Hard disk external sudah umum dimiliki mahasiswa. Entah isinya apa.
Kebanyakan hanyalah foto-foto untuk saat liburan, dan beberapa film gratisan.
Film yang didapat dari kawan ke kawan. Beberapa adalah makalah tugas kuliah.
Subhan, saat itu sedang asik dengan laptop barunya. Laptop itu dibeli
dengan uang tabungannya. Bukan karena apa-apa, Subhan hanya ingin merasakan
memiliki sesuatu berharga yang dibelinya sendiri. Dan kini telah dia miliki.
Memang, itu adalah laptop keluaran terbaru yang dipilihnya. Sengan spec
yang tinggi. Tentu saja, dia membelinya dengan bertanya kepada teman yang
dianggapnya ahli. Jefri tentu saja. Teman sepondoknya dulu. Jefri pun cukup
sering membantu temannya yang bermasalah dengan barang elektronik.
Masih cukup lama untuk menghadapi hari-hari ujian. Subhan mulai ketagihan
bermain game. Game yang direkomendasikan oleh Jefri, mampu membuatnya tenggelam
dalam perjalanan petualangannya. Jefri memang dikenal sebagai orang yang gila
dengan game. Meski sampai sekarang, dia masih belum memiliki komputer yang
mumpuni.
Tak hanya sekedar game, Jefri juga cukup ahli dalam bidang komputer. Tak
jarang teman-temannya meminta bantuan saat mengalami masalah dengan gadget
mereka.
Seperti biasa, Subhan yang baru saja pulang kuliah langsung menuju ke
taman. Tempat biasa dia bertemu dengan Jefri. Berbagi cerita dan saling diskusi
ringan.
"Jef, seru kali game yang kau kasi kemaren tuh." katanya sambil
membakar rokok.
Jefri menutup bukunya. "Jangan terlalu sering maen gamenya. Biarpun
spek laptopmu cukup kuat, tetap aja butuh istirahat."
Subhan hanya mendengarkan. Dia seakan mengabaikan hal itu. Selain
laptopnya, Subhan juga memiliki komputer tua yang sudah tak diapakainya. Tak
lain karena komputer itu hanya mampu untuk untuk melaksanakan beberapa kegiatan
tertentu saja.
"Nyantai aja. Kan ada kau yang nanti bisa bantu kalau ada
masalah." katanya sambil menepuk bahu Jefri.
"Iya tentu saja aku akan bantu. Tapi, kita gak tau kapan
laptopmu bakal mengulah. Tetap aja harus tau porsi pemakaian." Jefri
menjelaskan dengan datar.
Seperti sebelumnya, Subhan hanya tersenyum mengabaikan. Rokoknya yang
semakin habis itu pun ditariknya lagi. Mengepulkan asapnya ke udara dan hilang
diterpa angin sepoi-sepoi.
"Kau kenapa gak beli komputer, Jef?" Tanya Subhan memecah
keheningan.
"Belum saatnya. Lagian, uangku juga belum cukup untuk beli seperti
yang aku mau." Jefri pun membakar rokoknya.
"Kau memang ahlinya beralasan." Subhan menimpali.
"Terserah kau saja, Bhan." Jefri menarik rokok yang sedari tadi
berada diantara jarinya.
Tiga hari berselang semenjak pertemuan itu. Subhan memiliki beberapa tugas
kuliah yang harus diselesaikannya minggu ini. Perlu diketahui, Subhan bukanlah
orang yang terlalu mahir masalah ini. Tugas ini, benar-benar menyita waktu dan
pikirannya. Perlahan dan pasti, Subhan mengerjakan tugas-tugas itu. Tentu saja
memakan waktu yang lama.
Seperti biasanya, Subhan menyimpan data tugasnya di Hard Disknya. Tak mau
ambil resiko jika saja dia harus mengerjakannya di tempat lain dan dia sedang
tidak membawa laptopnya. Setelah menikmati beberapa batang rokok, Subhan
melanjutkan relaksasinya dengan bermain game. Hingga larut malam. Untungnya,
esok hari adalah Sabtu. Dia sedang libur.
Subhan pun tertidur dan lupa mematikan laptopnya. Hal ini sering terjadi
saat hari libur. Kebiasaan buruk seorang pelajar. Mahasiswa mungkin.
Subhan bangun pagi diwaktu biasa. Tapi tidak dalam keadaan biasanya. Kepala
terasa berat. Badan agak kesakitan. Sendi-sendi seperti baru disambungkan.
Subhan langsung bergerak ke kamar mandi. Belum menyadari apa yang terjadi
pada laptopnya. Kamar mandi dikosnya adalah kamar mandi bersama. Untungnya,
sedang tidak ada orang di kamar mandi. Dia pun langsung berwudhu' dan sholat
subuh. Beberapa saat kemudian, Subhan langsung menghadap laptopnya.
Menyalakannya seperti biasa. Sementara tangannya sedang asik dengan
smartphonenya. Sekian lama dia menunggu, tapi laptopnya sama sekali tidak masuk
ke windows.
Subhan masih tenang dan asik bermain di smartphonenya. Dia tidak menyadari
masalah pada laptopnya. Sesekali dia melihat dan mencoba menghidupkan kembali
laptopnya. Hal yang sama masih terjadi. Subhan mulai panik. Tak lain karena
semua data yang ada laptop nya adalah tugas-tugas yang harus dikumpulkan hari
senin nanti.
Hampir saja Subhan membanting laptopnya. Dia pun bingung harus apa.
Satu-satunya yang dia tau adalah menghubungi Jefri. Tapi Jefri tak pernah
mengangkat telepon pagi hari. Ya, pagi hari adalah waktu mutlak miliknya, dan
tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Tidak ada pilihan lain, Subhan mengirimkan pesan singkat kepada Jefri.
Entah dibacanya atau tidak. Subhan pun pasrah.
Sesekali Subhan bertanya kepada teman tetangga kosnya. Tapi, kebanyakan mereka
tidak mengerti. Sementara yang lain sibuk. Tentu Subhan menjadi semakin panik.
Tugasnya belum selesai. Dan hari Senin harus dilaporkan. Kemana dia harus
meminta bantuan lagi?
Tepat jam 11 menjelang siang, ada panggilan masuk. Setelah hampir putus asa,
akhirnya Jefri menelpon juga. Subhan mengangkat panggilan itu. "Hallo,
Bhan, mana posisi?" Suara dari seberang sana.
"Di kost, Bro. Kesinilah kau cepat. " Subhan tidak sabar.
"Ok. Aku langsung gerak ke sana." Kata Jefri meyakinkan.
Tak lama kemudian, Jefri pun tiba di kos Subhan. Seperti biasa, Jefri
selalu membawa tasnya. Meski, Jefri tak biasa berpenampilan rapi, kali ini dia
datang dengan keadaan yang tidak begitu kacau. Tidak sekacau biasanya paling
tidak. Masuk ke kamar Subhan seakan kamarnya sendiri dan duduk dengan santai.
"Kenapa laptopmu, Bhan?" Tanya Jefri tanpa basa-basi.
"Gak tau aku, Wak. Udah suntuk aja bawaanya."
Jefri memperhatikan sekelilingnya. Kemudian berhenti disalah satu sudut
kamar. "Itu komputer masi bisa dipakek?"
"Bisa, sich. Tapi, ya gitu. Kualitas jadul."
"Oh," Jawab Jefri datar, "kalau gitu, langsung kulihat
ajalah laptopmu, ya?"
"Iya, kau utak-atik ajalah dulu itu wak."
"Sebelumnya sempat sering mati laptopmu?" Tanya Jefri sambil
membuka tas nya dan mengeluarkan peralatan yang dibutuhkannya.
"Iya, Wak." Jawab Subhan santai.
"Layarnya biru gitu, ya, sebelum matinya."
"Iya."Jawab Subhan lagi tanpa mengerti seberapa parah rusaknya
benda itu.
"Kayaknya gak bakal terselamatkan lagi. Kena di Hard Disk kayaknya."
Jefri menjelaskan.
"Maksudnya yang sering kubawa-bawa itu, ya?"
"Bukan, Wak. Yang internal maksudku." Jefri menyalakan laptop
itu, sambil menempelkan telinganya di laptop. "Bunyinya parah. Kita
bongkar dululah dikit, ya?"
Tak lama kemudian, Jefri menunjukkan yang mana namanya Hard Disk Internal.
"Modemmu, paketnya banyak, kan?"
"Iya, cukup banyaklah." Subhan bingung, apa yang ingin dikerjakan
Jefri.
Jefri menyalakan komputer tua itu. Cukup lama menunggunya stabil. Jefri
menyalakan rokoknya. Diikuti Subhan. Setelah menyala dan sudah tersambung ke
internet, Jefri langsung membuka video yang berisi penjelasan bagaimana cara
kerja hard disk.
Subhan sudah mulai mengerti. Jefri mengingatkan lagi masalah pemakaian.
Tidak boleh berlebihan.
"Jadi, Laptopku cemana ceritanya?"
"Mau tidak mau, harus ganti hard disk. Data yang ada di hard disk itu
hilang. Kalau pun ada tugas dadakan, pakek komputer ini aja." Jelas
Jefri sambil memainkan asap rokok.
Subhan pun terlihat pasrah. Seingatnya, tugas itu di laptopnya. Setidaknya,
Subhan mengerti kalau selama ini dia sudah terlalu memaksakan laptopnya. Meski
level laptopnya adalah high-end, tetap saja memiliki batasan.
"Komputer tua gini kayaknya jarang rusak, ya, Jef?" Tanya Subhan.
"Padahal, jaman sekarang kan, banyak kebutuhan di laptop. Kenapa bisa
rentan bermasalah gini, ya?"
"Pada jamannya, komputer itu cuma dipakai untuk hal-hal yang penting
saja. Berkembangnya jaman, membuat laptop yang lebih diperuntukkan kearah
hiburan dan hobby. Didesain dengan mewah, diberikan kemampuan yang mewah pula.
Hingga pemakainya jadi lupa. Kemewahan tak berarti memiliki kemampuan tak
terbatas. Sehebat apapun itu, tetap saja memiliki keterbatasan. Jangan sampai,
kemewahan yang kita dapatkan membuat kita lupa dengan keterbatasan. Begitulah
hidup." Jefri menerangkan.
Tak lama kemudian, Jefri pamit. Tanpa pikir panjang, Subhan mencolokkan
hard disknya ke komputer. Dengan sabar dia memperhatikan setiap file yang ada.
Sebagian bisa dibuka, sebagian lagi tidak karena tidak memiliki software
pembacanya. Matanya berhenti pada sebuah file. Inikan, tugasku yang
kuanggap hilang. Gumamnya dalam hati. Dibukanya file itu. Isinya sama
dengan yang telah dikerjakannya terakhir kali.
Meski kehilangan laptopnya, Subhan bersyukur tak ikut kehilangan tugasnya.
Hanya tinggal memanfaatkan the power of kepepet. Dan tugas pun
akan kelar disaat yang dibutuhkan. Saran Jefri memang mantap. Dan subhan selalu
mengikuti petunjuk penting. Kecuali masalah yang baru saja dihadapinya. Jefri
selalu memberikan alasan yang tepat. Hard disk itu juga merupakan saran dari
Jefri.
Akhirnya, komputer tua itu menyelamatkannya di akhir waktu yang dibutuhkan.
Benar kata Jefri. Kemewahan membutakan kita akan kelemahan. Padahal, semuanya
memiliki batasan. Apapun itu. Pelajaran yang sangat berharga hari ini. Akan
terus dikenangnya.