BUKAN URUSANMU...!!!
“Pan......!!!!” Suara Bashar terdengar jelas di telinga Irfan. “Tunggu... kita berangkat sama....!!!!”
Irfan pun berhenti sebentar menuggu Bashar. Selanjutnya mereka menuju ke sekolah ber- sama-sama. Bashar heran melihat sahabatnya itu. Hari ini tampaknya ia sedang murung. Jadi ia memberanikan diri untuk bertanya ada masalah apa.
“Bukan apa-apa. Bukan masalah serius. Lagi pula bukan urusan mu...!!!"
Bashar agak terkejut mendengar jawaban Irfan yang pedas.namun ia tak mau kalah. Ia pun menjawab” Ya.... kan dari pada kau biarkan masalah mu itu mengganggumu terus, lebih baik jika kau cerita dengan seseorang. Setidaknya beban di kipalamu itu bisa lebih ringan. Tapi itu semua teserah kau saja......”
Mereka berdua sekarang hanya diam dan terus melangkah menuju sekolah........
Bashar terus memperhatikan perubahan sifat sahabatnya itu. Biasanya ia adalah orang yang aktif di kelas. Orang yang tidak bisa diam. Dan dari mulutnya selalu keluar lelucon-lelucon yang dapat membuat seisi kelas tertawa. Tapi hari ini sangat berbeda.
Bashar memang orang yang paling dekat dengan Irfan. Bahkan mereka pernah dikatakan abang-beradik. Namun mereka tak peduli dengan yang dikatakan teman-temanya. Bashar dan Irfan memang tidak duduk sebangku, tapi jarak duduk mereka tidak jauh. Melihat masalah yang disembunyikan Irfan, Bashar pun memutuskan untuk bertanya pada orang lain. Orang lain yang dekat dengan Irfan.
Sampai pulang sekolah Bashar belum juga mendapatkan kabar terbaru tentang sahabatnya itu.”Jadi bagaimana? Apa kau sudah mau cerita..?”
“Ga’. Aku sedang ga’ mod untuk cerita”
Mereka pun hanya diam sampai menuju ke rumah Irfan.
“Mungkin aku harus sendiri dulu untuk menenangkan pikiranku”
“Yah...., semoga beruntung”
##$$@@%%!!**&&
Malamnya...............................
Bashar masih memikirkan apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. Yang ada dalam pikiranya adalah bagaimana caranya agar sahabatnya itu mau menceritakan masalahnya sehingga ia dapat membantunya. Dalam pikiran Bashar adalah:Irfan punya masalah disekolah. Sehingga, orang tuanya dipanggil kepala sekolah. Sepertinya tidak. Atau ia punya masalah dengan pacarnya. Juga tidak.
Hmmm...... dari pada terus menduga-duga lebih baik langsung bertanya kepada yang empunya masalah. Bashar mengambil Hp-nya dan mencari nama Irfan dalam daftar kontaknya. Bashar menekan tombol panggil. Ternyata nomornya tidak aktif. Apa mungkin gantim kartu?
Hmmm........ ya sudahlah........ Bashar pun mamutuskan untuk tidur.
Di dalam kamarnya Irfan masih terdiam dan tak banyak berbuat. Ia menatapi langit-langit kamarnya. Ia hanya membisu. Sepi. sesepi malam jum’at kliwon. Entah apa yang harus dilakukanya. Ia heran apakah ia sanggup menghadapi masalah hidup yang besar ini. Lama-kelamaan Irfan pun tertidur.
!!@@##$$%%&&**
Beberapa hari kemudian............
Irfan masih saja terliht lesu dan tak bersemangat. Bashar pun semakin tak mengerti dengan sahabatnya itu. Bashar terus mencari apa yang sebenarnya terjadi. Tapi tak ada keterangan. Namun, dari sana Bashar tahu kalau masalah yang dihadapi Irfan adalah masalah keluarga. Jadi bashar tak perlu semakin heboh dengan apa yang terjadi.
Hari ini sangat berbeda. Irfan mengajak Bashar pergi ke suatu tempat sepulang sekolah. Bashar pun menyetujui usul temannya itu.sepulang sekolah mereka memang menuju ke arah lain. Bukan kearah rumah mereka.tapi kearah taman. Meski begitu Bashar tak terpikir apapun. Disana ada sebuah pohon besar. Dibawahnya ada bangku panjang. Disanalah mereka duduk.
“Sar..... Sekarang aku harus cerita semua. Tak ada lagi yang perlu disembunyikan lagi.” Kata irfan memulai percakapan.
“Sebenarnya kalau orang lain yang mengalami hal ini, pasti ia tidak akan seheboh aku, tidak akan berlebihan seperti aku. Aku begini hanya karena orang tuaku mempunyai suatu masalah. Aku tak pernah tau masalahnya.hanya saja ujung dari permasalahan tersebut adalah....... PERCERAIAN. Itulah masalah sebenarnya. Aku baru sadar ternyata aku hanya membesar-besarkan masalah saja. Dan aku seharusnya takkan seperti ini.........”
“Yah........ dari awal kan sudah kubilang.... kalau kau pasti akan lebih baik jika sudah bercerita. Dan ternyata kau benar. Itu bukan urusanku.”
“Yah..... Kau benar. Sekarang aku sudah merasa baikan. Sekarang kita pulang saja....”
“Ya..... Aku juga sudah lapar....!”
Nah itulah hal yang sebenarnya kita takkan tahu. Dari sini kita bisa melihat arti dari sahabat itu.sahabat selalu bersamamu disaat apapun. Ia siap mendengarkan segala curahan hatimu. Menjaga rahasia pribadimu. Dan kapanpun kau membutuhkannya dia berusaha untuk selalu ada disampingmu. Akhirnya mereka menyadari kalau sahabat juga mempunyai batasan tertentu. Namun, hal ini juga menunjukkan sahabat itu bisa membantumu melewati rintangan hidup. Suatu masalah tidak selamanya bisa terpecahkan. Ada kalanya kita harus bisa menerima masalah tersebut.
Di tengah perjalanan Bashar tersenyum-senyum sendiri. Irfan heran dan bertanya; “ada apa?”
“Aku mulai berfikir ternyata ada juga orang yang kurang kerjaan dan bisa dibilang suka nguping rahasia orang walaupun lewat tulisan”
“Siapa?” Tanya Irfan dengan sangat heran.
“Ya..... Tentusaja yang membaca cerpen ini........!!!!!! sudah jelas-jelas penulis membuat judul -bukan urusanmu- dengan tiga titik dan tiga tanda seru masih juga mau membacanya.....”
Mereka pun tertawa bersama...................................
SEKIAN....