Saat merasa
bosan di rumah, Rendi biasanya akan pergi ke tempat Jefri. Sedikit
menghilangkan kegalauannya. Jefri sedang mengambil cuti dari kerjanya untuk beberapa
minggu. Jadi, Rendy benar-benar bisa mendapatkan teman selama masa liburannya
di Indonesia. Selama di Mesir, yang dirindukan Rendy adalah suasana yang tidak
menentu. Antara harus berjuang untuk melawan musim yang gila dan waktu yang
sangat sempit dan terbatas, serta harus melawan rasa malas yang selalu timbul
saat melihat laptopnya.
Rendy memang
belum mendapatkan kepastian kerjanya sebagai seorang editor amatir. Hanya
beberapa kali diminta untuk editing. Dan sudah enam bulan semenjak proyek terakhirnya,
belum ada permintaan lagi. Rendy selalu terlihat santai seakan tak memiliki
masalah. Begitupun sepupunya, Jefri. Mereka seperti memiliki kesamaan semenjak
lahir.
“Belum ada
proyek. Suntuk aku, Jef.” Celoteh Rendy.
Jefri yang
sedang asyik main game seperti kurang memperhatikan apa yang dikatakan Rendy. Jefri yang sehari-harinya sebgai
tukang reparasi barang elektronik, merasa tidak memiliki apapun untuk
diceritakan. Jefri memang lebih dikenal sebagai pendengar yang baik dari pada
pemberi saran yang jitu.
“Ren, besok aku
kuliah pagi. Kalau suntuk, main aja ke kosnya Subhan. Dia masuk siang. Siapa
tahu, ada yang bisa kau bantu disana.” Jefri memberi saran.
Sepertinya, Rendy tertarik. Dia hanya terdiam
melamun memperhatikan gadgetnya. Rendy terlihat sangat gelisah. Ada saat-saat
tertentu dimana Rendy bisa menunjukkan ekspresinya. Disaat sedang galau seperti
inilah tepatnya. Rendy membuka kacamatanya yang tipis. Dia memang masih baru
menggunakan kacamata. Ketidaknyamanannya saat membaca, memaksanya untuk
menggunakan kaca mata. Tinggal bagaimana dia menjaga matanya agar tidak
bertambah parah.
Tanpa disangka,
Subhan datang. Seperti biasa, Subhan masuk dengan nyelonong dan langsung ke
kamar mandi. Sepertinya, dia kebelet. Tanpa basa-basi, Subhan langsung masuk ke
kamar Jefri. Rendy dan Subhan langsung ribut mulut saling ledek. Kebiasaan lama
mereka yang tidak pernah hilang. Jefri melihat mereka dengan pandangan aneh.
Mereka memang teman yang cukup lama tak bertemu. Ada satu teori dalam
pertemanan, ‘semakin akrab suatu hubungan, sopan santun semakin longgar’. Dan
itu terbukti.
Jefri
menghentikan kegiatannya dan mulai duduk bersama. Jefri mengerti, Subhan pasti
datang karena memiliki suatu hal untuk dibicarakan. Mungkin, hanya butuh teman
ngobrol saja. Subhan bercerita, teman-teman yang lain mengajaknya untuk
berlibur ke Penatapan. Sekedar menikmati makan jagung dan minum kopi. Hanya
sekedar melepas penat saja.
Tak perlu
bertanya kepada Rendy, tentu saja dia akan ikut. Kebetulan dia sedang tidak ada
kerjaan. Jefri bingung. Akhirnya, dia memutuskan untuk ikut. Kebetulan, dosen
keesokan harinya sudah pamit selama seminggu. Jadi, dia memiliki waktu luang
untuk beberapa hari dalam minggu ini.
Mereka akan
berangkat selepas Isya. Seperti biasa, kos Subhan menjadi titik tengah mereka
untuk berkumpul. Rencananya, mereka akan pergi masing-masing dengan kendaraan
sendiri. Rendy, dengan Satria FU-nya dengan PD mengatakan siap. Jefri, seperti
biasa, dengan ekspresi datar, menjawab Vixion-nya siap berpetualang.
Jefri sengaja
tidak mengajak Dhilla. Mereka megambil mata kuliah yang berbeda semester ini.
Sepertinya, Dhilla tidak punya cukup waktu untuk ikut. Jefri memilih tidak
menghubungi Dhilla. Takutnya, dia merengek minta ikut. Jefri sedang ingin
bersenang-senang dengan temannya.
Keesokan
harinya, tanpa disangka, Semua orang sudah berkumpul di kos Subhan untuk
berangkat. Di sana ada Raka, Rustam, Dana dan Udin juga ikut. Setelah mereka
berbasa-basi di kos Subhan, akhirnya mereka berangkat tepat setelah isya.
Raka dan Rustam
satu motor, Udin sendirian dengan CBR nya, Subhan sendiri dengan matic begitu
juga dengan Dana. Jefri dengan Vixionnya dan Rendi dengan Satria Fu-nya.
Lengkap sudah mereka pun memulai perjalanan.
Perjalanan ini
seharusnya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar tiga jam saja sebenarnya bisa
ditempuh. Hanya saja malam itu terlalu banyak truk yang lewat. Itu sedikit
membahayakan. Sementara mereka masih berjiwa muda. Udin dengan santainya
melewati setiap truk yang ada di depannya. Dia menjadi pemimpin jalan. Sementara
dibelakangnya ada Jefri yang sedikit lebih santai. Jefri selalu berusaha
memberikan tanda saat menyalip truk. Tanda itu yang menjadi panutan orang-orang
dibelakangnya.
Posisi ketiga
dan seterusnya,dihuni bergantian. Rendi dengan santai berayun-ayun ditengah
perjalanan. Seakan dia sudah sering melewati jalanan seperti ini. Liburannya
kali ini sepertinya sangat menyenangkan.
Setelah
menikmati perjalanan yang lika-liku dan sedikit mendebarkan, mereka akhirnya
sampai di puncak penatapan dan memilih satu kafe untuk bersantai. Cukup dingin
untuk membuat tubuh Rendy menggigil. Tapi, hanya sebentar saja. Mereka
masing-masing memesan minuman panas untuk menghangatkan tubuh. Rendy duduk
dekat pinggiran. Agak menyendiri dari yang lain. Mencoba menikmati apa yang
seharusnya bisa dinikmati. Sementara teman-teman yang lain mulai tertawa dan
bernyanyi bersama menikmati kebersamaan yang aneh ini.
“Apa yang kau
lihat, Ren?” Sambil membawa secangkir cappucino, Jefri mendatangi Rendy yang
sedang melamun.
Rendy menarik
nafas panjang. “Tidak ada. Hanya ada lampu kota yang menghiasi. Aku berharap
ada warna hijau disana.” Katanya sambil terus menatap kearah lereng yang curam.
Meski gelap,
Rendi tau kalau di sana terdapat banyak pohon yang besar dan gagah. Berdiri
dengan angkuhnya sepanjang jalan. Tapi, dari atas sini, hanya gelap yang
terlihat. Ditemani musik dj, yang lainnya masih tertawa bahagia dan mulai
menggila. Rendy hanya menatap kearah mereka dengan senyum geli.
Udin datang
membawa sebotol bir. Jefri yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Memang, udara cukup dingin. Tapi, itu belum cukup jika harus menghangatkan
badan dengan bir. Selama teh manis panas atau kopi panas masih sanggup
menghangatkan, tak ada alasan untuk nge-bir. Raka dan Dana ikut mencicipi bir
itu. Subhan dan Raka tidak ikutan. Mereka hanya duduk sambil ikut melantunkan
lagu yang sedang diputar. Menambah kehebohan. Jefri dan Rendy sepertinya
terlihat berbeda. Mereka terlihat kaku jika seperti ini.
“Gelap menutupi
segala warna,” Tiba-tiba Rendy berkata. “Seperti perlakuan buruk yang bisa
menutupi segala kebaikan. Seribu kebaikan masih akan kesulitan menutupi satu
keburukan kecil. Tapi, satu keburukan kecil bisa dengan mudah menghilangkan
ribuan kebaikan.”
“Maksudmu,
malam ini bukan malam yang baik?” Tanya Jefri tersenyum.
“Mungkin saja.
Tapi, aku lebih memperhatikan warna yang indah. Kebahagian dari kebersamaan. Silaturahmi yang tak terputuskan.
Perbedaan yang tak menghasilkan pertengkaran. Coba kau lihat, Jef! Semuanya ada
pada kita.”
“Aku melihat
hal yang biasa saja.” Jefri menanggapi.
“Coba kau lihat, Udin dan Dana tidak meminta Subhan dan kita yang lain
untuk minum. Dia tahu, kalau itu tidak baik. Dalam keadaan ini, mungkin mereka
tidak bias menahan diri lagi. Dan lihat, kita yang lain. Tidak memaksakan
mereka berhenti atau menahan diri dari minum. Karena kita mengerti, mereka
sebelumnya adalah peminum. Mereka mencoba berhenti, tapi dalam keadaan ini
mereka harus minum. Kita sudah saling mengerti.”
“Kau bisa melihat celah kebaikan sedetail itu. Cukup hebat. Aku tak
menyangka kau memilih melihat kebaikannya.” Gumam Jefri terkagum dengan sikap
sepupunya kali ini.
Secara langsung, Rendy tidak terlihat seperti orang biasa. Tapi dibalik
tampang yang biasa saja, Rendy bukanlah orang sembarangan. Cara dia memandang
sesuatu, sangat berbeda dari orang lain. Dia selalu mencari sudut pandang yang
jarang dilihat orang lain.
Rendy meminta rokok kepada Jefri. Untuk kali ini, dia harus berusaha
menghangatkan diri. Biasanya, Rendy tidak merokok. Kali ini sepertinya sudah
berbeda. Dia harus menemukan cara untuk bertahan dari dinginnya udara luar.
Meski badannya tak lagi menggigil, tapi tetap saja dingin.
Musik dj yang diputar semakin menambah kehebohan mereka. Subhan, Raka
dan lainnya sangat menikmati malam ini. Mereka memesan beberapa jagung bakar
untuk menambah kebahagiaan mereka malam ini.
Setidaknya, dengan terus berjoget dan bergerak, telah bisa mengurangi dingin
yang dirasakan.
“Seperti yang kau bilang, Ren, jika ada orang yang
melihat, kita akan tertutup oleh gelapnya perbuatan teman kita.” Kata Jefri
kemudian.
“Iya. Seperti yang kau lihat, kita juga tidak bisa
melihat warna hijau pepohonan ini. Atau bahkan kita kesulitan membedakan mana
awan dan mana langit dalam keadaan sekarang ini. Itulah gelap.” Jelas Rendy.
“Aku mengerti. Pada saatnya nanti, warna hijau itu akan
terlihat kembali. Akan muncul kembali. Gelap hanya menutupi. Bukan mengubah.”
Jefri melanjutkan.
Rendy hanya tersenyum. Kemudian bangkit dan ikut
berjoget bersama teman yang lain. Hanya Jefri yang masih duduk tenang di
tempatnya. Seakan tak ingin melakukan apa-apa. Sambil membakar rokoknya, Jefri
datang dan duduk di samping Udin. Jefri hanya menepuk punggung Jefri dengan
pelan.
“Dinginnya diluar perkiraanku. Aku harus minum untuk
tetap hangat.” Kata Udin sambil menenggak kembali minumanya.”Ku harap kau tidak
mencobanya. Walau seteguk.”
Dalam hati, Jefri kagum. Benar apa yang dikatakan
Rendy. Masing-masing mereka sudah saling memahami satu-sama lain. Udin
benar-benar minum hanya untuk menghangatkan badan. Tak ada niat untuk mengajak.
Pancingan Jefri berhasil membuktikan perkataan Rendy yang masih pamer
kebolehannya dalam berjoget.
“Iya, aku mengerti.” Tukas Jefri.
Mereka menikmati sun rise paginya. Barulah mereka
pulang dan beristirahat. Meski hanya perjalanan singkat karena bersama Rendy,
Jefri mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Jefri berharap bisa terus
menikmati hal yang seperti ini. Perjalanan yang selalu memiliki arti.