Penyerangan Dan Awal Yang Buruk
Dio tidak bisa tidur pada malam itu. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka memikirkan bagaimana caranya agar masalah ini segera berakhir. Menyelamatkan putri sang gubernur merupakan tugas utama yang sangat berat. Memang mereka tidak diminta untuk meakukan itu, tapi mereka merasa itu adalah tanggung jawab mereka. Mereka sedang ada disana, berlindung dari para zombie yang sebenarnya bukan zombie sungguhan. Mereka hanya terpengaruh oleh suatu zat.
Sang doctor masih berusaha memasukkan sutau formula ke dalam semua peluru mereka. Bull sedang menari info tentang para pasukan yang akan di berangkatkan ke sana. Untuk mempermudah urusan mereka.
Ridho dan Dio seakan takut tak ada lagi hari esok. Mereka hanya menghabiskan malam itu dengan diam dan merokok. Sementara Siska hanya mengurung diri di kamar.
Tiba-tiba Siska menjerit kesakitan. Tak lama kemudian disusul oleh Ridho. Spontan merka semua terdiam dan tidak berkata apa-apa. Khususnya Dio. Seakan mereka ingin menangkap Dio. Entah apa yang terjadi dengan mereka. Doctor langsung menyiapkan suntik yang berisi penawar sementara. Karena belum di ketahui pasti obat penawar untuk zat itu.
Doctor segera memberikan suntik kepada Dio, Bull, dan Siska. Terjadi pertarungan kecil di ruangan yang kecil itu. Doctor di kejar oleh Siska. Seakan dia ingin Doctor itu menjadi sepertinya. Doctor akhirnya tersudut di dekat meja kerjanya sendiri. Datanglah bull disaat yang tepat. Bull langsung menusukkan serum yang berisi penawar itu ke leher Siska. Siska langsung jatuh dan tak berdaya. Dio masih di kejar oleh Ridho. namun terjadi sedikit perarungan antara mereka. Ridho mengayunkan cakarnya ke wajah Dio. Dengan sigap Ridho berhasil menghindar dan berlari lagi. Namun lagi-lagi Dio tersudut di sebuah ruangan kecil. Perlahan Ridho bergerak mendekati Dio. Dio mengeluarkan serum yang di berikan oleh Doctor. Perlahan mereka berputar mengelilingi ruangan tersebut. Dio juga sedang mencari dimana tempat yang mudah untuk di tusuk. Ridho langsung menyerang Dio. Dio terlempar ke atas sebuah meja. Ridho berlari ke arah nya. Ridho berhasil memegang bahunya. Tanpa pikir panjang Dio langsung menusukkan serum itu ke perut Ridho.
Ridho pun jatuh tak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian muncullah Bull dan Doctor.
“Ayo... Bawa mereka ke ruang kerjaku....!!!”, pinta Doctor
Mereka di baringkan di atas kasur putih dengan infus di tangan mereka. Infus itu berisi ramuan yang merupakan penawar sementara virus tersebut.
“Biarkan mereka beberapa saat.... mungkin mereka akan merasa lebih baik setelah sadar....” kata doctor dan langsung meninggalkan ruangan. Dan yang lain pun menyusul. Sekarang mereka duduk dan terdiam di ruang makan. Semua yang di rencanakan hari ini gagal gara-gara masalah tadi. Padahal seharusnya hari ini menjadi awal penyerangan mereka. Terbesit di benak Dio kalau Andi dan para sekutunya sebenarnya sudah mengetahui keberadaan mereka.
“Aku punya firasat..... kalau sebenarnya mereka sudah mengetahui keberadaan kita. Namun sepertinya mereka masih berpura-pura tidak tahu.” Dio membuka percakapan serius sambil menghisap rokonya.
“Sebenarnya aku punya pemikiran yang sama sengan mu. Sepertinys merek jga tahu kalau kita akan menyerag hari ini. Jadi mereka menambah kekuatan reaksi virus itu kedalam tubuh mereka.”
Bull hanya terdiam. Padahal mereka sudah merencanakan semuanya. Ridho Dio sudah sepakat kalau mereka yang akan pergi langsung menuju tempat Sang putri Gubernur.
“Aku tidak bisa diam begini saja. Aku datang ke kota ini karena ingin bertemu dengan teman-teman lamaku.... Mengapa seperti ini jadinya.....????” Dio berdiri dan berbalik. Kemudian mengepalkan tangannya. Sebenarnya Dio mengenal Ricky. Namun ia tidak memberitahu yang lain tentang itu. “Aku harus pergi walaupun harus sendiri. Aku tidak punya pilihan...... Aku haru pergi.....”
Baru saja Dio hendak menuju ke ruang senjata, Ridho keluar dan menegurnya. “Kita punya dendam yang sama kawan... Jangan bertindak sendiri... Aku juga sudah bosan terus menerus lari dari mereka... sepertinya ini memang saatnya untuk MEMBALAS....”
Ridho keluar dengan cara yang normal. Seakan tak pernah terjadi apa-apa dengannya. Dia seperti memiliki kekebalan tubuh yang lebih tinggi dari yang lain. Doctor sudah menyadarinya dari awal. Tapi merupakan hal yang biasa bagi dotor. Dia sering menemukan orang-orang yang seperti itu. Jadi itu bukan hal yang mengejutkan baginya.
“Baiklah kita sepakat. Tidak ada lagi yang akan menghalangi kita untuk melakukanya....” kata Ridho memecah keheningan. Mereka pun langung menuju ruang senjata.
Dio sudah memilih senjata dan Amunisi secukupnya. yang jadi masalah, jika mereka kehabisan amunisi maka mereka terpaksa menggunakan yang asli. Dan pastinya itu akan membunuh para zombie itu. Tak ada pilihan lain. Mau tidak mau mereka harus melakukannya. Demi kelangsungan hidup mereka juga.
Dan sekarang mereka menuju ke pintu menuju jalan keluar. Sekali lagi Ridho dan Dio memeriksa perlengkapan mereka. Tidak lupa juga mereka membawa Rokok secukupnya. itu sudah seperti kebutuhan hidup bagi mereka. Doctor dan Bull mengantar mereka sampai di depan pintu. Bull memberikan dua buah radio yang akan digunakan sebagai alat penghubung dan pelacak agar mereka tahu situasi. Dan mereka pun berangkat. menuju perang yang sesungguhnya.
0OooO0
“Semuanya.... Siaaap... Graaak.....!!!!!!”, teriak seorang komandan kepada anak buahnya. Mereka merupakan pasukan yang akan dikirim untuk mengamankan daerah yang terkena virus aneh dan berbahaya itu. Mereka sudah siap dengan persenjataan yang lengkap. Dan sekarang, adalah pengarahan hal apa yang harus mereka lakukan saat tiba di TKP.
Pengarahan selesai dan mereka pun bubar. Persiapan mereka sudah matang. Namun, mereka belum tahu apa-apa tentang hal yang akan mereka kerjakan. Mereka juga tidak punya data yang lengkap tentang para makhluk aneh tersebut. Tapi mereka hanya menuruti apa yang dikatakan oleh komandan mereka yang sebenarnya juga ragu untuk mengutus anak buahnya. Karena, mereka merupakan pasukan yang terbaik yang pernah dimilikinya. Keraguannya tererlihat jelas saat dia menyampaikan pengarahan. Tapi Dia tidak punya pilihan. Harus berhasil mengamankan daerah yang terinfeksi dan menyelamatkan putri Gubernur yang terjebak disuatu tempat di daerah tersebut.
Mereka langsung menuju TKP hari itu juga. Dan dimulailah pertempuran melawan makhluk aneh yang mereka belum tahu apa kelemahan dari makhluk tersebut. Menyusuri bangunan yang besar. Namun, kosong tak ada siapa-siapa. sesekali terdengar suara walkie talkie. Yang menghubungkan antara kelompok yang satu dengan yang lain. Mereka belum menemukan apapun. penjelajahan masih terus dilanjutkan.
Beberapa jam sudah dilewati. Tapi belum ada hasil. Sekarang, sepuluh orang dari mereka sedang memasuki kawasan taman kota. Taman yang sangat luas tersebut seperti menjadi hutan liar yang tak terawat lagi. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Beberapa dari mereka bercanda untuk menghilangkan rasa bosan yang mulai menghantui mereka. Beberapa masih terus berkonsentrasi dan sebagian besar sudah merasakan jenuh dengan perjalanan yang tak menunjukkan hasil. Yang lain masih berjaga di pos masing-masing seperti yang sudah disampaikan ketika pengarahan.
Mereka berhenti sejenak. Para pimpinan kelompok menghubungi kantor pusat untuk memberitahukan perkembangan. Kelompok yang berada di tengah taman itu merasakan ada sesuatu yang mengintai mereka. Mereka langsung bersiap menghadapi segala kemungkinan. Salah seorang dari mereka juga sudah memberitahukan hal tersebut kepada kelompok yang lain. Mereka semua pun bersiap menghadapi segala masalah yang akan terjadi. Belum tentu yang mereka hadapi adalah makhluk biasa. Bisa jadi mereka adalah makhluk yang sudah terinfeksi virus yang berbahaya itu. Dan akan menular jika arah mereka bercampur dengan darah para makhluk aneh itu. Tiba-tiba suasana menjadi hening. Mereka berdiri saling membelakangi. Mata mereka tajam memperhatikan apa yang akan muncul di depan meraka.
Sepuluh menit berlalu dan belum ada tanda-tanda selanjutnya. Namun, kontak dengan kelompok lain terputus. Mereka seperti hilang di telan bumi. mereka menjadi sangat khawatir. Mereka sendiri di tengah taman yang terdiri dari pohon-pohon besar. Dan juga kegelapan. Tapi bukan kegelapan malam. Namun, kegelapan oleh suatu benda yang menutupi matahari di daerah tersebut. Perlahan tapi pasti terdengar suara langkah yang mendekati mereka. bukan seseorang tapi satu kelompok yang mungkin terdiri dari lima puluh orang. Terbasit ketakutan di wajah mereka. Ada suara lain yang mengikuti suara langkah itu. Suara tembakan. Teriakan dari para monster itu sudah mulai terdengar.
Walaupun samar-samar, tapi terlihat kalau ada dua orang yang sedang berlari ke arah mereka. Semua pasukan yang tersisa menyiapkan senjata. komandan regu tersebut memberi aba-aba untuk menahan tembakan. Terlihat kalau dua orang itu bukan orang yang terinfeksi virus itu. Terlihat jelas bahwa mereka masih bisa bergerak dengan lincah. Sesekali mereka menghadap ke belakang sambil melepaskan tembakan para monster yang mengejar mereka.
Ridho dan Dio berhasil masuk ke dalam kelompok yang sedang berjaga tersebut. Tanpa menunggu lama mereka langsung melepas tembakan ke arah para monster yang jumlahnya puluhan. Ridho dan Dio juga mengambil posisi. Dan melepaskan tembakan ke arah mereka. Beberapa saat kemudian tembakan berhenti. Semuanya menghela nafas panjang tanda rasa syukur mereka masih selamat dari serangan kecil tadi.
“Terima kasih tidak melepaskan tembakan ke arah kami.” kata Ridho memulai percakapan dengan para angkatan bersenjata.
“Tidak masalah... Karena saya melihat anda berdua masih bisa bergerak dengab bebas. Dan tidak kaku. Pilihan sulit sebenarnya ketika kalian datang berlari ke arah kami. Tapi karena kalian juga melepas tembakan ke arah monster itu, kami jadi yakin kalau kalian adalah salah seorang yang selamat.” jawab ketua kelompok tersebut.
“Sekarang mari kita cari tempat berlindung sementara untuk memikirkan rencana selanjutnya.” Dio memberi usul.
Dio mengeluarkan sebungkus rokok, mengambil satu dan membakarnya. kemudian diserahkan kepada Ridho. Ridho pun mngepulkan asap dari mulutnya. Sebagai tanda kepuasan telah selamat dari serangan yang berbahaya tadi. Mereka keluar dari taman luas yang penuh pohon itu dan langsung menemukan tempat yang aman. Sebuah rumah bertingkat 4. Pintunya terkunci. Mereka mendobrak pintu itu dan masuk ke dalam dengan hati-hati. Ruangan demi ruangan di jelajahi dengan hati-hati. Setelah beberapa puluh menit, mereka berkeliling akhirnya tempat itu di nyatakan aman. Mereka memasang palang di pintu depan dan mengunci semua jendela yang bereda di lantai dasar. Untungnya di rumah itu terdpat bahan makanan yang cukup.
Semuanya berkumpul di lantai 2. Duduk di atas lantai dan mulai bercerita satu sama lain. “Bagaimana?? Sudah ada tanda-tanda dari yang lain?” Tanya seorang berpakaian angkatan kepada temannya. Dio dan Ridho hanya diam dan mendengarkan.
“Tidak ada”
Ridho yang penasaran pun langsung bertanya, “Memangnya kalian tidak sendiri??”
“Tentu saja tidak. Kami adalah pasukan khusus yang di tugaskan untuk meneiti daerah ini. Kami berpencar menjadi beberapa kelompok. Dan sampai sekarang belum ada kabar dari yang lain. Kami takut mereka sudah kembali dan meninggalkan kami......”
“Atau lebih buruk lagi....” Dio menyela pembicaraan. Spontan seluruh mata mengarah padanya. “Lebih buruk lagi jika mereka di jadikan zombie seperti yang lain.”
Mereka tak pernah berfikir begitu. Namun, disaat seperti ini hal itu dapat di percaya. Mereka diam sesaat. Beberapa saat kemudian, mereka memutuskan untuk istirahat. Ridho dan Dio menuju balkon untuk melihat keadaan. Kemudian kembali dan menutup pintu balkon. Ridho dan Dio terkadang tidak tidur sehari semalam. Mereka sudah biasa melakukannya. Dan sepertinya malam ini mereka tidak tidur.
“Baik sebelumnya, Kita mengundi siapa yang akan berjaga malam”, seseorang berdiri dan mengeluarkan pendapatnya. Semuanya saling bertukar pandangan. Ridho berdiri.
“Begini, aku dan Dio sudah biasa tidak tidur malam. Jadi, kami mengajukan untuk berjaga malam ini.”
Semua orang terdiam. Salah satu dari mereka kemudian berbicara. “Kami baru saja mengenal kalian. Dan tiba-tiba kalian langsung ingin jaga malam. Kami tidak begitu tahu kalian siapa dan tujuan kalian apa. Dan kami tidak ingin mengambil resiko.” Yang lain hanya diam. Namun terlihat mereka setuju dengan yang dikatakan.
“Ok. Kami juga belum percaya sepenuhnya pada kalian. Jadi bagaimana kalau beberapa orang diantara kalian ikut kami berjaga? Memang akan terasa lebih berat untuk begadang bersama orang yang belum anda kenal.” jawab Dio santai.
“Kalau tidak ada yang mau, aku saja. Aku biasa tidak tidur malam.” Seseorang dari pasukan khusus itu mengajukan diri. “ Ada yang mau menemaniku? Kalau tidak juga tidak maalah.”
Yang lain tampak sedang berdiskusi kecil hanya untuk berjaga malam. Mereka sepertinya masih belum percaya dengan Ridho dan Dio. Mereka masih mengira mereka adalah salahsatu dari zombi-zombi itu. Beberpa detik kemudianm, mereka sudah sepakat menentukan siapa yang akan menemani kami bertiga.
“Baik. Sudah di putuskan. Rendi dan Bagus akan menemani kalian malam ini.” Kali ini pemimpin barisan tersebut yang angkat bicara.
Malam terasa sangat lama. Waktu seakan terhenti di tengah kekakuan malam. Dio dan Ridho berada di atas. Lantai akhir bangunan ini sedang bersantai menikmati malam mereka. Tak banyak yang dapat mereka lakukan disini. Sesekali mereka melihat kebawah. Memastikan keadaan baik-baik saja. Kemudian kembali ke tempat semula. Dio mengeluarkan semua senjatanya dan membarsihkannya dengan sebuah kain khusus. Jadi, bagaimana kelanjutan cerita mereka?
Mereka sepertinya tidak banyak berinteraksi. Ridho dan Dio hanya merokok sepanjang malam. Seperti tak ada cara lain untuk berjaga malam. Bagus dan Rendy berjaga di lantai dasar. Mereka juga terlihat santai. Namun penuh dengan rasa was-was.
Sesekali mereka melihat keluar. Memastikan tak ada hal aneh yang terjadi. Dan sampai tengah malam memang tak ada yang terjadi. Hanya suara jangkrik dan beberapa kelelawar beterbangan ke arah rumah itu. Seakan mereka tahu disana ada kehidupan yang normal. Suara dari arah belakang rumah ini membuat mereka berempat curiga. Mereka mencoba melihat ke arah sumber suara. Senjata di siapkan. Suara aneh itu kemudian berhenti. Berganti suara langkah yang mendekati mereka. mereka berempat bertemu di tangga. Dan berjalan perlahan menuju asal suara. Pintu dapur terbuka. Mereka bersiap-siap. suara langkah itu semakin deras. Dengan sigap mereka langsung mengarahkan senjata kepada makhluk itu. Tapi kemudian mereka menurunkan senjatanya. Dan saling memandang. Hampir bersamaan mereka kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
“Dasar....!!!! Aku kira monster. Ternyata hanya orang yang kelaparan.....” Kata Rendi sambil tertawa.
Ridho dan Dio pun ikut tertawa bersama mereka. Dia adalah salah satu dari pasukan yang ingin menyelamatkan kota ini dari pengaruh buruk. Dan hal buruk itu sekarang sedang berlangsung. Anwar. Dia menag memiliki postur tubuh lebih besar dari yang lain. Tapi ia tidak lebih besar dari Bull.
akhirnya mereka memutuskan untuk berjaga di satu posko saja. kemudian merekasaling berbagi cerita dan tertawa bersama. Dan mereka pun bisa menjalankan tugas dengan akrab dan tak lagi merasa canggung satu dengan lainnya. Tanpa disadar pagi pun menyingsing. Mereka langsung membangunkan yang lainnya agar bersiap-siap untuk misi selanjutnya.
“Bagaimana dengan sarapan kita pagi ini?”
“Tuh di dapur nasih banyak makanan.” Anwar langsung menjawab. Beberapa orang langsung pergi ke dapur danmengambil makanan secukupnya. Kemudian membagikannya.
Tak berapa lama kemudian mereka selesai makan. Berkumpul sebentar dan membicarakan rencana selanjutnya. Ternyata tujuan sama. Tapi rencana sangat berbeda. Tapi yang terpenting adalah bisa menyelamatkan kota ini. Dan juga putri gubernur tersebut. Mereka akan menyerang dengan kekuatan 10 orang saja. Mereka sudah tidak yakin dengan keberadaan yang lainnya dan memutuskan untuk berjuang menyelamatkan putri itu.
Ridho dan Dio akan menyerang dari depan. Karena tujuan utama adalah menghentikan semua hal ini. Dan kembali seperti semula. Mereka pun berpisah. Ridho dan Dio berangkat lebih awal karena persiapan mereaka sudah cukup. Mereka menuju ke Danau. Karena markas mereka yang sebenarnya ada di pulau yang terletak di tengah danau tersebut. Masalah putri itu di serahkan kepada mereka. Para pasukan khusus.
Pagi masih terasa sangat gelap. Seakan cahaya mathari tak bisa menembus masuk ke daerah itu. Mereka yakin ini akan menjadi perjalan yang tidak mudah. Target mereka bnukan lagi putri Gubernur. Tpi langsung markas besar para monster itu.
Sedikit demi sedikit keadaan semakin terang. Tapi tetap saja terasa menyeramkan. Menyusuri kota yang tak lagi berpenghuni. Mereka menghindari tempat yang gelap. Terdengar suara burung yang berkicau. Namun dengan suara yang aneh. sesekali mereka memperhatikan hal yang menarik. Dan mencoba mengabaikannya. Kali ini mereka sampai di sebuah gedung besar. Terlihat disana beberapa kejadian aneh. Seperti ada seseorang yang sedang melakukan sesuatu di ruangan itu. Penasaran dengan yang terjadi, mereka sepakat untuk melihat-lihat. Setelah berkeliling mereka menyadari ternyata gedung itu adalah kantor sebuah perusahaan. Perusahaan yang sangat besar. Mereka masuk dari pintu depan. Tak terlihat kegiatan apapun disana. Mereka mulai memeriksa ruangan ini. Mereka menaiki tangga untuk naik ke tingkat dua. Perusahaan ini ternyata sudah sangat besar. Perusahaan ini juga memiliki lift. Tpi untuk berjaga-jaga mereka tidak menggunakan liftnya.
Di ujung tangga terdapat banyak benda yang di lindungi dalam kotak kaca. Ridho memecahkan kaca dan mengambil sebuah pedang.
“Hei untuk apa kau ambil benda itu” Tanya Dio heran.
“Nanti pasti berguna. Lagian peluru jumlahnya terbatas. Kalau habis maka kita punya gantinya.”
Dio setuju dengan pendapat Ridho. Tapi ia bingung benda apa yang harus di ambilnya. Ia melihat ada sebuah kapak. Diatasnya tertulis emergency. Tak peduli apa maksudnya. Dio memecahkan kacanya dan mengambilnya. Ridho hanya melihat dan tersenyum.
“Baik aku juga sudah punya...” Dio tersenyum
“Good”
Mereka melanjutkan perjalan. Masih menuju ke tempat yang dirasa aneh. Mereka memasuki rangan yang begitu besar. Setelah melewati pintu, pintu itu tertutup sendiri. Mereka pun kaget. Mereka berusaha membuka pintu tersebut. Tapi sia-sia. Karena kesal Ridho melepaskan tembakan ke pintu tersebut. Dio melarangnya. Kemudian berbalik. Keadaaan mencekam. Tak ada apapun disana. Dan sekarang mereka harus waspada. Kapan saja zombie-zombie itu bisa menyerang mereka. Lampu di ruangan itu mulai hidup-mati. Seakan ada yang memainkan saklarnya. Tiba-tiba mereka melihat sesuatu yang terbang dan mengarah kepada mereka. Sepertinya itu adalah sebuah peluru kendali. Mereka langsung merunduk. Untung mereka tidak terkena peluru tersebut.
Mereka langsung mengamati sekitar mereka. Takut peluru itu muncul dari arah yang lain. Mereka berjalan sambil berputar. Melihat sekeliling mereka. Keadaan semakin mencekam. Dio melihat sesuatu yang bergerak di dekat lampu. Tanpa pikir panjang Dio langsung menembakkanya. Dan al hasil yang kena adalah lampunya. Tempat mereka berpijak menjadi gelap. Dan tak jauh dari sana keadaan cukup terang. Dengan lampu yang baik. Mereka hanya bisa melanjutkan perjalanan. Kalau diam di sana juga akan sia-sia.
Sampailah mereka di tempat yang agak terang. Dan sekarang keadaan terasa sedikit membaik. Atau mungkin hanya karena pengaruh cahaya. Masih berjalan dengan sangat hati-hati. Tak ingin kejadian yang sama terulang lagi. Sambil terus memperhatikan sekeliling.
Muncul beberapa zombie tak jauh dari mereka. Mereka langsung melepaskan tembakan ke arah para zombie itu. cukup lama terjadi penyerangan terhadap mereka. Nyaris saja mereka terkena serangan bertubi-tubi itu. Dan sekarang keadaan kembali aman dan terkendali. Tempat apa ini sebenarnya. Pikir Dio. Dengan sangat hati-hati mereka melanjutkan perjalanan. Dan akhirnya tiba juga di ujung ruangan ini. Pintu di ujung ruangan ini terkunci dengan suatu kode.
“Wow... Ini memang sangat tidak mudah. Sekarang kita harus mencari tahu kode dari pintu ini dulu.” Kata Ridho.
“Iya. Coba lihat itu....!!!” Dio menujuk ke sebuah monitor komputer yang masih menyala. Radio mereka menyala. Panggilan dari Bull dan Doctor.
“Bagaimana keadaannya?” Tanya Doctor.
“Kami sedang terkurung di sebuah ruangan. Tak ada jalan keluar. Ada sebuah pintu yang terkunci dengan kode. Kami sedang mencari kodenya. Ada sebuah komputer disana. Mungkin ada jawabannya.”
“Baiklah. Tetap waspada.”
Ridho langsung menuju komputer itu dan mencoba mengaksesnya. Ia mengetikkan kata “AVE”. Pintu itu pun terbuka. Dio kaget melihat hal itu.
“Bagaimana kau bisa tahu kodenya?”
“Aku juga tidak tahu. Itu terjadi begitu saja.”
Dio hanya menggelang-gelengkan kepala. Mereka memperhatikan ruangan yang ada di depan mereka. Terlihat sangat rapi. Seakan ruangan ini masih terpakai dan baru saja di bersihkan. Tak ada tanda-tanda ruangan ini telah di tinggalkan. Dengan sangat hati-hati mereka memeriksa apa yang ada di hadapan mereka. Sepertinya ini adalah ruang untuk rapat. Atau perkumpulan sejenisnya.
Ridho mengeluarkan sebungkus rokok dari kantongnya. Kemudian membakarnya. Ridho menawarkannya kepada Dio. Dio hanya menggelang. Terlihat di salah satu sudut ruangan ada sebuah layar besar. Seperinya masih berfungsi. Dio langsung memperhatikan semua yang ada di atas meja. Ridho mulai memeriksa dokumen yang ada. Dio menemukan apa yang di carinya. Remote tv tersebut. Kemudia menyalakannya. Terlihat seseorang dengan wajah yang lonjong dan sangar. Dio menaikkan volume suaranya. Dan mendengarkan apa yang di katakan pria tersebut. Sepertinya dia kenal dengan orang itu. Ridho pun langsung menatap ke arah layar itu.
“Ricky....” Kata Rido sambil menggenggam kuat tangannya.
Dio langsung ingat dengan orang aneh tersebut.orang yang ia temui sewaktu bersama Siska mencari bahan makanan. Dio langsung menyadari kalau orang inilah dalang dari semua kejadian di kota ini.
“Baiklah kalian sudah memulai. Maka kami akan menghentikan kalian berdua. Tak ada yang akan selamat dari kota ini.” Itulah pesan terakhir yang di dengar mereka dan akhirnya layar itu padam. Dio menekan tombol pada remote. Namun, tak ada reaksi lagi.
“kita harus waspada. Ini adalah markas mereka.” Ridho duduk dan menarik lagi rokoknya.
Tiba-tiba Dio terjatuh. Ada yang mengikat kakinya. Dio berteriak keras. Ridho langsung bangkit dan membuang rokoknya. Kemudian mengejar Dio yang terseret ke arah jendela. Dio berusaha memegang kaki meja. Namun, sia-sia. Dio terus terseret. Dan akhirnya mencapai jendela. Di saat-saat terakhir Dio sempat memegang tiang jendela. Ridho langsung datang dan mengeluarkan pedangnya. Kemudian memotong tentakel yang mengikat kaki Dio dengan pedangnya. Dio berhasil lolos dari jeratan tentakel itu. Dan dengan sigap dia langsung berdiri dan meyiapkan senjatanya.
Tentakel itu berasal dari atas. mereka melihat ke atas dari jendela yang sudah pecah itu. Tak terlihat apapun diatas sana. Tentakel itu muncul lagi dari arah belakang dan kali ini mereka menyadarinya. Mereka langsung menembaki tentakel itu. Dan berlari menghindari tentakel lain yang mulai berdatangan. Dan kali ini semakin banyak. Mereka sudah terperangkap di tengah ruangan. Mereka berdiri di atas meja. Berharap tentakel itu tak bisa menemukan mereka. Tapi sayang sekali tentakel itu selalu bisa menemukan mereka selama masih dalam jangkauannya. Mereka berdiri tepat di tengah ruangan tersebut. Dan lengan yang berbentukk tentakel itu tak bisa mencapai tempat mereka berdiri. Namun mereka juga tidak bisa bebas bergerak. Mereka saling memunggungi agar bisa memantau situasi. Tanpa pikir panjang Dio mengganti pelurunya dengan peluru yang di buat oleh doctor. Dan langsung menembakkannya. Langsung saja benda berlendir itu jatuh dan megerang kesakitan. Kemudian diam seakan tak berfungsi lagi. Mereka berdua terdiam. Begitu juga monster itu. Namun, tentakel yang lain terus berusaha menggapai mereka. Ridho juga mencoba melakukan hal yang sama. Satu-persatu lengan tentakel itu bisa di lumpuhkan. Mereka menghela nafas hampir bersamaan. Masih dalam posisi siaga, mereka mencoba untuk bergerak dari tempat mereka berdiri. Tak ada lagi tanda-tanda kalau tentakel itu akan menyerang lagi. Mereka menuju ke lift. Tak ada pilihan lain selain mencoba mencari jalan keluar dari bangunan yang aneh ini.
Sebelum menuju ke lift, Dio mengambil peta yang diduga adalah peta bangunan ini. Berikut juga dengan peta daerah tersebut. Tujuannya untuk mempermudah perjalanan mereka. Setelah masuk ke dalam lift ada hal aneh. Tidak ada tombol yang menuju ke bawah. Yang ada hanya tombol ke atas. Dan mau tidak mau mereka harus menuju ke atas. Sampai di atas ternyata lift itu turun secara otomatis ke bawah. mereka memperhatikan ruangan yang baru mereka masuki. Terlihat bagian lengan dari tentakel tadi terpusat pada sesuatu. Mereka mempersiapkan senjata. Dan berjalan mendekatinya. Terlihat ada seseorang yang sepertinya terjebak di dalam tubuh tentakel itu. Atau mungkin dialah yang mengendalikannya. Dio dan Ridho saling memandang. Mereka mengarahkan pistolnya kepada monster itu. Dan berjalan mendekatinya. Dengan sangat hati-hati. Perlahan tapi pasti mereka mulai mendekati monster tersebut.
Seseorang yang ada di tubuh musuh itu terlihat sudah tidak berdaya. Dia berusaha mengangkat kepalanya ke atas dan menatap Ridho. Kemudian Dio.
“Kalian datang dari arah yang salah. Kalian tidak akan bisa meneruskan perjalanan. Tempat ini adalah jebakan untuk orang seperti kalian. Aku hanya sebagai penghalang saja” Setelah berkata seperti itu Dia terbatuk dan dia langsung terdiam dan meninggal. Dio dan Ridho tidak mengerti apa yang maksud perkataan si monster tadi. Mereka pun meninggalkan mereka monster itu dan terus berjalan. Ternyata gedung ini lebih besar dari kelihatannya. Mereka sudah cukup lelah berjalan sampai sejauh ini. Tapi ini bukan saatnya istirahat.
Mereka terus berjalan dan mewaspadai sekitarnya. Tiba-tiba Dari arah belakang datang monster yang mirip seperti anjing menyerang mereka. Mereka menyadarinya dan langsung menghindar. Dengan sigap mereka memansang senjata dan melepaskan tembakan ke arahnya. Tapi anjing itu sangat lincah. Beberapa saat kemudian, Banyak orang aneh yang muncul dari segala penjuru. Ada yang datang dari jendela, dari pintu depan dan belakang. Mereka datang dengan membawa anjing aneh mereka juga. Ridho dan Dio saling membelakangi. Mereka hanya diam dan tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Para orang aneh itu mendekat secara serentak.
BERSAMBUNG...... ^_^