Udin sedang
berusaha memejamkan matanya dimalam yang melelahkan. Setelah cukup lama
menikmati malam bersama teman-temannya, dia pun pulang ke kosnya. Udin memang
biasa pulang larut malam. Untungnya, kos tempatnya menetap tak memberikan
aturan tentang jam malam.
Sudah setengah
jam lebih Udin berusaha merayu matanya agar tertutup. Dia butuh istirahat untuk
mengadapi hari esok yang mungkin akan lebih berat dari hari ini. Kamar kosnya
yang berantakan, menunjukkan sedikit dari kepribadiannya yang amburadul gak
karuan. Hanya beberapa buku yang tersusun rapi. Itu pun karena tak pernah dibacanya.
Begitu banyak
cara yang dilakukan Udin untuk tidur. Mulai dari menghitung domba, membayangkan
hal-hal indah, atau pun yang lainnya. Tapi, tetap saja matanya enggan menghubungkannya
ke dunia mimpi. Seakan akses ke alam bawah sadar sudah penuh dan dia tak lagi
bisa memasukinya. Perlahan tapi pasti dan dengan rasa frustasi, akhirnya
matanya tertutup dengan damai. Menikmati alam bawah sadar dan diteruskan dengan
fantasi yang menakjubkan bernama mimpi.
Tidak seperti
biasanya, Udin terbangun dengan setengah terkejut. Seperti terbangun saat
terjatuh dalam mimpi. Ada hal yang aneh terjadi. Tubuhnya tidak bisa
digerakkan. Dia hanya bisa menggerakkan bola matanya. Tubuhnya terasa sangat
berat, seakan ada yang menimpanya. Tapi tidak terlihat. Udin langsung berpikir
yang aneh-aneh. Akh, sialan. Aku ditindih jin. Katanya dalam hati.
Perlahan tapi pasti, dia mencoba menerjangkan kakinya. Akhirnya, dia sadar
sepenuhnya. Tentu saja dibarengi dengn keringat dingin dan detak jantung yang
cepat.
Setelah
mengatur nafasnya dan mencoba duduk dengan normal, kembali dia merenungi
sekeliling kamarnya. Kamarnya yang berantakan, membuat seakan-akan tertindih
jin tadi adalah hal yang masuk akal terjadi. Tempat yang buruk adalah tempat
favorit para jin. Itulah hal yang terngiang dalam pikirannya. Itu adalah
hal yang pernah diketahuinya selama berada di pesantren dahulu. Matanya kembali
menerawang kesana-kemari. Sekan mencari jejak jin itu kemana perginya. Ingin rasanya
Udin memukul jin itu. Karena telah mengganggu kenikmatan tidurnya. Itu adalah
kali pertamanya merasakan tindihan seperti itu.
Dia
mempersiapkan diri untuk kuliah. Mungkin dia akan bertanya kepada beberapa
orang masalah ini. Tapi, siapa? Dia seperti tidak menemukan daftar nama yang
cocok untuk menceritakan masalah ini. Yang kemudian terpikir olehnya adalah
Subhan. Salah satu temannya dari pesantren dahulu. Beruntungnya, mereka kuliah
di kampus yang sama. Meski kos mereka agak berjauhan. Dipacunya motornya menuju
kampus. Masih terlihat sepi. Angin berhembus santai. Seperti biasa, Udin duduk
diatas motornya dan menikmati rokoknya. Wajahnya masih terlihat kurang tidur.
Seakan dia masih belum fit untuk mengikuti kuliah pagi ini.
Diseberang
jalan, Udin melihat Subhan baru saja datang dan memarkirkan motornya. Ingin
sekali Udin memberi tahu Subhan tentang masalah tindihan itu. Seakan itu
menghantuinya untuk tidur. Tapi dia malu. Seakan itu adalah sesuatu yang tidak
harus diceritakan kepada orang lain menurutnya. Tapi, dalam hatinya Udin merasa
takut untuk tidur di kamar kosnya lagi.
“Bhan,” Udin
memanggil Subhan yang baru saja memarkirkan motornya. “Nanti malam kau ada
kegiatan?”
Subhan
mendatangi Udin. “Aku kayaknya ke rumah si Jefri. Aku tidur disana kayaknya.
Datang aja kalau mau. Sekali-sekali kita kesana. Tenang ajalah kau.” Subhan
duduk diatas motor Udin dan menyalakan rokoknya. Angin menyapu asap mereka.
“Sama ajalah
kita kesananya, Wak. Gak enak aku kalau sendiri.” Aku Udin.
“Ya udah, nanti
sore kami di taman. Tempat biasa. Kesana aja kau nanti. Setelah itu langsung
kerumahnya. Maen game disana. Baru beli komputer dia. Main PES atau apa gitu.
Mana tau kau mau melawan dia, kan?” Kata Subhan santai.
“Jefri gak
terganggu kalau aku ikut?”
Subhan tertawa
kecil mendengarnya. “Kayak orang lain si Jefri kau buat, akh. Santai aja lah.
Senang dia itu, ada kawan di rumahnya. Biasanya sendiri terus dia.”
Udin berpikir,
apa Jefri gak takut tinggal sendirian gitu. Sedangkan dia yang tinggal di kos
yang ramai aja bisa tertindih jin. Apalagi kalau sepi. Ya, mungkin saja Jefri
sedikit lebih rapi dari pada Udin. Jadi, jinnya enggan untuk mengganggunya.
“Ya udah, nanti
pulang kuliah aku ke taman sama klen lah.”
“Okeh. Yuk
masuk” Ajak Subhan kemudian. Mereka berjalan bersama sambil menghabiskan rokok
masing-masing.
Sepulang
sekolah, Udin tak langsung menuju ke taman. Dia menuju kosnya untuk
mempersiapkan beberapa barang yang akan dibawanya. Salah satu yang akan dibawanya, adalah
laptopnya.yang biasanya ditinggal. Tak lain karena tidak terlalu mengerti
menggunakannya. Biasanya hanya digunakan untuk menonton film bajakan. Itu saja.
Sisanya, Udin tidak terlalu mengerti.
Setelah
mengganti pakaiannya, Udin bergegas pergi. Tak lupa dia membeli rokok dulu di
warung depan kosnya. Setelah itu, langsung tancap gas ke... Tadi katanya ke
taman dulu atau langsung ke rumah Jefri ya? Pikirnya dalam hati. Akh ke
taman aja dulu. Paling nanti jumpa orang itu. Kalau gak ada baru ke rumah
Jefri. Pilihnya kemudian.
Sampai di
taman, Udin tidak harus kesulitan mencari Subhan dan Jefri. Mereka duduk di
dekat parkiran. Terlihat mereka duduk santai bercerita panjang. Udin sampai
berpikir, mungkin saja ada orang yang mengatakan kalau mereka homo. Ya soalnya
mereka hanya berdua duduk di bangku panjang taman.
“Woi,” Teriak
Udin dari belakang. Subhan dan Jefri langsung menoleh. “Kayak orang homo klen
kutengok. Seru kali kayaknya obrolan klen.” Udin tertawa.
Jefri hanya
tersenyum dengan sedikit tertawa. Subhan tertawa lebih lepas. “Mana aja kau,
Din? Gak pernah nampak?” Sapa Jefri dengan hangat.
“Biasalah, Jef.
Urusan anak muda.” Jawab Udin sambil tertawa kecil.
“Duduklah dulu,
Din. Merokok dulu bentar. Menikmati sore sekali-sekali.” Subhan mulai mengoceh.
“Iyalah, iya.”
Udin pun duduk disamping Subhan dan membakar rokoknya yang baru dibelinya.
“Eh, Jef,”
panggil Udin. “Kau gak ngerih apa tinggal sendiri di rumah kayak gitu?” Udin
memulai percakapan.
“Ngerih? Aku
biasa aja sich. Gak terlalu memperhatikan hal-hal kayak gitu.”
“Gini, Jef,
Bhan. Tadi malam, aku tidur kayak tertindih gitu. Gak bisa begerak gitu.
Betulnya itu namanya tertindih jin?”
“Bisa jadi,
Wak.” Jawab Subhan. “Pasti kau pulang malam langsung tidur, kan?”
“Iya.” Aku
Udin. Udin terlihat serius mendengarkan.
“Bahaya itu
wak. Kau kan tahu sendiri, jin itu suka di tempat yang berantakan dan gak
teratur. Sekali-sekali kau bersihkan kamarmu. Wudhu’ dulu sebelum tidur. Baca
Qurr’an atau apa gitu, biar gak diganggu lagi.” Subhan menjelaskan sejauh yang
diketahuinya.
“Ohh... gitu
ya. Kalau udah terlanjur tertindih itu cemana, Wak?” Tanya Udin lagi.
“Waduh, cemana
ya. Kalau waktu kutanya sama kawanku yang pernah tindihan, katanya baca surat
al-Ikhlas atau ayat kursi gitu.” Subhan melihat kearah Jefri yang sedang asik
dengan hapenya. “Kalau menurutmu cemana, Jef?”
“Panjang
penjelasan masalah itu. Nantilah di rumah kita cerita. Gak cukup waktunya kalau mau dijelaskan
disini. Lagian biar bisa lebih santai juga dirumah.” Jefri menjawab santai.
Tak ada
tanggapan dari Subhan dan Udin. Sepertinya itu menunjukkan kesetujuan mereka.
Sore itu memang cukup indah untuk dinikmati. Untungnya hujan tidak turun disaat
yang cerah begini. Angin berhembus santai. Taman juga dipenuhi dengan kegiatan
setiap individu.
“Din,” Jefri
memanggil Udin. Memecah lamunan mereka. “Kata Subhan kau mau nantang aku main
PES?”
“Bagh,
macam-macam kau. Kalah kau nanti, Jef.” Kata Udin dengan gaya yang sok mantap.
“Tunggu apa
lagi? Langsunglah kita eksekusi.” Subhan menyarankan. Udin langsung bangkit
disusul yang lainnya.
Tidak jauh
perjalanan dari taman menuju ke rumah Jefri. Hanya beberapa menit saja, mereka
sudah sampai di tempat Jefri. Setelah duduk untuk beberapa menit, Jefri
langsung menyalakan komputernya untuk main PES. Tentu saja Udin langung
mengambil posisi. Subhan hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
Subhan masih
teringat, beberapa bulan yang lalu Udin masih merasa Jefri adalah orang yang
tidak peduli pada apapun. Tapi, setelah kejadian yang menimpa orang tuanya, dia
mengerti, Jefri adalah orang yang lebih suka menunjukkan bukti nyata dari pada
sekedar kata. Awalnya, Udin masih sungkan berteman dengan Jefri. Sepertinya,
Jefri tak menunjukkan dia membatasi diri dengan siapapun. Hingga akhirnya, Udin
merasa nyaman. Dan lupa dengan apa yang dirasakannya tentang Jefri dahulu.
“Eh, Jef. Terus
gimana dengan masalah tindihan waktu tidur itu?” Tanya Udin yang sepertinya
sangat penasaran.
“Oh, iya.”
Jefri baru ingat. “Jadi, dalam istilah kesehatan, itu namanya sleep
paralysis. Itu artinya kelumpuhan sementara yang dirasakan setelah tidur. Gitulah
kira-kira artinya. Jadi sebelumnya, ada beberapa tahapan dalam tidur. Jadi tidur
itu bukan langsung jleb, tidur. Tapi, ada prosesnya.”
“Bagh, gitu,
ya.” Udin takjub mendengar penjelasan itu. “Padahal rasaku kalau ngantuk ya
langsung tidur aja.”
Subhan diam dan
mendengarkan. Seperti biasa, kalau Jefri sudah menjelaskan sesuatu, selalu
memiliki alasan yang kuat dan masuk akal. Hampir tidak pernah Jefri menjelaskan
sesuatu yang tidak bisa diterima akal. Meski kelihatannya, Jefri hanya berada
dibelakang komputernya, tapi dikepalanya terdapat begitu banyak hal yang tidak
diketahui orang banyak.
“Iya, aku juga
ngerasanya gitu. Itu karna semua proses dan tahapan itu berlangsung di dalam
otak. Bukan diotot luar.”
“Bagh, maksud
kau apa ini, Jef? Nyindir?” Udin bercanda.
Subhan tertawa
menyadari Udin tersindir dengan ucapan Jefri. “Udin, udin. Bukan nyindir juga
maksudnya.” Subhan menepuk badan Udin yang cukup besar. Udin berperawakan besar
dan berotot. Seakan kehidupannya yang keras telah membentuk tubuhnya sedemikian
rupa.
Jefri hanya
tersenyum santai, “Jadi fase tidur itu ada empat. Dan ini harus berurutan dari
awal sampai akhir. Dan sebelum sadar dari tidur, ini berjalan terbalik. Urutannya
harus sempurna. Pertama itu kita mengalamai kondisi setengah sadar. Dimana,
perlahan-lahan kita mulai kehilangan kesadaran nyata. Terkadang itu bisa
berlangsung cukup lama. Suara-suara atau penglihatan yang tiba-tiba mulai
menghilang sebelum kita tertidur merupakan salah satu cirinya.”
“Ohhh, gitu,
iya iya.” Udin mengerti dengan sangat jelas. Meski dia tidak terlalu bisa
berpikir jernih, tapi penjelasan Jefri cukup bisa membuatnya mengerti dan puas.
“Nah, setelah
itu, masuklah ke fase kedua, itulah fase dimana kita total sudah terputus dari
dunia nyata. Kita tidak lagi merasakan apa yang di dunia nyata, seakan otak
sudah menutup aksesnya dari dunia luar. jadi, maksudnya ini kita sudah memasuki
alam bawah sadar sepenuhnya. Meski, belum memasuki dunia mimpi.”
“Setelah itu
mimpi?” Potong Subhan.
“Belum.” Jawab
Jefri dengan santai dan tenang. “Tahapan atau fase selanjutnya, itulah yang
kita sebut tidur nyenyak. Kalau menurutku, ini adalah fase dimana biasanya kita
mulai mendengkur dan sebagian mungkin mengigau. Ini adalah fase tubuh kita
benar-benar istirahat.”
“Bagh, lama
juga rupanya untuk sampai ke duania mimpi itu, ya?” Udin sepertinya sudah tidak
sabar ingin mendengar penjelasan pastinya tentang tidur yang tertindih itu.
“Nah, fase
terakhir, ini disebut, Rapid Eye Movement. Atau biasa disebut REM. Disinilah
kita biasanya akan mengalami mimpi. Menurutku, kita gak selalu mimpi,
kadang-kadang kita cuma sampai di fase ketiga. Itu gak masalah, hanya yang akan
menjadi masalah jika saja urutannya tidak sesuai.”
Udin dan Subhan
terlihat sangat antusias mendengarkan. Hingga mereka lupa dengan pertandingan
PES yang mereka rencanakan tadinya. “Okeh, tindihan itu terjadi karena, tadi,
kita masih mengalami fase kedua, tapi langsung masuk ke fase keempat. Baru aja
memasuki dunia bawah sadar, kita udah langsung bermimpi. Efeknya, waktu kita
bangun, otak sudah memberikan sinyal kesadaran, tapi tubuh kita, atau otot-otot
kita masih tertinggal dalam kondisi tidur. Itulah yang menyebabkan kita merasa
seakan-akan lumpuh untuk sementara.”
“Itu kenapa
bisa gitu, Jef?” Tanya Udin. Dia khawatir itu akan sangat berbahaya.
“Itu sebenarnya
kejadian normal. Gak sampai berbahaya. Aku juga blelum pernah tahu ada yang
meninggal gara-gara tindihan. Tidihan itu, sebenarnya karena terlalu capek
misalnya, pengaruh obat, kurang tidur, atau mungkin stres yang berlebihan. Pola
tidur yang tiba-tiba berubah juga menjadi penyebabnya.”
“Tapi, Jef,”
Subhan mulai bingung, “kan ada tuh, hadits yang bilang kita harus wudhu’ dulu
sebelum tidur, membaca Al-Qur’an sebelum tidur, membersihkan tempat tidur,
menutup wadah air, itu kan maksudnya menghindari kejahatan jin juga, kan?”
“Begini, Bhan,
aku bukan menafikan kalau itu bisa jadi perbuatan jin. Tapi, menurutku,
penjelasan ini lebih masuk akal, itung-itung, supaya kita juga tidak fitnah
sana-fitnah sini, kan? Meskipun mereka makhluk halus, bukan berarti boleh
difitnah sesuka hati. Bukan berarti setiap kejadian yang tidak kita mengerti,
lantas kita kambing hitamkan hal yang lain. Nah, alasan kenapa berwudhu’
sebellum tidur, itu karena memberikan kesegaran pada tubuh. Hingga membuat otak
tenang dan semuanya bisa berjalan lancar. Sedangkan membaca, itu merupakan
kegiatan pemancing tidur. Terasa nyaman tidur jika kita membaca sebelumnya. Coba
aja kalau gak percaya. Kalau masalah membersihkan tempat tidur, menurutku itu Cuma
kebersihan aja. Biasanya, tempat tidur hanya didatangi saat mau tidur saja. Makanya
sebaiknya dibersihkan dulu. Gak tau entah apa aja yang ada diatasnya selama
kita tinggal. Menutup wadah air, mematikan api, itu merupakan bentuk kesehatan
dan kewaspadaan aja. Menutup wadah air, karena kita tidak tahu apa yang akan
masuk ke air selama kita tinggal. Mematikan api, supaya tidak terjadi
kebakaran. Itu menurut aku, ya.”
Penjelasan yang
sangat memuaskan dari seorang Jefri. Meski dia bukan kuliah di jurusan agama,
tapi dia bisa memahami semua itu. Mungkin karena semangat membacanya yang
tinggi yang membuatnya bisa berpikir begitu.
“Terus, Jef,
kalau udah terlanjur tertindih misalnya, apa yang harus dilakukan?”
“Yang penting
satu, jangan panik. Aku juga cukup sering sebenarnya. Tapi, jangan panik. Terus,
coba gerakkan bagian tubuh yang paling ringan. Jempol kaki misalnya, atau jari
tangan. Kalau aku sendiri, biasanya kupejam kuat-kuat mataku. Itu bisa
memancing respon anggota tubuh yang lain untuk segera keluar dari alam mimpi. Itu
aja sich. Setelah itu, ya minum secukupnya aja. Karna, kayaknya itu membuat
kita agak kehausan. Terus, ya mandilah, biar segar aja badan.”
“Okeh, Jef,
okeh. Sampek lupa kita maen PES nya.” Jawab Udin lagi sambil tertawa.
“Iya, cepat
klen main, Setelah itu klen harus mengalahkan sang juara.” Kata Subhan
membanggakan dirinya.
“Iya, tunggu
aja, ya.” Balas Udin tidak mau kalah.
Mereka
menghabiskan malam liburan dengan bermain game. Hingga larut malam. Udin,
belajar banyak dari penjelasan Jefri. Sekarang dia sudah tidak lagi merasa
takut jika harus tertindih. Penjelasan Jefri yang sangat masuk akal itu akan
terus diingatnya.
NB: Penjelasan tentang tindihan, dapat ditemukan disini