Jefri melamun menatap monitor. Dia hanya memperhatikan satu foto. Nurul Fadhillah. Atau lebih dikenal, Dhilla. Gadis itu memang sudah cukup lama bersama Jefri. Sejak 2012 mereka sudah saling mengenal. Dan di tahun itu pula mereka mengawali kebersamaan.
Jefri yang terkesan dingin, awalnya tidak terlalu peduli. Kini saat jauh, dia baru merasakan kehilangan. Sudah hampir satu bulan mereka belum bertemu. Bahkan tidak bertukar kabar. Sejak Dhilla mendapat panggilan di sebuah perusahaan Swasta, mereka hampir tidak pernah bertukar kabar. Rasa rindu, kini menyelimuti Jefri.
Jefri mendapat beberapa panggilan kerja juga di Medan. Yang paling membuatnya tertarik adalah sebuah start up yang belum lama berdiri. Jefri memilih itu. Dia ingin merasakan bagaimana itu merintis. Padahal, beberapa panggilan datang dari marketplace online yang memintanya menjadi salah satu admin. Dia menolaknya dan lebih memilih memulai start up dengan orang-orang yang juga tidak begitu dikenalnya.
"Apa kabarmu, Dhilla? Lama sekali aku tidak mendengar beritamu?" Ucapnya lirih sambil mengetikkan kata itu pada sebuah pesan. Kemudian menghapusnya.
Jefri menarik nafas panjang. Dia bangkit dan membuka jendela. Kembali duduk di depan monitor dan membakar sebatang rokok. Sambil tersenyum sendiri, dia berkata dalam hati, ternyata aku merindukannya. Sebatang rokok itu pun menjadi teman terakhirnya sebelum memejamkan matanya untuk hari esok.
Pagi ini, Jefri sudah siap dengan pakaian yang cukup rapi. Ini memang bukan hari pertamanya pergi ke kantor. Tapi, cukup aneh jika dia mengatakan itu adalah kantor. Karena mereka bekerja di sebuah rumah milik seorang pendiri start up itu. Yang penting, dia siap berangkat ke tempat kerjanya. Setelah log out Facebook, dia berangkat dengan santai.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat kerjanya. Kebetulan jalanan sedang sepi. Jefri kali ini adalah orang kelima yang datang. Dari total 15 orang pekerja dan 10 diantaranya adalah fresh graduate. Sampai di dalam, Jefri segera ke dapur dan membuat segelas kopi. Beberapa orang sudah menempati meja kerjanya.
"Kau anak muda yang cukup semangat." Puji seseorang. Jefri membalasnya dengan senyum. Dia memilih tempat yang terbuka untuk duduk dan merokok sebentar. Sekalian menunggu teman-teman yang lainnya datang.
Jefri membuka sebungkus rokok. Diambilnya sebatang dan sisanya diletakkan di meja. Tepat disamping secangkir kopi. Setelah membakar rokoknya, dia mengeluarkan ponselnya dan kembali melihat foto Dhilla.
"Siapa itu?" Sebuah suara membuatnya tersadar dari lamunan. Rio datang juga dengan segelas kopi dan duduk di depan Jefri.
"Seorang teman." Jawab Jefri dingin.
"Aku tidak yakin hanya sebatas teman." Rio memancingnya bercerita. Tak lupa tangannya mengambil rokok. "Kalau kau tak mau cerita, itu bukan masalah. Aku menghargai privasimu." Lanjut Rio.
"Terima Kasih." Jefri menarik panjang rokoknya. "Sudah lama kami tidak bertukar kabar. Aku penasaran dengan keadaannya." Jefri sedikit bercerita.
"Jadi begitu. Gadis itu mantanmu? Aku mengerti. Wanita lebih menarik saat menjadi mantan." Ungkap Rio sambil menundukkan badannya tanda dia sedang serius.
Jefri hanya diam. Tak perlu rasanya dia menanggapi pernyataan itu. Dia menyeruput kopinya yang dari tadi tidak terminum. Untungnya masih hangat. Dia meletakkan ponselnya terbalik di samping gelas kopinya.
"Kau tidak tertarik dengan gadis-gadis disini? Maksudku. Yang bekerja disini.... " Rio berusaha kembali membuka percakapan.
"Aku tidak memikirkannya." Jefri menjawab sekenanya. Pertanda dia tidak suka diinterogasi. Tapi, itu malah membuat Rio semakin ingin mengoreknya lebih dalam.
"Bagaimana dengan Devi?" Rio memancingnya. "Sepertinya dia memberi perhatian khusus untukmu."
Jefri mengedarkan pandangannya." Dia terlalu berisik. Aku bahkan merasa tidak nyaman kalau ada dia." ungkap Jefri.
Rio tertawa mendengar ucapan itu. Tak lama setelah mereka membicarakan itu, para gadis datang. Pertanda kerja akan segera dimulai. Pikiran Jefri langsung dipenuhi dengan kode-kode yang harus disusunnya. Algoritma yang juga harus dipecahkan menjadi beban tersendiri. Semuanya berputar di kepalanya dan tidak terkendali.
Jefri bangkit setelah mematikan sisa rokoknya dan pergi dengan gelas kopinya. Dia berniat untuk mencuci gelas itu. Tapi kemudian Devi datang. "Biar aku saja yang bersihkan. Itu tugasku. Kalau kau mau kopi lagi, bilang saja, ya...." Devi mengedipkan sebelah matanya.
Dengan pakaian kemeja putih yang agak tipis dan ketat, Devi memang terlihat menawan. Rambutnya yang hitam dikucir kuda membuatnya semakin terlihat menarik. Jefri yang berdiri disebelahnya langsung dapat mencium bau parfum khas Devi. Cukup menarik. Tapi tidak cukup menarik bagi Jefri.
Jefri hanya melihatnya dengan sinis dan kemudian pergi ke meja kerja. Setelah memeriksa email dan memeriksa setiap pesan, dia langsung menuju proyek yang sedang dikerjakannnya. Perlahan dan pasti, Jefri mencoba kode yang tepat untuk membuat aplikasi itu semakin baik dan menarik.
Jefri mengerjakannya cukup serius. Dia bahkan tidak menyadari kedatangan Devi yang membawakannya segelas kopi. Dia hanya merasa ada orang yang mendekatinya dan kemudian pergi. Dia terus begitu hingga sadar sudah saatnya istirahat dan makan siang.
Jefri menyimpan pekerjaanya. Kemudian membuka Facebook seperti biasa. Jefri tidak menyadari kalai Devi sudah ada dibelakangnya sambil melihat apa saja yang dibukanya di Facebook.
"Siapa gadis itu?" Tanya Devi penasaran.
"Teman." Jawab Jefri singkat kemudian log out dan pergi keluar. Tujuannya adalah menghindari Devi.
Melihat orang-orang sudah banyak yang duduk di depan, Jefri memilih berdiri dan bersandar di sebuah tiang. Sambil menatap langit. Dhilla, kenapa kau tidak ada kabar? Tanya Jefri pada langit. Berharap suara hatinya bisa sampai pada orang yang dituju.
Jefri mengeluarkan rokoknya dari saku dan membakar satu batang. Terdengar sedikit keributan di tempat orang-orang sedang duduk. Kemudian terdengar suara seorang wanita. Iya, itu Devi.
"Kalian para pria ternyata sulit diingatkan, ya.... Sudah berapa kali diingatkan jangan merokok, masih saja merokok...." Devi sudah seperti ibu-ibu yang cerewet. Devi kemudian melucuti rokok setiap orang dan mematikannya.
Diluar dugaan, orang-orang malah tertawa melihat prilaku Devi yang menurut Jefri overaktive. Jefri tidak memperdulikannya. Dengan santai dia berdiri dan menikmati rokoknya. Kemudian, saat sedang menggantungkan tangannya, dia merasa rokoknya hilang. Dengan cepat dia melihat kebawah. Ternyata disana sudah berdiri Devi yang memadamkan api rokoknya di sebuah asbak.
"Kau juga masih muda. Seharusnya kau tidak merokok. Kau hanya menyakiti tubuhmu. Kau tahu itu, kan?" Devi mengacungkan jarinya ke atas. Dekat dengan wajah Jefri.
Jefri diam dan dengan tenang mengelurkan sebungkus rokok lagi dan membakarnya. Bahkan sebelum Devi menjauh darinya. Kali ini dia sedikit menggigit filter rokoknya karena kesal. Jefri kemudian mengeluarkan ponselnya sambil menggantungkan rokok itu dibibirnya.
Belum sempat dia membuka password ponselnya, Devi datang kembali mengambil rokok dari bibir Jefri. Wajah Jefri spontan memerah. Devi langsung pergi seakan tak ada masalah.
"Devi....Kemari!!!..." Panggil Jefri pelan. Devi datang seakan menantang.
"Ada yang ingin kau sampaikan?" Ungkap Devi yang kesal dengan perokok.
Jefri menghadap ke arah Devi. Dia menarik nafas panjang. Terlihat dari wajah Jefri kalau dia marah besar. Semua orang menunggu apa yang akan dilakukan Jefri. Jefri menghembuskan nafasnya dengan berat. "Jangan memancingku untuk marah.... Sekali lagi kau melakukannya, akan kubakar rambutmu! Aku tidak sedang bercanda..." Jefri mengatakannya dengan dingin dan tegas.
Wajah Devi malah berubah pucat. Kemudian berbalik dan pergi. Terlihat Devi mengepalkan tangan kananya. Sedang tangan kirinya memegang asbak. Entah apa yang dirasakan Devi. Entah dia merasa bersalah atau dia merasa takut. Atau mungkin juga malu.
Dengan perginya Devi, Jefri merasa bebas untuk merokok. Dua batang rokok yang terbuang sia-sia itu sangat disayangkannya. Untung saja Jefri masih mampu menahan diri. Yang ditakutkannya adalah jika tangannya refleks menampar Devi. Suasana hening tanpa ada yang berbicara. Masih ada waktu sekitar setengah jam lagi untuk istirahat. Setelah menghabiskan satu batang, dia langsung pergi ke kamar mandi untuk berwudhu' dan sholat zuhur.
Malam tiba. Beberapa orang sudah memutuskan untuk pulang. Mereka tinggal berlima di tempat kerja itu. Rio dan Jefri yang kali ini menjadi penghuni terakhir dari pria. Tiga yang lainnya adalah gadis-gadis. Devi, Ratna dan Fani. Jefri sedang serius mengerjakan tugasnya. Berbagai macam kode sedang dicobanya untuk tampilan yang lebih menarik dan simple.
Devi kini memperhatikan Jefri dari dekat. "Apa yang sedang kau kerjakan? Serius sekali? Ini sudah jam 9. Kau tidak pulang?"
"Bisakah kau tidam menggangguku untuk 24 jam saja?" balas Jefri kesal.
"Baiklah, aku tidak mengganggumu." Devi sepertinya sedikit menjaga tata bicaranya. Tapi, dia masih disamping dan memperhatikan Jefri.
"Bisakah kau berhenti memperhatikanku sebelum aku mood ku berubah?" Ucap Jefri tanpa melihat Devi.
"Hei, kenapa kau jadi mudah meledak seperti itu?"
"Bisakah kau pergi dan tidak mengganggu atau memperhatikanku?" Jefri menahan suaranya agar tidak menjerit. Dia menahan tangannya yang mulai bergetar.
"Memang nya apa yang kulakukan? Aku kan hanya..... "
GUBRAK...!!!
Devi tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Dia hanya kaget melihat Jefri memukul meja dengan kedua tangannya. Seakan itu adalah tumpukan kekesalannya selama ini. Waktu seakan berhenti. Semua mata kini menuju Jefri dan Devi. Tidak ada yang bersuara. Semuanya hening.
"Rio, aku tidak bisa menemanimu malam ini." Ungkap Jefri.
"Tapi, besok pagi kita harus sudah menyerahkan sampelnya....." Pinta Rio.
"Aku tidak bisa mengerjakan apapun dengan tenang selama gadis ini masih ada di dekatku. Akan ku kerjakan di rumah." Ungkap Jefri.
Tanpa menunggu jawaban, Jefri menutup proyeknya dan berdiri.
"Mau kemana?" Tanya Devi masih tidak merasa bersalah.
"Terserahku mau kemana." Jefri masih kesal.
"Kalau bos tahu masalah ini, kau bisa dipecat.... " ungkap Devi sambil senyum terpaksa.
"Aku masih bisa bekerja di tempat lain. Banyak yang menawarkanku pekerjaan." Jefri tidak mau kalah.
Akhirnya Jefri beranjak ke motornya. Jefri kembali kesal dengan saat menyadari gerbang sudah dikunci. Dia melihat Devi berdiri sambil memegang kunci. Jefri turun dari motornya. Mengambil kunci motor dan membuka gembok gerbang dengan kunci yang dimiliki. Salah satu keahlian yang didapatkan Jefri saat di pondok adalah kemampuan membuka gembok dengan kunci asal. Dan kini itu berhasil. Setelah membuka gerbangnya, Jefri pergi dengan kesal.
Devi menatap dengan heran apa yang terjadi. Ternyata Jefri punya keahlian seperti itu. Kini, dia baru merasa bersalah. Jefri memang orang yang berbeda. Tapi, harus diakuinya juga kalau Jefri adalah kunci dari tim Start up ini. Tidak ada yang secepat Jefri saat membaca kode-kode yang tidak beraturan. Yang tak pernah mengeluh saat diberi berbagai macam tugas dan semuanya selesai tepat waktu.
Di tengah jalan, Jefri membuang kesalnya. Dia memacu motornya dengan sangat cepat. Sesekali bayangan Dhilla muncul. "Dhilla, aku membutuhkanmu. Tak bisakah kau memberiku pesan. Aku ingin bicara denganmu. Aku merindukanmu...." Jefri mengucapkannya dengan pelan dan tanpa sadar. Hal itu sedikit membuka kembali kesadarannya. Kemudian sedikit menurunkan kecepatan.
Jefri benar-benar kesal hari ini. Tidak bisa digambarkan bagaimana rasanya. Wanita selalu menjadi masalah. Sepertinya dia harus pulang ke Galang untuk meminta nasehat ibu. Dhilla yang tiada kabarnya, selalu menghantui Jefri.
Mari Berbagi Cerita