
Seminggu
sebelumnya, Jefri ikut mengantarkan Rendi. Sepupunya yang akan kembali belajar
ke Mesir. “Jef, apapun masalahnya, pasti ada jalan keluarnya.” Pesan Rendi
dalam bisikan. Setelah adegan saling melambai, mereka berpisah. Jefri melihat
dari kejauhan pesawat yang ditunggangi Rendi. Aku jadi pengen naik pesawat.
Tapi, mau kemana? Gumamnya dalam hati.
Semester depan,
kemugkinan besar Jefri dan kawan-kawannya akan mengikuti praktek kuliah kerja
nyata. Belum ada pengumuman pasti pembimbing mereka. Jefri masih fokus untuk
apa yang ada di semester ini saja. Untuk selanjutnya, setelah ada sedikit
kejelasan barulah dia mencari tahu selebihnya.
Jefri duduk di
tempat biasa. Setelah sebelumnya mengalami sakit hati karena melihat Dhilla
pergi dengan orang lain yang mengaku pacarnya, Jefri tak lagi mendapatkan kabar
apapun tentang Dhilla. Entah hari ini Dhilla akan datang atau tidak. Ingin sekali
rasanya dia untuk tidak peduli. Tapi, hati berkata lain. Hatinya terus-terus
bertanya, kemanakah Dhilla?
“Jef, sudah
cukup lama kulihat kau tidak bersama Dhilla.” Agus datang dan duduk di samping
Jefri. Agus berbicara dengan sangat pelan. Seakan sedang berbisik.
“Ayolah, aku
tidak ingin membicarakannya.” Kata Jefri datar.
“Bukan masalah.
Tapi, kalau kau butuh orang untuk berbagi cerita, kau bisa cerita padaku.” Agus
membuka smartphonenya. Ada pesan dari Ari. “Jef, sebaiknya kau ikut.
Nanti siang, Ari mengajak kita main ke Vihara di Cemara.”
“Aku tidak
yakin. Aku masih punya banyak tugas yang harus kuselesaikan. Beberapa laptop
yang harus kuperbaiki juga harus selesai dua hari lagi.”
“Wah sayang
sekali, padahal kabarnya hari ini akan banyak cabe-cabean.” Agus tertawa.
Dasar Mesum! Kata jefri dalam hati sambil tersenyum geli.
Tepat sebelum
kelas dimulai, Dhilla masuk dan duduk di tempat biasanya. Ada sedikit cairan
yang seakan menyirami jiwa Jefri saat melihat Dhilla. Apalagi, pandangan mereka
saling bertemu untuk beberapa saat. Tapi dia mencoba membuat semuanya terlihat
biasa. Beberapa orang melihat menyadari hal itu. Sedang yang lainnya tidak
terlalu peduli.
Sepanjang hari
ini, Jefri merasa tidak nyaman. Entah Dhilla merasakannya atau tidak. Setiap
kali dosen meminta alasan kealpaan Dhilla, dia menjawab “urusan keluarga”. Dosen
senior mungkin biasa saja mendengarnya. Dosen yang masih muda malah balik
bertanya, “Urusan keluarga atau mengurus keluarga?” Beberapa langsung melirik
Jefri. Termasuk Agus. Yang lain tertawa geli.
Selama Seharian
ini, Dhilla juga terlihat lebih pendiam. Bahkan selama jam istirahat, dia tidak
keluar ruangan. Tentu saja Jefri keluar. Istirahat untuk makan dan Sholat Zuhur
pastinya. Sedikit merokok untuk menenangkan piikran. Kemudian berusaha
meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tak ada yang
berubah hingga kuliah berakhir kali ini. Jefri masih di kelas saat semuanya
sudah pergi. Sepertinya, dia masih belum berencana untuk keluar. Kembali Jefri
berselancar di dunia maya. Mungkin hanya melihat-lihat apa yang bisa menjadi
inspirasi baginya untuk ditulis di blog.
Sesaat
kemudian, Jefri menyadari masih ada seseorang di ruangan itu. Sepertinya
Dhilla. Jefri tidak menoleh, dia hanya memperkirakan posisi orang yang ada
disana. Dan posisi itu sepertinya tepat berada di posisis Dhilla. Dan pastinya
itu adalah Dhilla.
Setelah
membereskan semua peralatan dan perlengkapannya, Jefri hendak beranjak kemudian
ditahan oleh suara yang pelan memanggil namanya. Bukan, bukan hantu. Itu hanya
Dhilla. Jefri tidak ingin menoleh. Sama sekali tidak ingin. Antara dia harus
marah harus sedih atau yang lainnya. Dia tidak ingin menunjukkan ekspresi itu. Terlebih
kepada Dhilla.
“Soal kejadian
di mall waktu itu, aku...” Dhilla membuka pembicaraan.
Jefri
mengurungkan niatnya untuk pulang. Dia duduk dan menjawab, “Kau benar. Kita
hanya teman kuliah. Hanya teman kampus. Kita memang saling memperkenalkan
dengan cara yang sama.”
“Jefri, dengarkan
aku dulu!”
“Aku selalu
mendengarkan.” Jawaban datar Jefri kali ini seperti serangan balik. “Aku tak
pernah menutup telingaku mendengarkan apapun darimu. Tak peduli itu benar atau
salah. Masalah pribadi, atau masalah bersama. Yang bisa aku bantu atau yang
hanya bisa kudengar saja. Semuanya aku dengar.”
“Kau sendiri
juga orang yang sangat tertutup, Jefri. Aku sama sekali tidak mengerti apapun
tentangmu.”
“Sebaiknya kita
tidak saling berlomba mencari kesalahan. Jika kita sudah sama-sama melakukan
hal yang benar, kita pasti bisa saling menerima. Dan tidak canggung seperti
sekarang. Sekarang, sudah dapat dipastikan. Ada kesalahan dalam status ‘teman
kuliah’ kita.”
“Oke, oke, aku
salah Jef, aku salah. Tapi, kau harus tahu, aku bingung. Saat Papa memintaku
untuk dekat dengan Robby. Aku sudah menolak, tapi Papa masih bersikeras
menjodohkan aku dengan Robby. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa.”
“Dan kau tahu
apa yang terjadi selanjutnya?”
“Apa?”
“Kita benar-benar
hanya menjadi teman kuliah.” Jefri pun bangkit dari duduknya dan beranjak
pergi.
Dhilla mengejar
Jefri dan memeluknya sebelum sempat memegang pintu. “Aku tahu, aku salah. Tapi,
aku tak tau harus berbuat apa sekarang. Aku benar-benar bingung, Jef.”
Bahu kanan
Jefri terasa basah. Sepertinya itu adalah air mata Dhilla. Sekarang, Jefri yang
bingung. Apa yang harus dilakukannya. Dia hanya bisa diam membatu. Ini
merupakan keadaan yang sangat tidak nyaman. Selama ini, selain dari pihak
keluarga, belum ada wanita lain yang memeluknya. Kecuali Dhilla. Dhilla seakan
tidak peduli dengan status Jefri yang merupakan tamatan pondok.
“Dhi... Dhilla.
Baik, hentikan! Aku benar-benar tidak nyaman sekarang.” Jefri berbicara agak terbata-bata.
Dia membalik tubunya memegang bahu Dhilla. “Hapus air matamu. Kita akan
terbiasa nantinya.”
“Kenapa kau
tidak pernah mau berusaha?”
“Kau lihat, aku
bukan siapa-siapa. Sementara yang memintamu bersamanya adalah orang tuamu.
Orang tuamu pastinya lebih mengetahui segalanya, baik tentangmu atau tentang
orang yang dijodohkan denganmu. Pastinya itu semua berdasarkan perhitungan
matang mereka juga. Mungkin, aku tidak masuk kriteria orangtuamu. Setahun atau
dua tahun, tidak akan cukup bagiku untuk menyaingi Robby. Aku bukan
siapa-siapa. Aku juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Apapun yang kuberikan, tidak akan sehebat yang diberikan Robby.”
“Aku akan
bicara lagi sama Papa. Paling tidak, sebelum semester depan, semuanya sudah
jelas. Aku juga ingin tahu pertimbangan orangtuaku. Aku akan bicara lagi.”
“Baiklah kalau
begitu. Aku tunggu di parkiran. Aku tahu kau tidak bawa motor” Jefri
meninggalkan ruangan dengan perasaan bercampur aduk.
Dia memang
tidak bisa melakukan apa-apa. Jika saja dia ngotot untuk menikahi Dhilla,
seperti di film-film, itu hanya akan terjadi di film. Sebaliknya, malah
keluarga Dhilla nanti akan membencinya. Sementara, dia sudah cukup mengenal
keluarga Dhilla. Dia tidak ingin kehilangan kesan baik itu.