Di sebuah rumah bertingkat tiga, tak jauh dari tempat persembunyian Dio dkk, terlihat Andy sedang asyik bermain dengan komputernya. Mungkin ini adalah tempat mereka tinggal atau ini adalah markas mereka. Andy sedang asyik melihat-lihat daerah kekuasaanya. Berkat bantuan seseorang, ia berhasil melaksanakan semua rencananya. Hanya Dio yang masih mengetahui apa rencana mereka.
Andy juga sedang melacak keberadaan Dio dan beberapa orang lain yang masih belum dipengaruhinya di kota itu.
Diruang tamu terlihat seorang wanita sadang duduk dengan kaki di taruh di atas meja yang ada di depanya. Sedang dibelakangnya ada dua orang yang sedang memijat bahunya. Kalau di perhatikan ia sangat mirip dengan Andy. Rambutnya yang panjang membuatnya terlihat anggun. Tapi, wajah cantiknya masih menunjukkan keangkuhan. Tak bisa di pungkiri.
Wanita tersebut yang merupakan kakak Andy, sedang asyik membaca koran. Tiba-tiba ia tersenyum. Senyum penuh keangkuhan. Kemudian keluarlah seseorang dari kamar yang tak jauh dari ruangan itu. Seorang pria yang memiliki postur tubuh sangat bagus. Ia memakai pakaian yang rapi, juga disertai dengan jas hitam polos. Seperti akan ada meeting dengan para pejabat.
Wanita itu menyadarinya. “Mau kemana?” tanya wanita tersebut.
“Ada yang harus ku lakukan diluar, Riska” Jawab pria itu. Dan pria itu menghampirinya.
“Lihat berita ini... mereka bilang pemerintah akan mengirikan sepasukan angkatan bersenjata untuk menyelesikan masalah ini, Ricky?”
“Tenang saja sayang... Hal itu tak akan benar-benar terjadi. Aku juga akan menyiapkan pasukan yang lebih besar lagi.”
Riska kemudian tersenyum mendengar jawaban Ricky. Kemudian Ricky memegang dagu Riska dan mencium keningnya. Itu sebagai tanda mereka adalah pasangan. Ricky pun pergi meninggalkan Riska dan adiknya di rumah itu. Dengan penjagaan makhluk aneh ciptaan mereka. Dasar aneh...
Ricky menuju garasi rumah itu. Menghidupkan mobil dan langsung berangkat menuju ke tempat tujuannya. Markas besar polisi kota itu. Ia menuju ke sana untuk memberi tahu sang kepala polisi agar ia menyiapkan anggota terbaiknya untuk melawan pasukan yang akan didatangkan pemerintah. Mobil itu melaju cepat ditengah jalanan kosong. Karena semua orang di kota itu sudah berhasil ia kuasai. Sudah ada dalam pengaruhnya.
Saimpailah ia di mabes polisi itu. Bel tanda berkumpul dibunyikan sang kepala polisi. Seluruh anggota polisi berkumpul. Kalau di perhatikan, para polisi itu berwajah pucat seperti mayat. Mereka juga tak berekspresi. Para polisi berbaris seperti sadang menyambut pejabat besar. Mereka berbaris seperti sedang upacara. Dan pembicaranya adalah Ricky.
Ricky berbicara dengan bahasa asing yang belum pernah di dengar. Mungkin ini adalah kode rahasia. Tapi, hanya mereka yang memahami maksud dari perkataan ini. Ini adalah bahasa mereka. Mungkin Andy dan Riska bisa juga bahasa ini. Kurang lebih artinya sebagai berikut:
“Para hadirin sekarang..... yang telah hadir di tempat ini. Saya sebagai RAJA kalian dengan ini memerintahkan kalian untuk mempersiapkan segala kemungkinan. Karena akan ada musuh yang datang. Yaitu juga para polisi ataupun para angkatan. Jadi saya memutuskan untuk memlih yang terbaik diantara kalian. Pak kepala akan melakukan seleksi pada kalian. Dan siapa yang berhasil terpilih akan mendapatkan penghargaan dari SANG RAJA. Yaitu saya sendiri. Apa hadiahnya tunggu saja yang pasti kalian akan menyukainya. Aku tahu yang kalian butuhkan. Karena akulah yang membuat kalian seperti ini. Selamat berjuang.....
Sebelumnya aku akan memberikan sesuatu pada kalian. Masing-masing kalian akan mendapatkan sebuah serum. Isinya adalah racun. Suntikkan racun itu pada mereka yang akan kalian lawan. Itu untuk senjata kemenangan kita.”
Maka, Ricky pun menutup pidatonya. Dan kemudian melakukan pembagian suntik yang akan mereka gunakan melawan para pasukan dari pemerintah. Sepertinya pemerintah punya pe er yang berat.
Di kediaman mereka, sepertinya Andy mendapat informasi lain. Informasi yang sangat berharga. Dan sepertinya ada hubungannya dengan seorang gubernur atau seorang mentri. Memang, seminggu yang lalu, sebelum mereka menyerang daerah pusat kota, sang Gubernur datang mengunjungi Walikota. Namun kemarin, setelah serangan besar-besaran. Sang Gubernur berhasil melarikan diri dari kota itu. Tapi, malang nasib pak Walikota karena ia harus terima dirinya tertangkap oleh mereka. Dan mereka langsung meracuninya. Dan sekarang walikota itu bertindak atas perintah mereka bertiga.
Dan ketika sang Gubernur lari ia tak menemukan putrinya di manapun. Dan sampai sekarang ia hanya bisa menghubungi putrinya dengan telepon genggam. Seorang putri gubernur yang juga cucu mentri pertahanan. Ini merupakan sebuah kejutan bagi Andy. Ia bisa menjadikan anak itu sebagai sandera agar pemerintah menyerah. Ide yang sangat licik. Ia pun menghubungi Ricky.
“Ricky... ada informasi penting....”
“Ya sebutkan...”
“Gubernur kehilangan anaknya dikota ini. Bagaimana jika kita jadikan anak itu sebagai sandera? Agar pemerintah mau menuruti kita. Dan kita bisa minta apa saja.”
“Hm.... Sepertinya itu ide yang sangat brilian. Apa kau sudah melacak tempatnya?”
“Aku sedang melacaknya dan belum menemukan hasil yang memuaskan.”
“Baiklah... Aku akan segera kembali dan membantumu”
“Ok...”
Ricky menutup teleponnya.
ooo0ooo
“Hei semuanya.... kemari sebentar....!” teriak Bull di rumah bawah tanah itu. Sepertinya ada sesuatu yang gawat.
Mereka pun langsung datang ke tempat Bull. Walaupun tak mengerti apa yang terjadi. Bull langsung menunjuk pada komputernya. Sepertinya ia membuka sebuah situs berita. Dan terdapat berita penting yang harus mereka dapatkan. Mereka pun membacanya dan terkejut.....
“Mengapa Gubernur bisa seceroboh itu?” tanya siska pada mereka. Tapi tak ada yang menjawab.
“Wah ini bisa gawat.” Ridho yang sudah mulai sehat angkat bicara.
“Benar... Mereka bisa menjadikanya sandera agar pemerintah tunduk pada mereka.”
“Jadi apa kita harus menyelamatkannya?” tanya sang doktor.
“Tentu saja iya.... agar kita juga bisa aman di sini. Dan kita akan mendapat hadiah dari pak Gubernur.” Jawab Bull semangat.
“Bukan begitu... Kita harus selamatkan dia karena kita juga manusia. Sementara kita tinggal ditempat dimana manusia bukan lagi manusia.” Dio menjelaskan.
“OK lah kalau begitu.”
“Bull... tetap cari informasi dimana ia meninggalkan putrinya...!!!”
“Baik...!”
“kalau begitu sekarang giliranku...!!!” kata sang doktor.
Merka pun langsung menuju ruangan sang doktor. Disana terdapat banyak botol dan cairan yang tidak diketahui apa gunanya. Sang doktor mengambil sampel darah Ridho yang sudah terkena racun dan membandingkanya dengan darah Dio yang sebenarnya sudah dicampuri dengan obat mereka.
“Ada apa...? ini sama saja” Bull penasaran.
“Belum di mulai. Sekarang coba lihat ini...” Sang doktor memasukkan sebuah cairan berwarna biru kedalam darah Ridho dan juga ke darah Dio.
Semua konsentrasi melihat apa yang terjadi. Darah Ridho tiba-tiba muncul gumpalan berwarna hitam pekat dan berkumpul dibawah. Sementara darah Dio tak terjadi apa-apa.
“Benda hitam itu apa?” Siska tak kuasa menahan rasa penasaranya.
“Itu adalah racunnya. Dan benda cairan ini hanya dapat menahan pertumbuhan racun itu kira-kira 12 jam. Setelah itu akan kembali bercampur dengan darah seperti semula. Dosis normalnya hanya sebanyak satu sendok makan 2x sehari. Bukan diminum tapi disuntikkan. Aku juga belum tahu racun apa ini. Aku belum pernah melihat racun yang sekuat ini. Hanya ini yang kita punya. Dan aku yakin Raja mereka pasti juga memiliki penawar untuk jaga-jaga. Itulah benda yang harus kita cari terlebih dahulu setelah menyelamatkan putri Gubernur.” Jelas sang Doktor panjang lebar.
“Ada baiknya kita juga berjaga-jaga siapa tahu mereka menemukan cara agar dapat bertahan di bawah sinar matahari.” Kata Siska mengagetkan semua yang ada di sana.
“Maksudmu.....?” tanya Dio serius.
“Ya... saat kau mulai ikut bersamaku, aku jadi semakin berhati-hati. Aku melihat beberapa ruangan terbuka. Padahal ruangan itu hanya bisa diakses pagi hari. Seperti ruangan di rumah tetangga. Disana akan terdata kapan saja ada yang melewati pintu itu. Dan disana tercatat pintu pernah terbuka pada pukul 09.00. Maka, dengan kata lain beberapa dari mereka bisa berkeliaran dibawah sinar matahari. Atau mereka menemukan cara agar tidak terkena sinar matahari.” Jelas Siska.
“Kalau begitu, keadaan sudah mulai gawat dan kita harus membuat jadwal kapan saja kita akan keluar dari ruangan ini. Atau akan berakibat fatal bagi kita semua.”
“Tapi bagaimana kita tahu kapan waktu mereka tidak beraksi...?”
“Itulah hal yang harus kita waspadai...”
“Semakin jarang kita keluar semakin kecil kemungkinan ketahuan. Jadi besok kita harus mengambil kebutuhan yang kita untuk sebulan. Dari makanan ataupun benda-benda lain.”
“Baiklah... aku dan Dio akan keluar besok dan mencari semua barang yang akan kita butuhkan.” Siska menutup pembicaraan. Dan dimulailah persiapan untuk menghadapi semua hal yang buruk. Mereka harus siap.
oo0oo
Keesokan harinya, Dio dan Siska sudah siap dengan semua peralatan lengkap. Siap untuk mencari semua kebutuhan mereka. Mereka pun pamitan keapada yang lain. Dan kemudian keluar. Menuju ke sebuah toko makanan. Mereka berjalan dengan sangat hati-hati. Takut kalau ada makhluk aneh yang menyerang. Yang lebih gawat lagi kalau makhluk itu melihat dari mana mereka keluar. Bisa jadi yang lain jadi sandera agar mereka menyerah.
Mereka sampai pada sebuah toko roti. Mengambil beberapa bungkus besar roti beserta selainya. Kemudian memasukkannya ke dalam sebuah tas besar. Dan membawanya pergi. Dio yang menyandang tas besar itu. Dan Siska berada di depannya. Sampai saat ini belum ada yang terjadi. Beberapa ekor burung hinggap di atas pintu masuk toko. Pertanda bangunan ini sudah tidak lagi berpenghuni. Tiba-tiba langit gelap. Tak ada kilat ataupun guntur. Namun terasa begitu panas. Entah apa yang terjadi.
“Mari kita ke toko pakaian...!!” Ajak Siska.
“Untuk apa...?”
“Untuk ganti pakaian. Sudah berapa lama tidak ganti pakaian?”
Dio diam dan hanya mengikuti. Mereka berjalan ke sebuah toko baju. Sebenarnya mereka harus melalui rumah yang ditempati Andy dkk. Namun, mereka tidak menyadarinya. Sebaliknya, Andy sudah memperhatikan mereka. Sejak memasuki toko roti. Namun, tak melihat dari mana mereka keluar. Dan Andy sangat penasaran dimana mereka tinggal dan bersembunyi. Andy ingin segera menangkap Dio. Namun, Riska melarang. Tapi, ia berjanji akan membiarkanya menikmati saat-saat membunuh Dio atau saat-saat menyiksanya. Andy terus mengawasi gerak-gerik mereka.
Dio dan Siska sudah memasuki toko pakaian. Mereka dengan santai memilih baju. Mengambil dan meletakkan kembali bila tidak sesuai selera. Dio hanya memilih tiga potong baju untuknya dan beberapa potong untuk yang lainya. Tak jauh dari sana ada toko parfum. Mereka ke sana sebentar kemudian ke toko senjata untuk mencari senjata dan Amunisi. Belum sempat mereka memasuki toko senjata, terdengar suara senjata sedang diisi ulang. Kemudian terdengar percakapan dengan bahasa yang aneh. Mereka diam dan saling pandang. Mereka mencoba mengintip dari jendela.
Toko senjata sengaja dibuat tertutup agar tak ada peluru nyasar dari ruang latihan mereka. Terlihat beberapa orang berseragam polisi dan beberapa memakai seragam angkatan. Terlihat mereka sedang memilih senjata. Mungkin mereka akan melakukan sesuatu. Pikir Dio.
Tiba-tiba ada yang melihat kearah jendela tempat mereka mengintip. Dan semua yang ada di dalam sana diam. Kemudian melihat ke arah jendela, dimana Dio dan Siska mengintip. Menyadari hal itu Dio dan Siska langsung beranjak pergi. Pergi secepat mungkin. Namun, mereka tak bisa lari lebih cepat karena bawaan mereka yang banyak. Meraka bersembunyi. Di sebuah rumah kosong. Berharap tak ada yang akan menempati rumah itu. Tapi sepertinya mereka mengetahui dimana Dio dan Siska bersembunyi. Mereka menuju rumah itu. Dan memeriksa kamar demi kamar.
Andy dan kakaknya sudah tak mengawasi mereka lagi. Karena ia yakin kalau monster-monsternya pasti bisa menangkap mereka hidup atau mati.
Dio bersiap di balik pintu kamar tempat mereka bersembunyi sementara. Dengan sebuah balok di tangannya. Siska berada di belakang Dio. Dan kemudian, terdengar suara mobil berhenti dari depan rumah itu. Dan suasana jadi semakin tegang. Siska mengintip keluar. Melalui lubang kunci. Terlihat sudah aman. Dan sekarang mereka keluar dengan sangat hati-hati. Dio dan Siska masih memawa tas super besar mereka. Tanpa itu sia-sialah usaha mereka. Sekarang Siska mengintip melalui jendela. Ia menampakkan seluruh wajahnya di jendela. Terlihat sebah mobil terparkir di depan rumah itu. Disebelahnya terlihat Ricky sedang berdiri dan berbicara dengan para orang-orang aneh tersebut.
Siska masih terus mengawasi. Kemudian orang-orang aneh tersebut pergi. Hanya Ricky yang sekarang berada di sana. Ia melihat rumah yang ada di depanya. Kemudian menatap ke arah Siska. Dan kemudian, seperti membisikkan sesuatu yang membuat Siska terdiam dan ketakutan.
Ricky kembali ke mobilnya dan segera pergi. Siska masih terdiam mendengar bisikan Ricky tadi. Seluruh badanya bergeter. Dio yang menydari hal ini mencoba untuk menegurnya. Keringat mengucur deras dari tubuhnya. Wajahnya yang cantik kini basah dengan keringat. Ia pun terduduk lemas.
“Sudah kita tak punya waktu lagi.... kita harus pergi sebelum mereka kembali....” Kata Dio agar Siska segera bangun dan pergi.
Siska hanya mengangguk dan mencoba berdiri dengan sisa kekuatanya. Entah apa yang ada di pikiranya saat itu. Bisikan Ricky tadi seerti masih terdengar jelas di telinganya. Dio tak tahu harus berbuat apa.” Ada apa?” Tanya Dio saat mereka sudah keluar dari rumah itu. Siska hanya menggeleng. Mereka mencoba memeriksa kembali toko senjata. Apakah masih ada yang dapat di ambil atau mereka mengambil semua peluru dan senjata.
Seluruh senjata beserta amunisinya ternyata sudah habis. Mereka mengambil semuanya. Agar tak ada yang mencoba melawan mereka. Rencana yang sangt baik. Mereka memutuskan untuk kembali saja.
Mereka melewati lagi rumah yang di tempati Andy dkk. Sementara Andy sedang tidak menyadari apa yang melintas di depan rumahnya. Dio punya firasat tidak enak. Tapi, ia berusaha menyembunyikanya dari Siska. Karena sampai sekarang Siska belum juga kembali sadar seperti sebelumnya. Ia masih terbayang apa yang di bisikkan Ricky padanya. Dari jauh, rumah doctor itu terlihat ramai dikunjungi orang. Mereka langsung terkejut dan bersembunyi. Mereka bersembunyi di semak-semak yang ada di depan rumah doctor yang menjadi tempat persembunyian mereka.
Makhluk aneh itu berbicara di antara mereka sendiri. Tentu saja dengan bahasa mereka. Bahasa yang asing. Sangat asing. Mereka memegang senjata yang siap di tembakkan kapan saja. Dan lagi-lagi, mobil itu datang. Dengan Ricky didalamnya. Ricky keluar dan berbicara lagi mereka. Kali ini sepertinya Ricky marah dengan orang-orang itu. Dan menyuruh mereka pergi dari tempat itu. Sekali lagi Ricky melihat ke arah rumah doctor. Dan berbalik melihat semak-semak yang ada di depanya. Sepertinya ia menyadari keberadaan Dio dan Siska. Sekali lagi Ricky membisikkan sesuatu yang hanya dapat di dengar oleh Siska. Kemudian pergi.
Dio tak mengerti apa yang terjadi. Ia memperhatikan mobil tersebut. Menuju ke arah mereka tadi datang. Tak berapa jauh kemudian masuk ke sebuah rumah bertingkat tiga. Dio terkejut. Siska masih terduduk lemas mendengar bisikan maut dari Ricky.
Dio langsung menarik Siska berjalan. Untuk masuk ketempat persembunyian mereka. Mereka masuk ke dalam rumah itu. Dan menuju lift rahasia. Sampai di bawah terlihat semuanya menodongkan senjatanya ke arah mereka berdua.
“Ternyata kalian yang datang..... Syukurlah...” Kata Ridho dan langsung memeluk Dio. Karena ia tak ingin sesuatu terjadi padanya. Hanya Dio sahabat yang dililiki Ridho sekarang. Karena yang lainya telah menjadi makhluk aneh yang mereka sepakati sebagai zombi.
Siska masih terlihat stres dengan yang terjadi. Bisikan-bisikan Ricky sepertinya telah mempengaruhi pikiranya. Yang dibisikan Ricky seperti sebuah perintah yang mustahil untuk bisa di kerjakannya. Hingga membuatnya stres. Atau mungkin frustasi.
oo0oo
Ricky yang akhirnya sampai di tempat persembunyian mereka. Ia mengetahui dimana Dio dkk bersembunyi. Namun, ia tak ingin membunuh mereka terlalu cepat. Karena mereka pasti masih bisa di manfaatkan. Apalagi dua orang diantara mereka pernah hampir menjadi anggota mereka. Ridho dan Siska. Sementara Siska, memohon agar racun itu dilepaskan dari tubuhnya. Tapi, mereka memberikan syarat agar Siska menjadi mata-mata mereka. Dan melakukan yang mereka minta.
Ketika mereka menggunakan bahasa yang aneh itu, tak ada yang dapat menolak perintah mereka. Itu hanya berlaku pada zombi. Atau yang darahnya telah bercampur dengan racun mereka. Dan Ridho berhasil menemukan doctor yang bisa menyembuhkannya walau hanya sementara. Ricky tidak menceritakan hal itu pada Andy. Entah kenapa ia memilih untuk merahasiakan hal itu dari Andy.
Begitu sampai, ia langsung ke kamar Andy. Dan membantunya mencari musuh yang sebenarnya sudah ia ketahui keberadaannya. Agar ia masih bisa memanfaatkan Dio dan juga yang lainnya. Ia tahu Andy seperti mempunyai dendam tersendiri terhadap Dio. Tapi entah apa yang mendorongnya berbuat seperti ini.
Andy ingat. Awal ia bertemu Dio.
Ketika itu ia berjalan sambil menangis. Karena telah dikerjai teman-temannya. Dio dan Ridho masih bersama dan belum berpisah. Dio yang sedang duduk di kantin sekolah melihatnya sedang menangis di sisi lain kantin. Dio memang bukan seorang preman di sekolah itu. Tapi, semua orang di sekolah itu pasti mengenalnya. Karena ia mudah bergaul.
“Hei dik... Ada apa?” Andy yang masih menangis tak menghiraukan pertanyaan Dio. “Menangis memang membuatmu merasa lebih baik. Tapi, tak akan merubah apa pun. Percayalah....!!!” Lanjut Dio sambil mengelus punggung Andy.
Kemudian Ridho datang setelah memesan dua piring nasi. “Hei... siapa ini? Adik barumu?”
“Ya, aku menemukanya sedang menangis disini.”
Sekarang Ridho berbicara pada Andy, “ Kau tahu seluruh sekolah ini mengenal Dio. Jadi kau tak perlu takut. Ku bisa cerita padaku atau Dio tentang masalahmu. Atau mungkin kalau kau butuh bantuan.
Andy menghela air matanya. “Trima kasih telah menghiburku.... Tapi, aku bukan Dio. Dan aku tak tahu mengapa aku menangis.... Mungkin emosi yang berlebihan. Namaku Andy. Aku murid baru di sekolah ini. Aku kelas baru kelas satu disini.”
“Ya kalau begitu aku Ridho. Aku sekelas dengan Dio. Kami sama semenjak smp. Tentu saja disini juga.”
“Kau lapar?” Tanya Dio.
“Tidak.aku sudah sarapan.”......
Dan sejak saat itulah Andy dekat dengan Dio. Dan bercerita tentang semuanya. Termasuk tentang kakaknya. Tapi, Dio tak terlalu peduli dengan kakaknya. Ia hanya ingin membantu orang lain dan menghibur disaat ada yang sedih.
Kemudian, Andy berpikir kalau Dio telah membiarkannya sendiri. Tak peduli lagi dengannya. Padahal, Dio selalu mengawasi Andy sampai akhirnya Andy memiliki teman yang cukup baik. Dan sekarang dendam itu masih ada dan sangat membekas padanya. Terlebih ketika suatu hari ada suatu sekolah berkunjung ke perusahannya. Dan melihat- lihat. Atau bisa dibilang study banding. Dio mendengar semua percakapannya dengan Ricky. Ia sangat yakin itu.
“Tidit” Suara dari komputer menyadarkan Andy kalau ia punya tugas yang harus di selesaikan. Namun, sepertinya gagal. Sulit baginya menemukan persembunyiannya. Ricky disebelahnya hanya diam. Menatap ke arah monitor.
“Hmm... Andy bagaimana menurutmu, jika kita bisa memanfaatkan mereka?”
“Maksudmu, mereka siapa?” Tanya Andy heran dengan pertanyaan Ricky yang tiba-tiba.
“Tentu saja Dio dkk.!”
“Memangnya bagaimana cara memanfaatkan mereka?”
“Kau pasti mengenal Ridho dan Siska kan?”
“Hmmm... tentu saja....”
“..... Dengan bahasa isyarat yang kita miliki kita bisa mempengaruhi Dio dan Siska. Kemudian pelan-pelan kita buat Dio dan yang lainnya menyerah. Kemudian terserahmu. Mau kau apakan Dio. Bagaimana?”
“Benar juga... Aku bisa menikmati penyiksaan Dio. Sampai ia berharap, bahkan ia akan memohon agar aku membunuhnya...” Kemudian Andy tersenyum...
oo0oo
“Doctor... Kau tahu apa yang terjadi dengan Siska?” Tanya Dio khawatir dengan keadaan Siska yang makin buruk.
“Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Mungkin kau bisa ceritakan sedikit kejadian itu.”
“Itu berawal di toko senjata. Tanpa di sadari ternyata para zombi itu juga mengumpulkan amunisi. Mungkin untuk melawan pasukan yang akan dikirim pemerintah. Seperti kabar dari Bull tadi..”
“Buat apa kalian ke toko senjata?” Teriak Bull dari ruangannya. Sepertinya ini adalah kebiasaan buruknya. Menguping. “Kita punya persediaan yang tak mungkin habis dalam setahun. Coba lihat ini....” Bull mengetik beberapa huruf dan angka. Kemudian terbukalah sebuah ruangan. Penuh dengan senjata dan amunisinya.
"Kalau begini berarti mereka tak perlu lagi melakukan hal yang berbahaya untuk mencari amunisi. Ini persediaan yang sangat sempurna." Lanjut Bull
“Sepertinya aku akan mengubah seluruh amunisi agar tidak untuk membunuh tapi untuk menahan laju racun dalam tubuh mereka. Saperti peluru pembius untuk hewan.” Kata doctor.
“Terus bagaimana dengan siska?” Tanya Dio lagi.
“Entahlah....” Jawab Bull dan doctor hampir bersamaan.
“Oh ya..... aku hampir lupa. Tadi ketika kami baru keluar dari toko roti, tiba-tiba awan hitam gelap muncul dan menutupi seluruh langit kota ini. Aku penasaran awan apa itu....”
“Apa.... awan...?” Tanya doctor memastikan.
“Ya. Awan hitam gelap.”
“”Berarti itu adalah cara yang mereka lakukan untuk menghindari cahaya matahari....”
“Ya. Aku pun berfikir begitu.”
“Baik. Biar aku cari tahu tentang awan itu...” Teriak bull dari ruangannya lagi.
“Satu lagi.... Apa kau tahu rumah bertingkat tiga dekat sini.”
“Ya. Memangnya kenapa?”
“Tadi aku melihat orang yang membisikkan sesuatu kapada Siska itu memasuki rumah tersebut. Mungkin itu adalah rumah mereka tinggal. Aku khawatir mereka sudah tahu dimana kita tinggal.”
“Kau yakin ia kesana?” Tanya sang doctor tadi dengan sangat bimbang.
“Ya. Aku sangat yakin….”
“Hei…semuanya coba lihat…..!!!!!”
“Besok mereka akan melakukan penyerangan ke daerah ini…..!!!!!”
“Kita harus berhati-hati…. Mereka pasti akan membunuh sipapun yang mereka temui…..”
“Mungkin setelah itu mereka akan menghancurkan kota ini.”
Hari-hari yang melelahkan akan tiba…….