Pandu dan Pak Gilang membantu memindahkan barang-barang Karin. Pak Firman
memasukkannya ke dalam mobil. Karin mendapatkan apa yang diperlukannya selama
ini dari Pandu. Pandu benar-benar membuatnya seperti adik sendiri. Kini dia
akan sangat merasa kehilangan saat harus jauh dari Pandu.
Rachman juga datang untuk membantu pindahan Karin. Rachaman sendiri tidak
tahu kemana Karin akan pindah. Pak Firman memang benar-benar merahasiakannya.
Tidak ada yang tahu. Surya yang dikenal cukup hebat dalam mencari juga tidak mendapatkan
informasi apapun. Dibalik itu semua, Pandu percaya sepenuhnya pada orang itu.
Irfan terus mencandai Surya yang terlihat tidak terlalu peduli dengannya. Surya
orang yang cukup serius dalam menghadapi apapun. Candaan-candaan Irfan
dianggapnya sebagai hal yang tidak penting. Akhirnya Surya keluar dan ikut
membantu.
Akhirnya, semua orang sudah berada di depan rumah untuk menyambut kepergian
Karin. Perlahan, Pak Firman berpamitan dengan memeluk setiap orang. Cukup lama
dan cukup erat. Pandu melihat ekspresi setiap orang. Semuanya berusaha untuk
merelakan Karin pergi. Walau pastinya akan terasa berat.
Giliran Karin yang mendapat pelukan hangat dari Pak Gilang. Berulang kali
Karin berterimakasih dan meminta maaf atas semuanya. Pak Gilang terlihat ingin
menggendong Karin. Tapi, Karin kini sudah terlalu besar untuk digendong. Pak
Gilang hanya meminta Karin berhati-hati dan terus waspada.
Pak Firman memeluk Pandu cukup lama, “Aku akan mengabarimu setiap minggu.
Jika ini terputus, maka carilah Karin di kawasan rumahku. Sampai saat itu tiba,
bersiaplah! Persiapkan segalanya!” Bisik Pak Firman.
Pandu terkejut mendengarnya. Dalam hati dia bertanya, apa semua orang
diberitahukan hal yang sama? Atau hanya dia yang mendapatkan pesan itu.
“Maaf, tapi kau bisa bersama Karin hanya saat disekolah saja. Antarkan dia
ke persimpangan dekat restoran besar itu.” Pak Firman berbicara seperti biasa
kepada Rachman. “Maaf aku terkesan menghalangi hubungan kalian.”
“Aku paham keadaanya, Pak. Bahkan, aku berharap, aku bisa bersamanya
menghadapi semuanya bersama-sama.” Ungkap Rachman. Kemudian dibalas senyuman.
Karin sekarang memeluk Pandu dengan sangat kuat. Orang yang akan sangat
dirindukannya. Pandu sudah dianggapnya sebagai abang kandungnya. Semua yang
dilakukan Pandu beberapa bulan terakhir menjadi alasan utamanya. Dia selalu
merasa aman dan bahagia bersama Pandu. Bahkan bisa mengubah kebiasaannya yang
manja menjadi sedikit lebih mendiri. Irfan juga dipeluknya tak kalah kuat.
Irfan salah seorang yang terus menerus membuat Karin tertawa. Dia akan
merindukan setiap lelucon-lelucon
dari Irfan.
“Karin, ini bukan perpisahan. Kita pasti bertemu lagi. Saat itu tiba, kau
akan merasa lebih aman. Aku janji.” Kata Pandu yang juga merasakan apa yang
dirasakan Karin.
Karin tersenyum melihat Pandu yang selalu optimis dan percaya diri. Dia
hanya bisa diam. Terlalu berat baginya untuk bicara sekarang. Dia hanya menahan
diri untuk tidak menangis. Dia berharap semua ini segera berakhir dan bisa
hidup normal lagi tanpa harus dibayang-bayangi masalah seperti ini. Terakhir,
dipeluknya Rachman. “Kita gak bisa kayak sebelumnya. Aku masih sayang kamu,
Rachman.” Ucapnya pelan.
“Kita jalani ini bersama-sama.” Ucap Rachman menenangkan.
Sebelum Karin naik ke mobil, Rahmi datang untuk sekedar menyampaikan salam
perpisahan. “Karin...!!!” Teriak Rahmi dari gerbang. Mereka berpelukan. “Maaf,
Rin, aku agak terlambat.”
“Iya gak papa koq, Mi. Yang penting kamu dah datang. Dan semuanya jadi
lengkap. Terimakasih sudah jadi teman curhatku selama ini ya, Rahmi.” Ucapnya
agak melankolis.
“Janji, ya kita akan ketemu lagi.” Pinta Rahmi.
Karin hanya mengangguk. Kemudian pergi. Membuka jendela dan melambai.
“Sampai jumpa lagi semuanya...” Ucapnya seraya mobil itu pergi. Pak Firman
membunyikan klakson dua kali sebagai ucapan ‘sampai jumpa’.
Pandu dan yang lainnya hanya melihat mobil itu pergi sambil melambai.
Kemudian, semuanya masuk kembali ke rumah. Hanya Pandu yang terus berdiri
menatap tempat terakhir dia melihat mobil itu. Seperti ada sesuatu yang hilang
dari sana.
“Kalau kau punya rasa denga seseorang, sebaiknya katakan. Apalagi ini
adalah sasat terakhir. Kau akan menyesal nantinya.” Kata Rahmi yang heran
melihat Pandu masih bertahan.
“Ini bukan saat terakir. Kita pasti bertemu lagi.” Pandu membantah.
Dengan senyum manis Rahmi membalas, “Perasaan itu, apa akan bertahan sampai
pertemuan selanjutnya?” Rahmi menyusul yang lainnya masuk ke rumah seakan tak
mau mendengar jawaban Pandu.
Perkataan rahmi itu sangat dipegang oleh Pandu. Apakah rasa itu akan tetap
sama saat mereka akan bertemu lagi nantinya? Apapun yang terjadi, kuharap
Karin baik-baiks saja. Bisiknya pada diri sendiri. Kemudian pergi ke dalam
rumah dan berbaur dengan yang lainnya.
Di dalam mobil, Karin duduk disamping Pak Firman yang sedang menyetir.
Kemudian menyalakan musik untuk mengurangi rasa bosan. Karin terlihat
mengantuk. Ditambah lagi dengan ac mobil
yang cukup membuat tubuhnya merasa adem. Alunan musik itu seperti nina
bobok bagi Karin. Tak lama berselang, pandangannya mulai kabur.
“Tidurlah...” Ucap Pak Firman. “...Akan kubangunkan jika sudah tiba.”
Untuk menuju ke rumahnya sebenarnya bisa saja ditempuh dalam waktu dua jam.
Hanya saja, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Pak Firman memilih
jalan memutar. Jalan yang lebih kecil dan pastinya tidak akan terduga oleh
mata-mata kelompok yang mengincar Karin.
Sedang asyik menyetir dia pun seperti kembali ke beberapa minggu yang lalu.
Saat dia mengatakan pada istrinya untuk mengambil Karin dan menyiapkan tempat
khusus baginya di rumah. Jelas istrinya tidak setuju. Itu akan membahayakan
rumah tangganya. Pak Firman juga sudah mempersiapkan rencana untuk mengambil
alih pembangunan perumahan pinggiran itu. Tapi, tetap atas nama Lancar Jaya
Company.
“Ini bukan soal aku ingin mengambil alih harta saudaraku, ini lebih kepada
melanjutkan keinginannya.” Istrinya diam mendengar itu.
“Kenapa harus kau yang mengambil alihnya? Bukankah mereka sudah punya tim
yang hebat? Bahkan bisa jadi Bang Chandra sudah mewariskannya pada Karin.”
Sarah kembali menemukan hal yang akan menghambat keinginan suaminya.
“Kalau memang begitu, aku akan membantu Karin. Dia pasti masih butuh
bimbingan. Seperti Bang Chandra membimbingku.” Ucapnya kemudian. “Atas nama
keluarga, aku akan membantunya.”
Sarah, Istri Firman tidak menemukan hal lain yang bisa mencegah keinginan
Firman. Satu kesamaan yang sangat mencolok antara dia dan abangnya adalah
selalu menemukan cara untuk sampai ke tujuannya. “Kau benar-benar yakin?”
Katanya memeluk suaminya itu dari belakang. Meletakkan kepalanya di bahu kiri
Firman.
Firman mencium kening istrinya, “Semua akan baik-baik saja. Karin tetaplah
keponakanku. Yang pasti keponakanmu juga. Kita harus membantunya.” Firman
berbisik pelan.
Tiiiiinnn..... Suara klekson menyadarkan Firman dari lamunannya selama
macet. Tanpa disadarinya, keadaan sudah sedikit membaik. Jalanan mulai
renggang. Diperhatikannya Karin di sampingnya. Masih tertidur. Mungkin dia
masih kelelahan. Entah Karin akan siap atau tidak menghadapi apa yang akan
terjadi.
Mobil melaju santai. Karin terbangun di sebuah persimpangan. “Sebentar lagi
kita sampai.” Kata Firman menyambut bangunnya Karin. “Sepertinya, kau masih
kelelahan.”
Karin menutup mulutnya menguap. Tubuhnya menggeliat. “Iya paman. Karin
masih sedikit mengantuk.”
“Sebentar lagi kita sampai.” Katanya tanpa melihat Karin. Sebuah senyum
tergaris diwajahnya. Rencananya mungkin akan berjalan dengan baik. Tapi, tidak
untuk waktu yang lama. Mungkin. Karena dia sangat yakin, Lancar Jaya sangat
bergantung pada Karin. Gagak hitam takkan pernah berhenti mengincarnya. Kelangsungan
perusahaan itu tergantung bagaimana Karin. Seperti yang sudah ditegaskan juga
oleh manager dan sekretaris mereka.
Firman membelokkan mobilnya ke kanan. Kemudian berjalan lurus beberapa
meter. Jalanan cukup luas untuk menampung tiga mobil lagi. Kemudian, mobil
diberhentikan didepan sebuah rumah besar dua lantai. Setelah membunyikan
klekson, satpam membuka gerbang.
“Paman sekarang tinggal disini?” Setahu Karin, rumah pamannya tidak semegah
ini. Dia tahu, pamannya itu tidak terlalu suka dengan bangunan bertingkat. Dia
punya trauma sendiri dengan rumah bertingkat. Saat masih kecil, dia pernah
hampir terjatuh dari lantai tiga rumahnya.
“Baru saja pindah.” Jawabnya sambil menjalankan mobil perlahan. “Supaya
tidak banyak yang tahu.”
Karin belum pernah ke daerah ini sebenarnya. Dia merasa cukup akrab dengan
keadaan suasana ini. Seakan pernah berada di tempat ini. Entah kapan pastinya.
Dia tidak tahu. Karin keluar dari mobil menyusul pamannya yang sudah turun
duluan.
“Karin, masuk saja duluan. Bibimu pasti menunggumu.” Firman memegang
ponselnya. Kemudian menyimpannya kembali. “Biar paman dan pak Santo yang
mengurus barang-barang Karin.” Lanjutnya.
Pak Santo dengan sigap melakukan tugasnya. Sementara Karin dengan tenang
masuk ke dalam rumah besar itu. Kini, rumah itu akan menjadi tempat tinggalnya.
Entah untuk berapa lama. Dia juga berharap tidak terjadi apa-apa lagi. Dengan
harapan baru, dia memasuki rumah itu.