Sebuah golok sudah terangkat tinggi dan hendak menebas Suhu Brandon. Orang
yang hanya kelihatan wajahnya saja itu menunjukkan wajah yang sangat garang.
Dengan tenang Suhu Brandon melangkah sedikit kebelakang sehingga golok itu
hanya menebas angin. Si pemegang golok pun hampir tersungkur lantarn golok
tidak mengenai sasaran.
Suhu Brandon melakukan tendangan berputar untuk menjatuhkan orang yang
menyerangnya itu. Pertarungan sengit terjadi di halaman padepokan. Terutama di
depan gerbang. Perlahan, para pendekar terpaksa mundur. Mereka kalah kuat
dengan para penyerang. Pandu dan Irfan sendiri belum kelihatan dimanapun.
Beberapa pesilat pemula juga seakan menghilang. Ini membuat Suhu Brandon
sedikit khawatir.
Beberapa orang berhasil menerobos masuk dan menjatuhkan para pendekar yang
menghalanginya. Surya dengan cepat menjatuhkan beberapa orang. Tendangan T yang
dilancarkan Surya berhasil melemparkan lawannya. Masih terlalu mudah bagi Surya
melawan orang seperti ini. Sementera itu, dia terus berlari ke gerbang untuk
melihat siapa yang membawa orang-orang ini datang. Akhirnya Surya melihat
seseorang yang berdiri dengan tegas. Dari caranya melihat, sepertinya dia
adalah pemimpin pasukan ini. Surya langsuing menghadapi orang itu.
Surya memperhatikan mata lawannya. Sepertinya ada hal yang berbeda. Dia
seakan mengenali mata itu. Tapi dia tidak yakin siapa. Tanpa bersuara, orang
dihadapannya itu memberikan pukulan pertama. Tentu saja dengan mudah Surya
menghindari pukulan itu. Tapi ternyata, wajah Surya malah menerima hantaman
dari sikut tangan yang lainnya. Surya terpukul mundur. Dia agak terkejut dengan
cara bertarung itu.
Surya memasang kuda-kudanya. Mereka berjalan memutar. Orang itu langsung
memberikan pukulan ke arah Surya setelah mereka cukup dekat. Sekali lagi, Surya
berhasil menghindari pukulan itu dan langsung merunduk seraya melakukan
uppercut. Orang itu terlempar. Sepertinya, orang yang menjadi lawannya ini
masih enggan menunjukkan suaranya. Bahkan, dia tidak menunjukkan suara saat
terpukul. Orang itu melompat bangkit. Kembali memasang kuda-kuda dan memberikan
tendangan. Surya menyadari serangan itu, dengan mudah dia menangkap kaki
lawannya. Ternyata Surya terpancing. Orang itu melompat dan melakukan
guntingan. Surya pun jatuh. Dengan cepat orang itu langsung menduduki Surya.
Pukulan demi pukulan dilancarkan. Surya kewalahan.
Meski tidak ada pukulan yang mendarat di wajahnya, dia tetap saja
kesulitan. Surya melihat celah dari tempo pukulan yang melambat. Dia berhasil
menangkap kedua tangan orang itu dan menyilangkannya. Kemudian dengan cepat
membalikkan keadaan. Surya dengan wajah beringas menahan tangan orang itu
dengan tangan kirinya. Tangan yang satunya digunakan untuk membuka penutup
wajah yang sedang dipakai. “Siapa kau sebenarnya?” Teriaknya sambil menarik
penutup wajah lawannya.
Surya terkejut saat melihat ternyata lawannya seorang wanita. Terlebih
lagi, dia mengenali wanita itu. “Aku harus melakukannya, Surya. Ini perintah.
Aku sudah bersumpah setia pada guruku.” Kata wanita itu.
“Priska, hentikan kekonyolan ini! Kau hanya akan membuat permusuhan ini
semakin menjadi-jadi.” Kata Surya mencoba bernegosiasi.
Priska menyadari ini saat yang tepat untuk membalikkan keadaan lagi.
Sebelum dia melakukannya, Surya melepaskannya dan berdiri. “Maaf, Surya.”
Tiba-tiba saja Surya mendapatkan pukulan benda tumpul dari belakang. Surya
terjatuh. Pandangannya perlahan buram dan dia pun akhirnya tak sadarkan diri.
“Ternyata kau masih terganggu dengan orang ini.” Kata seorang pria yang
memegang sebuah pemukul kasti. Kemudian mereka pergi.
......
Pandu bersama barisan pesilat baru, sedang berada dalam sebuah ruangan yang
tidak terlalu besar. Cukup untuk mengumpulkan seluruh pesilat baru yang
berjumlah 50 orang. Seorang pendekar bersabuk biru telah membimbing mereka ke
tempat ini. Pintu ruangan kemudian ditutup rapat.
“Untuk keselamatan kalian, kalian belum bisa berada disana untuk bertarung.
Level mereka diatas kalian.” Kata pendekar sabuk biru itu.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya seseorang.
Orang itu mengusap keningnya kemudian seluruh wajahnya. “Tenanglah, ini
tidak akan berlangsung lama.” Katanya dengan gugup. Seakan dia tidak yakin.
“Romi, keluarlah sebentar! Aku punya rencana...” Teriak seseorang dari luar
ruangan itu.
“Aku juga punya rencana, aku akan disini menenangkan mereka, kalian cobalah
berusaha agar mereka tidak sampai kesini!” Pinta Romi sang pendekar yang
bersama pesilat baru.
Mendengar jawaban dari Romi, orang yang tadi berada di luar itu tidak
langsung membalas. Setelah beberapa lama, akhirnya dia menjawab, “Baiklah,
kalau ada apa-apa akan kuberitahu kau secepatnya.” Kemdian terdengar suara
langkah cepat.
Sudah lima belas menit mereka berada di ruangan itu. Namun, tak ada yang
terjadi. Bahkan, suara kegaduhan juga tidak terdengar dari sana. Para pesilat
baru, mulai merasa gelisah. Sebagian mereka meminta untuk keluar dan memastikan
keadaan. Romi bersi keras agar menunggu informasi dari temannya itu. Tak tahu
apa yang akan terjadi jika saja pintu itu terbuka.
Sebuah teriakan memanggil Romi, mulai terdengar. Awalnya terdengar jauh.
Perlahan semakin mendekat. “Romi! Cepat buka pintunya!” Teriak suara dari luar
sana setelah dia menghantam pintu. Sepertinya, dia sekarat.
“Ceritakan, apa yang terjadi!” Romi memilih untuk tidak langsung percaya
begitu saja.
“Aku tidak sanggup menghadapi mereka, dan Suhu Brandon...” Suaranya
terputus. Sepertinya sedang menarik nafas.
“Kenaapa dengan Ayahku?!” Teriak Romi penasaran bercampur emosi. Jika saja
terjadi sesuatu pada ayahnya, mungkin dia akan melakukan hal yang diluar batas.
“Bukalah, aku takut mereka akan segera kemari.” Kata orang itu.
Romi akhirnya membukakan pintu untuk orang itu. “David, apa yang terjadi?”
Romi khawatir saat melihat David yang terlihat sangat babak belur dan
berantakan. “Bagaimana kau bisa kabur?”
Sambil masih terengah-engah, David menjawab, “Seperti biasa, jurus menipu.”
Katanya memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku berpura-pura pingsan. Dan itu
cukup berhasil. Tentu saja, setelah aku memberikan perlawanan.”
Romi membantu David untuk berdiri. “Bagaimana dengan ayahku?”
“Aku tidak tahu pasti. Ada banyak orang yang berhasil mengerubunginya. Dan
aku tidak melihat Surya dimana pun.” Aku David.
Pandu dan Irfan saling pandang mendengar nama Surya disebut. “Apa yang
terjadi dengan Surya?” Teriak Pandu yang berada di barisan paling depan para
pendekar muda.
David dan Romi melihat ke arah Pandu hampir bersamaan. “Tenanglah, Pandu.
dia bukan pendekar biasa. Pasti dia sedang melakukan sesuatu.” Romi
menenangkan. “Aku harus pergi menemui ayah,” Sambungnya.
“Baiklah, aku akan emnjaga mereka.” David berusaha menegakkan badannya yang
terasa pegal-pegal.
Romi pergi mencari ayahnya. Terlihat ayahnya sedang melumpuhkan beberapa
orang. “Ayah!” Teriak Romi sambil menghalau beberapa orang yang dilihatnya.
“Romi!” Mereka berdiri saling memunggungi. “Kau tahu, ini adalah ulah
pamanmu.” Ungkap Suhu Brandon pada anaknya.
“Ayah, yakin?”
“Tidak. Ada orang lain yang membuatnya harus melakukan itu. Aku curiga
dengan gagak hitam. Mereka juga menggaet beberapa perguruan untuk kepentingan
mereka.” Jelasnya.
“Apa ayah akan melawan mereka? Maksudku, melawan paman?” Tanya Romi
memastikan.
“Tidak akan. Apapun yang terjadi, aku akan berusaha menjelaskan semuanya. Mereka
pasti mau mendengarkan.”
“Dimana Surya?” Romi memperhatikan sekelilingnya dan tidak melihat
tanda-tanda keberadaan Surya.
“Sebaiknya kau mencarinya.” Suhu Brandon memberikan perintah.
“Itu mereka!” Teriak seseorang yang melihat mereka dari jendela.
“Pergilah, dan pastikan dirimu selamat tanpa membunuh siapapun!” Suhu
Brandon bersiap melawan beberapa orang yang akan datang menangkapnya.
Romi berlari ke arah datangnya para musuh dan menghajar beberapa kemudian
berlari keluar. Tujuannya kali ini adalah mencari Surya. Tidak ada yang lain.
Cukup lama dia memperhatikan. Tidak mungkin menjadi salah satu dari mereka yang
pingsan. Hingga sampai ke gerbang dan mendapati tubuh Surya terbaring.
“Hey, Surya! Bangun!” Katanya sambil menampar-nampar kecil wajah Surya.
Mata Surya bergerak-gerak. Kemudian terbatuk dan sadar. Surya merasakan
sakit di belakang kepalanya. “Aku melihat mereka....” Surya berusaha
memberitahu apa yang dilihatnya sebelum pingsan. “Paman dan sepupumu. Mereka
disini.” Surya terbatuk beberapa kali.
“Ayah juga sudah memperkirakannya. Kami membutuhkanmu, Surya! Bangkitlah!”
Surya berusaha berdiri.
“Sepertinya aku harus lebih serius pemanasan." Surya menyeka secuil
darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Mari Berbagi Cerita