“Baiklah, sepertinya kami harus pergi sekarang.” Sang Manager menyusun
berkas. “Kami harus mempersiapkan jadwal rapat selanjutnya. Semoga para
investor mau menerima usulan ini.” Harapnya.
Seluruh berkas itu diberikan kepada sang sekretaris dan mereka berdiri.
“Terima kasih atas waktunya.” Katanya sambil memperbaiki posisi kacamata.
“Juga terimakasih sudah mempercayai kami.” Surya menyambut ucapan
terimakasih itu. Dan ada sedikit lirikan yang berbeda yang diberikan Surya
kepada Sekretaris itu.
Kemudian mereka pamit dan pergi. Mata surya terus mengikuti Sekretaris itu
sampai dia menghilang dibalik tembok. Barulah suasana kembali hening. Pak
Firman seakan ragu untuk menyampaikan sesuatu. Yang dianggapnya lebih penting
dari sekedar bangkrutnya Lancar Jaya.
“Masalah kita selanjutnya,” Katanya membuka pembicaraan. “...aku akan
membawa Karin bersamaku.” Jelas sekali semuanya sudah mengerti hal itu. Dan
mereka tidak menanggapi apapun.
“Kalau untuk orang tua sepertiku,” Pak Gilang menjadi orang pertama yang
menyambut, “...mungkin akan lebih aman jika Karin memang dipindahkan. Aku
bahkan ingin menyarankan agar Karin ikut ayah dan ibunya Pandu ke kampung
sana.”
“Kenapa Bapak berpikir seperti itu?” Surya bertanya dengan sopan. Tapi,
matanya tidak melihat wajah Pak Gilang.
Pandu merangkul bahu Karin yang duduk disampingnya. “Aku juga berpikiran
sama, tapi aku lebih takut saat dia jauh dariku.” Pandu melihat Karin yang diam
tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
“Mereka sudah tahu tempat ini.” Ungkap Pak Firman menjawab pertanyaan
Surya. “Dan selanjutnya, mereka akan menggunakan cara lain yang lebih
berbahaya. Mungkin tadi malam, kalian sempat memanggil polisi. Gagak Hitam
bukanlah organisasi gelap sembarangan. Mereka cukup terlatih. Punya segundang
pengalaman dalam menculik, mengintimidasi, mengintrogasi bahkan mereka bisa
saja dengan membunuh kalian dengan mudah.”
“Lalu, bagaimana selanjutnya?” Surya ingin kejelasan dari rencana ini.
“Aku tidak ingin mengatakan ini,” Pak Firman terlihat gugup mendengar ini.
“Kita hanya membahasnya sampai disini. Semakin banyak yang kalian ketahui,
semakin kalian akan berbahaya. Dan keselamatan Karin bisa saja menjadi
terancam.”
“Paman, aku merasa aman bersama mereka.” Karin akhirnya berbicara. “Mereka
selalu peduli pada Karin. Karin selalu menjadi perhatian utama mereka. Karin
selalu dilindungi. Dan, Karin merasa memiliki keluarga disini.”
“Itulah masalahnya sekarang.” Pak Firman berbicara dengan suara yang berat.
“Kebersamaan kalian selama ini mungkin sudah cukup mengikat. Tapi, untuk
sementara ini, kalian harus berpisah.”
Pandu melihat wajah Karin yang semakin kebingungan. Dia harus mengurus
perusahaan besar, menghindari segala macam ancaman yang datang entah dari mana
kemudian harus berpisah dari orang-orang yang sudah dianggapnya sebagai
keluarganya. Karin terlihat sangat tertekan dengan keadaannya sekarang.
“Karin, semuanya akan baik-baik saja. Aku janji.” Ucap pandu menenangkan
Karin yang semakin tertekan. Lalu Pandu bertanya, “Apa bapak tidak bisa disini
bersama kami menjaga Karin bersama-sama?”
Surya mengangkat kepalanya, “Sepertinya itu ide yang bagus. Dengan bekerja
sama, kita bisa....”
“Tidak!!!” Pak Firman berteriak. “Maaf...” Dia mengambil nafas panjang. “...
Pandu, Irfan dan Pak Gilang, sudah cukup banyak berkorban sementara aku
mempersiapkan segalanya. Pak Gilang hampir kehilangan nyawanya tadi malam. Jika
saja yang diutus adalah sang pembunuh, habislah sudah.”
“Aku sangat mengerti kekhawatiranmu, Firman.” Pak Gilang mengambil alih
pembicaraan. “Bagaimanapun, Karin tetap akan berada dalam tekanan. Bersama kami
atau bersamamu nanti, dia tetap saja akan menjadi incaran orang-orang itu.”
Sekali lagi pembicaraan ini berlangsung alot. Pak Firman berusaha mengambil
Karin dan berjanji akan menjaganya dengan aman. Sementara Karin tidak ingin
pergi dan takut tidak bisa bertemu lagi dengan orang-orang yang selama ini
sudah menjaganya. Pandu dan Surya berharap agar Karin aman dan nyaman. Pilihannya
hanya ada satu. Tidak bisa memilih keduanya.
Akhirnya, Pak Firman memutuskan akan mengambil Karin sekitar dua hari lagi.
Dengan begitu, mereka masih punya waktu untuk bersama dan berbagi momen. Dua
hari dirasa cukup aman karena polisi masih akan berjaga sampai dua hari
berikutnya. Disaat itulah Karin akan dipindahkan ke tempat khusus yang
disediakan Pak Firman.
Semua orang mau tidak mau harus menyetujuinya. Itu adalah keputusan final.
Hari itu sudah diputuskan. “Satu hal lagi Pandu, persiapkan dirimu. Jika saja
kau tidak mendengar kabar Karin untuk beberapa lama, carilah dia. Itu adalah
saatnya kau mengambil Karin kembali. Kemungkinan besar adalah, aku pasti sudah
tiada. Kau yang harus menemukan Karin dan kembali menjaganya. Selama menunggu
hal itu, persiapkan segalanya.” Pak Firman mengingatkan.
“Baik, aku akan persiapkan segalanya. Selama ada Surya, Irfan dan Pak
Gilang, semuanya bisa aman dan terkendali.” Ucapnya dengan yakin. “Sampai saat
itu tiba, Bapak harus terus jaga diri. Aku ingin menunjukkannya padamu nanti.”
Pak Firman tersenyum dengan kegigihan Pandu. Meski dia hidup di keluarga
yang memanjakannya, Pandu memiliki mental yang berbeda. Surya hanya diam tidak
berbicara apa-apa lagi. Pak Gilang tersenyum melihat mereka semua akhirnya
sampai pada kata sepakat. Irfan? Ya, dia masih tidur. Terlalu pulas untuk
diganggu.