Matahari bersembunyi dibalik awan tipis. Menimbulkan ssdikit pelangi disekiatarnya. Angin berhembus santai. Menetralkan udara panas di kota ini. Taman kota masih dihiasi makhluk cerdas bernama manusia. Semua beraktifitas seperti biasanya. Sesekali, beberapa orang terlihat asik berduaan dengan pasangannya. Sambil makan bakso, atau hanya duduk minum. Kemudian, beberapa ada yang sedang berolahraga. Ada juga beberapa anak kecil yang sedang kejar-kejaran.
Hal yang paling tidak biasa adalah, seseorang yang sedang duduk sendiri sambil membaca buku dan menikmati rokok di tangannya. Ya, itu adalah Jefri. Sehari-harinya, itulah yang dilakukannya. Pulang kuliah dan duduk membaca di taman. Biasanya, Subhan selalu datang menemani. Kali ini, sepertinya berbeda. Jefri hanya sendiri dan tak merasa terganggu dengan suasana sekitarnya.
Karena langit mulai gelap, Jefri berencana untuk pergi. Baru saja dia menyimpan bukunya, seorang gadis datang dan duduk di sebelahnya. Tentu saja Jefri mengenalnya. Dhilla namanya. Adalah teman Jefri di kampus. Jefri menyandarkan tubuhnya di bangku sambil memandang langit.
"Kamu sering main kesini juga?" Tanya Jefri tanpa memandang Dhilla.
Dhilla, sepertinya masih lelah. Beberapa bagian di bajunya terlihat basah karena keringat. Bau parfumnya, berhasil menyamarkan bau badannya. Karena rajin berolah raga, Dhilla memiliki postur tubuh yang bagus. Dari pakaian yang dipakainya, dia juga tidak terlihat mati gaya. Cukup baik dalam memilih pakaian. Meski sore ini dia tak memakai make up, Dhilla tetap terlihat menarik.
"Aku bahkan lebih mengenal tempat ini dari pada dirimu, Jef." Dhilla menjawab. Itu tak membuat Jefri tersinggung. Jefri malah tersenyum dengan sebelah bibirnya. Biasanya itu akan menunjukkan keangkuhan. Tapi tidak jika Jefri yang melakukannya.
"Jadi, apa keperluanmu, sampai - sampai kau mendatangiku yang sedang merokok?" Jefri memang bukan orang yang suka berbasa-basi. Menurutnya, lebih baik langsung disampaikan jika saja ada keperluan.
"Kau tau? kau adalah orang paling aneh yang pernah aku temui." Dhilla mengakui.
"Aku takkan bertanya kenapa." Jefri masih menjawab dengan santai.
"Sejujurnya, aku ingin bertanya kepadamu. Apa pandanganmu terhadap wanita?" Dhilla mulai serius.
Jefri melirik ke kanan dan kekiri. Memastikan tak ada orang lain disana. Mereka berbicara tanpa saling pandang. "Kau yakin itu pertanyaan untukku?"
"Aku bertanya karena aku memperhatikan kaulah yang belum pernah berpacaran sejak awal tahun. Apa kau anti dengan wanita?"
Pertanyaan yang menggelitik menurut Jefri. "Aku hanya ingin berpacaran dengan istriku." Akunya.
"Kau lebih suka dengan wanita karir atau... "
"Aku lebih tertarik dengan wanita yang biasa aja. Seperti ibu rumah tangga." Jefri memotong pertanyaan Dhilla.
"Apa kau menyadari, bahwa sekarang banyak wanita yang lebih baik dari pada laki-laki? Tidak sedikit wanita yang sekarang bisa menggantikan posisi laki-laki. Bahkan, sekarang, wanita sudah bisa menjabat di pemerintahan. Sedikit demi sedikit, kaum wanita menunjukkan diri telah mampu bersaing dengan para pria di bidang apapun."
"Kau yakin ingin berdebat masalah ini?" Tegas Jefri, "Aku takkan menjawab sesuai keinginanmu. Aku akan menjawab sesuai dengan apa yang aku tahu. Mungkin, itu akan menyakitkanmu."
Dhilla terdiam. Sebenarnya, dia hanya ingin menjatuhkan pendapat Jefri tentang wanita. Dari teman-temannya, dia mendapatkan informasi bahwa Jefri cukup cerdik dalam masalah apapun. Bahkan, menurutnya, pandangan tentang wanita hanya harus menjadi ibu rumah tangga adalah tidak tepat. Karena, wanita bisa sangat membantu keuangan keluarga dengan menjadi wanita karir. Itu salah satu hal yang menjadi tolak ukur Jefri dalam mencari pasangan.
"Sebaiknya, siapkan dirimu. Aku takkan menutupi apapun dalam menjawab saat aku sedang menjadi aku. Saat aku tak mewakili siapapun." Jefri berkata seperti itu bukan untuk sombong atau angkuh atau sejenisnya. Tak lain karena Jefri hampir tidak pernah komunikasi dengan lawan jenis. Dia hanya takut lawan bicaranya merasa dipojokkan. Atau merasa tidak puas dengan jawaban yang akan diberikannya.
"Bagaimanapun kamu ingin menjawabnya, itu bukan masalah bagiku." Dhilla menerima tantangan Jefri. Jefri hanya tersenyum mendengarnya.
Jefri membuang sisa rokoknya, dan membakar yang baru. "Maaf, aku sambil merokok." katanya kemudian. Setelah satu tarikan panjang, Jefri berkata, "Sebenarnya, wanita menanjak karirnya, karena pria. Sedangkan, pria yang menanjak karirnya, sudah pasti, untuknya dan istrinya. Juga bisa untuk keluarganya."
Tentu saja Dhilla kebingungan mendengar hal itu. Dia tidak begitu memahami perbedaanya. "Aku tidak mengerti maksudmu. Tapi, sepertinya tidak ada perbedaan." Jawab Dhilla.
"Iya." Jefri mengakui. "Memang sekilas tak ada perbedaan. Wanita, berkarir, tidak lain hanyalah karena ingin terlihat wow dimata pria. Sebaliknya, pria melakukan hal itu, adalah untuk membahagiakan keluarganya. Terutama istri tercintanya." Jefri memberikan penjelasan lagi. Sepertinya, Dhilla mulai memahami penjelasan.
"Tapi, tetap saja kan, hasilnya akan dinikmati oleh keluarga juga." Bantah Dhilla. "Jadi, Wanita zaman sekarang tidak lagi hanya harus di rumah saja. Wanita juga sudah mampu untuk melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh pria. Lagian, seperti yang sudah kubilang, itu juga akan membantu keuangan rumah tangga. Mengingat sekarang kebutuhan hidup sudah sangat banyak. Tidak hanya makan, pakaian dan tempat tinggal saja. Alat komunikasi pun sudah termasuk dalam kebutuhan utama."
Jefri tersenyum, "Lantas, menurutmu, pendidikan anak dirumah itu tidak lebih penting daripada kebutuhan hidup yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan itu?"
"Anak bisa disekolahkan dipagi hari dan mengikuti kursus atau bimbingan belajar sore harinya. Anak-anak pasti sudah cukup mendapat pendidikan jika begitu."
"Hal yang wajar jika seorang anak tidak terlalu memperhatikan orang tuanya karena kurangnya interaksi dengan orang tuanya." Jefri menarik panjang rokoknya. Untuk sesaat, hanya suara keramaian yang terdengar. Mereka berdua hanya diam. Juga tak saling memperhatikan. Masing-masing, larut dalam pikiran sendiri. "Ibumu, seseorang ibu rumah tangga atau seorang wanita karir?" Tanya Jefri memecah keheningan.
"Ibuku, seorang wanita karir. Dia sangat memperhatikan karirnya. Tapi, aku tahu, itu semua dilakukan ujung-ujungnya untuk aku juga. Kamu bisa lihat sendiri kan, aku bisa meminta apa saja yang aku mau mepada kedua orang tuaku. Mereka berdua sama-sama bekerja sehingga bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Tidak hanya kebutuhan, bahkan juga bisa memenuhi sebagian besar keinginan kami." Dhilla menjawab panjang lebar pertanyaan Jefri.
"Lalu, seberapa jauh kamu mengenal ibumu?" Pertanyaan Jefri berikutnya. "Seberapa jauh kedekatan emosional kalian?"
Hening kembali menguasai. Angin sore bertiup tenang. Memecah rambut Dhilla yang hanya sebahu. Rambut Jefri yang sudah cukup panjang, terlihat semakin berantakan.
"Aku hanya mengenal ibuku sebagai orang yang sangat berwibawa dan,.. " Dhilla kebingungan saat ditanya tentang ibunya.
"Bisa kau ceritakan tentang orang yang merawatmu sejak kecil?"
Sebenarnya, pertanyaan Jefri sudah sangat memojokkan Dhilla. Dhilla sudah sangat tidak nyaman dengan pertanyaan yang berturut-turut menyerangnya.
"Tentu saja, aku lebih mengenal nenek yang merawatku dari oada ibuku sendiri." Dhilla mengucaokannya sambil menahan perih di dadanya. "Bahkan, aku hampir tidak ingat kalau aku pernah becanda dengan ibuku."
"Iya." Sambut Jefri. "Aku sangat mengerti. Salah satu hal yang kutakutkan adalah, saat anakku nanti tak mengenal ibunya. Atau, dia akan lebih mengenal pembantunya dari pada ibunya sendiri."
" Tapi, sosok seorang ayah juga berpengaruh besar terhadap anak. Bagaimana jika dia tidak mengenal siapa bapaknya?" Tanya Dhilla.
Jefri menarik panjang rokoknya dan mengepulkannya. Seraya menjawab, "Anakku, bisa mengenalku melalui ibunya. Wanitalah yang lebih mengerti bagaimana menceritakan seseorang. Wanita, lebih unggul dalam hal mendidik anak. Wanita, lebih besar rasa pedulinya. Hingga sangat cocok untuk merawat anak."
"Jadi, sebenarnya kamu menganggap kalau wanita hanya layak untuk mengurus anak dan dirumah saja? Apa kamu menganggap wanita tidak bisa lebih baik dari pada pria dalam hal lainnya? Wanita tidak serendah itu! " Dhilla meninggikan suaranya. Untungnya, orang-orang di taman tidak memperhatikan.
Jefri menggaruk-garuk kepala. "Aku takkan pernah beranggapan seperti itu. Dan sebenarnya, diantara kita siapa yang merendahkan wanita? Wanita itu, mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh pria. Merawat anak, hingga anak itu tumbuh dewasa dan bisa menjadi anak yang bermanfaat dimasa depan, apa menurutmu itu pekerjaan rendahan?"