu memang tetanggaku.”
“Kalau si Udin
yang berantem sama om nya?”
“Kayaknya itu
harus dirahasiakan. Udin juga tidak cerita dengan lengkap. Sebaiknya aku memang
tidak mengumbarnya.” Jefri mengangkat alis.