Pandu merasa sangat kesal hari ini. Pasalnya, sepatu
kesayangannya, ditemukan di tempat sampah dan basah karena kehujanan. Misi
Karin berhasil. Tak tahu apa yang harus dilakukannya kemudian. Disisi lain,
Pandu merasa sudah hilang rasa canggung diantara mereka. Mereka menjadi
benar-benar seperti saudara. Saling usil satu sama lain.
Untungnya, Pandu memilki sepasang sepatu lain. Dia bisa
kuliah dengan sepatunya yang itu. Meski terlihat kurang begitu menarik. Yang
penting dia tidak bolos kuliah. Pandu kemudian memikirkan rencana apa lagi
untuk mengerjai Karin lagi. Mungkin, keusilan mereka akan terus-menerus ada
tanpa kesudahan.
Hari ini, pandu dan teman-teman lamanya akan berkumpul.
Pandu yang hari ini pulang lebih awal telah mempersiapkan segalanya. Mereka
sedang asyik bercerita sambil menunggu kedatanan Irfan yang katanya sedang ada
sedikit kendala. Mereka duduk di teras rumah Pandu.
Karin pulang tepat tengah hari. Hari ini, dia bersama
seorang cowok. Kendaraan yang digunakan cowok itu terlihat cukup baik. Sangat
cocok dengan tubuh cowok berbadan lebar itu. Saat Karin memasuki halaman,
teman-teman Pandu langsung bertanya, itu siapa. Dengan satai Pandu menjawab,
“Adikku.”
“Bang, Karin izin mau keluar sama teman, ya?” Karin
meminta izin dengan sopan. Sepertinya dia tidak canggung meski berada di depan
teman-teman Pandu.
“Teman apa teman?” Pandu menggoda.
“Udahlah, Ndu, paham aja napa, Karin, udah besar, kok.”
Salah seorang teman menyambut. Disusul tawa mereka.
Wajah Karin memerah, teman-teman Pandu malah semakin asik
tertawa. Tak ingin melihat Karin lebih malu, Pandu mengizinkan. “Suruh aja dia
masuk. Ngapain Nunggu disana. Panas.”
Karin memberikan isyarat pada teman cowoknya untuk masuk.
Tapi, dia menolak. Pandu akhirnya memaksa. “Ui, Sini masuk! Gak usah takut! Gak
ada yang menggigit disini.” Teriak Pandu sambil melambaikan tangannya.
Cowok itu tersenyum sambil mendorong motornya masuk ke
halaman. Pandu mempersilahkan duduk disampingnya. Menuangkan miuman dan
mempersilakan minum. Pandu tidak terlihat kaku saat melakukan itu semua. Seakan
itu hal yang biasa yang dilakukannya.
Tak lama kemudian, Irfan datang dengan gaya yang tidak
kalah aneh dari yang lain. Dia memang tidak terlalu memperhatikan penampilan.
“Gila, klen!” Kata pertama yang keluar dari mulutnya. “Siapa yang ngajak anak
dibawah umur?” ucapnya saat melihat ada yang memakai seragam SMA.
“Kau, Sopanlah, Fan. Calon adek ipar aku ini.” Pandu
berura-pura menggertak.
Teman yang lain ikut mendukung Pandu. “Iya, dech iya. Aku
salah. Sorry, Ndu. Aku gak tau.” Katanya ngeles sambil menggaruk-garuk
kepalanya yang tidak gatal.
Setelah datang Irfan, mereka semakin gembira dan semakin
menggila. Tapi, sebelum dimulai, Pandu meminta izin sebentar ke dalam bersama
calon adik iparnya itu. “Ada yang mau kubicarakan secara pribadi. Fan, kau
hibur dulu orang ini, ya.” Pinta Pandu.
“Bagh, jadi pria penghibur aku.” Gerutunya disertai tawa
teman-teman yang lain.
“Rin, aku pinjam bentar cowokmu, ya.” Teriaknya saat
masuk ke ruang tamu.
“Jangan lama, aku mau pergi sama dia.” Teriak Karin dari
kamar.
Sedikit pembicaraan ringan saat menyalakan konsol PS3.
Pandu memilih game sepak bola untuk bermain bersama orang yang
diketahui bernama Rachman ini. Ini adalah cara Pandu
mengenali seseorang. Setiap orang, memiliki taktik tersendiri dalam bermain
sepak bola. Dari saja, Pandu bisa menilai seseorang.
Pandu kemudian mengetahui bahwa mereka sudah berhubungan
selama satu tahun. Mereka sudah mengenal sejak kelas 3 SMP. Rachman juga
mengetahui banyak hal tentang Karin.
Bahkan, kejadian yang menimpa pak Candra dua bulan yang lalu itu, juga
diketahuinya. Karin menceritakan semuanya pada Rachman. Hal yang tidak
diketahuinya hanyalah Kenyataan bahwa Karin memiliki seorang abang.
“Bukan. Maksudku, aku bukan saudara kandungnya. Tapi,
papanya, memintaku untuk menjaganya.” Aku Pandu. Sedikit demi sedikit,
kecanggungan diantara mereka sudah hilang.
Karin turun dengan penampilan yang sangat baik. Cantik
sekali. Pandu hanya tersenyum. “Ayo, kita berangkat.” Ajaknya. Tepat setelah
Pandu dan Rachman main game.
“Oh, iya, Man, besok siang mampir kesini, ya. Orang tuaku
bakal datang dari kampung. Datang, ya.” Pinta Pandu.
“Okeh. Kuusahakan besok.” Rachman mengacungkan jempolnya.
“Jangan terlalu malam pulang, ya, Rin. Ada razia orang
jelek malam ini.” Pandu tertawa.
“Enak aja!” Gerutu Karin.
Mereka pergi setelah berpamitan dengan yang lainnya di
teras rumah. Pandu melambai. Mereka berlalu. Sedikit
banyaknya, Pandu mulai menyadari rasanya memiliki adik. Juga
sedikit merasakan bagaimana menjadi seorang ayah. Meski sudah mengorek
informasi tentang Rachman, tetap saja, dia masih khawatir jika Karin pergi
terlalu jauh dari rumah. Semoga semuanya baik-baik saja, ucapnya dalam
hati.
Selasa, 1 Februari 2016