Semuanya sudah berjalan seperti biasa. Karin sudah masuk
sekolah dengan Pandu menjadi orang yang sedikit disibukkan untuk mengantarnya
setiap pagi. Untungnya, satu arah dengan jalan menuju kampus. Pandu tidak
terlalu keberatan. Penyelidikan polisi menemui kebuntuan. Kasus ditutup untuk
sementara hingga penyidik mampu menemukan sedikit titik terang masalah ini.
Tentu saja, penduduk sekitar menjadi sedikit geram. Seharusnya, polisi tidak
boleh menyerah.
Bagi Pandu sendiri, selama tidak mengganggu Karin dari kegiatan
sekolahnya, itu bukan masalah. Dia juga ingin semuanya bisa segera selesai. Tak
tau bagaimana caranya, dia hanya ingin semuanya bisa segera selesai dengan
baik. Jelas siapa pelaku yang selama ini mengincar keluarga Pak Chandra.
Hari ini, Pandu pulang lebih dulu dibanding Karin.
Biasanya, Karinlah yang lebih dulu pulang. Hari ini memang sepi di kampus
Pandu. Seperti hari libur saja. Pandu senang jika harus belajar sedikit.
Begitulah memang umumnya mahasiswa. Hanya sedikit mereka yang sedih saat matakuliah
berkurang.
Pandu langsung menyalakan konsol PS3-nya. Seperti biasa,
dia main game sepulang kuliah. Sedikit melepas penat. Tak lama dia bermain,
Karin pulang dari sekolahnya. Langsung saja Karin meluncur ke lantai 2. Kamar
pribadinya sekarang. Pandu menyadari hal itu. Dia melihat ada banyak bekas
tapak sepatu. Pastinya, itu adalah tapak sepatu Karin. Pandu
menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Rin, itu bekas sepatumu langsung dibersihkan!” Teriak
Pandu dari bawah.
“Karin capek, Bang. Karin mau istirahat.” Balas Karin
dari kamarnya.
Terbesit sedikit akal licik dari pikiran Pandu. “Ya
sudah, istirahatlah! Tapi, kalau mau cemilah, itu ada di kulkas. Ambil
sendiri!”
Sesaat kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Pandu
segera mengambil posisi bersembunyi dibalik tangga. Suara langkah Karin
terdengar jelas. Menunjukkan kalau dia tidak tahu rencana Pandu. Saat Karin
melintas, Pandu segera menagkapnya. Karin pun memberontak.
“Bang, Apaan sich?”
“Iya, biar Karin gak lari. Itu bekas sepatunya dibersihin
dulu, baru boleh ngambil cemilan” Jelas Pandu.
“Kalau gak mau?”
“Gak kulepas.” Pandu tertawa geli.
“Curang!!! Iya Karin bersihin.”
“Besok jangan diulangi lagi, ya.” Pandu menyerahkan sapu
dengan wajah puas.
Karin menyapu bersih semua yang dilaluinya. Saat didepan
pintu masuk, Karin melihat sepatu Pandu masih ada disana. Langsung saja
ditaruhnya ditempat sampah. Saatnya balas dendam, ucapnya dalam hati.
Pandu melihat Karin selesai melakukan tugasnya. Dia hanya
tersenyum melihat hal itu. Setelah Karin mengambil beberapa cemilan, Pandu
memanggilnya. Seperti ada hal yang ingin dibicarakan.
“Rin, hari Minggu nanti, Ayah dan Mamaku akan datang dari
kampung sana.”
Karin terlihat gugup mendengar itu. “Sebenarnya aku tidak
siap, Bang. Tapi, ya sudahlah.”
“Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja. Mereka disini
hanya lima hari saja. Seminggu paling lama.”
“Iya, gak papa. Kamar mereka nanti?”
“Di sebelah kamarmu. Aku tetap dikamarku.” Pandu lanjut
main game.
Terdengar salam dari seseorang. Dan orang itu langsung
masuk tanpa permisi. Tentu saja, itu adalah Irfan. Dia sudah menganggap rumah
ini adalah rumahnya sendiri.
“Hei, Pandu, main yang Xbox dong. Yang kemarin. Aku belum
selesai. Sedikit lagi.” Irfan melompat dan duduk disamping Pandu.
“Dasar cowok. Kerjanya main game. Belajar kek, biar cepat
lulus.” Karin mengeluh.
“Ini hanya hiburan pulang kuliah, Rin. Paling
bentar lagi juga udahan…”
“Udahan main yang ini tapi main yang lain, kan?” Karin
tertawa. Diikuti Pandu dan Irfan.
Melihat Pandu dan Irfan sedang main game, menjadi hiburan
tersendiri bagi Karin. Sesekali mereka saling kesal, sesekali saling memaki.
Kemudian berlanjut dengan saling memuji. Menurut Karin, itu sangat menggelikan.
Tapi, cukup asik untuk terus diperhatikan. Tanpa sadar, cemilan yang ada
ditangan Karin habis. Dia beranjak untuk membuang sampah.
“Rin, jangan kebanyakan ngemil, nanti gemuk.” Sindir
Pandu.
“Biarin, aku kan rajin olahraga. Nanti sore aku mau
joging.”
“Mau abang temanin?” Irfan bernada bercanda bertanya.
“Cieee... modus....!!!” Karin setengah berteriak sambil
tertawa kecil.
Diluar dugaan, malah tawa Pandu yang terdengar
menggelagar memecah suasana. Membuat Irfan menjadi semakin jengkel. Tapi,
begitulah memang temannya. Bukan pertama kalinya Pandu berlaku seperti ini.
Bahkan, dulunya mereka selalu saling usil.
“Kalian berdua memang cocok jadi abang-beradik. Sama
tingkah kalian.” Irfan kehabisan kata.
“Bang, Besok pagi, Karin berangkat sendiri aja, ya.?”
Karin meminta izin ke Pandu.
“Yakin?” Pandu bertanya dengan wajah agak cemas.
“Udahlah, Ndu. Izinkan saja. Karin, kan sudah besar.”
Irfan ikut masuk ke pembicaraan ini.
Pandu mengambil nafas panjang. “Ya, sudah. Ingat, besok
bangun pagi. Kalau duit kurang, ambil di kamarku aja nanti, ya. Kalau gak tau
dimana, bangunkan saja aku.”
“Makasih, Bang.” Karin memeluk Pandu dan Irfan kemudian
pergi ke kamarnya.
“Tuhkan, kalian sama-sama aneh.” Irfan berkata dengan
nada serius.
Pandu menggaruk-garuk kepalanya. “Aku juga bingung. Apa
secepat itu tingkah anehku menular, ya?”
“Biarin!” Teriak Karin dari depan pintu kamarnya. Kemudian
terdengar suara pintu tertutup.
Pandu dan Irfan saling pandang. Dan hampir bersamaan
mengangkat bahu. Kamudian melanjutkan main game.
Selasa, 26 Januari 2016