Jika dilihat dari
satu sisi, aku termasuk anak yang cukup sial. Aku pernah bersekolah di SD
terbaik di kotaku. Namun, masa kecilku tak pernah bisa aku ingat lagi.
Dahulunya aku pernah punya tetangga yang sangat akrab. Kemudaian seiring berubahnya
waktu mereka pun pindah dan menjauh. Aku melnjutkan sekolah menengah ke sebuah
pondok pesantren. Masa remaja dan puberku juga dihabiskan disana. Dan kemudian,
aku melanjutkan kuliah di negri orang. Hingga jika dihitung-hitung, umurku
berada di kota kelahiranku tidak sampi 15 tahun lamanya. Sekarang aku beranjak
ke 21 tahun. Masa puber yang harusnya sudah berlalu, baru amulai aku rasakan
sekarang. Mungkin karena terisolasi di pondok pesantren itulah sebabnya.
Tapi, dari sisi lain
malah aku termasuk orang yang sangat beruntung. Karena aku disekolahkan ke
sebuah pondok, maka aku tergjaga dari hal-hal buruk yang biasa dilakukan
anak-anak seusiaku itu. masa puberku juga sudah dihabiskan di sebuah pondok
pesantren. Sehingga tak perlu takutaku terkena penyakit remaja. Atau percintaan
remaja maksudku. Jika kembali dihitung-hitung, maka keberuntungan ini lebih
banyak dari pada sial yang aku dapat. Aku selalu menghitung-hitung hal itu.
Sekitar dua tahun
yang lalu aku menamatkan pendidikan di pondok pesantren. Aku sedikit merasa
bingung kemana aku harus menuju selanjutnya? Hidup tak semudah yang ada di
pikiranku. Aku pernah berpikir jikasaja sudah masuk ke pondok pesantren, maka segalanya akan lebih mudah.
Akan selalu ada jalan yang terbentang. Tak perlu mencari-cari, susah-payah
seperti aku rasakan saat ini. Tak pernah aku mengerti mengapa hidup sngat
rumit. Bahkan untuk seorang santri yang baru saja lulus dari pesantren. Tidak
pernah mengenal dunia luar. Hingga membuat kami sangat buta terhadap apapun. Atau
zaman sekarang dikatakan cupu. Culun punya. Atau mungkin lugu atau kata lain
yang sejenisnya. Bahkan untuk men-shut down sebuah pc saja tidak mengerti.
Sedikit beruntung
karena aku punya hobby yang kuat dibidang itu. Mungkin aku sedikit lebih lincah
bergelut dengn teknologi. Meski aku bukan yang paling ahli di antara
teman-temanku seangkatanku. Tapi setidaknya aku bukan yang paling cupu. Aku
yang seperti ini saja masih merasa kesusahan mencari informasi tentang
perkuliahan. Padahal aku sering mencarinya di internet. Tapi entah kenapa aku
tidak pernah mendapatkan kabar yang pasti. Segala kemampuanku di bidang
komputer seakan terasa sia-sia. Karena aku sama sekali tidak mendapatkan
informasi apapun tentang perkuliahan yang aku masuki. Aku bingung harus mencari
kemana lagi.
Dua tahun lamanya
aku tak lagi mencium udara Indonesia. Aku berada di negara lain. Bukan hanya
negara tetangga. Bahkan, benua tetangga bisa dibilang. Entah angin apa yang
membuatku lulus ke tempat ini. tempat yang sangat asing. Meski aku pernah
bermimpi berada disini. Keinginan terkuatku sebenarnya adalah jurusan IT. Tapi,
karena basic saat di madrasah aliyah adalah IPS, hal itu menjadi sangat sulit
untuk terlaksana. Tetap saja hobbyku bermain dengan gadget tidak berkurang sama
sekali. Aku sangat senang bisa berada ditempat ini. Segalanya aku dapatkan
disini. Teman-teman baru, dari berbagai negara. Dan dari berbagai daerah lain
di Indonesia.
Negri para Nabi.
Begitulah julukan yang diberikan untuk negara mesir ini. Negara yang beberapa
kali disebutkan dalam Al-qur’an. Aku tidak pernah menghitungnya. Tapi pernah
membacanya. Puasa, lebaran, tahun baruan dan lain-lain, tak lagi aku laksanakan
bersama keluargaku. Hampa rasanya jika tidak bersama keluarga diacara besar.
Apa boleh buat, inilah resiko perantau. Aku hanya bisa berbuat yang baik saja.
tidak membuat mereka kecewa saja itu sudah cukup. Membuat mereka bahagia adalah
keharusan. Demo, kerusuhan, atau apapun
yang terjadi di negara ini, tak pernah aku tanggapi. Aku merasa mereka lah yang
mengerti apa yang mereka butuhkan. Aku hanya mahasiswa yang menumpang disini.
Tidak layak untuk ikut campur rumah tangga orang lain. Jika saja mereka meminta
pendapat, mungkin akan aku tanggapi.
Tapi semua peristiw
itu sekan sudh berlalu. Tapi entah apa yang menjadi pemicu. Sehingga sedikit
banyaknya masih ada yang melakukan sedikit unjuk rasa. Entah untuk apa aku juga
tidak pernah mengerti jalan piiran mereka. aku mencoba untuk tidak membenci,
tapi aktivitas mereka membuatku dan yang lainnya resah. Berkali-kali datang
telepon dari rumah ku di Indonesia. Keluargaku sangat mengkhawatirkan
keadaanku. Aku selalu menjawab, “Berita itu mungkin benar, tapi aku sedang
tidak di TKP. Jadi InsyaAllah aku akan baik-baik saja. kalau ada apa-apa aku
pasti hubungi ke rumah.” Itu jawabanku berkali-kali. Tapi tetap saja mereka
menelpon lagi.
Sekarang situasi
sudah mulai aman. Semua sudah berjalan hampir seperti semula. Hanya aku saja
yang masih tetap begini. Dan seperti ini. Aku dan beberapa teman sedang
merencnakan acara kecil-kecilan. Untuk merayakan 10 Muharram. Ntah bagaimana
nantinya. Mungkin ini adalah ketigakalinya aku melewatkan acara besar tanpa
keluargaku. Dan sekarang bersama teman dan keluarga baru. Dan semoga bisa
dilaksanakan dengan ceria seperti sebelumnya. Menikamati indahnya negri orang,
membuatku rindu dengan negri sendiri. Aku terlalu sibuk berada diluar. Hingga,
lupa dengan kampung halaman sendiri. Aku bahkan tidak begitu mengenal kota
kelahiranku sendiri. Terlebih semenjak aku belajar di pondok. Entah kapan aku akan
kembali. Aku hanya masih banyak berbenah diri. Tanpa tahu dimana kesalahan
dalam diri ini. Selalu merasa takut untuk unjuk gigi. Meski segalanya sudah
mumpuni.
Entah bagaimana aku
harus mengungkapkannya. Aku sangat ingin kembali dan merubah semuanya. Agar
semuanya bisa menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Aku tidak ingin habis
sampai disini. Rindu ini, adalah semangat untuk terus memperkaya diri. Rasa ini
takkan hilang meski sering kali pulang pergi. Karena sejatinya, dari sanalah
aku berasal. Kota kelahiran. Yang hingga sekarang tidak begitu aku kenal seluk
beluknya. Kecil, tapi ada. Nyata dan sangat berharga bagiku. Memang bukan
keinginanku untuk terlahir disana. Tapi memang selayaknya aku berterima kasih
karena telah diterima. Dikepalaku, ada berbagai macam rencana. Entah mana yang
akan terlaksana.
Masa lalu, tetap
saja masa lalu. Meski bisa dekenang, tetap saja namanya masa lalu. Sekarang
adalah kunci untuk besok. Esok hari pasti akan datang. Tinggal apakah aku siap
atau tidak menghadapi esok dengan apa yang aku lakukan sekarang ini. Bersusah
payah sekarang atau esok. Itu yang dikatakan temanku. Dan pastinya akan selalu
teringat. Meski belum tentu terlaksana.