“Hoaaahhhmmmm....” Aku menggeliat terbangun di pagi yang cerah di bumi kinanah. Dua
hari lagi dan aku akan akan pulang ke Indonesia. Memang bukan pulang yang direncanakan. Tapi,
setidaknya cukup untuk melepas rindu dengan keluarga dan teman lama. Yang ingin aku lihat
sebenarnya adalah bagaimana perkembangan dunia temantemanku itu. Sama sekali aku tidak
mempersiapkan apapun untuk pulang kali ini. Hanya satu koper besar yang kebanyakan berisi
titipan.
Setelah tersadar dari tidur yang tidak begitu panjang, aku mulai bangkit. Subuh sudah aku
laksanakan sebelum tidur. Dimusim panas, malam terasa begitu singkat. kesejukan malamnya
membuatku betah berlama-lama begadang. Menanti subuh. Kemudian tidur. Menatap langit malam
adalah hobbyku. Setiap malam aku membentangkan kasur di balkon. Agar aku bisa menikmati
malam.
“Shar, susun aja barang-barangmu sekarang. Gak sempat lagi kalau masih nunggu besok”
Pandu, teman satu rumahku mengingatkan.
Untuk saat ini mungkin Pandu adalah orang yang paling dekat denganku. Orang yang paling
mengenalku. Pandu sering mengingatkanku segalanya. Dia peduli tapi tidak membuatku kesal.
Untuk saat ini Pandu adalah orang terbaik yang ada di dekatku.
“Okeh Pand, dah selesai koq yang mau dibawa. Gak ada lagi yang penting.” Jawabku
sekenanya. Karena aku merasa segalanya sudah beres. Aku memang agak pemalas dan cuek.
Mungkin beberapa menganggap aku adalah orang yang paling cuek yang pernah mereka temui.
“Check aja lagi. Yang ditakutkan nanti kalau titipan yang tinggal. Kalau yang tinggal barang-
barangmu aja, bisa ditangani itu.” Jawabnya sambil sedikit tersenyum.
“Siap, Pan. Siap” Jawabku lagi dan mulai bangkit dari kemalasan.
Aku tak pernah membayangkan akan pergi meniggalkan kairo. Meski aku akan kembali lagi.
Tapi rasanya akan sangat tidak nyaman berada di lingkungan lama, namun merasa seperti orang
asing. Menjadi orang asing di kampung sendiri. Hal yang selalu aku rasakan jika pulang ke rumah.
Terlebih semenjak teman masa kecilku sudah pindah semua. Sedikit banyaknya aku sudah
merasakan pedihnya kehilangan teman. Dan aku berharap tidak lagi akan kehilangan teman.
Tak terasa hari keberangkatan pun tiba. Aku pulang ke Indonesia bersama dua orang lainnya.
Riady dan Harianto. Aku mengenal mereka dan mereka mengenalku. Riady adalah teman satu
pondokku dulu. Jadi aku tidak perlu canggung. Sekali lagi aku memeriksa kotak yang akan aku
bawa dan satu koper. Tertulis diatas kotak itu ‘Bashar Mesir-Indonesia’. Agar mudah dikenali.
Semua barang aku masukkan kedalam mobil. Yang sudah disewa khusus. Hal yang biasa
dilakukan mahasiswa di Mesir ini. menyewa mobil untuk mengantarkan orang yang pulang ke
tanah air. Moil melaju santai menuju Cairo International Airport. Aku menghubungi teman-teman
yang lain untuk pamit dan memohon doa. Semua bisa dilakukan sepanjang perjalanan.
Sampai di bandara, aku langsung bertemu dengan Riady dan Hariyanto. Memberikan tiket
sedikit perpisahan dengan teman-teman yang mengantar. Sedikit sedih, karena akhirnya aku harus
meninggalkan zona nyaman. Tak lama kemudian kami pun berangkat.
Dua hari di perjalanan dengan pesawat terasa cukup melelahkan. Sampainya di bandara kami
langsung berbagi barang titipan yang mungkin untuk bisa disampaikan. Titipan yang ada padaku
sudah kusiapkan. Terasa bau udara Indonesia yang aku rindukan. Rasa rindu perlahan mulai
terlampiaskan. Hariyanto sudh dijemput di bandara. Sementara aku dan Riady masih menunggu
dibandara. Hanya bisa menunggu di bandara. Rasa bosan mulai menghantui. Setidaknya sudah
berada di Indonesia. Negri kelahiranku. Di Medan. Kota yang penuh kenangan. Meski bukan kota
kelahiran, dan juga bukan tempat aku dibesarkan. Tapi kenangan yang ada sangat terasa disini.
Bandara ini tempat aku dahulu berpisah dengan teman-temanku.
Tak lama kemudian, Riady pun dijemput oleh orang tuanya. Aku ikut bersamanya. Karena
kebetulan orang tuaku juga sudah menghubungi orang tua Riady. Jadi tidak perlu menjemput di
bandara. Aku salam juga orang tua Riady yang juga sudah mengenalku.tanpa perlu basa-basi kami
langsung berangkat ke tempat orang tuaku sudah menunggu. Aku senang bisa kembali ke
Indonesia dengan segala macam problematika yang ada didalamnya. Tak banyak yang sebenarnya
aku rindukan. Aku pulang juga bukan karena aku siap untuk memulai karir berdakwah. Hanya
mengambil kembali semangat yang mulai luntur. Kenyamanan kairo membuatku lupa bahwa aku
punya tanggungan besar saat kembali.
Kami sampai di sebuah masjid besar. Disana aku lihat mobil Avanza hitam. Ya. Itu adalah
mobil keluargaku. Kulihat ayah dan ibuku sedang duduk menanti di taman. Aku keluar. Spontan
ayah dan ibuku langsung berdiri dan memelukku. Terlihat air mata berlinang di mata mereka. Aku
tak mengerti apa itu rindu. Hingga membuat orang yang aku anggap tegar ini pun bisa meneteskan
air mata. Begitu banyak pertanyaan yang mereka ajukan. Ini pertema kalinya aku kembali ke
Indonesia setelah dua tahun berada di benua seberang. Tak buruk. Dan tak begitu banyak
perubahan yang berarti. Hanya sedikit yang membuatku harus berkata ‘wow’. Dan bisa aku tahan
dalam hati saja.
Sebulan penuh puasa aku habiskan bersama keluarga. Malam takbiran, kami habiskan
dengan cara masing-masing. Adikadikku bersama temannya. Orang tuaku juga bersama rekan
kerjanya. Maka aku juga bersama teman-temanku. Ada beberapa kali aku pergi ke rumah temanku
hanya untuk melepas rindu bersama mereka. 6 tahun di pondok pesantren, tidak dengan mudah
hilang hanya karena baru dua tahun berpisah jauh. Aku seperti kembali ke masa lalu. Dua tahun
yang lalu. Sebelum aku pergi ke kairo untuk melanjutkan kuliah. Aku juga ingin melihat
perubahan apa yang terjadi pada semua sahabat-sahabatku. Setelah dua tahun berpisah, pasti ada
sesuatu yang baru dalam diri mereka yang membuat ku harus berteriak ‘wow’.
Aku banyak menghabiskan waktu bersama temanku di medan. Sekalian untuk membantu
adikku yang baru saja menamatkan aliyahnya di pondok yang sama denganku. Yang aku rasakan
adalah mereka masih sedikit canggung melihatku. Agak menjaga diri. Dan sedikit menutupi
kebiasaan buruknya. Hingga akhirnya aku agak kesal. Aku seperti orang lain diantara mereka.
Hingga akhirnya aku berkata, “Udah kayak orang lain kalian anggap aku. Aku masih tetap aku
yang kalian kenal dahulu. Enam tahun kita pernah bersama dan sekarang kalian anggap aku
berbeda hanya karena aku kuliah di tempat yang jauh dan jarang berkomunikasi.” Mereka hanya
tertawa. Rudy, teman ku sesama pecinta game pun berkata, “Memang gak berubah-berubah kau
dari dulu, Shar.” Aku tersenyum karena akhirnya ada yang mau mengerti aku.
Beberapa hari kemudian mereka semua mulai menunjukkan kalau aku tidak lagi orang lain.
Aku mengikuti perkembangan mereka hingga akhirnya aku ikut merasakan apa yang mereka
rasakan. Aku sangat yakin mereka akan memberikan pelajaran yang baru bagiku. Setidaknya
secara mental. Dan akhirnya aku menemukan temanku yang memang sudah sudah tidak lagi
mencerminkan santrinya. Sangat disayangkan memang. Merokok mungkin hal yang biasa. Pacaran
merupakan budaya mahasiswa. Hampir tidak aku temukan temanku yang jomblo selama disana.
Bahkan ada yang sudah berkali-kali putus dan berganti-ganti pasangan. Membuka facebook dan
hanya chatting dengan wanita yang mereka anggap cantik. Sholat pun hanya jum’at saja. hancur
rasa dalam hati ini.
Ingin sekali kembali mengingatkan mereka. Tapi aku tahu, cara yang digunakan tidak
mungkin sama dengan cara mengingatkan mereka yang tidak pernah menjadi santri. Mereka
bukanlah lagi masyarakat awam yang kembali harus diberi dalil lalu menurut. Apa yang aku tahu,
sedikit banyaknya mereka juga tahu. Dalam hati aku sedih sekali. Mereka tidak seperti yang aku
kenal dahulu. Dan kini mereka mejadi tanggunganku juga sebagai teman. Aku berada diposisi
yang benar-benar tidak nyaman. Ada sedikit penyesalan kenapa aku menerima tawaran pulang itu.
Lebih baik aku tidak tahu keburukan mereka dari pada mengetahuinya tapi tidak bisa
menutupinya. Aku masih berfikir keras bagaimana caranya agar sahabat-sahabatku ini menjadi
seperti santri lagi. Dan pastinya aku berharap mereka tidak lagi bertambah buruk.
Dalam suatu keadaan, aku berdua bersama temanku yang sudah dikenal sebagai penjahat
kelamin. Padahal dahulunya dia adalah orang yang baik. Yang bahkan tak ingin ketinggalan waktu
sholat ke mesjid. Tapi entah apa yang mengubahnya menjadi seperti ini. Berbagai cara sudah aku
lakukan agar setidaknya dia tidak lagi megulangi perbuaannya itu. Anjing menggonggong kabilah
berlalu. Sama sekali tidak pernah ditanggapi. Dan parahnya lagi dia juga mengajak teman yang
lain untuk melakukan yang dilakukannya itu. Tidak sampai hati aku mendengarnya. Sesaat aku
teringat dengan Kairo. Yang membuatku ingin kembali ke kairo adalah sahabat-sahabatku sendiri.
Yang sudah tidak lagi seperti mereka yang aku kenal dahulu. Bukan karena bertambah baik, tapi
malah bertambah buruk.
Aku benar-benar kehabisan ide menghadapi temanku sendiri. Bukan berarti aku menyerah.
Tak lupa di setiap do’a aku sisipkan doa untuk semua sahabat-sahabatku. Mengapa semuanya
begini? Mengapa harus sahabatku sendiri yang begini? Sulit rasanya jika harus menasehati sahabat
sendiri. Satu-satunya cara yang ada di pikiranku adalah tetap bersama mereka, agar disaat mereka
ingin kembali aku bisa menuntun mereka kembali. Meski aku bukanlah orang yang paling tepat
untuk menuntun mereka, setidaknya mereka punya tempat untuk sandaran ringan. Dan sekarang,
sahabatku sendiri sudah menjadi beban juga bagiku. Jika hanya membenahi sahabatku saja aku tak
mampu, bagaimana lagi dengan yang lainnya? Itu yang terpikir.
#اللهم اهدى أصدقائى فإنهم لا يعلمون#