“Kau
kenapa?” Tanya Irfan saat melihat Pandu yang duduk termenung. “Lebih baik kau
bersiap, sebentar lagi kita akan latihan.”
Pandu menarik nafas panjang. Kemudian bangkit dan beranjak ke kamar dengan
langkah yang berat. Rasa gelisah menghantui hari-harinya. Beberapa minggu
setelah Pak Firman membawa Karin, dia mulai merasa hidupnya monoton dan tidak
ada yang spesial. Pergi ke kampus, ke kaontor Kirling, kemudian pulang untuk
main game. Setiap dua hari sekali dia ikut latihan bela diri. Dia mengikuti
saran dari Pak Firman. Surya yang mencarikan guru latihan mereka.
“Aku bosan. Gak tau harus apa sekarang.” Ungkapnya saat mengganti pakaian.
Irfan yang sedang membuka baju berbalik menghadapnya, “Bosan itu selalu
datang saat kita melakukan aktifitas yang sama terus-menerus.” Irfan melipat
banjunya dan menyimpan ke dalam tas.
“Aku juga penasaran, bagaimana keadaan Karin.” Pandu merebahkan
tubuhnya dan melihat ke
langit-langit kamar.
“Kita hanya harus mempersiapkan diri untuk menerima Karin kembali. Dan yang
pasti, dia akan menjadi gadis yang berbeda saat kembali nanti.” Irfan memakai
tas punggungnya dan siap berangkat. Kemudian menggerakkan kepalanya sebagai
tanda ‘yuk, berangkat’.
Pandu kali ini yang memegang stang motor, sementara Irfan duduk santai di
belakang. Masing-masing mereka menggendong tas ransel. Tidak terlalu besar
karena hanya mengisi beberapa potong pakaian. Juga handuk kecil. Menu latihan
hari ini masih seperti biasa, belum ada yang istimewa.
Sampai di tempat latihan, mereka langsung mengikuti barisan untuk pemansan.
Setelah lari-lari kecil, jurus-jurus demi jurus diperlihatkan oleh pesilat
sabuk biru. Walau masih menggunakan seragam merah, tapi sabuk yang melingkar di
pinggang merupakan suatu kebanggaan. Tanda mereka sudah sampai di level yang
tidak bisa diremehkan.
Pandu dan Irfan berusaha mengikuti. Tubuh mereka yang sudah terasa kaku,
kesulitan mengikuti jurus-jurus yang sudah diperagakan. Terkadang, kaki Irfan
yang tidak cukup tinggi saat menendang, atau pukulan Pandu membuatnya ikut terlempar
karena tidak punya keseimbangan. Mereka cukup kesulitan meski sudah berjalan
hampir tiga minggu.
Seusai latihan, Pandu duduk di pedepokan menunggu Irfan yang sedang
mengganti pakaian di kamar mandi. Pandu mengeluarkan kalungnya yang tergantung
di leher. Kalung itu dipegangnya erat-erat. Dia melihat ke halaman padepokan
yang cukup luas dan menikmati angin yang bertiup santai. Angin membasuh setiap apa
yang dilwatinya. Membuat rerumputan yang sudah cukup tinggi seakan
melambai-lambai. Sesekali juga menjatuhkan daun-daun dari pohon.
Pandu tidak menyadari kalau ternyata, sang suhu melihatnya dari belakang.
Suhu Brandon sangat mengenali Pandu. Karena Surya yang membawanya secara khusus
untuk dilatih. Suhu Brandon tidak melihat hal yang spesial dari Pandu. Hanya
seorang anak biasa yang ingin mampu membela diri. Setidaknya, itulah kesan
pertama saat Suhu Brandon melihat Pandu.
Suhu Brandon tak sengaja melihat kalung yang dikenakan Pandu. Dia terlihat
terkejut saat menyadari apa yang tergambar di kalung itu. Dia sangat mengenal
kalung itu. Dialah orang yang memahat kalung itu. Untuk sebuah keluarga yang
telah menghilang secara misterius.
“Dari mana kau mendapatkan kalung itu?” Tanya Suhu Brandon berusaha
terlihat wajar.
Pandu kaget dan langsung memasukkan kembali kalung itu kedalam bajunya. Dia
berusaha menujukkan rasa hormat. “Ceritanya cukup panjang, Suhu.” Kata Pandu
sambil berdiri dan memberikan salam pada gurunya itu. “Apa Suhu mengetahui
sesuatu tentang kalung ini?” Pandu penasaran.
“Hmm...” Suhu Brandon melirik kearah kiri atas. Tanda dia sedang
mengingat-ingat sesuatu. Pandu memperhatikan itu. “Aku sangat yakin, itu bukan
benda yang asing bagiku. Dulu, aku adalah pemahat logam. Dan aku sering diminta
membuat kalung dan cincin. Terkadang cincin pernikahan. Tapi, kalung ini
sepertinya berbeda. Aku sangat familiar melihatnya.” Kemudian Suhu Brandon
terdiam.
Sesaat ingatannya kembali ke beberapa minggu lalu, saat Surya datang
membawa Pandu dan Irfan. “Tolong jangan beritahukan apapun sebelum dia siap
untuk menerima sabuk biru. Aku sangat mengkhawatirkannya. Dia adalah sepupuku.
Tapi, dia tidak tahu. Dan sebaiknya dia belum tahu.” Kata Surya hari itu.
“Suhu bisa menceritakannya?” Pinta Pandu yang penasaran.
Suhu Brandon tersadar, “Iya, Hmmm.... Ya, aku hanya membuatnya. Iya...
Hanya itu yang aku ingat. Sisanya masih tergambar samar-samar.” Ungkap Suhu
berusaha meyakinkan Pandu. Pandu pun kecewa.
Irfan muncul dan terlihat tergesa-gesa. “Maaf, tadi aku sekalian....” Lalu
sadar kalau Suhu Brandon ada disana, “Suhu.. Maaf....”
Suhu hanya tersenyum melihat tingkah dua orang Murid barunya. Kini, Suhu
mengerti tujuan mereka berdua berlatih disini. Cepat atau lambat, Pandu akan
membuka semua tabir yang menyelubunginya. Siapa orang tuanya, dan alasan kenapa
dia harus dibuang. Semua akan terungkap pada waktunya. Dan Pandu harus memiliki
hati yang kuat untuk menerima kenyataan yang pahit.
“Suhu, kami pamit dulu...” Irfan menarik tangan Pandu yang terlihat lemas kehabisan
tenanga. “Aku yang bawa motor.” Bisik Irfan.
Pandu mengeluarkan kunci motornya, “Nih...” Kunci itu terbang ke tangan
Irfan. “Hati-hati, ya... Aku terlalu lelah hari ini.” Keluh Pandu.
Mari Berbagi Cerita